
Aku melangkah dengan sedikit keraguan...
Entah ragu macam apa yang memberatkan hati dan kakiku....
Rasanya hanya berat saja....
Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan disini...
Aku hanya menerka-nerka...
Lalu kemudian aku jatuh cinta...
Cinta pada hamparan pasir putih...
Cinta pada deburan ombak yang saling berseru...
Cinta pada rayuan daun-daun pohon kelapa yang memanggil...
Cinta pada wangi ikan yang dibakar...
Hingga aku lupa bahwa kita sedang berjauhan...
Kamu mungkin ada di garis pantai yang terhubung dengan garis pantaiku...
Angin yang kamu rasakan mungkin juga angin yang datang menyapaku disini...
Awan yang kamu lihatpun mungkin sekarang ada diatas kepalaku juga...
__ADS_1
Tapi rasanya kamu begitu jauh dari jangkauanku...
Lokasi kajian pertama kami adalah di sekitar homestay, kelompokku mendapat bagian untuk mengunjungi gumuk pasir raksasa lebih tepatnya adalah tumpukan pasir yang membentuk bukit.
Pasir-pasir dari pesisir pantai terangkat menuju suatu tempat dan berkumpul disana selama puluhan tahun bahkan lebih. Faktornya beragam bisa karena angin, arus dan sebagainya. Pasir-pasir tersebut strukturnya hampir padat dan bisa diinjak dan dilewati oleh manusia.
Aku sangat takjub ketika melihat gumuk pasir itu, rasanya seperti sudah berusia ratusan tahun hingga menggunung dan membentuk bukit yang cukup tinggi. Aku sampai di atas gumuk pasir itu, seluas mata memandang hamparan air laut berwarna biru kehijauan memanjakan mataku.
Garis pantai yang seolah tak berujung bagaikan menanti untuk kujelajahi, desau angin beruap agak panas seolah menyapaku seraya dengan goyangan lemah gemulai daun-daun pohon kelapa.
Ingin rasanya sejenak duduk dan berdiam diri disana, hanya merasakan kinerja alam yang memberikan kedamaian padaku. Membiarkan diriku hanyut dalam lukisan indah sang Maha Pencipta.
Aku melepas alas kakiku, berjalan hampir keujung gumuk pasir. Mengambil beberapa foto disana untuk kujadikan kenang-kenangan.
"Waaah daebak!!!" teriakku.
Semburat cahaya jingga mulai datang dari ujung pelupuk mata yang memandang, kami harus segera menyelesaikan tugas pengambilan sampel pasir, vegetasi dan hal-hal lain yang dapat menunjang analisa kami tentang gumuk pasir tersebut.
Rasanya kakiku enggan meninggalkan tempat ini, banyak sekali alasan yang membuatku betah berlama-lama disana. Aku bahkan tak peduli baju putihku terkotori, rasanya aku rela kalau dibayar dengan suguhan pemandangan seperti ini..
"Rainaaa!! ayok balik ke homestay!!!" teriak Hanifa.
"Iya fa tunggu" sahutku sambil memakai kembali sandal lapanganku.
Sepanjang jalan kurasa hawa dingin mulai menusuk, ada angin yang bertiup dari arah laut yang terus-menerus membuat rambutku berantakan.
"Ih, tau gitu tadi aku iket rambut" gerutu Hanifa yang juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Iya haha, tapi asyik gak sih disini? kek suasana yang sulit banget kita dapet di kota haha" jawabku.
"Bener banget rain haha, telinga sama mata berasa dimanjakan ya liat pemandangan bagus disana-sini" sahutnya.
Nirwan mendatangi kami dan berbisik "Hey tau ga depan nanti ada warung remang-remang loh?".
Hanifa antusias dan merespon "jual apa wan disana? ada pop mie atau jagung rebus gak?"...
Nirwan menghela nafasnya dan menjawab "disana jual yang mahal-mahal, tarifnya diatas 300 rebu"...
Aku dan Hanifapun bingung mendengar penjelasan Nirwan dan malah saling lirik satu sama lain.
Lalu tak lama kemudian, Gian menghampiri kami bertiga dan ikut nimbrung.
"Gak usah didenger fa si nirwan mah haha itu warung remang-remang cabe-cabean bukan cabe beneran" kata Gian sambil memukul pundak Nirwan.
"Heuhhhhh kirain beneran warung yang jual makanan" jawabku.
"Iyaha nyesel deh nyimak si nirwan ngomong barusan" gerutu Hanifa.
Nirwanpun tertawa dan seperti tidak menyangka bahwa aku dan Hanifa akan mudah dibodohi seperti barusan.
"Eh makan malem menunya apa?" tanya Nirwan pada Gian.
"Lu tanya aja anak konsumsi haha" jawab Gian dengan entengnya.
"Tanya si Nunu na, dia kan konsumsi" kata Hanifa.
__ADS_1
"Iya aku telpon deh" jawabku sambil langsung menelpon Nunu.