
Hari kedua studi keagamaan dimulai tepat pukul enam pagi, kami sudah bersiap dengan pakaian olahraga.
Aku hanya memakai training warna dongker serta baju garis-garis berwarna senada.
"katanya kita bakal pos-posan komdis hari ini loh" bisik Karin dibelakangku.
Anggota kelompokku tiba-tiba memperlihatkan raut wajah agak tegang sementara aku hanya ikut-ikutan saja biar sama dengan mereka.
Kamipun melakukan pemanasan sebentar sebelum akhirnya Andreas datang dan menyuruh kami merapikan barisan serta menghitung jumlah anggota untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
"siap komplit ka" kata Rani ketua angkatanku.
"Ini si Rani mukanya cerah bener kalau ada Andreas" gumamku dalam hati.
Pikiranku tentang Rani dan Andreas mulai mengganggu laju langkahku menuju pos satu.
Semenjak tadi, aku hanya memikirkan ini "apakah Rani terkesan tidak suka padaku hanya karena Andreas meminjamkan kompas?" tanyaku dalam hati.
Semua anggota kelompokku sekarang sedang bersemangat, tapi aku malah tidak fokus harusnya aku bisa mementingkan kelompok dibanding urusan pribadi yang tidak penting seperti itu.
Aku mulai mendengar suara teman-teman kelompok lain yang sudah duluan sampai di depan tepatnya di pos 1 yang diisi oleh Lingga dan beberapa kakak-kakak dari Evaluasi.
Kami diminta berjalan sambil bergandengan tangan diatas batu-batu yang sudah disusun dengan ranjau lumpur di sekelilingnya "ah ini sih tes kekompakan kaliya?"kataku.
.
.
.
Selanjutnya di pos 2 diisi oleh Kak Doni (masih teman sekelas Andreas yang juga agak menyeramkan karena mempunyai postur tinggi dan berisi) ditambah ada beberapa anggota Komdis lainnya juga disana.
"Mana yang namanya Raina tolong maju kedepan" kata Kak Doni.
"Raina jago gambar ya? Tolong gambar satu sosok yang ada dipikiran kamu sekarang? Bisa kan?" pinta Kak Doni.
Aku hanya mengangguk dan mengambil buku gambar berukuran A4 dan pensil 2B yang diulurkan salah satu Kakak kelas didepanku. Sementara anggota kelompokku yang lain diminta untuk bernyanyi yel-yel, memakan permen jahe, menceritakan hobi dan lainnya.
Aku sudah selesai dengan hasil gambaranku "ah tunggu ini mirip siapa ya? Ko aku tanpa sadar gambar dia sih?" tanyaku dalam hati.
Aku segera memberikan hasil gambaranku dan masuk kembali ke barisan kelompok untuk segera melanjutkan perjalanan ke pos 3.
"Tunggu Raina ini ko mirip Andreas ya? Eh bukan ini sih mirip Gian" kata Kak Doni.
Aku benar-benar tidak tahu gambarku itu mengarah kemiripan kepada siapa mungkin pada Andreas atau Gian yang disebutkan Kak Doni itu.
.
.
.
"Na kamu beneran gambar si Gian? Gila ya itu anak bisa-bisanya dapet fans banyak sampe kakak tingkat juga pada suka loh katanya" bisik Karin.
Aku sontak saja bertanya "Gian yang mana? Angkatan kita? Ko aku baru denger sih namanya?" tanyaku.
"Yaelah na itu loh yang tempo hari nabrak kamu di depan lobby fakultas terus malah bilang "makanya jangan nunduk terus kalo jalan" jelas Karin.
Aku mengingat kejadian yang diceritakan Karin tapi aku masih saja lupa mungkin kalau bertanya kepada Hanifa atau Arika akan sedikit membantu.
Aku merasa beruntung ada Karin yang mau menjelaskan apapun kepadaku, sepertinya dia serba tahu tentang kasus-kasus di angkatanku. HAHAHAHA.
__ADS_1
Aku bahkan tidak ingat nama teman-temanku satu persatu kalau bukan karena aku yang koordinir pembelian alat pembuatan peta manual mungkin aku Hanifa dan Arika tidak akan seterkenal sekarang. HAHAHA....
Tiba-tiba aku mengingat sosok Gian yang diceritakan Karin "Gian yang pake baju batik itu?"tanyaku. "Iya dia ganteng kan? Tapi kamu jangan ngeceng ya soalnya si Loyi geng si Rani udah mepet tuh ke Gian" tambah Karin.
"Ngeceng? Ngapain?" tanyaku meremehkan.
Karin menjawab "Ah iya deh yang udah ada Kak Andreas mana mungkin berpaling kan ya?".
Hmmmm...
Selanjutnya di pos 3 pasti Andreas si kelas berat itu dengan antek-antek komdis berwajah sadis itu.
Setibanya di pos 3, ketua kelompokku memperkenalkan kami didepan para Kakak tingkat yang ada tapi tiba-tiba aku merasa kepalaku agak berat dan pusing, pandanganku sedikit kabur dan aku mulai mual dan ingin sekali duduk. "Na kamu pucet banget!" bisik Karin.
Aku hanya membalas kekhawatiran Karin dengan senyum kecil sampai akhirnya aku ambruk dan terjatuh ke tanah. Aku mungkin hampir pingsan, tapi aku masih ingat segala sesuatu yang terjadi saat itu.
Andreas dari barisan depan terlihat berlari menuju ke arahku lalu berteriak "medis!!!" teriakkannya lantang sekali.
Aku hanya mencoba menguatkan pandanganku agar tidak terhalang.
"Aku tidak mau pingsan, aku bukan anak cengeng. Aku kuat!!! "Batinku.
Tapi semua langsung terasa gelap dan sesak saja yang aku rasakan setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.
.
.
10 menit kemudian ......
Sekarang aku terpisah dengan anggota kelompokku, aku sudah berada di Aula dan ada kakak medis yang menemaniku saat itu.
"De kamu udah enakkan?" tanyanya yang bahkan aku tidak ketahui namanya itu.
Tidak lama Kakak Bingkelku datang dengan wajah cemas "Raina gimana enakan? Duh teteh khawatir banget tau tadi temen-temen kamu pada cerita untung kamu pingsan di pos terakhir jadi kamu ga ketinggalan acara" jelasnya.
"Emang abis ini ngapain kak? Aku masih mau ikut ko aku kuat" kataku.
"Habis ini cuman awarding ko dan upacara penutupan tapi mereka lagi istirahat makan siang dan bersih-bersih sebelum pulang" jawab Kakak Bingkelku.
Karin dan teman kelompok perempuanku yang lain datang ke aula untuk memastikan keadaanku baik-baik saja.
Mereka membawakan kotak makanan untukku dan terlihat sekali mereka lega bahwa aku sudah segar kembali.
"Na tadi kamu pucet banget tau udah gitu kamu lemes banget dibangunin aja gabisa sampe-sampe harus digendong sama Andreas" jelas Karin.
"Andreas gendong aku? Mangku aku gitu? Ah bercanda nihkan"tanyaku.
Sella teman kelompokku ikut-ikutan menerangkan "beneran Na tadi Kak Andreas sampe marahin divisi konsumsi karena sediain pisang di makanan kamu, katanya kenapa bisa maru yang harusnya gak makan pisang dikasih pisang sih? Suruh dihabisin juga? Kalian ini baca form mereka satu satu gak? Gitu loh Na serem ih si Kak Andreas" jelasnya.
Aku hanya diam mendengar satu persatu penjelasan mereka yang seolah membuka pandanganku kepada Andreas.
"Eh na kita beres beres tenda dulu ya abis itu mau mandi dan nanti biar kita aja yang siapin baju kamu sekalian rapihin carrierl kamu" kata Karin.
"Iya Na kamu istirahat aja dulu setengah jam lagi kita kesini anterin baju kamu terus kamu mandi ya nanti soalnya jam 3 kita upacara penutupan sekalian awarding gitu" pungkas Sella.
Aku hanya duduk berdiam diri diatas kasur tipis di aula yang luas itu, sampai aku lihat Andreas dan teman-teman komdisnya datang seperti hendak membicarakan sesuatu.
"Iya briefingannya kaya tadi aja ya! Elu bagian itu" kata Lingga sambil menepuk punggung Andreas.
Aku pura-pura tidak melihat mereka karena aku malu kalau benar yang diceritakan tadi oleh Sella bahwa Andreaslah yang membantuku ke Aula.
__ADS_1
"Yas kamu ga mau ditinggalin dulu? Kita tunggu di sebelah sana aja ya!" kata Lingga dengan suara pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.
Setelah itu Andreas berjalan menuju arahku dan aku berusaha secepat mungkin menghindari kontak mata dengan Andreas.
"De, kamu gimana sekarang? Baikan?" tanyanya. "Lumayan kak"jawabku singkat.
"Kalau kamu emang gabisa makan pisang yaudah bilang jangan maksain makan lagian kalau kamu jelasin juga kita ngerti" jelasnya.
"Aku bisa makan pisang ko kak cuman gak tau aja kalo pagi bakal langsung mual begini" jawabku.
Andreas hanya menatapku dalam-dalam. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan tatapannya.
"Nanti acara beres sekitar jam 8 malem kalau kamu emang masih sakit minta jemput ayah apa ibu kamu aja, biar nanti saya yang urus izinnya" katanya.
.
.
(Ini orang kesurupan apa ya jadi baik begini)
Aku sudah mandi dan siap untuk upacara penutupan meski sedikit pusing dan kadang harus duduk sebentar untuk meredakan pusingnya. Aku ingat Ayah pernah bilang kalau aku tidak bisa makan pisang pagi hari entah karena masalah apa aku akan pusing dan mual jika membantahnya.
Ditambah lagi aku tidak meminum vitamin penambah darah tadi pagi, alhasil aku drop deh. Hanifa dan Arika terlihat cemas juga padaku karena mereka takut aku masih sakit dan tidak bisa melanjutkan acara, padahal inilah puncaknya yaitu "awarding".
.
.
Awardingpun dimulai....
Suara MC
......Kelompok terkompak jatuh kepada.......... Kelompok satu (semua bertepuk tangan)
......Kelompok terlengkap jatuh kepada...........
Kelompok empat (sorak sorai ramai)......
Hingga akhirnya awarding individupun dimulai...
Maru terbaik dalam penggambaran sketsa perjalanan jatuh kepada Raina.......
Aku kaget mendengar hasil pengumumannya, karena sketsa yang aku gambar masih kalah indah dengan yang digambar Hanifa. Hanifa lebih jago menggambar dibanding aku ya mungkin ini lagi rezekiku saja kaliya..kataku dalam hati...
"Raina kamu tunggu sampai dijemput ya disini yang lain biar aja duluan, soalnya disini juga masih banyak kakak tingkat ko!" kata Kakak Bingkelku.
Akupun mempersilahkan kelompokku pulang menggunakan bis terlebih dahulu sementara aku dan Iria (teman angkatanku) menunggu untuk dijemput orang tua kami masing-masing.
"Halo teh, ayah kayanya gajadi jemput ya maaf ini macet banget ayah masih di tol kalaupun jadi jemput....hhhmm kamu kasian nungguin kelamaan" jelas Ayah.
Iria sudah dijemput sejak 5 menit yang lalu. "Ah ayah kenapa gak bilang dari tadi? Tau gitu teteh bareng sama anak-anak pake bis" jawabku.
Aku melihat ada Andreas di belakangku "Kenapa ayah kamu gabisa jemput?" tanya Andreas yang duduk disebelahku entah datang darimana.
"Iya kak ayah masih di tol katanya habis dari Bandung Barat" jawabku.
"Kak aku mau nebeng Kak Lingga boleh gak ya? Kalo gak salah dia searah sama aku kan?" tanyaku sedikit berharap.
"Ah lingga udah mau bareng sama Praya kayanya" jawabnya.
Akupun hanya diam mendengar jawaban Andreas dan semakin bingung karena jam sudah menunjukan pukul 9 malam.
__ADS_1
Raina bingung harus pulang naik apa dan minta tolong siapa....
(Hmmm kira-kira Andreas mau nolongin Raina lagi gak ya?)