
Ketika jam menunjukan pukul 11 malam, aku dan Hanifa pamit pulang.
"Kakak gak usah anterin Raina, dia biar sama aku aja soalnya aku bawa mobil ko" kata Hanifa.
"Beneran dek? yaudah kalian hati-hati ya" katanya.
Sepanjang perjalanan, aku dan Hanifa curhat satu sama lain. Aku tanya bagaimana kak dhika bisa mengatakan perasaannya setelah sekian lama terpendam itu.
"Dia dateng kerumah aku, sebenernya nembaknya tuh dari pas kita di villa. Posisinya aku udah break sama si mantan. Terus aku minta waktu karna gak mungkin baru putus udah jadian lagi, toh aku juga belum yakin sama perasaan aku ke dia. Eh makin lama aku malah makin suka, yaudah aku terima aja semalem pas dia maen kerumahku" jelas Hanifa.
"Aku sama kamu sahabatan, Andreas sama Dhika juga sahabatan hahaha rasanya kaya mimpi ya kita bisa jadi kaya gini sekarang" kataku.
"Hmmm iya, tapiiii kamu pasti sedih ya? Andreas pulang besok dan sebulan lagi dia wisuda terus kalian pisah beneran... waaah pasti berbulan-bulan kedepan itu sulit buat kamu" katanya.
"Iyasih, tapi mau gimana lagi haha kamu juga harus siap-siap ya kak Dhika sidang kan bulan depan?" tanyaku.
"Hahaha minggu ini malah dia sidangnya, kalau kuota wisuda belum penuh sih dia kayanya wisuda bareng Andreas deh" jawabnya.
"Hmmm semoga deh mereka wisuda bareng, biar kita ke salon bareng juga hahaha... oya fa besok temenin ke bandara yu?" ajakku.
"Aamiin deh... ayo!! aku jemput kerumah pagi-pagi
ya?" katanya.
"Iya, dia pake pesawat yang jam 8 sih" jawabku.
Akupun sampai dirumah, pikiran tentang LDR dan kepulangan Andreas besok terus menerus mengganggu pikiranku.
Tengah malam aku masih terjaga, karena harus menyelesaikan laporan makalah pribadi untuk tugas kosmografi.
Tiba-tiba saja ada telepon dari nomor tak dikenal.
"Halo, selamat malam Raina...."
"Iya selamat malam, maaf ini siapa ya?" tanyaku.
"Ini Ibu dari Palembang, ibu gak ganggu kan?" kata beliau.
"Nggak ko bu, Ibu ada perlu penting ya sampe tengah malem nelpon?" tanyaku.
"Nggak sayang, Ibu cuma barusan mimpiin kamu jadi pingin nelpon tapi hape ibu gak ada pulsanya jadi Ibu pinjem hape pamannya Iyas" jelas beliau.
"Mimpi apa bu? ibu lucu deh mimpi langsung nelpon aku" kataku.
"Mimpi ketemu kamu langsung, padahal gak mungkin ya? kamu kan di Bandung.. mungkin Ibu gak sabar ketemu calon menantu" kata beliau.
"Ibu bisa aja, nanti kita ketemu ko bu pas Kak Iyas wisuda soalnya dia baru aja sidang... Akhir bulan ini atau awal bulan depan kayanya dia wisuda" jawabku.
"Iya dek? serius Iyas udah sidang? dia bisa cepet pulang ke palembang dong ya?" tanya beliau antusias sekali.
"Iya bu, Kak Iyas malah pulang dulu ko besok kesana soalnya dia udah gak ada kegiatan disini dan paling balik bandung bareng Ibu nanti sekalian pas wisuda dan pindahan ke Palembang lagi" jelasku.
__ADS_1
Saat menjelaskan semua kepada Ibu, aku merasa sedih sekaligus bahagia. Ibu dan Anak yang sering berpisah selama 3 tahun lebih itu akhirnya akan dipersatukan kembali.
Sedih karena aku yang harus ditinggalkan nantinya. Aku bahkan tidak tahu, dia akan memutuskan hubungannya denganku atau melanjutkan LDR nantinya. Akupun harap-harap cemas dan takut.
"Raina, kamu gak papa?"
"Kamu pasti sedih ya? pasti kamu nangis sekarang?" tanya beliau khawatir.
"Nggak ko bu, Raina seneng akhirnya kak Iyas pulang dan bisa serumah lagi sama Ibu. Tapi sedih juga sih bakal susah ketemu kak Iyas nantinya" jawabku.
"Tenang, nanti Ibu suruh Iyas nemuin kamu tiga bulan sekali ya? atau kalau bisa seminggu sekali deh" kata beliau menghiburku.
"Beneran ya bu? aku anggap Ibu janji loh" kataku bercanda.
"Iya sayang, Ibu pingin banget liat kamu sama Andreas bareng-bareng. Mimpi ibu yang terakhir cuma mau liat Iyas menikah dan bahagia dengan wanita pilihannya" jelas beliau.
"Aaamiin, semoga mimpi Ibu terkabul ya" jawabku.
"Kamu kabulin dong mimpi Ibu" kata beliau sambil tertawa.
"Ko ke aku sih bu? hahaha kan belum tentu Andreas mau serius sama aku" jawabku.
"Ibu kenal betul anak itu, dia susah pindah ke lain hati apalagi dia bilang kamu cinta pertamanya" jelas beliau.
Aku senyum-senyum sendiri mendengar cerita Ibu, rasanya seperti mengobrol dengan Ibuku sendiri. Beliau juga bilang minta dicarikan baju untuk seragaman wisuda Andreas, katanya harus yang sama percis denganku.
Ibupun menceritakan banyak hal padaku tentang keseharian Andreas kalau sedang di Palembang hingga tak terasa terdengar isak tangis beliau. Katanya beliau bangga memiliki anak seperti Andreas dan almarhum Bapak juga pasti senang dan bangga di sana. Aku mencoba menghibur beliau, mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya. Meski Bapak sudah tidak ada dan tidak bisa menyaksikan anak semata wayangnya wisuda, tapi pasti Bapak bangga.
Setelah sambungan telepon ditutup, akhirnya aku mencoba untuk tidur karena besok pagi-pagi sekali harus pergi ke bandara.
"Fa, semalem Ibunya Andreas nelpon aku lama banget" kataku
"Ciyee ditelpon calon mertua haha, ngomong apa ibunya?" tanyanya.
"Ya banyak katanya mau ketemu aku, mau liat aku sama Andreas dan lain-lain" jawabku.
"Syukurdeh berarti udah ada lampu hijau ya tinggal kalian seriusin lah kalau kamu udah lulus nanti" katanya.
"Mending kalau dia masih mau sama aku, kalau dia mau LDRan haha gimana kalau dia putusin aku" kataku.
"Kamu minta penjelasan lah dari Andreas nanti, dia mau kalian kaya gimana kedepannya. Secara kalian LDRan mungkin dalam waktu yang gak bisa ditentukan" sarannya.
"Iyaaah fa, nanti aku pikirin deh" jawabku.
Sesampainya di Bandara....
Andreas terlihat sedang duduk dengan kak Dhika di lobby bandara.
"Tuh mereka" kataku sambil menunjuk arah duduk mereka berdua pada Hanifa.
"Hai pagi" kata Andreas menyapaku.
__ADS_1
"Pagi ka" jawabku sambil memperlihatkan wajah ceriaku.
Aku duduk disebelahnya, dia langsung memegang tanganku dan tersenyum seolah ingin mengatakan 'jangan sedih, aku cuma pergi sebentar'...
Bukan aku namanya kalau tidak sensitif, lagi-lagi aku malah meneteskan air mata.
"Udah dong, hahaha jangan bikin aku ngerasa makin berat ninggalin kamu" katanya sambil menyeka air mataku.
"Maaf, padahal aku udah coba tahan biar ga nangis. Ehhhh gagal terus" keluhku.
"Aku take off setengah jam lagi tapi harus urus-urus dulu jadi 5 menit lagi aku masuk" katanya.
"5 menit lagi? cepet banget?" kataku.
"Cukuplah kalau buat denger kamu bawelin aku" ledeknya.
"Aku mau kakak disana sehat, makan yang banyak dan istirahat jangan ngerjain tugas lagi dan jangan mikirin yang bikin kakak stress pokoknya kakak harus quality time sama Ibu disana" kataku.
"Iya....Mau oleh-oleh apa nanti?" tanyanya.
"Mau kakak bawa Ibu ketemu aku, ajakin aku sama Ibu jalan-jalan bareng" jawabku.
"Yaudah, aku janji! aku masuk ya?" katanya.
Hanifa dan kak Dhika menatap kami penuh haru. Mungkin mereka ikut merasakan kesedihanku. Mereka terus memandangi kami seolah tidak mau melihat kami berpisah.
"Dhik fa, titip Raina ya?" katanya sambil menepuk bahu kak Dhika.
"Siap-siap bro! lu hati-hati ya?" jawab kak Dhika.
"Tenang ka, aku bakal temenin Raina terus" tambah Hanifa.
Andreas belum mau melepaskan tanganku yang sedari tadi dipegangnya.
"Kakak, gak papa ko kalau selama disana nanti gak ngabarin aku. Aku bakalan coba ngerti" kataku.
"Dasar, ya enggaklah. Aku justru bakal coba terus ngabarin kamu. Awas ya kamu disini sebulan gak ada aku, jangan banyak main! aku pantau kamu loh!" gerutunya.
Andreas pun meninggalkan kami sambil melambaikan tangan.
Ada rasa yang lagi-lagi mengganggu hatiku...
Aku sulit mendefinisikannya...
Seumur hidupku ini yang pertama kurasakan...
Rasa cemas, takut dan tak karuan...
Saat harus melepaskan yang tersayang....
Meski dalam waktu yang tak lama...
__ADS_1
Aku ingin segera berlalu sebulan ini...
Agar rinduku menemukan peraduannya...