
"Raina lagi-lagi drop, kayanya karna kamu telat nebus resep obat ya?" tanya Dokter.
"Iya dok, tapi baru dua hari ini ko aku gak konsumsi obat" jawabku.
"Raina kasus anemia defisiensi besi itu memang abstrak, hanya dirasakan saat gejalanya muncul jadi kebanyakan dianggap remeh tapi kalau dibiarkan bisa berbahaya juga loh. Tensi kamu juga lagi-lagi rendah, paling saya minta kamu cek lab supaya tau gula darah kamu rendah atau tidaknya" jelas Dokter.
"Iya dok" jawabku pasrah.
"Pencernaan kamu udah bagus, asam lambungnya sepertinya sudah normal. Hanya saja pola makan tetap harus dijaga ya, jangan dulu makan mie"...
Andreas terlihat marah dan memintaku keluar lebih dulu, sementara dia sepertinya hendak berkonsultasi dengan dokter.
"Kamu keluar duluan" katanya tanpa melihatku.
.....................
...............................
Setelah keluar dari ruangan....
"Aku gak tau kalau efeknya bakal kaya gitu, lagian aku pikir dengan aku minum vitamin dari kakak aja udah cukup" kataku sambil melihatnya.
Dia malah pura-pura tidak mendengarku.
Dia langsung pergi ke arah apotek untuk mengambil resep obat dan masih tidak menggubrisku.
"Yaudah lah aku mau pura-pura pingsan aja nanti biar dia gak marah lagi" ...
Andreaspun kembali dan membawakan obatku, tapi kali ini aku tidak akan bertanya apapun.
Percuma, dia sedang marah begitu...
..............
...................
Setelah berada didalam mobil....
Andreas terlihat menelpon seseorang.
"Ya Nirwan, saya mau kamu cari pengganti ketua tim evaluasi soalnya Raina gak akan ikut. Raina sakit!"
"Oke thankyouuu"
Aku terkaget-kaget mendengarnya, seketika saja aku menanyakan maksudnya berkata demikian.
"Kakak apaan sih? Kenapa kakak minta Nirwan nyari pengganti aku? Kakak gak tau apa itu acara tinggal sehari lagi" kataku.
"Kamu udah drop begitu, masih mau maksain turun ke lapangan?" jawabnya ketus.
"Aku gak maksain, aku lebih tau batas diri aku ya kak. Aku udah dikasih tanggung jawab besar buat jadi ketua tim, mereka juga pasti kecewa kalau aku mundur disaat sekarang ini" jelasku.
"Mereka bisa kan naikin Hasan atau Roby jadi ketua? Kamu gak usah maksain. Kalau kata aku nggak ya nggak" katanya.
Aku terdiam sejenak sambil terus mencari makna sebenarnya dari perkataan Andreas tadi.
"Kalau gitu turunin aku" kataku.
"Kenapa minta diturunin tiba-tiba begini?" tanyanya.
"Turunin sekarang" kataku.
"Jangan gitulah dek, aku kaya gini karena aku khawatir sama kamu" jawabnya.
"Turunin sekarang" kataku.
Andreaspun menghentikan mobilnya, aku segera turun sebelum akhirnya dia mengunci otomatis pintunya.
"Aku gak suka ya, kakak ngatur-ngatur hidup aku! Kakak tanpa ngomong dulu, langsung minta Nirwan cari pengganti aku buat besok? Menurut kakak dengan kakak kaya gitu, bagusnya apa? Tetep aku yang jelek dimata temen-temen nantinya. Aku akuin aku ngedrop, kecapean dan kurang jaga pola tidur sampe aku telat tebus obat. Tapi bukan berarti kakak bisa marah-marah kaya gini! Aku yang tau batas diri aku dimana, dan aku tau kemampuan diri aku sampe mana. Kakak jangan pernah bilang aku maksain. Aku bener-bener kerja diBEM dan gak pernah merasa terpaksa. Aku pikir kakak berlebihan.... Jadi tolong buka pintunya sekarang" kataku.
Andreas sekarang bergeming, matanya melihat ke arahku dan tidak sedingin tadi.
Beberapa detik dia seperti berpikir sambil mengambil nafas panjang.....
"Oke, silahkan turun tapi setelah kamu denger penjelasan aku" katanya sambil membukakan kunci pintunya.
Aku sudah terlanjur kesal dan langsung mengambil kesempatan untuk keluar dari mobil dan kabur dari Andreas.
Dia terlihat mengejarku tapi untung saja didepan ku saat itu ada angkot yang lewat. Akhirnya aku bisa meninggalkannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Didalam angkot yang tujuannya entah kemana itu, aku hampir saja menangis. Mungkin sudah menangis kalau angkot tidak dalam kondisi sepenuh itu.
Aku mencoba menelpon Hanifa tapi tidak diangkat, Nunu juga kalau Arika mungkin sedang sibuk di acara keluarganya.
Setelah kutanya pada penumpang, angkot ini mengarah ke kampus. Untung aku segera bertanya dan akhirnya bisa turun sebelum angkot maju lebih jauh lagi.
Akupun memesan ojek online saat itu, sambil menunggu di toko kelontongan pinggir jalan.
Andreas menelponku terus menerus, tapi aku tidak mau mengangkatnya.
Dipikiranku saat itu, aku kesal saja. Bagaimana dia dengan seenaknya saja menelpon Nirwan dan membatalkan semua rencanaku.
Aku langsung menelpon Nirwan untuk menceritakan kejadian sebenarnya, dia hanya tertawa dan bilang kalau aku dan Andreas lucu karena bertengkar dengan alasan sepele.
"Kalian berantem gara-gara itu doang? Aduhhhh yaudah aku anggap omongan kak Iyas tadi bercandaan ya berarti, kamu dimana sekarang?" tanya Nirwan.
"Dijalanan, aku turun paksa dari mobilnya dia" jawabku.
"Yaudah hati-hati" kata Nirwan sambil menutup teleponnya.
......................
..............................
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Ibu keheranan mendapatiku pulang dengan ojek.
Namun, sebelum Ibu bertanya lebih jauh aku sudah menutup percakapan terlebih dahulu.
"Udah yah bu, aku mau tidur istirahat soalnya capek! Kalau ada yang nanyain siapapun itu, bilang aja aku gak ada dirumah. Inget ya bu bilangin aku gak ada dirumah" kataku sambil memasukan sepatu yang kupakai barusan dan kusembunyikan didalam rumah.
"Ih, kenapa sih kalau jauh banyakan kangennya giliran mau deket gini aja ada terus masalahnya" gerutuku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa menit kemudian....
Aku berusaha untuk memejamkan mataku dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Sampai Ibu mengetuk pintu kamar dan berteriak dari luar.
"Teh, Ibu sama Recca mau beli barang yang kosong dianter sama Randy. Pintu gak ibu kunci soalnya ada Mang Pani lagi betulin rolling door warung diluar" kata Ibu.
"Hmm yaaa" sahutku.
Tiba-tiba saja karena haus, aku harus turun kedapur untuk mengambil air minum.
Saat hendak naik lagi ke kamar, ada suara ketukan pintu.
"Kenapa mang?" teriakku.
"Ini neng ada paket" sahutnya.
"Paket? Punya siapa ya? Ibu? Apa Randy?" gumamku.
"Iya mang sebentar" teriakku.
Akupun membuka pintu dengan maksud mengambil paketnya.
Setelah kubuka ternyata Andreas sudah berdiri didepan pintu rumahku.
Aku segera berbalik lalu mencoba menutup pintu dari dalam. Tapi, tangan Andreas menahanku
"Kita omongin yang tadi ya, jangan kaya gini dong" katanya.
"Bukannya kakak gak mau ngomong sama aku? Bukannya dari tadi kakak diemin aku?" kataku dengan ketus.
"Aku cuma khawatir sama kamu, udah aku bilang sejak aku jauh sama kamu. Aku ngerasa aku gak bisa jagain kamu dengan benar, berkali-kali kamu sakit terus kamu celaka dan kamu dapet masalah. Sekarang? Kamu drop lagi. Aku kepikiran udah gitu aja. Aku gak ada maksud ngelarang-larang kamu, sok tau tentang diri kamu dan gak ngertiin posisi kamu. Aku cuma mau kamu bertanggung jawab sama diri kamu sendiri" jelasnya.
"Tapi kakak tetep gak bisa dong, seenaknya nelpon Nirwan dan minta dia gantiin posisi aku" kataku.
"Iya aku akuin, aku salah disitu. Harusnya aku nanya kamu dulu, harusnya aku gak ngambil keputusan sepihak kaya tadi" jawabnya.
"Baguslah kalau nyadar. Yaudah kakak udah gak ada yang perlu diomongin lagi kan? Aku mau tidur istirahat" kataku.
"Yaudah kamu istirahat aja, ini obat yang tadi. Minum aja kalau kamu emang pingin minum, tapi lebih baik kamu minum sih. Aku gak akan maksa kamu lagi ko, maaf ya udah ganggu" katanya sambil berbalik dan berlalu.
Baru beberapa langkah saja dia meninggalkanku, aku sudah merasa tidak enak. Sepertinya, dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan tadi.
Saat itu juga, aku mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
"Jangan kaya gitu lagi, aku takut liat kakak marah. Aku gak suka kakak bentak-bentak aku" kataku.
Dia berbalik dan memegang kedua pipiku.
"Yaudah, aku ikut ke kosan kakak. Tunggu aku ambil tas sama handphone aku dulu" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa jam kemudian....
Setelah selesai membereskan semua barang dan tinggal merapikannya saja, Andreas memintaku beristirahat dan dia yang akan merapikan sisanya.
"Gak apa-apa, nanggung kan?" kataku.
"Hari ini kamu nginep sini aja" katanya.
"Ngaco, besok pagi kan aku ada kuliah. Lagian Ibu sama Ayah juga gak akan izinin" jawabku.
"Iyasih, lagian kamu juga harus tidur yang bener" katanya.
"Kak bentar ya kayanya kepala aku pusing lagi" kataku mencoba untuk membohonginya.
Dia bergegas ke arahku dan menyuruhku duduk, lalu mengambilkanku air minum.
"Masih pusing? Kita ke dokter lagi ya? Atau kamu mau aku anterin pulang biar bisa tidur ya?" tanyanya.
Wajah Andreas kali ini lucu dan terlihat seperti kucing peliharaan yang jinak.
Tidak seperti macan yang mengamuk tadi siang.
Akupun pura-pura bangun dan pingsan seketika.
"Dek, dek... Raina...." teriaknya panik.
Dia membaringkanku diatas kasurnya, lalu sepertinya hendak menelpon dokter atau ambulans.
........
........
Saat dia duduk disebelahku dan memainkan ponselnya sambil mengecek kondisiku, secepatnya aku bangun dan mencubit pipinya.
"Prank!!!!!" teriakku.
Dia tertawa dan langsung balas memelukku.
"Ih, jail ya" gerutunya.
Aku menatapnya dalam-dalam dan menyadari bahwa aku memang tidak pernah bisa marah kepada Andreas. Sedingin apapun dia bersikap kepadaku, aku tetap tidak bisa marah berlama-lama padanya.
"Rain, tidur gih! Biar aku beresin" katanya sambil beranjak.
__ADS_1
"Gak mau, sama aku aja dulu sini. Aku lagi sakit loh" ledekku.
"Iya sakit, orang sakit mana yang bisa nge prank pacarnya sendiri? Udah tidur aja ya nanti aku anterin pulang sebelum jam 9" katanya.
"Gamau, aku mau makan laper" kataku.
"Yaudah, tunggu ya. Aku pesenin!" jawabnya.
"Gamau, aku mau nasi goreng abang-abang" pintaku.
"Apa? Nasi goreng? Gak boleh dulu ya, nanti kalau udah sehat bener baru boleh makan nasi goreng.. Sekarang makan yang aman-aman aja" katanya.
Ternyata dia memang berubah, dia lebih memikirkan perasaanku sekarang. Andreas menata cara bicaranya menjadi lebih halus.
Pacarku memang berbeda, dia tahu bagian mana yang salah dan langsung berubah tanpa butuh waktu lama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya di kampus...
Aku dan Hanifa dipanggil oleh ketua jurusan.
"Rain, Fa nanti habis kelas Geoling kalian ke ruang kajur ya" kata Agung.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Gak tau rain" jawabnya.
Hanifa langsung memikirkan sesuatu, dia takut kalau kami berdua sudah berbuat kesalahan tanpa kami sadari.
"Kesalahan apa sih fa? Perasaan kita santai aja kan" kataku.
"Apa karena kita jualan ya dikelas? Tapi kan kita transaksi juga bukan pas jam belajar" katanya.
"Yaudah sih nanti kita datengin aja dulu" kataku.
Sudah terbayang di pikiranku, bagaimana hari ini akan menjadi sangat berat. Kuliah padat, ada panggilan dari kajur ditambah pekerjaan di BEM...
Sepertinya, aku dan teman-teman tim evaluasiaku akan berada di kampus hingga malam.
Kami harus menyelesaikan angket, deskripsi individu dan bahan untuk kerja komdis.
........
...............
Setelah kelas selesai...
"Nunu sama Arika udah beres belum sih kelasnya?" tanya Hanifa.
"Udah kayanya, mereka sih tadi ngabarin katanya lagi di selasar jualan" jawabku.
"Yaudah, ke selasar dulu yu? Titipin pesenan nih berat kalau dibawa-bawa" kata Hanifa sambil menunjuk dua kantong cukup besar berisi pesanan totebag, pouch, dan beberapa aksesoris.
"Sini aku bawain satu" kataku.
Sesampainya diselasar ....
"Dagangan udah habis?" tanyaku.
"Belum nih masih ada 8 lagi mochienya, kalau donat sih udah habis dari tadi" jawab Nunu.
"Yaudah, boleh titip pesenan ini gak? Nanti anaknya aku suruh ambil kesini. Soalnya aku sama Hanifa dipanggil sama ketua jurusan" kataku.
"Ngapain? Kalian bikin rusuh?" tanya Arika.
"Gue juga gak tau ka, makanya gue titip ya ni barang. Gue takut kena marah kalau ketauan jualan lagi" jelas Hanifa.
"Iya taro aja, gue sama Arika nunggu disini sampe kalian beres" jawab Nunu.
...........
......................
Sesampainya di kantor jurusan....
"Oh iya Raina dan Hanifa silahkan masuk" ...
"Maaf pak, ada perlu apa ya manggil kita berdua kesini?" tanya Hanifa.
"Pertama, bapak mau mengabari kalau proposal kalian yang ditolak kemarin akan bapak ambil. Maksudnya bapak mau mengangkat proposal kalian sebagai tema penelitian bapak. Itupun kalau kalian izinkan, bapak sudah membicarakan ini dengan Pak Nundy. Beliau juga setuju karena menurut beliau ini tema yang cukup sederhana namun menarik. Bapak juga kurang paham, tema-tema inovasi makanan lebih banyak dilirik tahun ini dibanding proposal seperti punya kalian" jelasnya.
"Jadi pada intinya, bapak mau memakai proposal kita?" tanyaku.
"Iya, kalau kalian izinkan. Bapak juga mau meminta secara langsung kalian untuk jadi assisten bapak selama pengerjaannya berlangsung" jawabnya.
Aku dan Hanifa hanya lirik-lirikan, satu sisi kami senang karena karya kami dihargai tapi sisi lain kami takut berbuat kesalahan ditambah lagi kalau kami menerima tawaran ini, sama saja kami menambah pekerjaan kami yang sudah menumpuk ini.
"Untuk hal yang satu itu, bapak kasih kalian waktu satu minggu untuk memikirkan keputusannya. Kedua, karena sebentar lagi akan ada pemilihan duta kampus. Bapak dapat banyak saran dari dosen yang mengajar terutama dari Pak Rohmat dan beberapa teman kalian, kalau kalian berdua ini paling cocok untuk dicalonkan. Bapak secara langsung meminta kalian mewakili jurusan ini untuk ikut pemilihan duta kampus" jelas beliau lagi.
Pengumuman yang kedua lebih membuatku dan Hanifa kaget, bagaimana mungkin kami yang notabene tidak begitu rapi dan tidak begitu aktif seperti mahasiswa perempuan yang lain bisa dicalonkan untuk ikut pemilihan duta kampus.
"Kalau Hanifa sih wajar, dia kan super cantik. Nah aku? Bakal malu-maluin jurusan sendiri kayanya" gumamku.
"Hmm pak, maaf sekali tapi sepertinya saya dan Raina tidak bisa kalau untuk ikut pemilihan duta kampus. Sepertinya, banyak calon kandidat yang lebih pantas" jawab Hanifa.
Pak Yana terlihat menarik nafasnya.
"Tapi tidak mungkin para dosen apalagi Pak Rohmat sampai berani merekomendasikan kalian, kalau mereka-mereka tidak melihat sepak terjang kalian sehari-hari. Begini sajalah ya, untuk hal itu juga kalian silahkan pikirkan dulu. Minimal satu diantara kalian berdua harus ikutlah. Bapak langsung loh yang minta, jadi tolong jangan kecewakan bapak ya" pungkas Pak Yana.
"Baik pak, kalau begitu setelah seminggu kami akan memberi tahu keputusan kami" kata Hanifa sambil pamit.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=