Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Puncak


__ADS_3

Tengah malam setelah latihan untuk pentas api unggun selesai aku mau makan yang manis-manis. "Ada tukang martabak gasih disini?" tanyaku pada Rara. "Ada di ujung gang tapi serem tau ih lumayan jalannya sepi" jawab Rara. "Aku beli ah lagian kalo tidur pun aku gabisa haha mending makan" keluhku. Aku bukan anak yang penakut sih tapi kalo sepi-sepi amat aku juga agak serem untungnya saat keluar dari kosan Rara ada Gian yang mau beli makan juga. Gian nginap di kosan Fariz yang gak jauh dari kosan Rara.


Raina :Gian mau beli apa malem-malem gini?


Gian : Nasgor na haha kamu sendiri?


Raina : Martabak he..


Gian : Tadi maaf ya ga bantuin kamu pas keujanan beresin barang malah si Andreas itu yang cepet tanggap


Raina : Gapapa akunya aja yang lelet.. (Eh dia merhatiin)


Gian : Kamu ga dijailin dia kan?


Raina : Dia siapa eh maksudnya? Andreas? Haha aku cuma minjem kompas punya dia doang tapi kalian malah berspekulasi berlebihan


Gian : Kamu suka dia?


Raina : Kamu tanya aja sama diri kamu sendiri apa kamu bisa suka sama orang nyebelin begitu dan baru kamu kenal beberapa bulan doang?

__ADS_1


Gian : Hmmmm bisa aja


Raina : Ahh palingan kamu ngeceng si itu kan yang tempo hari kamu gendong pas dia pingsan...


Gian : Maksud kamu Kayi?


Raina : Iya.


Gian cuma senyum-senyum gak jelas dan gak jawab pertanyaan terakhirku. Setelah pesananku selesai dibuat, Gian udah beres makan dan kita pulang bareng ke kosan. "Kalo kamu gak bisa tidur mending meremin aja mata istirahatin biar gak pusing atau minum vitamin" kata Gian sebelum kami pisah di persimpangan gang.



Shubuh-shubuh sekali kami sudah baris di lapangan dan memakai headlamp. "Rainaaa semua siap kan?" tanya Joko. "Aman jok" jawabku. Tantangan hari ini memang berat dan berlangsung terus menerus, pertama kami diminta baris-berbaris hingga semua kaki-kaki kami pegal dan tepat pukul 6 kami harus sarapan pagi dengan porsi yang sangat banyak. Hampir semua anak perempuan makanannya belum habis dan harus minta tolong kepada anak laki-laki untuk menghabiskannya. "Na, sini aku habisin" teriak Gian sambil menunjuk ke arah piring yang ada di tanganku. Barisan kelompok Gian memang tepat berada di sebelah barisan kelompokku. Gian mungkin liat kalo aku sudah sangat kenyang sementara makananku masih sisa banyak. "Gapapa gi kamu habisin?" tanyaku sambil memberikan piring ke tangannya. "Iya urusan entar lah aku kekenyangan apa gimananya mah yang penting kamu gak kena marah aja dulu" jawabnya.



Aku lumayan terharu karena Gian lebih perhatian padaku dibanding Joko dan Putra yang satu kelompok denganku. Mata Gian saat itu terlihat semangat banget "mungkin Gian laper kaliya" pikirku.


__ADS_1


Setelah makan pagi kami diarahkan untuk menaikki angkot menuju ke tempat "rahasia" dimana kami akan di "ospek". Masing-masing kelompok harus berada dalam satu angkot yang sama. Masalahnya dalam satu angkot itu juga harus ada satu komdis dan satu evaluasi yang menemani. Kelompokku ditemani langsung oleh "rajanya komdis" yaa si Andreas.



Semua teman-teman kelompokku minta aku supaya ngajak ngobrol Andreas supaya suasana di angkot agak cair tapi aku menolak dan memilih untuk tidur. Aku sebenernya bukan tidak mau ngobrol dengan Andreas cuma kurang topik aja. "Na semalem kamu ketemu sama Gian ya?" tanya Joko. "Iyahehe dia makan nasgor sama aku pas aku beli martabak lah kamu tau darimana?" tanyaku. "si Gian ngechat katanya anggota kamu jam segini malah keliaran cari makan sambil kirim foto kamu lagi liatin mang martabaknya malah" jawab Joko. "Hahahahaha parah Gian foto aku gak bilang-bilang" jawabku.



Sesampainya di tempat "rahasia"... Yaelah tempat rahasia itu cuma hutan begini terus ada lapangan buat diriin tenda dan akses jalannya jelek banget. Kami harus jalan kaki dari tempat pemberhentian angkot sekitaran 1 jam lah. Kami juga harus bawa barang kami masing-masing yang beratnya mungkin lebih dari 10kg. "Yaallah rasanya badan aku mau remuk"....



Kami dimarah-marahi disana lebih tepatnya ditegasi karena kekompakkan kami sebagai maru masih kurang. Belum lagi masih ada saja kelompok yang barang bawaannya belum komplit. Dengan berat hati kami harus menerima hukuman push up 5 kali untuk tiap 1 kesalahan. Kalau dihitung-hitung aku hampir push up 80kali "sekalian ngecilin perutlah" batinku.



Tidak lama setelah pemeriksaan barang selesai kami diminta mendirikan tenda. Joko dan Putra bantu kami mendirikan tenda setelah tenda punya mereka selesai. Tapi sialnya tendaku masih susah didirikan sementara kami harus langsung memasak untuk makan siang. "Bisa ga Jok?" tanya Gian yang sudah beres dengan pekerjaannya. "kurang rangka nih kayanya apa aku nancepin patoknya kurang dalem ya?" tanya Joko. "Jok aku sama Lisa masak aja ya" izinku pada Joko. "Iya masak aja sana yang enaknya nanti aku minta" sahut Gian. "Gak mau ah Gian rakus nanti abis" sahutku. Aku cuma lirik-lirikan sambil ketawa sama Gian karena baru kali ini aku ngerasa dapet candaan yang pas sama cowok.


__ADS_1


Hanifa dan Arika nyapa aku dari tenda mereka yang sebelahan. "Rainaaa princess kuuu aku kangen" katanya. Aku juga sebenarnya pingin meluk mereka berdua terus ceritain semua perasaanku yang campur aduk. Aku mau cerita kalau aku dan Andreas udah gak saling sapa semenjak aku ngomong gitu ke Andreas. Kira-kira apa tanggapan mereka ya?


__ADS_2