
Aku merasa sangat pusing dan masuk ke kamar, sementara Andreas sedang membereskan tasnya bersama Randy. Sebelum akhirnya, dia masuk ke kamarku.
"Kita ke rumah sakit yu sebelum aku ke kampus? kamu pake jaket gih" ajaknya.
"Gak usah, ini kan reaksi obat nanti juga aku baikan ko. Kaka udah siap berangkat?" tanyaku.
"Iya, beneran gak apa-apa? aku gak enak ninggalin kamu dengan kondisi kaya gini" katanya.
Aku memeluknya, mencoba meyakinkannya bahwa kondisiku baik-baik saja. Meski sebenarnya aku belum mau berpisah dengannya.
"Kapan kakak ke Bandung lagi?" tanyaku.
"Nanti aku kabarin, mungkin kalau nanti libur agak lama aku jenguk Ibu dulu ke Palembang" jawabnya.
"Iya harus jenguk Ibu dulu, kakak jaga diri ya jangan kecapean dan jangan lupa rontgen kaki" kataku.
"Kamu juga! aku bakal minta Nirwan ngawasin porsi kerja kamu di BEM awas aja kalau kamu gila kerja dan sakit lagi" katanya.
Saat itupun, aku hanya melihat mobil Andreas keluar dari halaman rumahku. Perlahan menjauh dan menghilang dari pandanganku.
Dalam diam, hatiku seolah berkata "kakak cepet ke Bandung lagi ya"....
Sesaat sebelum dia pulang, aku meminta Randy memasukan sebuah kotak berisi foto-fotoku yang berukuran kecil dan juga sebuah catatan kecil berisi semangat.
Aku berharap, dia akan membukanya ketika sudah sampai di Tangerang.
Saking lemahnya saat itu setelah Andreas pulang, aku langsung tertidur.
Keesokan harinya di kampus....
"Rain, kita kumpul evaluasi yu pulangnya buat bahas studi keagamaan" ajak Hasan dan Roby.
"Boleh, boleh.... di lobby aja ya habis kelas langsung kesana" jawabku.
Nirwan sempat memanggilku dan memberikanku lembaran biodata maru untuk kemudian kuolah bersama tim evaluasi yang lain.
"Tolong ya dalam 3hari kalian bentuk kelompok maru, komposisinya seimbang antara yang jago akademis dan wawasan umumnya" kata Nirwan.
"Siap!" jawabku.
"Oyah rain, jangan kecapean ya? kak Andreas titipin kamu ke aku nanti aku bisa kena marah kalau kamu terlalu gila kerja" katanya.
"Hahaha iya tenang aja" kataku sambil tersenyum.
Akupun pamit kepada Hanifa, Nunu dan Arika yang mau kumpul komdis.
"Rain pulangnya aku tungguin ya kamu kabarin" kata Hanifa.
"Kayanya aku bakal lama deh fa, duluan ajalah nanti gampang aku naik angkot" kataku.
Entah kenapa aku merasa lapar saat itu, akhirnya aku izin sebentar pada timku untuk mampir sebentar ke kantin fakultas.
Ternyata antrian di kantin fakultas sangat panjang, tadinya aku hendak membeli roti namun karena sulit menjangkaunya aku tidak jadi membelinya dan hendak mengambil susu di etalase.
"Raina, lagi jajan?" tanya Fasya yang secara kebetulan berada disana.
"Iya haha, tadinya mau beli roti tapi kasirnya aja gak keliatan begitu haha" jawabku.
"Roti apa? aku ambilin" katanya.
Dilihat dari postur tubuh Fasya yang tinggi sih, sepertinya dia bisa menjangkau antrian dan mengambil roti kesukaanku itu.
"Roti kacang ambilin ya 2 aja" jawabku.
"Oke tunggu disini bentar" katanya.
Tak lama, Fasya kembali dan memberikan pesananku.
"Nih uangnya, makasih banget ya Fasya" kataku sambil memberikan selembar uang 20 ribu.
"Gausahlah, ambil aja ini sama susunya udah aku bayarin" katanya menolak uangku.
"Ih jangan, gak enak" kataku.
"Gak papa, udah gih lagi buru-buru kayanya" kata Fasya.
"Iyasih, ada kumpul panitia" jawabku.
"Yaudah sana nanti dicariin loh" katanya.
Akupun segera mencari timku di selasar dan menemukan mereka sedang duduk menungguku.
"Maaf lama, antri" kataku.
"Santai aja rain, gimana tadi kata Nirwan?" tanya Hasan.
"Kita harus rekrut orang lagi, komposisinya 70-30. Dari angkatan kita 70% dari angkatan 2012nya 30%. Tolong ya Rima sama Roby rekrut dikelas A dan Hasan sama Iria dikelas B nanti aku juga ikut rekrut adik tingkat anak 2012 ko" jelasku.
"Oke rain, waktu rekrutnya berapa lama?" tanya Rima.
"Cuma dua hari, soalnya sabtu ini maru udah mau Samipul (Sabtu minggu kumpul) sekaligus latihan dasar menjelang studi keagamaan" jawabku.
__ADS_1
"Oke, terus tugas hari ini apa?" tanya Hasan.
"Ini, tadi Nirwan minta kita ngebentuk kelompok maru buat 6 bulan kedepan. Komposisinya harus seimbang katanya dari akademik dan yang lain" jelasku.
"Indikatornya? apa aja?" tanya Roby.
"Akademik, wawasan peta dan arah, postur badan, daerah asal, minat dan bakat" jawabku.
"Oke, ayo pisah-pisahin dulu yang samanya" ajak Roby.
Kami berlimapun sepakat untuk memisahkan maru yang mempunyai kesamaan untuk nantinya kami pisahkan ke dalam beberapa kelompok.
Kami bekerja dengan serius dan teliti mengingat kelompok yang akan kami buat ini sifatnya permanen dan mereka akan terus bersama hingga akhir masa kaderisasi. Maka dari itu, aku dan timku tidak mau asal-asalan.
Tanpa terasa hujan mulai turun dengan derasnya, diikuti bau dedaunan basah yang menyeruak di hidung serta hawa dingin yang mulai menusuk.
Seketika aku melihat sekelilingku, nampak banyak sekali kumpulan mahasiswa yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Ada yang sedang berburu wifi gratis untuk bermain game online, ada yang sedang mengerjakan tugas mandiri, tugas kelompok dan ada juga yang hanya sekedar berkumpul saja.
Pikiranku menerawang ke masa awal perkuliahanku. Saat dimana aku masih sulit beradaptasi dengan banyaknya tuntutan yang harus kujalani. Dulu setahuku, belajar saja sudah cukup untuk hidup tentram di SMA tapi semenjak kuliah belajar saja tidak cukup. Kita dituntut untuk lebih cakap dan aktif dalam segala hal, karena di pundak kitalah perubahan mempunya jiwanya.
Fasya mengirimi pesan, katanya dia melihatku dan menyuruhku pindah kedalam.
"Pindah dalem yu? dingin gak sih?" ajakku.
"Ayo sekalian cari colokan buat cas laptop, kita mau sambil ngetik namanya buat disetor ke Nirwan kan rain?" tanya Roby.
"Iya by betul sekali" jawabku.
Kamipun pindah ke sebelah perpustakaan fakultas, tempat dimana ada banyak colokan berjejer.
"Rain, kalau misalnya ya si Kayi atau Rani daftar ke divisi kita gimana?" tanya Rima.
"Gapapa, terima aja dulu formnya nanti kan bisa kita seleksi. Kalau emang mereka niat yah kita acc aja" jawabku.
"Janganlah rain, Rani kan udah mundur dari evaluasi masa dia daftar jadi anggota tim malah diterima lagi kan gak mungkin?" kata Hasan.
"Ya sih, tapi kalau dia daftar ya gapapa terima aja dulu jangan sampe dia nyangka kita pilih kasih" jelasku.
"Kamu itu ya rain, udah sering banget dijadiin tumbal sama Rani masih aja positif thinking dan baik ke dia. Kalau aku ada di posisi kamu, udah aku musuhin Rani dari dulu" kata Iria.
"Bener, aku juga heran emangnya kamu gak sakit hati apa sama dia dari dulu dia tuh selalu cari perkara sama kamu. Urusan cowoklah, urusan pelajaran lah nah sekarang urusan organisasi dia masih aja mau bebanin kamu" gerutu Hasan dengan wajah kesalnya.
"Ya sakit hati sih, cuma ya udah mungkin dia gitu karena aku pernah nyinggung perasaannya kali atau ada tingkah laku aku yang kurang berkenan buat dia. Makanya dia gitu ke aku haha, udah ah jangan ngomongin Rani ngerusak mood tau gak hahaha" kataku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah ah, beres belum misahinnya? punya aku udah beres nih" kataku.
Kamipun kembali pada fokus kami untuk membentuk kelompok maru dan membuat formulir pendaftaran untuk rekruitment tim evaluasi besok.
"Akhirnya selesai juga" kataku.
"Susah juga ya buat kelompok yang adil dan rata?" keluh Hasan.
"Dulu berarti juga kita dikelompokkin gak sembarangan ya?" tanya Iria.
"Iya, ada klasifikasinya segala hahaha" sahut Roby.
"Yaudah, kita cukup sampai sini dulu deh kumpulnya. Besok jangan lupa ya rekruitment hahaha syukur-syukur kita dapet banyak pendaftar jadi kita bisa seleksi" kataku.
"Aamiin" jawab mereka kompak.
Setelah hujan agak reda, kamipun berpisah untuk pulang masing-masing. Kulirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 17.20.
"Yaah, kayanya Hanifa udah pulang dari tadi deh. Yaudahlah aku ngangkot aja" gumamku.
Benar saja, Hanifa mengirimiku pesan:
Beruntungnya hari ini, aku membawa payungku dalam tas karena feeling akan turun hujan. Sebenarnya sih karena disuruh Andreas bawa payung, katanya "sore ini hujan lebat, bawa payung ya sayang".
Saat sedang berjalan menuju gerbang keluar, ada satu motor yang mengikutiku dari belakang.
"Rain, pulang sendiri?" ....
"Eh Fasya iya nih gak bawa motor soalnya, kamu baru pulang juga?" tanyaku.
"Iya baru beres rapat BEM, bareng aja yuk? aku bawa jas hujan 2 ko" ajaknya.
"Ah gak usah gak papa, aku ngangkot aja gih kamu duluan" kataku menolak.
"Udah gapapa, naik angkot kan lama bisa sejam. Mending bareng aku, jamin deh 20 menit kamu udah sampe rumah" bujuknya sambil membuka bagasi motornya.
"Beneran gapapa?" tanyaku.
"Alah kita kan sekomplek, udah naik nih pake dulu jasnya" paksanya.
Akhirnya akupun memutuskan untuk menerima tawaran baik dari Fasya. Untuk kedua kalinya, aku menaiki vespa matic berwarna navy itu.
__ADS_1
"Motor kamu bagus sya!" kataku.
"Iya, keluaran baru haha inceran aku banget nih baru kebeli tiga bulan lalu" jawabnya.
"Mahal ya?" tanyaku.
"Gak sampe 30 juta ko, tapi sebanding sama tenaga dan bodynya hahaha" sahutnya.
Selama perjalanan, kami mengobrol tentang banyak hal. Fasya banyak menanyaiku tentang bagaimana rasanya jadi mahasiswa geografi.
"Enak ya jalan-jalan terus?" tanya Fasya.
"Jalan-jalan darimana? itu kunjungan bukan buat wisata tapi tiap kita pergi ke satu tempat itu kita belajar dan meneliti wilayahnya" jelasku.
Aku juga banyak menanyainya tentang bagaimana rasanya kuliah di fakultas MIPA, terutama jurusannya Kimia.
"Bukankah itu sangat menantang bagi seorang laki-laki?" tanyaku.
"Iyasih karena mayoritas perempuan, tapi seru ko" jawabnya.
Akhirnya kamipun sampai didepan rumahku...
"Mampir yuk?" ajakku.
"Lain kali aja, aku harus pulang cepet soalnya mau ada cara" jawabnya menolak ajakanku.
"Hmmm, okdeh makasih banyak ya sya!" kataku.
.
.
.
Malam harinya.....
Setelah merapikan buku untuk esok hari kedalam tas, aku langsung bergegas tidur.
Dua hari setelahnya....
"Oke, kita udah fix ya milih orang-orang ini untuk masuk ke tim evaluasi?" tanyaku.
"Iya fix, kecuali itu anak satu" keluh Hasan.
"Iya rain, jangan diambil lah" bujuk Rima.
"Iya lempar aja dia biar jadi logistik kek apa kek, jangan di kita asalkan" tambah Roby.
"Loh, dia tuh kompeten loh! jangan salah dia juga punya pengalaman jadi evaluasi tahun kemarin bareng anak 2010. Menurut aku, dia bisa jadi berguna kalau ada di tim kita" jelasku.
"Iya sih rain, tapi inget loh dia itu Kayi" teriak Iria.
"Oke ginideh, kita masukin Kayi jadi cadangan dulu. Untuk sementara, kita terima dulu anak-anak plan A terus kalau ada dari mereka yang mundur ya mau gak mau kita terima Kayi" jelasku.
"Nah, yaudah setuju kalau gitu" jawab semuanya kompak.
Tibalah hari dimana Samipul pertama dimulai....
Aku dan teman-teman ditimku harus datang lebih awal ke kampus, untuk mendata maru yang datang tepat waktu dan juga yang terlambat.
Mereka punya buku catatan hukuman, yang berisi point-point kesalahan yang mereka lakukan semenjak kaderisasi dimulai. Mulai dari keterlambatan, ketidaksempurnaan tugas dan kurangnya perlengkapan.
Setiap Samipul, kesalahan tersebut bisa ditebus dengan hukuman semacam menyakikan mars jurusan, menjawab pertanyaan seputar pembelajaran ataupun hukuman fisik seperti push up dan skotjam.
Selama aku menjadi mahasiswa baru, kegiatan Samipul belum seintens sekarang. Program Samipul hanya dilaksanakan dua kali dalam sebulan, jadi bisa dibilang angkatanku cukup kaget saat harus turun ke lapangan langsung karena minimnya pembelajaran teknis dan dasar-dasar.
Sekarang, angkatanku bertugas menjadi pemegang kendali. Kami mau, adik-adik tingkat kami mendapatkan bekal yang cukup sebelum menjadi mahasiswa reguler di jurusan Geografi karena mental memang perlu dibentuk sedari dini agar kedepannya mereka siap ketika harus turun ke lapangan baik untuk tugas penelitian ataupun pengabdian.
Mahasiswa Geografi itu harus serba bisa, harus menjadi yang bisa diandalkan di garda depan masyarakat. Membaca fenomena sosial, kami bisa pun membaca fenomena alam juga kami dibekali. Makanya, Geografi disebut mother of science atau Ibunya ilmu pengetahuan. Yah, alasannya karena geografi sumber dari segala sumber yang melahirkan ilmu-ilmu baru.
"Rain, gimana evaluasi lancar?" tanya Hanifa.
"Lancar haha, cuma kita sempet debat dikit soal
mau nerima Kayi atau engga di tim haha" jawabku.
"Jangan diterima lah Rain, biar dia tahu rasa tuh gak punya tim gimana rasanya" sahut Nunu.
"Iya rain, jangan maulah entar malah ngebebanin tim kamu lagi. Toh bukannya dia sama Rani udah ngundurin diri dari BEM? masih aja mau ikut campur daftar jadi panitia segala" sahut Arika.
"Mereka gak ngundurin diri sih, kata Nirwan mereka cuma gak mau masuk Bidang. Ya artian mereka mau jadi sekertaris umum dan bendahara umum BEM" kata Hanifa.
"Gak bisa gitu dong, pemilihan bendahara dan sekertaris kan harus dari rekomendasi masing-masing bidang" kata Nunu.
"Iya nu, cuma Nirwan punya hak juga untuk nunjuk langsung kalau dia mau" jawabku.
Setelah obrolan seru seputar Kayi dan Rani berakhir, aku berpisah dari Hanuka untuk segera bergabung bersama tim evaluasi untuk mengecek perlengkapan yang dibawa maru.
"Yok, dek adek coba nanti dikeluarkan barangnya saat kak Roby membacakan daftarnya lalu diangkat ke atas ya? yang tidak komplit, hitungan hukumannya 2 point untuk satu barang. Siap?" teriakku.
__ADS_1
"Siap kak!"