Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Cerita baru ...


__ADS_3

Aku dan Gianpun merapikan laptop dan segera menuju perpustakaan. Ketika baru keluar dari fakultas, telponku berbunyi.


"Woy jadi gak nitip motor ke aku?" kata Andri saudara sepupuku itu.


"Maaf ndri gak jadi kayanya soalnya aku mau kerja kelompok dulu haha" jawabku.


"Oh yaudah haha hati hati ya kalau pulang!" katanya sambil menutup telpon.


"Oke" pungkasku.


Sambil terus berjalan, aku mengamati kondisi sekitar parkiran fakultas untuk mencari keberadaan Andreas tapi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Andreas disana.


"Andreas kemana yaaaa?" tanyaku dalam hati.


Sedari tadi mataku berkeliling keseluruh sudut fakultas. Berharap ada sosok yang tiba-tiba tertangkap oleh mataku.


Tiba-tiba kakiku keseleo, keseimbangan jalanku terganggu.


"Eitss eitss hati-hati" kata Gian dengan sigap menahanku dari jatuh.


"Duh maaf ya gi, ini kaki aku sakit lagi haha" kataku.


"Duduk dulu deh di pinggir, nanti kalo udah enakan jalan lagi ya?" ajaknya.


"Gak usah udah hayu aja lanjut!" kataku sambil mengembalikan posisi berdiriku ke semula.


Gian menggeleng-gelengkan kepalanya seolah pasrah dengan sikap keras kepalaku yang tetap mau berjalan dalam kondisi kaki yang sakit.


"Kamu jatoh dari motor? Si andreas gak becus boncengin kamu?" tanyanya sambil berjalan didepanku.


("Ini tadi dia khawatir, tapi sekarang dia jalan cepet banget ninggalin aku di belakang... Dia kenapa sih?" batinku)


"Hmmm bukan gitu gian, sebenernya aku jatoh karena lari-lari di kebun teh hehehe jalannya licin sih" kataku.


"Terus si andreas liatin doang? Si andreas nggak ngapa-ngapain? Dia bereaksi gimana?" tanya Gian sambil tetap tidak melihat kearahku.


"Ya dia nolongin akulah, dia lari ke rumah warga minta obat gitu terus kamu mau tau ga?.......


"Udah gak usah dijelasin, kamu selalu semangat tiap jelasin soal Andreas haha" ledek Gian memotong pembicaraanku.


Entah kenapa aku merasa saat itu Gian terlihat tidak senang dengan ceritaku. Apa Gian merasa bahwa aku terlalu berlebihan? Apa aku terlalu memperlihatkan ketertarikanku pada Andreas? .....


Kamipun sampai di perpustakaan...

__ADS_1


Gian masih berjalan didepanku, tidak melihat wajahku sama sekali. Gian sepertinya asyik dalam dunianya, memakai headset dan sesekali mengacak-acak rambutnya seperti sedang pusing.


"Kamu pilih loker gih! Aku duluan ke dalem ya?" katanya saat hendak me-swipe kartu mahasiswanya.


Akupun mencari loker kosong untuk menaruh barang-barangku dan segera mencari tempat Gian duduk.


"Dih duduknya di pojokkan gitu serem banget emang gak ada tempat lain apa?" batinku saat melihat Gian duduk di pojok dekat jendela besar yang langsung tembus ke aula.


Aku duduk dihadapan Gian sekarang, kulihat Gian sudah mulai mengetik bahannya untuk pendahuluan.


"Aku bikin bab 2 jadinya?" tanyaku memecah keheningan.


"Ya" jawabnya.


"Tapi aku minta draftnya dong soalnya males scroll chat, di grup hehe" rayuku.


"Sini duduk sebelahan, liat draft aku aja" katanya sambil tetap fokus melihat ke laptop.


Akupun pindah posisi duduk ke sebelah Gian, melihat caranya mengetik sekaligus membaca dengan sangat serius.


"Kamu bisa aku ajak bercanda atau aku mintain tolong gak sih kalau lagi ngerjain tugas gini?" ledekku sambil menyiku tangannya.


"Kenapa? Kamu laper? Mau minta aku beliin cemilan?" ledeknya.


Gian tidak menggubris perkataanku, dia malah tetap asyik sendirian. Akupun dengan terpaksa melirik bahan yang diketik Gian untuk kemudian mencari bahanku sendiri.


"Tunggu sebentar disini!" kata Gian sembari berdiri dan meninggalkan aku sendirian.


Aku cuma mengangguk saja..


Beberapa menit kemudian Gian kembali dengan membawa kantung plastik berisi banyak cemilan.


"Nih! Aku pilih posisi duduk disini tuh biar kamu bisa ngemil dan gak keliatan petugas..."katanya sambil memberikan cemilan itu padaku.


"Kamu udah mikirin ngasih aku cemilan dari tadi?" tanyaku.


"Ya cewe kalau bosen dikit paling ngemil kan?" ledeknya.


Kamipun mencoba untuk menyelesaikan tugas secepat dan sebaik mungkin saat itu, karena aku mau cepat pulang dan istirahat.


Aku dan Gian sepertinya cocok bekerja dalam satu tim, bahkan tanpa berkomunikasipun aku dan Gian bisa membuat bahan bab yang sinkron satu sama lain.


"Baguslah segini mah!" kata Gian setelah aku memperlihatkan hasil kerjaku.

__ADS_1


"Ah beres juga, Gian aku boleh pulang ya?" rengekku sambil memelas.


"Kaki kamu? Kamu bisa ngendarain motor kaya gitu?" tanya Gian.


"Bisalah tadi aja berangkat aku sendiri ko!" jawabku.


"Yaudah yu barengan ke parkiran, aku mau balik jalan sana aja!" ajaknya.


("Padahal kosan dia kan lebih deket kalo dia jalan dari belakang perpustakaan, kenapa dia malah milih jalan muter ke parkiran motor segala sih?" pikirku)


Sesampainya di parkiran...


"Aku duluan ya?" pamitku.


"Hati-hati, kalo udah sampe dirumah kabarin!" sahutnya.


"Eh, kabarin? Hahaha ngapain aku pasti selamet ko sampe rumah wkwkwk" ledekku.


"Terserahlah, bye hahaha" katanya sambil berjalan meninggalkan parkiran.


Ketika aku hendak memutar balikkan motorku, terdengar suara Ka Dhika dari belakang meneriakan namaku.


"Raina!!!"...


"Eh ka, mau pulang juga?" tanyaku.


"Loh aku pikir kamu udah pulang dari tadi, kamu darimana sama Gian? Bukannya kuliah hari ini libur ya?" tanyanya.


"Iya libur, tadi aku ke perpus sama Gian nyari bahan buat laporan penelitian kemarin!" jelasku.


"Wah gercep juga ya kamu haha habis ini mau kemana?" tanyanya.


"Mau pulang lah!" jawabku.


"Temenin aku beli tinta mau gak? Motorku di bengkel tapi tinta printer aku habis banget sementara aku butuh buat bikin LPJ.. Kalo aku telat setor nanti Andreas ngamuk" jelasnya sambil memasang muka memelas.


"Beli printer di Debe?" tanyaku.


(Debe adalah tempat mahasiswa di jurusanku membeli peralatan menulis, membuat peta dan lain-lain)


"Iya di Debe aja yang deket!" jawabnya.


"Yaudah ayok, kakak yang bawa motornya ya?"...

__ADS_1


Akupun memutuskan untuk menolong ka Dhika membeli tinta printer ke Debe, karena kasihan kalau ka Dhika harus dimarahi si killer kak Andreas karena telat setor LPJ.


__ADS_2