
Penelitian pun akhirnya selesai....
Aku, Hanifa, Arika dan Nunu janjian pulang barengan. Katanya semua anak cowok yang tadi berangkat bareng mereka, ada acara survey buat inagurasi.
"Kok banyak banget yang ikut survey inagurasi?" tanya Hanifa.
"Iya haha mungkin biar banyak melibatkan anak baru" jawab Ka Dhika yang entah datang dari arah mana.
"Ih macam hantu saja tiba-tiba ada disana sini" gerutu Arika yang kaget.
Dhikapun tertawa mendengar cara bicara Arika yang aneh dan formal.
"Kesambet hantu belanda disini?" ledek ka Dhika.
Ka Dhika malah mendekatiku dan bilang...
"De aku titipin kamu ke Andreas ya? Hahaha pulang sama dia oke jangan bawa motor sendiri" kata Ka Dhika sambil mengacak-acak rambutku.
Nunu terlihat heran dengan tingkah laku Ka Dhika yang sepertinya perhatian sekali itu.
"Eh itu si Ka Dhika jangan-jangan naksir kamu lagi rain" celetuk Nunu.
"Iya setuju! Masa dia ke pos akupun malah excited nya ngobrolin kamu! Hahahaha" tambah Hanifa.
"Raina si bintang yang bersinar" ledek Arika.
Padahal saat itu, aku tau percis bahwa yang disukai Ka Dhika adalag Hanifa. Cuma terlalu awal saja kalau aku menceritakannya sekarang. "Aku harus cari tahu dari Kak Andreas" gumamku.
Kami berlimapun larut dalam tawa, sebelum akhirnya Gian datang dan memberikanku jaket tebalnya.
"Dijalan dingin, angin juga kenceng belum nanti pasti kamu sampe kampus sore banget. Tadi aku liat jaket kamu kurang tebel, kamu pake jaket aku aja nih!" kata Gian sambil memberikan parka tebalnya padaku.
"Lah kamu gimana? Yaudah kamu pake sweater aku ya?" sahutku sambil melepaskan sweater oversize yang sedang kupakai.
"Yaudah hati-hati dijalan, kalau yang bonceng ngebut pukul aja!" katanya sambil berlalu pergi menuju aula untuk diskusi malam inagurasi.
Aku dan ketiga sahabatkupun menunggu salah seorang teman kami yang lain yang sekiranya dapat menemani Nunu. Maklum, Arika kan sama Hanifa, aku sudah janji dengan kak Andreas sementara Nunu masih sendirian.
"Nu ajakin aja yang rumahnya searah sama kamu!" kataku.
"Iya ada sih itu si Azka!" jawabnya.
__ADS_1
"Yaudah ajakin gih" kata Hanifa.
"Tunggu deh aku samperin Azkanya dulu" kata Nunu.
Setelah proses pembujukkan yang cukup alot oleh Nunu dan Hanifa, akhirnya Azka mau pulang bersama kami.
Azka ini teman SMA Nunu dulunya, tapi mereka belum pernah satu kelas. Mereka cukup dekat dan sering sekali bertengkar atau menjahili satu sama lain di kampus.
Kak Andreas belum juga datang, sementara yang lain sudah bersiap untuk bergegas pulang sebelum kabut mulai turun.
"Hallo de, tungguin ya kakak beres-beres dulu!" katanya dalam telepon.
Selang beberapa menit...
Andreas terlihat keluar dari aula dan memimpin doa bersama sebagai simbolis penutupan praktikum lapangan hari itu.
Saatnya pulang....
"De, kamu pakai jaket siapa?" tanya Andreas.
"Gian haha tadi tukeran soalnya kata Gian switerku kurang tebel ka" jawabku.
"Hm"katanya sambil memakai helmnya.
"Masih nyaman ko" jawab Andreas datar.
"Apa-apaan ini kenapa dia jadi berubah sikap gini semenjak nanyain tentang jaket" pikirku.
Selama di perjalanan, aku lebih banyak diam sambil menikmati pemandangan hamparan kebun teh yang teramat luasnya dan sesekali mengambil gambar dari kameraku.
"Mau berhenti dulu?" tiba-tiba saja Andreas bertanya begitu.
"Eh gausah" jawabku.
"Ya, abis dari tadi kan kamu ngambil foto terus daripada ganggu mending kita berhenti dulu" gerutunya.
"Yaudah aku gak akan ngambil foto atuh kalo ganggu, kakak jalan aja terus!" jawabku sambil langsung memasukkan kamera ke tas.
Tanpa seizinku, dia malah memberhentikan motornya dipinggir jalan.
"Ayo turun!" ajaknya sambil mengisyaratkan tangannya seolah ingin menjaga keseimbanganku.
__ADS_1
Aku tidak mau memegang tangan kak Andreas saat itu, masih teringat saja di pikiranku bagaimana tadi dia merasa aku telah mengganggunya saat mengambil foto sepanjang perjalanan.
Aku langsung saja turun dan berjalan menuju ke kebun teh yang berada di samping jalan tempat kami berhenti.
"Eh eh tunggu, seenaknya aja pilih rute! Kita harus mikir dulu mau parkir dimana?" jelasnya sambil mendorong motor.
"Tuh ada lahan parkir disana" tunjukku sambil membuang muka karena kesal.
("Andreas berbeda dengan Gian... Gian lebih bisa memperlakukan perempuan dengan baik... Kata-katanya juga sopan dan tidak pernah buat orang tersinggung" pikirku)
Kamipun sudah tiba di tempat parkir, ternyata kami harus membayar biaya retribusi dan parkir sebesar Rp.5000. Andreas yang membayarnya, aku sih belum mau mengobrol atau membuka topik terlebih dulu.
Akupun segera mengeluarkan kembali kameraku. Mengambil beberapa gambar dan tak lupa mengobrol dengan ibu-ibu yang sedang memetik daun teh.
"Bu, tos lami metikkan daun enteh didieu?" tanyaku.
(Bu sudah lama kerja jadi pemetik daun teh disini)
"Atos neng tos langkung ti sapuluh tahun" jawabnya
(Sudah lama neng, lebih dari 10 tahun)
"Naha bu seseeurna pami abi ningal, nu metik daun teh kedah enjing keneh jeung sore kieu kitu?" tanyaku lagi.
(Kenapa bu saya liat kebanyakan yang memetik daun teh itu di waktu pagi sekali dan sore begini)
"Muhun neng, pami enjing keneh kan teu acan aya kontaminasi udara masih keneh seger teu acan seeur zat-zat berbahaya sapertos ti kendaraan bermotor anu lalangkung janten daun teh sareger keneh... teras pami sore sapertos kieu mah seseeurna nya minuhan target weh... Salian ti eta ge, pami enjing keneh mah peta ni sareng buruh pabrik teh sehat kumargi seger kitu" jelas ibu petani tersebut.
(Iya neng, kalau masih pagi di udara belum terkontaminasi zat-zat berbahaya terutama dari kendaraan bermotor yang lalu lalang disini jadi daun teh kondisinya masih bagus, terus kalau sore biasanya cuma untuk memenuhi target saja. Selain itu, memetik teh di pagi hari juga sehat untuk petani dan buruh pabrik teh karena udara masih segar)
Andreas terlihat mengamati apa yang aku lakukan saat itu, tapi dia bahkan tidak berani mendekatiku.
Akusih acuh saja dan terus mengambil foto-foto berlatar kebun teh.
Tiba-tiba objek fotoku fokus pada kak Andreas, dia terlihat proporsional dari segala sisi. Hanya sayang, dia sebenarnya baik tapi dia menutupi sisi baiknya dengan wajah dingin dan arogansinya. Padahal aku berani jamin kalau Andreas ini berhati lembut meski terlihat kasar diluar..
Andreas menyadari bahwa aku sedang memotretnya, dia berteriak "Hey gaboleh ambil gambar orang sembarangan".
"Tanggung!!! udah aku ambil ko hahaha" ledekku
Tak lama kabut mulai turun. Aku bergegas berlari ke tempat kak Andreas berdiam diri, maksudku mau mengajaknya melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Kak ayo kabutnya udah turun" kataku berteriak.
"De awas!!!!"