Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Jangan biarkan aku kehilangan lagi


__ADS_3

"Dek!"....


"Aku haus kak" katanya lirih.


Aku segera memanggil dokter, memberitahukan keadaan Raina.


Dokter datang, memeriksa pupilnya dan mencabut alat bantu pernafasannya.


"Dok, haus" katanya.


"Boleh sus, tolong kasih minum" kata dokter.


Aku melihatnya dari dekat, seolah bermimpi bahwa dia sudah sadar.


"Yasudah, jangan dulu diajak banyak bicara ya? Tolong didampingi terus" kata dokter yang lalu keluar dari ruangan.


Akhirnya, mata kami bertemu. Ujung matanya menatapku, aku yang enggan mendekat.


"Recca mana?" tanyanya.


Seketika aku mendekat padanya, terduduk lesu saking leganya.


Perlahan kuraih jemarinya, kugenggam dan kucium dalam dekapanku.


Air mataku mengalir diantara telapak tangannya.


"Gak boleh nangis" bisiknya.


Aku masih tidak bisa berkata-kata. Benar-benar sangat ingin memeluknya, andai dia sudah bisa duduk nanti, aku ingin sekali memeluknya.


"Mau ketemu Recca" katanya.


Aku segera menelpon Ayah, memberitahukan kabar bahwa Raina sudah sadar.


"Yas, Ayah kesana sekarang. Tolong jangan tinggalin Raina dulu ya?" kata Ayah terdengar sangat bahagia.


Ibu juga tak kalah senangnya, beliau langsung berteriak memanggil Randy dan Recca untuk segera menuju kerumah sakit.


"Yas, Ibu sama Randy dan Recca otw kesana ya" ....


Kali ini Raina tersenyum meski lemah, air mata menetes di ujung matanya.


"Kamu juga jangan nangis" kataku sambil menyeka air matanya.


"Hanifa, Nunu, Arika mana?" tanyanya.


"Mereka gak pernah ninggalin kamu, tapi mereka harus ke kampus untuk cek nilai. Nanti udah beres di kampus, mereka pasti kesini" jelasku.


"Kakak gak jadi pulang ke Palembang?" tanyanya.


Aku hampir saja menangis lagi mendengar pertanyaannya yang barusan.


Bahkan, saat dia sedang sakit parahpun.. Dia masih memikirkan kepergianku.


"Sssst, kata dokter tadi kamu gak boleh banyak diajak ngobrol dulu" kataku.


"Aku mau bangun" katanya sambil mengangkat badannya.


"Jangan dulu sayang, nanti baru kalau kata dokter kamu boleh duduk gapapa kamu duduk" kataku.


Dia pasrah dan hanya tersenyum kecil menatapku. Kali ini, dia merespon genggaman tanganku. Aku merasakan jemarinya menghangat.


"I miss you" katanya.


Aku sangat merindukan kata-kata itu, aku pikir akan butuh waktu lama untukku dapat mendengarnya kembali dari mulut Raina.


"Aku lebih kangen sama kamu, maaf sela ini aku selalu nganggep ucapan-ucapan kata gitu aneh dan berlebihan. Aku baru sadar betapa kangennya aku sama perkataan itu, saat kamu diemin aku 2 hari ini" jelasku.


Dia tersenyum, manis sekali. Rasanya saat itu seluruh beban di pundakku turun dan segala kesesakan di dadaku hilang.


"Maaf karena udah buat kakak khawatir" katanya.


Bayangkan, dia yang seharusnya marah padaku karena tidak bisa menjaganya malah meminta maaf karena sudah membuatku khawatir.


Bayangkan, aku yang seharusnya meminta maaf malah menjadi pemberi maaf.


"Aku yang harus minta maaf, aku gagal jagain kamu" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak lama, Ayah dan Ibu datang. Aku memberi waktu mereka melepas rindu.


Setidaknya, aku lega karena Raina sudah aman dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.


Randy dan Recca menunggu bersamaku diluar ruangan, mereka juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Kak Iyas, Recca boleh masuk gak?" tanyanya.


"Boleh, tapi sebentar ya? Anak kecil seharusnya gak boleh dibawa kerumah sakit. Tapi teteh tadi bener-bener mau ketemu Recca" kataku.


"Recca juga mau ketemu teteh" katanya.


Setelah satu persatu sahabatnya datang, aku sadar bahwa dia begitu banyak dicintai. Semua orang senang melihatnya sadar.


Setidaknya, setelah ini aku harus berfikir bagaimana caranya aku bisa bekerja di Bandung tanpa terikat jam kerja dan bisa mengurus perkebunan di Palembang dengan nyaman.


Akupun mengabari orang di Palembang tentang pembatalan keberangkatanku.


"Ya tan, tolong tante sama Om bantu dulu Iyas ya? Setelah santai nanti Iyas pikirin lagi caranya" kataku.


Tiba-tiba Dhika datang dan duduk disebelahku.


Mungkin, dia melihat kegelisahan yang tergambar diwajahku.


"Yas, gue tau sih sebenernya ini bukan waktu yang tepat buat gue ngomongin ini. Tapi gue tahu, setelah kejadian ini pasti lu bakalan berpikir ribuan kali untuk pergi ke Palembang......

__ADS_1


......Saran gue, mungkin lu bisa batalin semuanya. Lu kasih lah keleluasaan ke tante dan om lu untuk urus disana. Mereka kan orang yang bisa dipercaya. Lu juga bisa ngandelin Pak Budi untuk jadi tangan kanan lu, dan saran gue lagi ya lu buka usaha lah di Bandung"


Aku mendengarkan saran Dhika, bagaimanapun yang dia katakan tadi itu benar.


"Menurut gue, lu pulang lah sebentar ke Palembang. Kasih tau porsi kerja mereka gimana. Om sama Tante lu posisinya sebagai apa, Pak Budi sebagai apa dan mungkin lu nanti sebagai apa. Jadi gak ada kekhawatiran di elu dan mereka juga tenang" tambahnya.


Setelah mengobrol dengan Dhika, aku dipanggil oleh Ayah kedalam sementara semuanya sudah keluar dari ruangan.


Didalam, Raina terlihat sedang memainkan kuku-kukunya.


"Kak, sini deh. Kuku aku ko dipendekin gini? Jelek ah gasuka" katanya.


"Itu suster yang motong, bukan aku. Nanti udah sehat kan bisa kamu panjangin lagi terus bisa kamu cat sesuka kamu" kataku.


"Bukan itu masalahnya, tapi aku gak enak kuku pendek gak biasa" katanya.


"Terus mau gimana?" tanyaku.


"Mau pindah ruangan ah" jawabnya.


"Ko jadi pindah ruangan sih?" tanyaku.


"Ya karena aku udah biasa di ruangan sederhana, gak semewah ini dan dengan fasilitas secukupnya" jelasku.


Aku mengerti, makna yang dia selipkan dari cerita tentang kukunya yang berubah menjadi pendek barusan.


Dia hanya ingin menjelaskan, bahwa kebiasaannya tidak bisa dihilangkan.


"Aku tau ko, kakak mau aku dapet penanganan yang terbaik tapi aku juga harus nyesuain keadaan Ayah. Aku tau, kakak yang bayar dan Ayah juga tahu bahkan dia juga gak bisa nolak. Cuma aku gak mau, uang kakak habis karena aku" katanya.


"Kamu jangan nolak yang satu ini, anggap aja aku sewa kamar disini untuk aku bisa enak tidur pas nungguin kamu. Aku gak akan menerima debat soal ini, kamu pacar aku tunangan aku malah. Udah seharusnya aku lakuin yang terbaik buat kamu" kataku.


Dia mengangguk, mungkin kali ini dia menerima permintaanku. Aku melakukan semuanya, semata-mata untuk kesehatannya juga dan bukan untuk mempertontonkan kelebihanku.


Dia tahu benar, aku bukan tipekal yang royal dan memberikan banyak uang padanya. Dia juga bukan tipekal yang meminta banyak hal padaku.


Tapi, kali ini bukan soal siapa yang lebih benar. Ini masalah kesehatannya. Tidak ada perdebatan soal itu. Titik....


Pak Yana datang ke rumah sakit, beliau menelponku sesaat setelah tiba di lobby. Aku meminta Gian dan Nirwan menjemput beliau.


"Duh, si cantik sakit.. Sekarang gimana keadaannya?" tanya Pak Yana.


"Sudah agak mendingan sih pak, cuma kalau gerakin kepala masih sakit" jawab Raina.


"Iya jangan dulu banyak gerak, tunggu arahan dokter saja" kata Pak Yana.


"Pak terkait proyek penelitian Bapak itu.....


"Tidak usah dipikirkan, kamu harus sehat terlebih dulu. Penelitian itu akan tetap berjalan dengan sahabat-sahabat kamu yang menjalankannya. Terlebih dari itu, karena kamu tidak bisa hadir maka Bapak meminta Andreas yang menjadi ketua penelitian kali ini" jelas Pak Yana.


Aku kaget mendengar penjelasan Pak Yana, satu sisi aku senang karena Raina terbebas dari tugasnya dan bisa fokus untuk pemulihan. Beruntungnya, perkuliahan juga sudah libur dengan durasi waktu yang cukup lama.


"Yes, kalau itu kak Iyas gak akan bisa nolak pak" kata Raina sambil menarik tanganku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya.....


Mereka juga bersikeras memintaku pulang dan bersih-bersih.


Raina yang sudah kembali cerewet, juga memarahiku setelah tahu seharian itu aku belum mandi.


"Pulang aja dulu sama gue yas, gue nginep di kosan lu ya? Gue kan juga libur proyekan disini" ajak Dhika.


Dengan berat hati, aku menuruti kemauan mereka. Meski sebenarnya, berat untukku meninggalkan Raina semalaman.


"Kamu kabarin aku ya kalau kamu ngerasain sakit atau butuh sesuatu" kataku sambil mengelus rambutnya.


Hanifa malah tertawa dan menyahuti perkataanku.


"Yang ada juga, dia ngasih tau orang yang dideketnya masa nelpon orang yang jauh sih"....


"Kakak gak usah khawatir, mereka bisa jagain aku ko.. Kakak tidur yang bener dan mandi biar wangi" kata Raina.


..............................


..........................................


Sepulang ke kosan.....


Dhika malah mendahuluiku mandi dan mengambil dengan enaknya baju-baju di lemariku untuk dia pinjam.


"Yas, gue laper nih. Isi kulkas lu gue masak ya?" katanya.


"Palingan ada mie instan doang sama telor" jawabku.


"Gapapalah asal bisa makan" katanya..


Akupun pergi mandi....


Selama mandi, aku masih saja mengingat Raina. Setelah peristiwa itu, perasaanku jadi selalu was-was dan takut.


"Fa, Raina tidur gak?" tanyaku.


"Tidur kak, barusan udah minum obat yang terakhir dan langsung tidur. Nunu sama Arika nungguin dia di kamar, aku mah lagi cari makan" katanya.


"Yaudah kabarin ya kalau ada apa-apa" kataku.


Kulihat Dhika sedang asyik melahap mie instan didepan kosan sambil menikmati semilir angin yang menerbangkan helai demi helai daun-daun di pepohonan.


"Weeey mantep tuh, gue dibikinin gak?" tanyaku.


"Dibikinin lah, tuh deket kulkas" jawabnya.


Sambil makan, kami berduapun berbincang tentang banyak hal. Kebanyakan tentang masa lalu kami yang sama-sama kami lewati di Bandung.


"Kayanya lu nikah duluan deh yas" kata Dhika.


"Elu lah, elu kan bukannya mau langsung lamar Hanifa pas dia beres sidang" ledekku.

__ADS_1


"Ngaco lu, keluarga Hanifa kan bukan keluargga sembarangan. Gue aja jiper pas awal-awal, ya meskipun setelahnya gue bisa buktiin sama Papa dan Mamanya kalau gue ini cowok baik" jelasnya.


"Kalau bisa sih, gue mau cepet nikah sama Raina. Gue bawa orang tuanya dan adik-adiknya ke Palembang. Gue buatin usaha disana dan mereka hidup sama-sama gue" kataku mengkhayal.


"Lu pasti kagum ya sama Ayah dan Ibunya Raina? Segitunya lu mau boyong mereka" tanya Dhika.


Akupun menceritakan kejadian yang kualami saat akan membantu Ayah membayar biaya pengobatan Raina.


Dhika sama terkejutnya denganku, dia malah iri karena aku memiliki calon mertua yang sangat baik dan sederhana.


"Eh lu udah dapet kabar belum dari polisi? Soal yang nabrak Raina itu?" tanya Dhika.


"Belum dhik, katanya mereka masih harus cari pelaku dan dari platnya itu bodong. Susah ngelacak tempat tinggalnya" jelasku.


Sebenarnya, polisi mengabariku bahwa pelaku sedang dalam pengejaran karena mobil yang dipakai beserta platnya tidak sesuai.


"Yas, gue ada ide... Gimana kalau lu buka usaha aja disini, duit lu kan banyak tuh nah lu bisa kan pake modal buat buka apa gitu di Bandung" kata Dhika.


"Buka apa maksud lo?" tanyaku.


"Cafe kek, carwash kek atau apa gitu" katanya.


Aku memang sempat memikirkan ini, menurutku jalan satu-satunya untuk bisa di Bandung adalah buka usaha sendiri dan sambil melanjutkan studiku.


"Gue intinya mau daftar dulu s2 lah disini, kesananya gue liat entar" jawabku.


"Yah baguslah, lagian lu kan punya cita-cita jadi profesor tuh nah yah lu harus sampe s3 lah. Gue dukung apapun keputusan lu deh, tapi kalau lu bener-bener mau buka bisnis ya gue mohon kerjasamanya hahaha. Ajak-ajak gue!" kata Dhika sambil menepuk bahuku.


"Iya iya" pungkasku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dhika sudah tidur dengan nyenyaknya.


Aku masih belum bisa tidur karena belum juga mengantuk, entah karena Hanifa belum membalas pesanku barusan.


Aku menanyakan kondisi Raina, apa yang sedang dia lakukan.


Tak lama kemudian, Hanifa menelponku.


"Raina bangun kak, katanya kepalanya pusing dan dia mau ganti posisi tidurnya. Tapi, dokter belum ngizinin. Jadi dia susah tidur" jawab Hanifa.


Tanpa pikir panjang, aku kembali kerumah sakit. Meninggalkan Dhika di kosan sendirian.


Aku hanya akan tenang saat melihatnya sendiri, setelah itu mungkin aku bisa tidur nyenyak.


Sesampainya di ruangan.....


"Loh ko, kesini sih kak?" tanya Nunu.


"Iya abis tadi katanya Raina kebangun karena pusing. Kakak mau liat langsung aja gimana keadaannya" jelasku.


"Iya tuh liat aja sendiri" kata Arika.


Aku melihatnya sedang mencoba tertidur, tapi jelas sekali posisinya tidak nyaman.


"Kenapa dek?" tanyaku.


"Aku gak bisa tidur nyamping, gak enak. Kepala aku juga gak enak rasanya" jawabnya.


Melihatnya kesakitan dan tidak nyaman, membuatku merasa tidak karuan.


Aku ingin menolongnya, tapi bagaimana? Bahkan menurut dokter saja, Raina tidak boleh banyak bergerak dulu.


"Yaudah, coba aku naikin posisi kepalanya ya?" kataku.


"Iya tolongin, tuh remotnya dibawah lampu" katanya.


Setelahnya, dia sedikit merasa nyaman dan bisa memejamkan matanya. Sementara tangannya terus saja memegang tanganku.


Tak lama, dia memintaku pulang dan tidur.


"Pulang gih, Ayah juga udah aku suruh pulang. Biarin aku disini sama mereka aja" katanya.


"Iya kak, gih pulang tidur" sahut Hanifa.


Akupun menurut dan segera pulang....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*Katanya ada banyak fase dalam percintaan....


Tertarik, jatuh cinta, mengungkapkan, bersama, memiliki dan kehilangan satu sama lain lalu jika takdirnya maka akan dipersatukan kembali ....


Aku hampir mengalami fase kelima, tapi beruntungnya itu hanya sebentar...


Yang kusayangi dikembalikan ke sisiku....


Entah ini kebijaksanaan sang Pencipta atau rasa belas kasihannya padaku ...


Setelah aku ditimpa kehilangan bertubi-tubi....


Aku semakin tahu arti dari kata memiliki....


Bukan hanya mengklaim bahwa dia itu hakmu....


tapi juga memperlakukannya seperti benar-benar dia itu penting di hidupmu....


Aku lalai sebelumnya, hingga aku kehilangan kedua orang tuaku....


Kali ini bahkan cinta pertamaku....


Aku bodoh karena tidak belajar dari kesalahan....


Harusnya kujaga dia dibelakang tubuhku....

__ADS_1


Bukan malah membiarkannya terluka sendirian....


Beruntungnya, Tuhan mengasihaniku*....


__ADS_2