
Tenda sudah selesai didirikan dan aku juga sudah selesai masak, tapi Gian udah gak ada di daerah kelompokku.
"Gian udah ke tendanya Na barusan" kata Putra.
Akupun menyiapkan peralatan makan untuk semua anggota kelompokku sampai-sampai aku lap dulu piring dan gelasnya karena debu yang berterbangan di lapangan tempat kami mendirikan tenda lumayan membuat peralatan makan kami kotor.
"Aduh Raina ini tipikal cewek idaman banget ya pinter iya, nyanyi iya, masak iya sampe ngegambar juga iya" kata Putra.
Omongan Putra terdengar seperti ejekan buatku karena ekspresi Putra yang datar ketika mengatakannya dan semua teman-teman di kelompokku juga malah ketawa bukannya menyetujui.
"Put mending kamu jangan banyak ngomong deh soalnya disini kita gaboleh ketawa keras-keras kan sementara kalo kamu ngomong kita selalu ketawa" gerutu Rara.
Setelah waktu istirahat kami selesai, kami diminta berkumpul di lapangan untuk menjelaskan keadaan sekitar kami dengan memakai dasar-dasar ilmu geografi seperti kenampakan alam, vegetasi mayoritas, struktur tanah sampai kepada pemukiman atau aktivitas penduduk setempat yang kami lihat sepanjang perjalanan.
Presentasi kali ini, aku tidak mau ikut-ikutan biar Lisa sama Joko aja yang turun tangan. "Kalian nanti semangatin kita yaaa gengs" kata Lisa sambil menunjukan wajah imutnya.
Kami diminta duduk berjajar secara berkelompok dan kali ini Gian duduk di sebelahku meski dengan jarak agak jauh.
"Yan kamu udah makan? Katanya tadi mau makan masakan aku?" kataku. "Eh hai Na haha aku lupa duh next time ya kamu harus anterin masakan kamu ke tendaku" jawabnya.
Saat aku dan Gian asyik ngobrol Kayi yang dikabarkan dekat dengan Gian menatapku dengan tatapan sinis.
"Duh ada yang ngambek nih kayanya aku ngobrol sama kamu" rayuku. "Siapa? Kayi? Haha lebay ah" jawabnya.
Gian tidak mengiyakan atau menolak perkataanku yang menjurus pada hubungan dekatnya dengan Kayi, tapi dari raut wajah Gian sepertinya mereka cukup dekat hanya saja menurut Hanifa dan Arika si Kayi ini terlalu "biasa" buat Gian apalagi Kayi adalah bagian dari Geng Singkong. HAHAHA.
Seketika aku ingat bagaimana Hanifa dan Arika selalu bersemangat kalau nyuruh aku deketin cowok yang disukai sama Geng Singkong katanya "kita kalahin mereka dengan cara halus tapi menusuk".
__ADS_1
Kalau untuk Gian secara personal sih aku suka bentuk wajahnya yang tegas, alisnya lumayan tebel dan senyumnya juga selalu sumringah buat siapa saja yang melihatnya langsung ingat kalau itu dia apalagi suaranya juga memang khas kadang berat dan kalau ketawa agak ringan.
Gian ini tipekal cowok yang terbuka sama siapa aja, buktinya dia juga langsung baik ke aku padahal aku bukan teman sedaerahnya apalagi temen deketnya kaya Kayi dan kawan-kawan.
Aku berani ngajak ngobrol duluan ke Gian karena aku ngerasa respon Gian gak berlebihan kaya cowok yang lain, dia bisa memposisikan diri untuk tahu dimana waktunya bercanda dan peduli sama teman satu kelasnya.
Menurut pengamatanku akhir-akhir ini, dikelas Gian selalu bisa mencairkan debat kalo kita lagi bahas masalah angkatan seperti kesepakatan uang kas, tabungan dan patungan kalau ada keperluan apapun sampe ke Kuliah Lapangan. Gian selalu bisa jadi penengah dan aku sih termasuk orang yang suka sama cowok yang adil dan netral kaya Gian.
Siang itu sampai ketika presentasi selesai aku cuma ngobrol santai sama Gian dan ketawa-ketawa karena Gian ternyata suka mengamati kelakuan dua sahabat absurdku Hanifa dan Arika.
kata Gian
"kamu aja yang normal ya padahal kalian kan lumayan lucu-lucu tapi ko absurd sih".
"Wah kalo Hanifa dan Arika tahu mereka dibilang absurd pasti mereka mukul Gian nih" batinku.
Setelah presentasi selesai kami diberikan waktu pribadi untuk beribadah dan mandi. Aku kebagian mandi di kloter terakhir karena aku harus membereskan dan juga mencuci peralatan masak dan makan dulu yang sudah kotor terpakai.
Beruntungnya aku gak pergi sendirian ke tempat itu ada beberapa temen cewekku yang juga cuci piring dan wajan saat itu, jadi Andreas gak akan punya ruang untuk ngobrol sama aku.
Mata aku sesekali melihat Andreas dan dia keliatan banyak pikiran seperti orang yang lagi nanggung beban gitu.
"Na itu si Kak Andreas mukanya kusut gitu kaya lagi pingin marah-marah" bisik Dina.
"Begitulah tujuan Komdis diciptakan" jawabku.
Tiba-tiba si Kayi yang juga lagi cuci piring, berjalan ke arah aku "Hey Raina lagi kebagian nyuci juga?" tanyanya.
__ADS_1
"Eh hai Kay hehe iya nih kebagian kloter mandi akhir soalnya" jawabku.
Lalu aku sih langsung pamit buat kembali ke tenda karena gak nyaman berlama-lama disana. Kayi, Rani dan yang lainnya emang udah terkenal di angkatanku karena mereka menjabat sebagai orang penting-penting di angkatanku.
"Apa karena tadi aku ngobrol sama Gian jadi mereka notice aku? Haha padahal baru kaya gitu doang tapi Kayi udah takut banget kayanya" pikirku.
Hanifa masih ada di depan tendanya, aku langsung nyamperin Hanifa dan cerita yang barusan aku alami si Hanifa malah bilang "Wah wah Raina cantik sudah tau caranya bermain-main dengan kawan tapi tak berkawan yaa bagus-bagus lanjutin aku seneng kamu ada perubahan hahahaha".
Maksud Hanifa aku ada perubahan apa ya?
Apa mungkin karena aku sekarang berani mengambil langkah pertama untuk ngobrol sama orang lain?
Bukan lewat Hanifa atau Arika lagi kaya biasanya?
Ah iya seingatku memang aku susah deket sama orang karena aku ini gak bisa buka obrolan duluan, waitt waitt iya juga ya?
Kenapa sama Gian aku malah berani ngajak ngobrol duluan sampe bercanda kek gitu?.....
.
.
.
.
...
__ADS_1
(Gian baik juga sih di mata Raina, Gian itu teman laki-laki pertama yang meninggalkan kesan baik jadi Raina merasa aman kalaupun harus ngajak ngobrol duluan Raina gak masalah karena dia tahu respon Gian biasa aja nggak kaya temen laki-laki yang lain yang langsung kepo dan pingin lebih dekat dengan Raina)
Huaaa setelah ini aku bakal lanjut dengan episode dimana Gian bertindak dari sudut pandang "Aku" dan Raina adalah "dia" bisa dibilang ini versi Giannya. Kalian harus baca part selanjutnya ya:)