
**apa aku boleh memanggilmu daun?
begitu banyaknya kau bertebaran dan tumbuh...
dan begitu mudahnya juga kamu jatuh berguguran...
aku pengagummu.. bahkan mungkin pemuja...
kala ranting tak berdaya menopanh tubuhmu...
aku akan menunggumu berjatuhan disana...
akulah tanah... ya panggil saja aku tanah....
dimana kamu bisa kembali kapanpun kamu mau....
tempat segala sesuatu tumbuh dan berkembang...
tempat pemberi kehidupan...
tempat kamu bernafas kembali setelah hilang...
adakah angin yang terus-menerus mengganggumu?
beritahu aku dan bersembunyilah diatasku...
aku akan menahan angin itu...
agar kamu tidak terkoyak dan terbang ke sembarang arah lagi**....
.....................................................................................
.....................................................................................
Setelah membantu Tante Dewi, aku pelan-pelan kembali ke kamar dan kulihat dia masih tertidur.
Rambutnya hampir menutupi matanya saking berantakannya, mungkin dia belum menyisirnya setelah mandi tadi.
Aku menyisir rambutnya dengan tanganku sambil berjongkok di samping tempat tidurnya.
"Kakak lucu kalau tidur kaya gini, kaya anak kucing" kataku pelan.
Dia merasakan sentuhanku, mencium tanganku dan meletakannya dibawah wajahnya.
Tak lama, saat aku hendak pergi dia beranjak dan memelukku.
"Hari ini kakak meluk aku berapa kali? sesak nafas tau gak lama-lama" gerutuku.
Dia menatap wajahku dan bilang "Aku masih berasa mimpi tau gak? Ibu udah gak ada dan nanti kalau aku pulang kesini, siapa yang mau aku temuin?" katanya.
Aku jadi ingat pesan Ibu, saat seseorang yang kita sayangi sudah tidak ada. Perasaan kehilangannya baru terasa setelah lewat dari sebulan kepergiannya. Ini baru hari kedua, dan Andreas masih tidak bisa menerima kenyataan.
"Kakak kan masih punya Tante sama Om, masih ada ponakan-ponakan kakak. Rumah ini juga pasti mereka rawat dan gak akan dibiarin kosong. Kalau kakak mau tiap kakak pulang, kakak kumpulin aja temen-temen kakak daerah sini. Terus tiap kakak pulang, kakak bikin acara biar rumahnya rame" kataku.
...........
............
"Kalau gak ada kamu, mungkin aku udah putus asa. Bisa aja bahkan sampe sekarang aku mogok makan dan minum. Menyiksa diri aku kaya waktu Bapak pergi. Apa yang dibilang Ibu memang bener, kamu bukan cuman pacar aku tapi kamu dunia aku".....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah tertidur kembali dalam waktu yang agak lama, aku dan Andreas bangun. Tante dan Om sudah menyiapkan makanan untuk kami. Tapi, Andreas malah
mengajakku ke kamar Ibu dan Bapaknya.
"Kamarnya gede banget dan harum lagi" kataku.
"Ibu emang suka wewangian, makanya Ibu banyak banget tanaman bunga-bungaan di kebun belakang" jelasnya.
"Ah iya, boleh gak aku minta bibit bunga satu aja. Terserah bunga apa aja, siapa tau aku bisa tanam juga dirumah" kataku.
"Gak usah minta, Ibu emang udah siapin tuh dibawah meja ada kotak bibit terus ada tulisannya "buat Raina" gih ambil" katanya.
Aku mengambil dus itu dan membukanya, isinya memang bibit tanaman dan juga sampel pupuk.
"Kamu pulang besok aja ya? jangan hari ini" katanya.
"Kakak ngusir aku? padahal aku masih betah" jawabku.
"Jangan ngaco, besok kamu kuliah kan. Pasti besok aja kamu harus izin dan gak boleh lebih dari sehari soalnya kamu udah semester 5" jelasnya.
"Aku kan mahasiswi biasa bukan mahasiswa super kaya kakak, aku gak masuk sehari atau seminggu pun kayanya gak ada pengaruhnya" kataku.
"Kamu itu calon duta kampus loh, bentar lagi pasti pelatihan kan? belum lagi lapak jualan kamu. Kasihan mereka bertiga kalau kerja gak ada kamu" katanya.
"Tapi aku gak mau ninggalin kakak sendirian".....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kunci yang diberikan Ibu itu ternyata benar-benar untuk membuka sebuah brankas.
"Kak, aku gak mau liat isinya ah. Aku tunggu disana ya?" kataku.
"Jangan, kan disuruhnya berdua. Mending kamu kunci pintu takut ada yang masuk" katanya.
"Okedeh" jawabku.
Aku dan Andreas mengangkat sebuah brankas dari balik lemari Bapak.
Andreas terlihat terkejut setelah melihat isinya.
Tiga buah buku tabungan yang sudah dialih namakan atas nama Andreas, surat-surat tanah, daftar nama dan gaji karyawan di kebun sawit, emas milik Ibu, BPKB dari lima kendaraan yang digunakan untuk mobilitas pegawai kebun dan lain-lainnya.
__ADS_1
Dia membaca semua lembar demi lembarnya dengan teliti. Hingga pada bagian bawah brankas ditemukan sebuah surat lesuh yang sepertinya sudah tersimpan sangat lama serta beberapa lembar foto.
"Ibu dapet foto kita darimana?" tanyaku.
"Kayanya Ibu ambil foto sendiri deh pake hapenya, soalnya kita aja gak punya foto begitu kan di hape kita?" jawabnya.
Dibalik foto tersebut ada sebuah tulisan....
"Anak kita sudah besar pak, andai bapak liat seleranya seperti apa percis sekali dirimu. Suka yang bening-bening. Calon menantu kita cantiknya bukan main, sepertinya Ibu akan punya cucu yang lucu-lucu"
Andreas tidak menangis saat membacanya, malah aku yang berurai air mata.
Andreas memegangi tanganku.
"Kali ini kamu yang harus lebih kuat! tolong bantu aku lewatin semuanya! aku cuma punya kamu sekarang!" katanya.
Surat lesuh itu entah isinya apa, karena Andreas tidak mau membukanya.
Dia menaruhnya lagi didalam brankas.
"Buka aja kak! siapa tau wasiatnya penting" kataku.
"Aku takut nangis lagi kalau baca, kamu aja lah" katanya.
Setelah mendapat izin, akupun membaca suratnya.
Surat ini dibuat tahun 2007....
"Kak, ini Bapak yang nulis deh kayanya" kataku.
"Baca aja dalam hati, kamu aja yang tau" jawabnya tanpa melihatku.
..........................................................
--------------------------------------
*Dulu, saat zaman penceramah... pernah ada seorang datang kerumah dan melihat Andreas...
Dia meyakinkanku bahwa anakku akan jadi orang besar nantinya...
Bahkan tanpa mendengar itupun,
Aku dengan segenap hatiku akan merawatnya...
Bahkan jika anakku tidak tahu bahwa aku sakit parah...
Aku meminta Rahayu istriku merahasiakannya dari Andreas....
Hingga saatnya dia besar, dia akan bangga karena memiliki segalanya yang dia inginkan*...
Segalanya yang sudah aku perjuangkan..
....................................................................
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku tidak memberi tahu isinya pada Andreas, untuk menjaga perasaannya yang baru membaik.
Pertanyaan yang paling menakutkan buatku akhirnya muncul.
Sesaat sebelum terbang ke Palembang, aku sempat memikirkan hal tersebut.
Bagaimana kalau Andreas melanjutkan usaha keluarga dan menetap disana?
Bagaimana kalau kami benar-benar akan menjalani LDR?
Bagaimana tahun-tahun kami berikutnya?
Sekian detik aku hanya diam dan pura-pura fokus pada surat Bapak.
"Dek....." katanya.
"Hmmm...kakak nanya apa?" tanyaku.
"Kamu gak denger? udah lah gak usah dibahas" katanya.
"Aku gak masalah ko, kalau kakak mau kerja disini. Aku gak masalah kita LDR. Bahkan sebelum kakak wisuda juga aku udah pernah bilang ke kakak kan?"....
"Kakak yang bisa nentuin jalan hidup kakak sendiri, aku mana bisa ikut campur?" kataku.
Dia meraih tanganku, kali ini dia melingkarkan tangannya di pinggangku. Menciumku dengan sangat lembut.
Itu ciuman yang terasa sangat menusuk....
Ciuman persetujuan untuk menjalani hubungan jarak jauh...
"Bibir kamu kering, kurang vitamin C ya?" ledeknya seolah ingin menghiburku.
Aku memukul dadanya dan untuk pertama kalinya aku merasakan sosok Andreas yang sebenarnya sudah kembali.
Tubuhnya sudah mulai hangat, sangat hangat.
Pelukannya sangat erat dan khas...
"Ini harus kita bawa ke kamar aku, karena mungkin aja nanti kamar Ibu sama Bapak direnovasi atau dirapihin sama Tante dan keluarga yang lain" katanya.
"Tuh bawa pake tas itu aja" kataku sambil menunjuk sebuah tas jinjing kulit yang ada diatas lemari.
Aku mengajaknya segera keluar sebelum orang aneh dan mengetuk pintu kamar ini.
Tapi dia malah bermanja-manja dan memintaku tinggal lebih lama lagi didalam kamar Ibu.
"Enak disini adem" katanya.
"Aku mau mandi kak, badan aku lengket" kataku berbohong.
"Hmmm, pandai cari alasan" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Malam harinya setelah acara selesai....
Keponakan Andreas berdatangan kerumah, mereka terlihat sangat akrab dengan Andreas.
"Vanesa dan Varrel" adalah anak Tante Dewi. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun, si kakak Varrel baru kelas 2 SD dan Vaness masih TK.
"Salim dong sayang sama kak Raina" kata Om.
Varrell dan Vanessa malah memelukku.
"Bukan kak dong, harusnya tante soalnya kan nanti Raina jadi istrinya Om Iyas" sahut Tante.
Aku hanya tersenyum dan menyambut pelukan dua bocah itu.
"Tante raina, kita pergi keluar yu? temenin aku sama abang jajan" ajak Vanessa.
"Vaness mau jajan kemana sayang udah malem gini loh" kata Tante Dewi.
"Aaaah Ibu, mau jajan pokoknya daritadi gak boleh terus" sahut si kakak Varrel.
"Yaudah yuk tante temenin" kataku.
Tiba-tiba, aku jadi ingat Recca dan Randy dirumah.
Varrel dan Vanessa mengajakku pergi dengan mobil Ayahnya.
"Tante bisa bawa mobil kan?" tanya Varrel.
Belum juga menjawab, Andreas ternyata mengikutiku dari belakang dan tiba-tiba masuk ke mobil.
"Ayo rel sa biar om yang anter" katanya.
Akupun duduk disebelahnya dan terkejut saat melihat Andreas mau keluar rumah dan menyetir mobil malam itu.
"Kak, kakak gapapa kan?" tanyaku.
"Gapapa" jawabnya.
Varrel dan Vanessa terlihat sangat aktif, mereka berjoget-joget dan bernyanyi didalam mobil.
"Tante, tante cantik deh. Besok pagi kita maen bareng yu ke danau?" ajak Varrel.
"Gak bisa sayang, tante Raina mau pulang besok pagi" jawab Andreas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah mengajak Varrel dan Vanessa main dan membeli cemilan, kepalaku agak pusing entah kenapa.
"Aku ke kamar ya?" kataku pada Andreas.
Dia heran melihatku tiba-tiba masuk ke kamar setelah baru saja turun dari mobil.
Aku masuk ke kamar Andreas dan merasakan pusing yang cukup hebat.
"Kamu udah minum obat?" tanya Andreas mengagetkanku.
"Udah, ini kayanya karena tadi di mobil deh hehe" jawabku.
Dia membawakanku minyak angin dan memintaku duduk di sofanya.
"Kamu tidur duluan aja malam ini, aku mau pesen tiket buat kita pulang besok" katanya sambil menggosongkan minyak angin itu di keningku.
"Kita? kakak ikut ke Bandung emang?" tanyaku keheranan.
"Ikutlah, masa kamu pulang sendiri" katanya.
"Tapi kan, cuti yang dikasih kantor tujuh hari dan ini belum juga hari ketiga" jelasku.
"Disini aku juga gak tenang, ngapa-ngapain juga gak enak. Selalu keinget Ibu... Mending aku ke Bandung, minimal aku bisa liat kamu dan kerja lagi kaya biasanya" jelasnya.
"Terus soal kakak mau pindah kerja itu? apa gak jadi?" tanyaku.
"Aku masih harus pertimbangin, untuk sementara aku mau minta Om sama Tante Dewi yang urus. Cuma mereka orang yang bisa dipercaya" jelasnya.
Dia mengambil laptopnya dan duduk disebelahku, membuka situs pemesanan tiket online dan terkejut saat tak mendapati penerbangan sebelum jam 5 sore.
"Gimana dong? gak ada yang under 5pm?" katanya.
"Gapapa, yang malem aja" kataku.
"Beneran? yaudah tapi aku harus telpon Ayah kamu dulu berarti" katanya.
"Gak usah, Ayah udah tau ko. Ayah kan ngecek katanya gak ada tiket penerbangan siang" jelasku.
"Yaudah, aku ambil yang malem ya" katanya.
Sambil melihatnya memesan tiket lewat situs, aku menceritakan tentang uang tabungannya yang kupakai untuk membeli tiket pergi ke Palembang kemarin.
"Masih ada sisanya ko, 3 juta kurang lagi" kataku.
"Gapapa, nanti aku gantiin ya?" katanya.
"Itu kan uang kakak, masa digantiin" kataku.
"Uang kamu, itu hasil makalah kamu yang gagal" jawabnya.
"Pak Yana nelpon aku, minta aku perbaiki proposal penelitian kamu yang kemarin itu. Setelah itu aku kebut kerjain dua hari, dan aku kirim balik ke pak Yana. Eh ternyata lulus dan akhirnya didanai 20 juta sesuai anggaran kalian. Itu baru hibahnya" jelasnya.
"Kakak ko gak cerita sih? berarti itu uang harusnya aku bagi empat dong?" kataku.
"Iya, emangnya kalau aku cerita kamu gak akan ngelarang aku bantuin kamu? palingan kamu bakal bilang 'udahlah gak usah nanti aja aku ngajuin yang baru' atau gimanalah dengan banyak alasan penolakan kamu itu" ledeknya.
"Ihhhh gak gitu juga, tapi iyasih" kataku.
Tak terasa aku mengantuk setelah meminum obat, sementara dia masih memainkan laptopnya.
Selang beberapa menit, aku merasa dia bergerak.
Ternyata, dia mengambilkan selimut dan memakaikan kaos kaki kepadaku.
"Karena kita gak boleh tidur di kasur berdua, jadi kita tidur di sofa aja ya?" katanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=1