Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Pengakuan Gian..


__ADS_3

(Raina sebagai aku)


Pukul 5 pagi...


Saat aku masih bingung dengan keakraban Andreas dan Gian tiba-tiba saja Gian bilang ...


"Raina, kalau ada yang suka sama kamu meski kamu gak suka sama dia tapi dia berani ngutarain perasaannya ke kamu duluan... Kamu bakal gimana?"


Aku kaget dengan pertanyaan Gian barusan.


"Kenapa tiba-tiba kamu nanya kaya gitu? Wah kamu lagi naksir orang ya?" kataku dengan ekspresi meledek.


"Hmmm... Engga... Aku cuma mau belajar jujur sama perasaan aku" katanya dengan ekspresi muram.


"Jujur sama perasaan? Maksudnya kamu mau nembak orang?" tanyaku balik.


"Iya... Sepertinya gitu..." jawabnya.


"Siapa? Kayi?" tanyaku lagi..


"Bukan...


"Kamuu....


"Kamuu rain...


Aku terkejut dan tidak tahu harus bilang apa, seperti ada petir di pagi buta. Hatiku tersentak sedemikian kerasnya.


"Maksud kamu?" tanyaku meyakinkan.


"Aku suka sama kamu Raina... Aku gatau kenapa, aku gak punya alesan... Tapi, semua kejadian yang pernah kita lewati rasanya selalu berkesan buat aku... Semua yang menyangkut tentang kamu, semua menarik buat aku"....


"Yaaa aku tau, kamu punya perasaan sama orang lain bukan sama aku tapi rasanya gak salah kan kalo aku jujur?" ....


"Raina... Tolong gak usah dijawab... Tolong anggap aku gak pernah bilang apa-apa ke kamu... Tolong tetep jadi temen aku!" katanya.

__ADS_1


Aku semakin salah tingkah, satu sisi aku menghargai kejujuran Gian tapi sisi lainnya aku bingung bagaimana harus merespon perkataan Gian barusan.


"Gian... Aku......"


Belum selesai aku berbicara, Gian sudah menyela perkataanku.


"Aku kan udah minta gak usah dijawab haha lagian kan aku tahu kamu suka sama siapa, gak papa anggap aja aku cuma membebaskan rasa aku. Setelah ini tolong jangan jauhin aku" katanya sambil tersenyum.


"Gian... Aku....."


Gian tetap bersikeras menghentikan perkataanku, kali ini bahkan dia langsung memakai headsetnya sambil menyalakan lagu dari ipadnya.


"Gian, aku hargain kejujuran kamu... Tapi maaf, udah ada orang lain di hati aku... Kalau aku bisa milih, mungkin aku juga mau hati aku untuk suka ke kamu...tapi hati tuh gak bisa milih tempat... Gian, kadang aku ngerasa nasib gak sejalan sama harapan... Kamu suka aku, aku suka yang lain dan yang lain itu entah bagaimana perasaannya."


"Kalau kamu nanya pandangan aku tentang gimana responku saat ada orang yang suka ke aku, berani mengutarakan perasaannya duluan meski dia tau sebenarnya aku suka sama orang lain. Pasti aku bakal hargain kejujuran dia, atau bahkan aku kasih waktu untuk orang itu nunjukin keseriusannya ke aku"


Gian sama sekali tidak menatap apalagi mendengarkan omonganku, dia malah asyik dengan musik yang dia dengarkan.


Meski saat itu Gian tidak mendengarkan perkataanku, tapi setidaknya aku mengeluarkan semua kata-kata yang tadi sempat tertahan di ujung lidahku. Aku juga mau menjawab semua yang Gian tanyakan. Aku mau Gian sudut pandangku.


Gian membuka headsetnya...


"Kamu laper ga? Aku bawa roti lagi ditas" katanya.


"Belum, belum laper. Kamu aja makan!" sahutku.


Gianpun makan dengan rakusnya. Aku cuma tertawa saja memandanginya.


Ketika Gian sudah selesai makan, dari kejauhan aku melihat Kak Dhika dan Kak Andreas berjalan menuju posku.


"Loh ko gak pake motor?" tanyaku dalam hati.


Kak Dhika lalu tersenyum sumringah seperti biasanya. Kebetulan saat itu tim konsumsi sedang lewat untuk membagikan kotak sarapan.


Kak Dhika dengan semangatnya mengambil jatah kami berempat. Lalu, karena aku rasa aku perlu membiarkan Gian sendirian dulu. Akhirnya, aku ajak Kak Andreas dan Kak Dhika ke sebrang jalan karena disana ada saung tengah sawah yang cukup besar.

__ADS_1


"Kak, makan disini aja dulu tuh disana ada saung yang lebih gede. Kita kesana yu?" ajakku.


Mereka setuju, dan aku juga sempat mengajak Gian ikut tapi dia bilang kalau dia masih belum lapar karena sudah makan banyak roti sobek barusan.


Jalan setapak yang kami lewati cukup licin, ditambah karena aku memutuskan untuk membuka sneakersku karena takut basah dan kotor.


"Ah padahal tau gini aku pake sendal jepitnya Gian aja" gerutuku dalam hati.


Berkali-kali aku hampir saja terjatuh, tapi Kak Andreas sepertinya memperhatikan cara berjalanku. Setiap kali aku akan jatuh, tangannya selalu langsung menarik dan menahanku.


Kali ini pegangannya cukup kuat bahkan lama... Aku merasakan sekujur tubuhku seperti tersengat listrik..


"Rasanya begini ya pegangan sama orang yang kita suka" gumamku.


Aku takut wajahku matang karena kemerahan menahan malu. Akhirnya aku bilang "Kakak boleh lepasin tangan kakak kok"..


Padahal kalau dipikir-pikir, aku hanya tinggal melepaskan saja peganganku tanpa harus meminta Kak Andreas melepaskan tangannya.


"Nanti sampe ujung baru aku lepas" katanya dengan ekspresi datar.


"Hih mentang-mentang komdis, ngomong kaya gitu aja mukanya tegas banget" gerutuku dalam hati.


Kak Dhika sudah cukup jauh berjalan didepan kami, tapi aku yang kesusahan karena jalan yang semakin sempit masih saja membuat Kak Andreas susah.


"Duh bentar kram" kata Kak Andreas tiba-tiba.


Wajahnya mengerenyit seperti kesakitan. Aku kasihan dan berniat memapahnya, akhirnya tanpa pikir panjang aku tarik tangan Kak Andreas ke bahuku sambil meminta tolong Kak Dhika untuk membantu.


Sesampainya di saung.


"Aku urut ya!" kataku.


Kak Andreas terlihat ketakutan, sepertinya dia merasa aku akan membuat kakinya yang kram semakin sakit.


"Wah otot kaki kakak tegang ya? Wah kaka pernah dijait juga?" tanyaku saat kaget melihat bekas jahitan di dekat tumitnya.

__ADS_1


"Hmm iya" jawabnya sambil kesakitan.


__ADS_2