Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Bohong sih...


__ADS_3


Aku mengirimkan pesan panjang pada Andreas karena kekesalanku hari ini yang tak kunjung usai. Perkuliahanku padat, tugas menumpuk belum lagi agenda rapat.


Ketiga sahabatku juga sibuk, mereka sama-sama punya program kerja di bidangnya. Kami hanya sempat makan bersama di kantin atau pulang bareng saja setiap harinya...


Hari donor darah telah tiba....


Pagi hari sekali aku menunggu di auditorium, tempat donor darah dilangsungkan. Aku takut kalau-kalau ada yang membutuhkanku untuk perizinan dan lainnya.


Kak Reka juga memintaku untuk menemani anak-anak bidang Sosialisasi politik, termasuk mengajak maru untuk ikut berpartisipasi.


Akhirnya aku ikut serta dan mendaftarkan diriku untuk donor darah juga. Aku tidak sabar mendonorkan darahku untuk pertama kalinya, aku penasaran seperti apa sensasinya. Hahaha...


Sesekali aku mengecek handphoneku, melihat dan membalas chat dari Andreas yang dari semalaman khawatir kepadaku katanya aku terlalu sibuk sekarang.



Aku tidak bilang kalau hari ini adalah donor darah, karena pasti dia akan melarangku ikut donor darah dengan segala macam alasannya.


"Pokoknya jangan donor darah ya, kamu kan lagi kecapean tidur aja gak teratur gitu" gerutunya dalam telepon semalam.


Aku tidak mau memperpanjang masalah, akhirnya aku iyakan saja. "Iya aku gak akan ikut donor ko" jawabku.


Sementara aku berbohong, jiwa penasaranku sangat besar apalagi kuota pendonor masih jauh memenuhi target. Akupun dengan senang hati mendaftarkan diriku.


"Kamu gak lagi haid atau baru beres haid kan rain?" tanya Gian.


"Enggak ko, aku oke" jawabku meyakinkan.


Gian ketua pelaksananya, wajar saja dia menanyakan hal itu padaku.


Aku melihat Kayi masih saja kurang senang kalau melihatku mengobrol berdua dengan Gian, seperti sekarang ini.


"Ka Raina, kak Gian udah punya pacar belum?" tanya salah satu maru perempuan yang ada disebelahku.


"Belum de, ganteng ya? suka kamu?" tanyaku sambil melirik sinis ke arah Kayi.


"Ganteng, sama kakak cocok loh serasi soalnya seimbang" jawab maru tersebut.

__ADS_1


"Hahaha bisa aja, dia jomblo ko. Dia seleranya tinggi haha aku aja ditolak sama dia" jawabku dengan maksud meledek Kayi.


"Wah? kakak aja ditolak apalagi aku?" jawab maru itu lagi.


Jujur saja awalnya aku kasihan pada Kayi, aku merasa Kayi hebat karena bisa menyembunyikan perasaannya pada Gian dari sejak SMA.


Tapi, Kayi malah membalas ketulusanku dengan hal yang tidak baik. Dia bahkan menyebarkan gosip yang bukan-bukan tentang aku dan ketiga sahabatku.


"Maaf Kayi tapi kamu lebih keterlaluan dibanding ledekan aku tadi" pikirku.


Gian kelihatan sangat lelah dan kurang tidur, matanya memiliki kantung hitam.


"Capek ya gi?" tanyaku.


"Hahaha mayan rain" jawabnya.


"Kamu jangan donor berarti" kataku.


"Terlanjur daftar, lagian masa ketuplak gak ikut donor sih" jawabnya.


"Haha ya gapapa kali daripada kamu kenapa-kenapa kan?" kataku.


"Fit ko, aku kan excited mau donor darah untuk pertama kalinya" jawabku.


Kamipun mengobrol berdua sambil menjaga meja pendaftaran untuk peserta donor darah.


"Gi, geser sedikit sana gak enak diliatin Kayi" kataku.


"Haha santay kali, kamu kan pacar orang harusnya gak ada yang berani ngusik kamu!" jawabnya.


Aku hanya tidak nyaman kalau harus membuat orang lagi-lagi bergosip tentang aku dan Gian. Padahal kami hanya mengobrol dan sebatas membantu tugas satu sama lain.


"Dek, ikut kakak yu ke aula kita nunggu disana aja sekalian makan kamu belum makan kan?" ajak kak Reka yang datang mencariku.


"Oh iya ayo, Kak Haykal dimana?" tanyaku


"Dia mah udah disana dari tadi" jawabnya.


"Gian ikut makan yu?" ajakku

__ADS_1


"Duluan aja gih rain, aku masih nunggu yang daftar soalnya panitia lain kan masih istirahat nanti gantian" jawabnya.


"Hmmm, yaudah aku duluan ya" kataku.


"Duluan broh!!" kata kak Reka.


Akupun menuju ke aula dan bertemu dengan Hanifa disana.


"Gila bu sekum (sekertaris umum) sibuk banget" ledeknya sambil memintaku duduk disebelahnya.


"Huuu kaya yang gak sibuk aja, gimana proker kamu jalan?" tanyaku.


"Udah tinggal final aja nih" jawabnya.


Hanifa dan Nunu memang sedang sibuk sekali menggarap proker turnamen futsal dan e-sport. Mereka sering pulang malam bahkan untuk rapat dan urusan ini itu.


"Kamu donor gak?" tanya Hanifa.


"Donor, tapi jangan bilang kak Dhika ya nanti dia ngadu ke kak Iyas" kataku.


"Ih nakal deh, makan dulu yang banyak makanya" gerutu Hanifa.


"Iya iyaaa" jawabku.


Setelah selesai makan, akupun segera ke auditorium untuk donor darah.


"Udah mulai didalem?" tanyaku pada Gian.


"Udah tapi baru nomor antri 11, kamu kan 19 aku 20 kebetulan nanti paling barengan soalnya cuma ada 4 suster didalem" jawabnya.


"Hmm yaudah barengan" kataku.


Namaku dan Gian akhirnya dipanggil, kamipun masuk untuk melakukan donor.


"Ih banyak banget darah yang diambil, itu sekantung gitu darahnya dari kita?" bisikku pada Gian.


"Hahaha iya, kalau nyerah pulang ajalah" ledeknya.


"Sembarangan" jawabku.

__ADS_1


__ADS_2