Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kayi dan Hanifa dua sisi mata uang yang berbeda...


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di lokasi kajian kedua...


"Rain, tolong ya sambil nyatet pas aku teriak bilang berapa dalemnya!" kata Aji yang hendak masuk kedalam Situ.


"Kay, tolong sambil ambil foto mereka ya?" kataku pada Kayi yang terlihat memperhatikan gerak-gerik Gian dari jauh.


Seandainya saja, kita bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta. Mungkin Kayi juga tidak akan memilih jatuh cinta pada Gian, melihat betapa keraspun usaha Kayi tapi perasaan Gian tetap sama.


Gian sempat bercerita padaku saat kami sedang berkegiatan pengabdian pada masyarakat. Dia bilang Kayi adalah wanita terbaik setelah Ibunya. Kayi selalu menjaga dan mengingatkan Gian akan kebaikan. Gian selalu lebih memprioritaskan Kayi dibanding pacarnya sendiri saat itu.


"Kayi baik banget, figurnya idola" kata Gian.


Tapi lama kelamaan, Gian merasa Kayi semakin terobsesi dengannya. Gian tidak nyaman dan memutuskan untuk jaga jarak.


Kayi memang tidak bersalah karena menyukai Gian sejak dulu, tapi Gian lebih tidak bersalah hanya karena dia tidak bisa membalas perasaan Kayi.


"Rain, ko ngelamun sih? Itu dipanggil Hanifa" kata Risa sambil menepuk punggungku.


"Eh fa, kenapa?" teriakku.


"Aku pusing, gak kuat" teriaknya lagi.


Beberapa detik kemudian, Hanifa pingsan.


Beruntungnya saat itu jarak Nunu sangat dekat dengannya, sehingga Nunu dengan cepat bisa menahan tubuh Hanifa agar tidak jatuh ke tanah.


Aku langsung berlari menuju Hanifa.


Kak Doni langsung mengambil langkah untuk menggendong Hanifa dan membawanya kembali ke Penginapan..


"Medis tolong ikut dua orang untuk urus Hanifa" teriak kak Lingga.


Sepertinya Hanifa sudah tidak kuat, wajar saja seharian kemarin dalam keadaan sakit dan belum fit benar dia tetap ikut berkegiatan penuh di lapangan.


Padahal Pak Rohmat sudah memberinya kelonggaran untuk tidak mengikuti kegiatan penuh. Tapi, begitulah Hanifa... Dia akan terus mendorong dirinya selagi dia bisa.


Selama pengukuran, aku memikirkan bagaimana kondisi Hanifa sehingga kurang fokus saat menuliskan hasil datanya.


Rain, kamu baik-baik aja?" tanya Risa.


"Kepikiran Hanifa sih sa, tapi gak apa-apa ko. Lanjut aja kamu bacain biar aku tulis sekalian" jawabku.


Setelah pengukuran kedalaman selesai, Aji dan Joko naik ke permukaan lagi.


Kaki mereka dipenuhi lintah dan mengeluarkan sedikit darah di bekas luka gigitannya.


"Ambil tembakau kering!" teriakku.


Setya langsung mengambilkan tembakau kering di tasku, yang aku bawa karena saran Pak Rohmat dan Andreas.


"Kamu bawa tembakau kering, terserah deh mau bentukannya rokok atau apa cuma kamu hancurin dan keluarin isinya aja. Itu buat jaga-jaga kalau pas nyelem ada yang kena gigit lintah" kata Andreas.


Tembakau kering khas orang tua dulu yang kubeli dari pasar dengan harga murah itu ternyata sangat berguna.


Hampir semua teman lelakiku yang turun ke Situ mengalami luka gigitan lintah di kaki mereka, sehingga mereka meminta tembakau dariku.


"Beneran langsung berhenti darahnya" kata Joko.


"Biarin dulu Jok tempelin di bekas lukanya. Nanti kalau udah beneran gak ada darahnya, aku obatin" kataku.


Aji dan Joko sesekali malah bermain-main dengan menggulung tembakaunya menggunakan dedaunan lalu mereka bakar.


"Wangi ya ji?" tanya Joko antusias.


"Iya hahaha, tembakau aromatic" jawab Aji.


Saat itu dari sebrang, kulihat Gian juga terluka dan Nunu berlarian meminta tembakau dariku untuk mengobati luka Gian.


Kayi yang duduk disebelahku, berkali-kali kudapati sedang melirik kearah mereka dengan ekspresi suram.


Satu sisi, aku turut sedih melihat Kayi dan merasa kasihan. Tapi disisi lain, aku bahagia melihat sahabatku semakin dekat dengan orang yang dia sayangi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


****************************************


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pengukuranpun selesai....


Sebelum kembali ke penginapan, kami harus mengambil sampel tanah dan vegetasi sekitar juga sampel air danau.


Aku membiarkan kelompokku berjalan didepan dan aku sengaja menunggu Kayi yang masih tertinggal di dibelakang.


"Kenapa jalannya lambat banget?" tanya Kayi.


"Nunggu kamu!" jawabku.


"Ada apa? Mau ngeledek aku?" tanyanya.


"Ngeledek apa? Kenapa kamu suudzon terus sih bawaannya sama aku?" gerutuku.

__ADS_1


"Maaf" jawabnya pelan.


Aku kaget mendengar kata itu keluar dari mulut Kayi.


"Kenapa kaget?" tanyanya.


"Hmm gak, kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?" tanyaku.


Dia berhenti sejenak dan menatapku.


"Aku jadi tahu kenapa Rani benci banget sama kamu. Mungkin karena dia gak bisa buat orang lain jadi gak suka ke kamu" katanya.


Aku melihat dan mengamati gerak-gerik Kayi yang tiba-tiba berubah dan menjadi lembut.


"Semalem aku liat, semua orang khawatir sama kamu. Padahal luka kamu cuma segitu doang, aku ngerti kenapa mereka semua bisa dengan mudah menerima kamu. Setelah semua yang dikatakan Rani ke mereka, mereka gak pernah bisa membenci kamu karena kamu selalu jadi yang terbaik buat mereka. Kamu terima tawaran jadi ketua evaluasi buat menyelamatkan muka angkatan kita didepan angkatan yang lain. Kamu terima tawaran doublejob di Praktikum demi meringankan tugas sahabat kamu bahkan semalem kamu hampir celaka karena bantuin orang" jelasnya.


"Kamu selalu jadi penjaga buat orang-orang di sekitar kamu. Mereka secara natural butuh kamu dan kamu juga membutuhkan mereka. Ngeliat sekilas aja, aku langsung sadar kalau kamu gak pernah bisa dibenci dengan alasan apapun" tambahnya.


Aku melihat Kayi mencoba membuang wajahnya agar tidak melihatku saat bicara begitu. Tapi, aku merasakan kejujuran disetiap perkataannya.


"Soal Rani, dia emang gak pernah bisa mengakui kalau dia kalah. Dia gak pernah mau mengakui kalau ada orang yang lebih baik dari dia. Maaf Rain kalau selama ini aku selalu buat kamu susah. Mungkin kalau dulu circleku bukan Rani, sekarang kita bisa temenan dan gak akan ada perselisihan gak guna kaya sekarang" katanya.


"Kay, aku gak pernah merasa kamu nyusahin aku. Justru karena masalah kita dulu, aku jadi makin banyak belajar untuk lebih menghargai perasaan orang. Kita lupain aja ya yang udah terjadi, maaf juga soal Nunu yang....


Belum selesai aku berkata, Kayi menghentikanku.


"Udah Rain, jangan bahas soal itu. Mungkin emang akunya aja yang bodoh. Aku berharap bakal dilirik Gian, aku gak ngaca kalau dia itu Gian yang punya selera sendiri dan gak mungkin bisa suka sama aku" katanya.


"Gian gak pernah benci kamu, dia selalu anggap kamu sahabat cewek terbaiknya. Gian selalu mau kamu jadi sahabatnya" jelasku.


Aku mencoba mengatakan yang sebenarnya pada Kayi agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kami berdua.


Kayi memang langsung pergi setelah mengatakan permohonan maafnya, tapi aku tidak peduli meski dia masih menolak berjabat tangan denganku sekarang. Setidaknya, musuhku berkurang satu.


"Seribu teman terasa kurang, satu musuh terlalu banyak"....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


****************************************


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di penginapan....


Aku langsung mencari Hanifa yang ternyata sedang tidur di kamarnya...


Sepertinya saat itu demamnya naik lagi, dengan segera aku mengambil air dalam mangkok dan mengompresnya.


Nunu dan Arika juga datang dan duduk disebelah Hanifa.


"Rain, kita perlu telpon Papa sama Mamanya gak nih?" tanya Arika.


Nunupun berinisiatif menelpon kak Dhika dan menceritakan kondisi Hanifa padanya.


Kak Dhika bilang, dia tidak bisa mempercepat waktu kepulangannya karena jadwal kegiatan masih penuh hingga hari terakhir. Tapi, dia minta kami menjaga Hanifa dan kalau bisa menginap dirumahnya malam ini setelah pulang dari praktikum.


"Rain, Nunu, Arika... Kalian ikut diskusi sama dosen aja gih! Biar aku yang jagain Hanifa" kata Ega yang kebetulan saat itu adalah tim medis.


"Iya ga, thank you ya!" kataku.


Kami bertigapun bergegas ke ruang tengah untuk mengikuti diskusi bersama Pak Rohmat yang baru saja datang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


****************************************


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah semua tugas hampir selesai dan kami hendak pulang, aku menyalakan ponselku dan langsung mengabari Andreas.


"Kak, aku udah selesai Praktikumnya. Sebentar lagi mau otw pulang" kataku.


"Bagus, ada kendala gak? Kamu gak turun ke danau kan? Awas packing tas yang bener takut ada barang yang ketinggalan di penginapan. Gimana luka kamu?" tanyanya.


"Ada banyak, aku keteteran pas diskusi jadi agak gak paham cara ngitung kedalaman pake rumus-rumus itu. Luka aku gak dalem ko, jadi biasa aja. Tapi sekarang aku lagi khawatirin Hanifa" jawabku.


"Rumus? Nanti aku bantuin pas kamu buat laporannya. Telpon atau video call aku aja pas kalian kerja kelompoknya. Gimana Hanifa sekarang? Tadi Dhika juga ngabarin aku katanya Hanifa pingsan disana" jelasnya.


"Iya janji ya bantuin aku? Baikan sih, tapi demamnya belum turun. Nanti aku mau izin ke Ibu buat nginep dirumah Hanifa soalnya kasihan dia gak ada yang ngurus" kataku.


"Iya, aku aja yang telpon Ibu kamu. Mending sekarang kamu packing gih dan bantuin Hanifa juga ke kamarnya" pungkasnya.


Saat hendak ke kamar Hanifa, aku melihat Rani sedang duduk sendirian ruang tengah.


Selama Praktikum ini, aku tidak begitu memperhatikan Rani. Malah bisa dibilang, aku jarang sekali melihatnya. Aku menempatkannya di kelompok terakhir yang diisi oleh Jenni, Zilva dkk yang notabenenya akfif dan merupakan moodmaker di angkatanku.


Aku berharap Rani bisa membaurkan dirinya kembali diantara mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


****************************************


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selama perjalanan pulang menuju kampus....

__ADS_1


Kak Dhika menelponku lama sekali dan memintaku untuk menjaga Hanifa.


"Iya-iya gak usah disuruh juga pasti aku jagain. Aku mau nginep dirumahnya malam ini soalnya adeknya lagi ada acara di kampusnya" jelasku.


"Iya dek gantian ya, kemarin aku yang jagain Andreas sakit sekarang kamu jagain Hanifa ya?" pintanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


****************************************


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dikampus....


Aku mengambil kunci motorku dari Aji dan segera mengajak Hanifa pulang.


"Maaf ya fa, gue sama Nunu gak bisa ikut nginep soalnya malam ini kita mau COD sama orang yang beli totebag kita" jelas Arika.


"Gak apa-apa, gue yang minta maaf karena nyusahin kalian dan malah kalian bertiga yang kerja" jawab Hanifa.


"Santai aja fa, lu istirahat ya sampe dirumah! Gue percaya kalau ada Raina yang rawat lu mah" kata Nunu.


Arika dan Nunu sepakat untuk membagi tugas, Nunu akan melakukan COD dengan pelanggan sementara Arika akan mengecek barang pesanan kami yang baru datang dari pabrik sore tadi ke kosan Nunu.


Sementara aku diminta untuk menjaga Hanifa sampai adiknya pulang besok pagi.


Andreas sudah menelpon Ibuku dan memintakan izin pada Ibu untuk menginap dirumah Hanifa.


"Ibu izinin ko, tapi kata Ibu kamu harus telpon Ayah soalnya Ayah kamu lagi gak ada dirumah" kata Andreas.


"Ah iya, Ayah lagi ada acara sama temen kantornya di Bogor" jawabku


"Yaudah, kamu makan yang bener ya? Sore ini aku mau ke dokter buat terapi. Sekalian aku mau konsultasi mintain vitamin buat kamu. Kegiatan kamu kan lagi padet-padetnya. Kamu harus di dopping" katanya.


"Kakak ke dokter? Kenapa baru bilang? Oya kapan ke Palembang?" tanyaku.


"Lusa kayanya ke Palembang dipercepat soalnya aku mau dateng pas acara keluarganya aja bukan pas resepsi" jelasnya.


"Lah kenapa?" tanyaku heran.


"Gak punya gandengan kalau dateng pas resepsi, ntar takutnya ditanyain sama semua keluarga" jawabnya.


"Hahaha, emang kalau ditanyain kenapa? Gak punya jawabannya ya?" ledekku.


"Jawabannya? Ada ko... Aku punya jawabannya" katanya.


"Apa? Kalau ditanya gandengan emang mau jawab apa?" ledekku.


"Jawabannya ada di kamu, nanti kalau ada nikahan keluarga lagi.. Kamu mau gak jadi gandengan aku?" tanyanya.


"Gak mau kalau cuma gandengan doang" jawabku.


"Emang maunya jadi apa lagi?" tanyanya.


"Pikir aja sendiri" jawabku ketus.


"Kan udah aku bilang, tunggu aku sebentar lagi" jawabnya.


((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))


((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))


Sesampainya dirumah Hanifa.


"Bi, tolong buatin makanan buat kita berdua" kata Hanifa pada Bi Hana asisten rumah tangganya.


"Iya non, mau makan apa?" tanya Bi Hana.


"Beliin bakso aja deh bi, lagi pengen yang seger" jawabnya.


"Rain ada yang mau dibeli gak? sekalian titip bibi biar gak usah keluar rumah" tanya Hanifa.


"Gak usah fa" jawabku.


Akupun membantu Hanifa membereskan barangnya dan memanaskan air untuknya mandi.


"Rain, makasih banget ya? udah selalu jagain aku dan gak pernah pergi dari aku" katanya.


"Apa sih fa? kamu jangan sungkan deh sama sahabat sendiri" jawabku.


"Tetep aja aku gak enak, kak Iyas marah gak kamu pulang praktikum malah jagain aku disini?" tanyanya khawatir.


"Gak ko, dia malah nyaranin aku jagain kamu. Malah dia yang mintain izin ke Ibu juga" jawabku.


Hanifa terlihat lega dan memelukku saat kubilang...


"Tugas sahabat kan gitu, jangan pernah ninggalin. Kamu juga dulu gak pernah ninggalin aku saat aku dapet masalah dan selalu usaha jagain aku. Sekarang giliran aku yang buktiin kalau aku bisa juga jagain kamu" jelasku.


.


"Pokoknya, kamu jangan pernah ninggalin aku dalam kondisi apapun. Aku dan kamu kan sepaket, aku gak bisa ninggalin kamu dan begitu sebaliknya" jawab Hanifa.


Aku memeluknya dan mendapati Hanifa sudah menangis dalam pelukanku...


"Aku gak punya siapa-siapa Rain, rumah aku selalu sepi. Aku berasa ngekos dirumah sendiri. Semenjak ada kamu, Nunu dan Arika rasanya aku punya rumah kedua dimana aku bisa selalu cerita apapun ke kalian. Sekarang, gak disangka aku juga punya kak Dhika di hidup aku. Orang yang lebih mengkhawatirkan aku daripada diri aku sendiri. Aku bersyukur punya kalian di hidup aku" katanya.

__ADS_1


"Udah dong jangan sedih hahaha, gimana kalau kita video call pacar kita masing-masing?" ajakku untuk menghibur Hanifa.


🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀🤼‍♀


__ADS_2