
"Dek, kamu udah bilang ke Andreas kan kita berangkatnya sekarang?" tanya kak Dhika.
"Nanti aja aku telpon dijalan deh" jawabku.
Aku, Hanifa, Arika, Nunu dan kak Dhika sudah dalam perjalanan menuju villa milik Omnya kak Dhika disekitar Lembang.
Letaknya memang tidak jauh dari kampus kami hanya 1 jam kurang perjalanan.
Andreas tidak bisa ikut bersama kami karena harus menghadiri acara pkmnya siang ini, tapi dia berjanji akan segera menyusul setelah urusannya selesai.
Aku sebenarnya tidak masalah, aku paham ko posisinya seperti apa. Dia kan orang yang penting di pkmnya, tapi yang buat aku merasa sedikit keberatan adalah setelah aku tahu bahwa Praya dan Rani juga bagian dari pkm tersebut.
"Tenang aja dek, mereka berdua mah bukan lawan kamu" kata kak Dhika.
"Ih apaan sih ka? orang aku biasa aja juga" elakku.
"Tapi ya na kalau aku jadi Andreas, aku gak akan nyaman loh ada di acara yang sama dengan orang-orang yang terang-terangan pernah jadi bagian masa lalu aku" kata Nunu.
"Ih nu bukannya nenangin malah ngomporin" sahut Hanifa.
"Tau nih nu, lagian kan kita tahu juga kak Andreas bukan cowok yang macem-macem" tambah Arika.
"Yaudah telpon lah sekarang, minimal kan dia tahu kamu gak marah" kata kak Dhika.
Sejak semalam, aku memang tidak membalas chatnya. Bahkan telpon darinya saja aku abaikan, dengan alibi bahwa aku sekarat kuota. Tak lama dia bahkan mengisikan paket dataku. Lalu karena kehabisan ide untuk berbohong, akhirnya aku mematikan handphoneku.
Pagi sekali sebelum aku berangkat, dia juga mengirimkan chat.
"Dek, aku janji jam 3 sore aku langsung nyamperin kamu ke villa"
"Dek, jangan marah ya"
"Dek angkat telponnya donggggg"
"Dek, kata Dhika kalian besok berangkat jam 9 ya?"
__ADS_1
Aku hanya membacanya saja tanpa menjawab satupun pertanyaannya.
Aku yakin dia sekarang tak karu-karuan setelah perang dingin kami semalam, aku memang mungkin kekanak-kanakan. Tapi aku kan merasa dibohongi karena dia tidak bilang dari awal bahwa PKM nya satu kelompok dengan Praya dan Rani.
Aku memang tahu kalau Andreas ahli dalam PKM, proposalnya selalu tembus dan dibiayai. Tapi ya begitulah, aku hanya merasa saat itu posisiku tidak menguntungkan. Aku cemas dan entah perasaan takut apa yang muncul dari dalam diriku.
Padahal toh mereka berdua cuma bagian dari masa lalu Andreas, tapi aku takut saja....
Takut tanpa alasan....
"Yo bro!! gimana beres?" suara kak Dhika sedang berbicara dengan orang dalam telponnya.
"Ya bro santay, kita udah mau nyampe nih. Lu buruan dateng deh kalau mau aman, cewek lu dari tadi cemberut terus kagak ketawa-ketawa. Lagian sih lu acara pake ada mantan sama penggemar segala"....
"Raina pake sweater maroon sama jeans misty haha rambutnya dikuncir lucu deh nanti lu liat sendiri lah"...
Aku melirik ke arah kak Dhika, dan dia mengirimkan kode bahwa yang sedang menelponnya adalah Andreas.
Sesampainya di villa...
"Wah bagus tempatnya, gede lagi dan ada perapiannya juga ya?" tanya Hanifa antusias.
"Ada kolam renang juga dibelakang, kecil sih tapi mayan lah dan ada alat pembakaran juga buat ntar malem" jelas kak Dhika.
Entah cuma perasaanku saja atau memang begitu adanya, kak Dhika dan Hanifa terlihat semakin dekat dan berbeda sekarang. Tatapan mereka bukan tatapan kakak tingkat ke juniornya, tapi seperti yang sedang pendekatan.
Tiap mata mereka bertemu pasti salah satu mengalihkan pandangan, seolah salah tingkah begitu. Aku hanya senyam-senyum setelah menyadari gelagat aneh mereka berdua.
"Rain, beresin makanan yu ke kulkas sama iris-iris apa gitu kita masak haha soalnya aku laper nih" ajak Nunu sambil menarik tanganku.
"Iya rain, aku juga yuuk ah kita buat apa kee" sahut Arika sambil menutup pintu gerbang villa itu.
"Kak udah dibayar tuh taksi online?" teriakku.
"Wess udahlah hahaha pake saldo" jawabnya.
__ADS_1
"Nanti kita patungan deh ganti ongkosnya" kata Hanifa.
"Eh jangan gak usah.....
"Ayo ah kabur jangan ganggu yang pdkt" ledekku sambil menyeret kedua sahabatku masuk.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga jam dinding bergaya 90'an itu sudah menunjukan pukul 3 sore.
"Mana yang mau nyusul? udah jam 3 belum nongol juga" gumamku.
Aku melirik handphoneku dan ada notif masuk dari stagram.
Rani memposting sebuah foto pertemuannya dengan kelompok pkm mereka. Tentunya ada Andreas disana dan mereka bersebelahan, tangan keduanya hampir menempel. Aku lihat tidak ada jarak yang berarti disana.
"Na, udah liat postingan si Rani?" tanya Nunu.
"Udah, nih!!!!" jawabku sambil melemparkan handphoneku ke sofa.
"Wess ngambek serem ah" ledek Hanifa.
"Liat deh itu mereka foto sebelahan tau, mana captionnya mesti ikon cowok sama cewek berdua helooo itu mereka banyakan kali" kataku.
"si Rani emang diam-diam meliuk tau Na, udahlah kamu blok aja dia di stagram biar kamu gak kepikiran hal gak penting kaya gitu" kata Hanifa.
Aku merasa suntuk padahal sudah makan, minum dan bermain uno dengan sahabat-sahabatku. Sepertinya aku butuh angin saat itu.
"Kak, aku keliling ya? siapa tau dapet tomat gratis" kataku minta izin pada kak Dhika.
"Iya, awas jangan jauh-jauh nanti lupa pulang" jawabnya sambil menasehatiku.
"Iyaa, oya kalian mau ikut gak?"tanyaku.
"Gak ah cape, aku mau tidur sebentar" jawab Nunu.
"Aku mau ikut sebenernya, tapi aku gerah banget gak kuat pingin mandi" sahut Hanifa.
__ADS_1
"Yaudah deh aku pergi sendiri aja" kataku.