Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kurlap Day 1


__ADS_3

Tepat pukul 5 pagi aku sudah sampai di kampus, barang bawaanku menurutku ini banyak tapi ternyata teman-teman yang lain lebih banyak lagi. Mereka bahkan ada yang sampai membawa koper.


"Rain" teriak Arika dari arah lobby timur.


"Hanifa mana?" tanyanya.


"Kayanya lagi ribet deh ngurusin speaker" jawabku.


"Hmm, kamu sebangku sama siapa nanti di bis?" tanyanya lagi.


"Hanifa lah, siapa lagi hahaha" jawabku.


"Ih diatur tau, liat gih di chatroom" jawabnya sambil menunjuk hapeku.


Nunu baru saja datang dan menghampiri kami berdua dengan ocehannya yang terdengar sangat antusias untuk kurlap hari ini.


"Nu, kamu duduk sama siapa?" tanyaku.


"Rima" jawabnya.


"Liatin sih aku duduk sama siapa" tanyaku.


"Rani haha engga deng bercanda wkwk sama Nirwan" jawab Nunu sambil melihat chatroom.


Aku merasa beruntung karena duduk dengan Nirwan, aku merasa Nirwan adalah teman yang baik dan pengertian. Sejauh ini kami tidak ada masalah.


"Hanifa sama Gian loh rain" celetuk Nunu sambil kaget.


"Ya baguslah dia sebelahan sama ketua kurlap haha" jawab Arika.


Selang beberapa menit, Hanifa datang dan bergabung bersama kami. Dia sempat membisikan sesuatu padaku katanya "kita depan belakang ko kursinya jadi bisa pindah kapan aja kita mau haha"....


Kamipun mulai menaiki bis masing-masing dan aku meminta duduk disebelah kaca pada Nirwan. Nirwan cuma menjawab "bebaslah". Benar saja tepat dibelakang kursiku adalah tempat duduk Hanifa dan Gian.


"Pasti Gian nih yang duduk deket kaca, soalnya Hanifa kan gasuka deket kaca" gumamku.


Hanifa menarik kunciran rambutku dari belakang dan tersenyum sambil melirik kearah sebelahku, tempat dimana Rani duduk.

__ADS_1


"Ssstttt mending tidur ah" kataku pelan.


Sebenarnya aku berharap bisa duduk disebelah Hanifa selama di bis, karena aku sangat ingin menceritakan kejadian semalam dengan Andreas.


Pucuk dicinta ulampun tiba...


Hanifa mengirimkan chat tak lama setelah aku mengkodenya dengan emoticon sedih.


"Kenapa sayaaangkuu?"....


Akupun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun dan Hanifa langsung ganti posisi duduk dengan Gian.


Kami berbisik-bisik di perjalanan, sementara teman-teman lain dalam bis sedang asyik berkaraoke.


"Terus sampe sekarang Andreas gak ada chat kamu?" tanya Hanifa penasaran.


"Gak ada fa, aku juga gak mau chat duluan orang aku udah coba jujur eh malah dia salah paham itu juga tuh si ka Dhika bukannya bela aku malah ngomporin" gerutuku.


"Yaudah aku coba telpon kak Dhika ya sekarang?" katanya.


Kulirik Gian sedang asyik membaca komik disebelah Hanifa, matanya tanpa berkedip dan sangat fokus.


"Ssst... komik apasih? serius banget?" bisikku sambil melemparkan chiki happypos kearahnya.


"Ish, ganggu aja haha detektif conan nih yah rewind doang sih daripada gabut" jawabnya.


"Kaki kamu gimana na? enakan?" tanyanya.


"Haha enakan ko, dari kemarin juga udah normal sekarang udah bisa lari malah" jelasku.


"Yaudah tracking siap yah nanti?" ledeknya.


"Tracking ke gumuk pasir jadi ya?" tanya Nirwan ikut nimbrung.


"Jadilah, kajian kelompok kita itu" jawab Gian.


Aku tidak sabar ingin segera sampai di tempat kulap nanti, aku mau lihat pantai merasakan desau angin dan tarian pandan laut juga pohon kelapa.

__ADS_1


"Gak sabar ya mau cepet sampe" kata Hanifa setelah selesai menelpon kak Dhika.


Setelah 6 jam perjalanan sangat melelahkan....


"Kalian boleh ke kamar masing-masing dan istirahat 1 jam, pembagian kamarnya bakal dibacain sama Rani nanti. Jangan lupa nanti kita kumpul di aula ini lagi jam 2 tepat!" kata Gian.


Aku dan Hanifa bergegas melihat pembagian kamar yang lembarnya masih dipegang Gian, tepat sebelum lembar itu dia serahkan kepada Rani.


"Udah kita berempat sekamar ko" kata Hanifa sambil menarik tanganku setelah dia melihat dengan cepat lembar tersebut.


"Chat gih si Arika sama Nunu, kita kamar nomor 7" kata Hanifa sambil kami berjalan menuju kamar.


Penginapan kami kali ini bisa dibilang homestay, deretan kamar-kamar kosong yang disewakan untuk para wisatawan dengan view menghadap ke pantai Santolo.


Kamar kami terletak di paling ujung koridor depan. Ukuran kamarnya tak seberapa besar dengan dua kasur didalamnya, kamar mandi kecil dan ruang untuk menaruh barang-barang.


"Percis seperti kami ketika menginap di kamar kos Nunu" pikirku.


Angin yang bertiup sangat teratur, bau khas air kelapa dan asap pembakaran ikan tersaji didekat kamar kami. Aku sangat antusias menantikan sunset pertamaku di Santolo kali ini.


Selama waktu istirahat, aku memutuskan untuk tidak mandi karena percuma nantipun aku akan bercucuran keringat lagi. Hanuka juga melakukan hal yang sama, mereka bertiga hanya rebahan sambil ngemil dan main handphone masing-masing.


"Liat deh, postingan teh Helly gila ya keren banget view di Pantai Pink" teriak Nunu sambil memperlihatkan layar hp'nya.


Kulihat itu foto angkatan kak Andreas, tepat didepan Pantai Pasir Pink, Lombok. Aku mencari keberadaan Andreas dan kudapati wajahnya ada di barisan paling belakang mengenakan topi berwarna hitam.


"Andreas udah ketutup pake baju item topi item, tetep aja keliatan shiningnya ya rain?" celetuk Nunu sambil melihatku.


"Orang aneh masa ke pantai pake baju item" gerutuku.


"Ih nu belum tau ya mereka lagi ngambekan? haha jangan dibuat inget dulu makanya nu" ledek Hanifa.


"Lah iya? kenapa bisa na ngambekan sama Andreas?" tanya Arika.


Tanpa ampun dan tanpa jeda, Hanifa langsung menceritakan semuanya kepada Nunu dan Arika.


Respon mereka berdua tetap sama "Gian lagi gian lagi yang dimasalahin"....

__ADS_1


__ADS_2