
Aku bukannya ingin meninggalkanmu...
Bukan pula ingin menyendiri....
Aku hanya takut kamu akan berubah...
Menjadi orang asing yang tak kukenal...
Sama seperti sebelum aku mengenalmu...
Katamu kita pernah bertemu dulu...
Saat aku masih dengan seragam sekolahku...
Kamu mengenaliku bahkan hanya dengan melihat nama lengkapku...
Katamu kamu menghafalnya, lebih giat dari menghafal rumus-rumus termodinamika...
Aku iri, pada aku yang dulu...
Yang mampu membuatmu tak karu-karuan...
Membuatmu menyukaiku dengan sangat mudah...
Sekarang bahkan untuk mendapatkan sedikit kejujuranmu saja aku kesulitan...
Kami berdiam diri hampir seperti mematung dalam beberapa menit. Menit yang membuatku berfikir ratusan kali tentang apa alasan sebenarnya aku cemburu pada Rani...
__ADS_1
Apa ini juga yang dirasakannya saat aku dekat dengan Gian? Bagaimana bisa dia menyamaratakan Gian dan Rani yang jelas-jelas berbeda?
Gian itu jujur dan tidak cari-cari kesempatan, berbanding 180 derajat dengan Rani yang pandai menarik perhatian dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu.
Aku merasa selama ini hubunganku baik-baik saja, aku tidak merasa terbebani malah semakin bersemangat untuk kuliah. Lalu kenapa aku harus terganggu dengan parasit kecil macam Rani? Harusnya aku malu karena menuduh Andreas dengan cara kekanak-kanakan seperti barusan...
"Kak, maafin aku" kataku sambil menangis dan memeluknya.
Dia menyambut pelukanku seperti mencoba menenangkan anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
"Gimana? Kamu tetep mau kita putus?" tanyanya.
"Gak mau, aku gak mau putus... Kakak gak usah nanya alesannya apa, aku bahkan malu jelasinnya" jawabku sambil mengeraskan suara tangisanku.
"Haha iya, udah ya jangan nangis... Aku minta maaf karena sering sibuk akhir-akhir ini dan gak bisa nemenin kamu. Padahal kamu pasti lagi sibuk-sibuknya belajar buat Uas pertama kamu kemarin. Malah aku bantuin orang lain bukannya nemenin pacar sendiri" katanya.
"Iya, aku janji bakal cerita ke kamu" jawabnya.
Beberapa jam kemudian....
Aku memutuskan untuk membantu Andreas merapikan koper, mengepak oleh-oleh dan mempersiapkan semuanya untuk besok. Aku sudah mengabari Hanifa dan yang lainnya, mereka tidak masalah dan memahami keadaanku saat itu.
"Dah beres kan? Tinggal kakak tidur istirahat dan pergi deh ke bandara besok pagi" kataku sambil meletakan koper keduanya ke pojokan.
"Iya, makasih ya jadi lebih rapi deh barang bawaan aku" katanya sambil mengelus rambutku.
Kami saling memandang satu sama lain dalam hitungan detik, namun setelah kami merasa malu akhirnya kami hanya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Maaf ya liburan panjang, aku malah gak bisa nemenin kamu" katanya.
"Hahaha dari tadi kakak minta maaf mulu deh bosen dengernya, oya soal buku itu apa bener aku anak SMA yang kakak maksud?" tanyaku setelah teringat dengan catatan tersebut.
"Iya, kamu tunggu bentar deh kayanya aku masih ada fotonya" jawabnya sambil membuka dompetnya.
"Nih haha foto kamu kan?" tanyanya sambil memberikan foto kecil yang seperti habis digunting.
"Iya, ini aku waktu olimpiade haha tapi kenapa aku gak inget ya sama kakak?" tanyaku.
"Waktu itu aku pake masker karena lagi batuk parah, inget gak yang ngasih kamu selebaran jurusan di deket pohon depan lobby?" katanya
"Ah iya inget, itu ternyata kakak ya? Hahaha aku masuk sana juga karena selebaran ituloh dasar ya takdir" kataku.
Diapun mengeluarkan satu lembar foto lain dalam dompetnya.
"Ini ibu waktu seusia kamu dulu" katanya.
"Asli? Mirip aku ya? Tapi cantikan ibu, lebih natural cantiknya kalo aku kan udah kenal make up" kataku.
"Kata Ibu malah kamu lebih cantik, dasar cewek ya kalau ada yang muji harus balik muji gitu terus gak ada ujungnya hahaha" ledeknya.
Aku sebenarnya masih ingin menemani Andreas hingga hari berganti, tapi aku sudah janji bahwa malam ini aku akan ada dirumah untuk menjaga adik-adikku karena Ibu akan mengantar Ayah periksa rutin ke dokter.
Aku sudah menceritakannya pada Andreas, dia bersikeras ingin mengantarku pulang sekalian menengok Ayah. Aku menolaknya, bukan karena tidak boleh. Dia kan harus pergi pagi sekali besok untuk penerbangannya ke Palembang. Aku takut dia akan merasa terbebani dan tidak bisa tidur lebih awal.
Ibunya pasti sangat merindukannya dikampung, aku tidak mau rencana kepulangannya terganggu oleh hal apapun itu termasuk tentang kegelisahanku soal penyakit Ayah.
__ADS_1
Setidaknya aku cerita saat dia sudah sampai di Palembang nanti.