
Malam harinya....
"Halo de, belum tidur?" tanya Andreas dalam telpon.
"Belum kak, aku mau beresin cover sama dafpus laporan nih soalnya aku liat hasilnya Gian sama Rima masih kurang komplit" jawabku.
"Mau aku bantuin?" tanyanya.
"Gak usah haha ginian doang mah gampang" jawabku.
"Besok, kamu mau kemana? Sama siapa?" tanyanya dengan nada bicara agak ketus.
"Mau sama Hanifa dkk ko, mau cari design palingan makan atau nonton" jawabku.
"Nanti yang ekspos laporan di kelompok kamu siapa?" tanyanya.
"Gian sama aku paling" jawabku.
"Ehhh.... Ya gatau ka gimana nanti keputusannya" tambahku karena merasa tidak enak.
"Ya gak papa sih kalaupun kamu sama Gian yang ekspose nanti, toh kalian juga punya kemampuan presentasi yang lumayan" jawabnya.
"Lah tapi kalo depan dosen itu, aku suka takut kak gemeteran" jawabku.
"Lah pak metik baik kali" katanya.
(Metik itu singkatan dari meteorologi klimatologi)
Akhirnya setelah selesai mengobrol panjang lebar, Andreas memintaku untuk segera tidur dan istirahat. Dia juga lagi-lagi minta maaf karena di hari libur seperti besok, dia malah akan disibukkan dengan tugasnya sebagai asdos.
"Rain, besok kamu cari bahan dan ambil sendiri dulu ya... Soalnya Nunu ada acara kondangan dulu" kata Nunu dalam chat di grup.
"Iya duh, aku juga ada janji lari pagi sama Endrik. Paling nanti baru bisa nyusul agak siangan" tambah Arika.
"Laah kenapa bisa samaan ginisih? Aku juga mau ke pasar mingguan sama adek aku, mau beli baju-baju murah" tambah Hanifa.
"Ih, terus aku besok pergi sama siapa?" gerutuku.
"Sendiri dulu gak papa kan rain? Nanti siapa yang lebih cepet beres urusannya bakal langsung nyusul kamu ke pabrik" balas Hanifa.
"Yaudah deh oke, tapi nyusul ya kan habis ngambil bahan kita cutting sama design" balasku lagi.
__ADS_1
"Iya sayangkuuuu" jawab ketiganya kompak.
Pagi hari sekali, aku sudah bersiap-siap pergi ke pabrik. Aku memanaskan motorku terlebih dahulu dan mengecek jarum bensinnya.
Setelah itu, aku pamit pada Ibu dan Ayah yang ternyata juga punya urusan ke rumah Kakek.
"Teh, selamat ulang tahun ya? Ibu sama Ayah gak bisa kasih apa-apa selain doa dan dukungan buat teteh. Semoga teteh jadi anak yang sukses dan bisa membanggakan keluarga" kata Ayah sambil memelukku.
"Iya teh, tapi Ibu gak sejahat ayah sih haha ibu udah beliin kado buat teteh. Ibu taro diatas lemari baju Ibu, nanti kalo teteh udah pulang cek aja ya" kata Ibu.
Akupun cukup terharu dengan perilaku Ayah dan Ibu barusan yang seolah tetap memperhatikan anak sulungnya yang sudah beranjak dewasa ini, meskipun mereka juga punya kesibukan masing-masing.
Semenjak Ayah dan Ibu membuka kios dagang, mereka jadi cukup sibuk. Pagi-pagi sekali sudah ke pasar untuk belanja, belum lagi kalau Ibu ada pesanan catering. Seluruh isi rumah akan berantakan.
Tapi, sesibuk apapun Ayah dan Ibu mereka akan selalu memperhatikan anak-anaknya. Makanan untukku dan adikku juga selalu sudah dipisahkan dan diberi nama satu sama lain.
"Punya teteh, ade gak boleh makan" itu salah satu tulisan andalan Ibu di setiap jatah makanannya untukku.
Aku memeluk keduanya dengan erat, mencium tangan keduanya karena bercampur haru dan rindu. Kesibukanku sebagai mahasiswa tingkat pertama juga sudah membatasi jam berkumpul dengan mereka.
Aku sudah tidur ketika mereka pulang, atau mereka yang masih tidur ketika aku hendak berangkat kuliah pagi.
"Yaudah, teteh berangkat dulu ya!" kataku sambil berjalan keluar rumah.
"Ah udah punya pacar juga percuma aja rasanya, toh gak bisa barengan pas hari libur, mana aku lagi ulang tahun!" gerutuku dalam hati.
Akupun memacu motorku dengan cukup cepat, tujuannya ingin cepat sampai di pabrik.
Selama perjalanan, hapeku tidak berhenti berbunyi. Semua teman-teman dekatku mengucapkan selamat atas ulang tahunku.
Sesampainya di pabrik, aku membaca satu persatu pesannya dan kemudian berterimakasih.
"Ih kak Andreas beneran gak tau aku ulang tahun? Masa dia terakhir lihat WA nya jam 2 malem tapi gak ngucapin sih?" batinku.
"Ini juga Hanifa, Arika Nunu malah ninggalin aku sendirian"....
"Mereka juga lupa apa kalau hari ini aku ulang tahun?" tanyaku dalam hati.
Saat aku menunggu bahan yang aku pesan dipacking, Gian meneleponku.
"Halo Naaa.... Selamat ulang tahun ya semoga di tahun ini semua yang kamu harapkan terkabul dan semua urusan kamu dilancarkan: katanya.
__ADS_1
"Aamiin.... Makasih yaa gian!" jawabku.
"Kamu mau minta apa dari aku?" tanyanya sambil tertawa.
"Minta ditraktir makan nasi goreng aeps" kataku.
"Yaudah nanti aku delivery ke rumah kamu ya? Hahaha" jawabnya sambil tertawa.
Kalau bukan karena ditelpon Gian dan diajak bercanda seperti barusan, mungkin mood ku sudah berantakan.
Cuaca hari itu juga panas, padahal masih pagi tapi matahari sudah terang sekali.
"Ini neng udah beres!" kata Pak Ghani yang punya pabrik.
"Iya pak makasih ya? Oya nanti cari bahan baru dong pak yang warna pastel gitu haha yang up to date" kataku menyarankan.
"Iya siap neng, itu mau diguntingin sekalian gak?" tanyanya.
"Gak usah pak, kita mau cutting sendiri di penjahit" jawabku.
Akupun menunggu di depan gerbang pabrik karena Hanifa baru saja mengirimkan chat "tunggu ya aku kesana pake motor".
Aku agak heran, kenapa Hanifa mau mengendarai motor di cuaca panas-panas begini. Biasanya kan Hanifa akan selalu memakai mobil kecil kesayangannya kemanapun dia pergi.
"Duh anak cantik kasian sendirian panas-panasan lagi?" ledeknya.
"Ih kesel sebel ah, ayo kita kemana habis ini?" tanyaku sambil memberikan sekarung bahan ketangan Hanifa.
"Kita ke rumah aku aja yuk, dirumah kosong ko. Adek aku mau berangkat ke jogja buat study tour terus orang tua aku juga lagi dirumah Tante Hanny" ajaknya.
"Lah emang ada banyak gunting sama penggaris?" ledekku.
"Jangan gitulah, hahaha nanti kita cari di gudang hahaha" jawabnya.
"Terus si Nunu sama Arika gimana?" tanyaku.
"Ya kita suruh mereka nyusul lah ke rumah aku" jawabnya.
Akupun sampai di rumah Hanifa, rumah favoritku. Rumahnya cukup luas tapi lebih luas lagi halaman dan tempat parkirnya. Aku bisa bermain badminton disini, rumahnya memang sepi karena keluarga Hanifa sangat sibuk.
Ayahnya bekerja di Jogjakarta sebagai anggota dewan. Ibunya juga sama sibuknya, beliau adalah kepala sekolah menengah atas di Majalengka. Hanifa ini tiga bersaudara, dia anak kedua. Yang pertama adalah kak Fina, Hanifa dan Fania. Ketiganya benar-benar bibit unggul, mereka cantik dan berbakat.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini ya, aku bawain gunting sama peralatannya dulu" katanya sambil berlari ke atas.
"Oke santai" jawabku.