
HAI SEMUANYA.... GIMANA NIH CERITAKU? AKU LAGI SEMANGAT-SEMANGATNYA UPDATE KARENA BANYAK STOK EPISODE YANG UDAH AKU KETIK BEBERAPA MINGGU SEBELUMNYA..
Oya, aku mau kalian mengenal tokoh baru di part 2 ini. Namanya Fasya, teman SMP nya Raina. Kenapa Fasya punya tempat di part 2 ini? gimana juga hubungan LDR yang dijalani Raina dan Andreas? juga Dhika dan Hanifa?
Terus gimana ya kemajuan antara Nunu dan Gian? atah bahkan Nirwan dan Arika?
Terus ikutin kelanjutan ceritanya yaaa.. Jangan lupa vote dan likenya juga!! thankyou💕
___________________
------------------------------------
"Raina, udah siap belum? kita mulai kocok nama yu?" ajak Roby.
"Siap, ayo!" jawabku.
Sekarang, tim evaluasi sudah tidak berlima lagi. Kami memiliki amunisi baru, yaitu Ega, Elice, Dinni dari angkatanku dan enam orang dari adik tingkatku.
Setelah pengundian, akupun mendapatkan tugas untuk menemani kelompok 3 dengan komdis Gian.
Aku sempat mengirimkan pesan pada Nunu, untuk mengabari kalau nantinya aku akan semobil dengan Gian.
"Iya gapapa haha, take care ya! track nya jauh loh lumayan kemarin aku ikut pas survey" kata Nunu.
Nunu dan Gian memang semakin dekat sekarang, tapi Nunu belum mau menanyakan kejelasan hubungannya dengan Gian.
"Belum lah, kecepetan gak sih kalau aku mepet terus?" jawab Nunu setiap kali aku dan Hanifa menanyakan statusnya dengan Gian.
Padahal, aku yakin kalau Gian juga menyimpan perasaan terhadap Nunu. Begitupun juga Nunu, untuk ukuran seseorang yang dekat dengan Gian sih aku dapat menyimpulkan bahwa Gian bukan cuma menganggap Nunu sekedar teman.
"Oke, udah dapet kan jobdesknya masing-masing? sekarang kita bubar ya, selama dua hari kedepan kalian jaga kesahatan dan nanti sebelum keberangkatan kita kumpul dulu di lobby!" kataku.
Mereka terlihat sangat bersemangat, mungkin mereka tidak sabar melihat adik-adik tingkatnya menjalani kaderisasi langsung di lapangan. Mereka ingin melihat ekspresi adik-adiknya saat ada di posisi mereka dulu. Begitupun aku yang sama tertarik dan bersemangatnya.
Akhir pekan ini, aku harus merelakan liburan singkatku. Padahal Ibu, Ayah, Recca dan Randy mau menengok Abah di kampung. Tapi, aku sudah dipastikan tidak bisa ikut karena harus ikut Studi Keagamaan.
Malam menjelang Studi Keagamaan....
"Teh, kunci semua pintu sama jendela ya pas kamu pergi. Oya warung grosir juga tolong dikunci sama kuncinya titipin aja di Mas Ilham (tetangga sebelah kami)" kata Ibu sebelum berangkat.
"Teh ini uang jajan buat tiga hari" kata Ayah sambil memberikan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Gak usah yah, aku masih ada ko" kataku menolak.
"Loh perasaan udah seminggu ini kamu gak minta uang jajan, ko masih ada aja sih?" tanya Ayah keheranan.
"Aku kan jualan di kampus, jadi punya uang sendiri. Itu buat tabungan Ayah sama Ibu aja" kataku.
"Yakin cukup sampe Ayah pulang?" tanya Ayah lagi.
"Yakin, di kulkas ada stok makanan kan bu?" tanyaku pada Ibu.
"Ada teh, bawa aja yang bisa dimasak disana bebaslah" jawab Ibu.
Akupun mengantarkan mereka hingga ke gerbang dan langsung mengunci pagar.
"Rainnnnnnn"
Ternyata ada Fasya yang kebetulan melintas didepan rumahku.
"Wey, darimana?" tanyaku.
"Dari kampus abis rapat haha, besok kamu studi keagamaan ya?" tanyanya.
"Iya, kamu juga?" tanyaku.
"Enggak, jurusan aku minggu depan jadwalnya" jawabnya.
"Hmm"...
"Eh, udah makan belum? beli baso komplek yu?" ajak Fasya.
"Baso komplek? mas bejo?" tanyaku.
"Iya yang di pertigaan itu, tadi aku liat tapi mau beli malu soalnya banyak Ibu-ibu ngantri" katanya.
"Bilang aja minta anter" gerutuku.
Akupun mengantar Fasya ke mas bejo untuk membeli baksonya.
"Mas makan sini aja ya dua porsi" kataku.
"Rumah kamu ki sepi tadi?" tanya Fasya.
"Iya yang lain pada mudik tiga hari nengok Abah, aku gak ikut karena ada acara besok" jawabku.
"Sabar ya derita mahasiswa semester 5 hahahaha" ledeknya.
Fasya sempat menyarankan aku untuk mengajak salah satu teman agar menginap dirumah, tapi aku meyakinkannya bahwa aku berani tidur sendiri malam itu.
"Kan lagi rawan juga di komplek, kemarin aja di atas ada yang kemalingan padahal rumahnya gak kosong loh. Cuma waktu itu yang tinggal anaknya sendirian gitu, eh pas paginya udah heboh aja kemalingan" kata Fasya.
"Oh gosip ibu-ibu beneran soal yang kerampokan itu? aku kira hoax doang loh" kataku.
"Beneran, cuma beda satu gang sama rumahku. Aku aja denger langsung dari satpam komplek. Makanya kamu hati-hati lah" katanya menakut-nakutiku.
Setelah selesai makan, Fasyapun mengantarkanku kedepan rumah.
"Awas haha ada maling atau nggak ada penampakan" ledeknya sambil tertawa.
"Ish gak lucu ah, jangan bikin parno dong" gerutuku.
Sudah pukul 10 malam, dan aku memutuskan untuk tidur didepan televisi karena takut dikamar sendirian. Kalau bukan karena cerita Fasya, mungkin sekarang aku sudah tidur nyenyak.
Biasanya juga aku bukan penakut, mau ditinggal selama apapun dirumah dan sendirian tidak masalah. Tapi, cerita Fasya seolah menempel di otakku.
__ADS_1
Aku bahkan mengecek berkali-kali semua jendela dan pintu belakang rumah yang terhubung ke grosir untuk memastikan bahwa semuanya telah terkunci.
Akhirnya aku mengirimkan voice note pada Andreas.
"Kak, aku takut dirumah gak ada orang trus kemarin baru aja kasus kemalingan mana komplek sepi banget akhir-akhir ini"
Tak lama diapun menelponku, suaranya terdengar seperti kaget dan baru terbangun dari tidurnya.
"Kamu dimana sekarang? jangan tidur dikamar. Kalau bisa tidur dibawah jadi kalau ada apa-apa bisa lari keluar. Udah kunci semua pintu sama jendela kan?"
"Udah, tapi tetep aja gak bisa tidur padahal ini depan televisi"
"Ya matiin tv nya dong, kalau liat tv terus kapan ngantuknya? berdoa dulu, semoga gak terjadi apa-apa. Sebelum itu ambil palu, raket nyamuk atau apa kek gitu buat mukul terus taro dibawah bantal buat jaga-jaga"
"Iya, eh kakak kenapa belum tidur?"
"Tadi aku udah tidur, cuma denger notif khusus dari kamu jadi bangun lagi. Kalau ada apa-apa telpon aku ya?"
"Iya, kakak juga tidur ya maaf aku ganggu"
"Gak ganggu kok, semalem apapun kalau ada apa-apa harus telpon aku dulu"
"Iya, duh duh bentar kak"
Perutku tiba-tiba saja sakit dan melilit.
"Hey kenapa? dek"
"Perut aku sakit, melilit lagi bentar ya aku mau ambil obat dulu keatas"
"Makan apa kamu malem-malem?"
"Cuma makan bakso Mas Bejo ko"
"Pedes?"
"Lumayan"
"Duh bandel, udah sana minum obat dulu"
Semenjak tahu aku sakit, Andreas jadi lebih protektif. Bukan ke pergaulanku, tapi lebih ke pola makan dan gaya hidupku. Dia akan lebih sering menelponku setiap harinya, untuk menanyakan apa aku sudah makan atau belum.
Terkesan klise memang bagi kebanyakan pasangan, tapi aku berani jamin perintah Andreas lebih mempan buatku daripada omelan Ibu.
Dia dengan gaya bicaranya yang ketus kalau marah itu, akan membuatku menuruti perkataannya saat itu juga.
Pagi harinya.....
"Aku pergi naik apa ya? kalau angkot kan tas aku berat banget. Kalau ojek online mana ada jam segini? ini kan masih jam 4 pagi?" pikirku.
Hanifa pasti sudah ada dikampus karena komdis ada acara malam tadi.
"Fasya udah bangun belum ya?" ...
Akupun mencoba untuk menelpon Fasya, tapi tidak diangkat juga.
"Sya, kamu udah bangun? ke kampus jam berapa?" tanyaku.
"Ini mau berangkat, aku ada apel pagi jadi harus disana sebelum jam 5" jawabnya.
"Pasbanget, nebeng dong?" pintaku.
"Boleh, udah siap emang?" tanyanya.
"Udah, lewat sini ya jemput"...
Akhirnya, aku berangkat ke kampus bersama Fasya.
Sesampainya di kampus....
"Rain, Nirwan minta semua ketua briefing dulu di atas. Samperin gih" kata Roby.
Akupun berlari keatas untuk menemui Nirwan yang ternyata sudah berkumpul dengan Gian, Joko, Risa dan ketua-ketua bidang yang lain.
"Eh rain sini gabung" ajak Nirwan.
"Maaf telat" kataku.
"Gapapa baru kita baru mau mulai juga" jawab Nirwan.
Nirwan dan Agungpun memberikan jobdesk untuk dua hari kedepan kepada kami.
"Kalian kan ketua, tolong kalian jaga fisik kalian dulu dan baru kalian bisa membawahi orang-orang yang ada di tim kalian" kata Agung.
"Semoga kita lancar ya kegiatannya, jangan lupa komunikasikan kalau ada kendala" tambah Nirwan.
Setelah selesai briefing, kamipun bergabung kembali dengan rekan-rekan dan madu maru yang sudah bersiap untuk apel pembukaan.
Apel selesai, dan Hanuka langsung menuju kearahku untuk memberikan semangat mereka.
"Buketu semangat ya!!!" teriak mereka.
Aku memeluk mereka satu persatu, lalu sempat bilang bahwa aku tegang dan takut berbuat kesalahan.
"Tenang, kamu pasti bisa tinggal berusaha kasih perintah yang cepat dan tepat buat anak buah kamu" kata Hanifa.
"Foto dulu yu berempat?" ajak Nunu.
"Boleh yuk nanti aku post!" seru Hanifa.
Kamipun kembali berpisah sesaat sebelum menaiki mobil masing-masing.
"Rain, sama aku ya?" tanya Gian.
__ADS_1
"Iya, yang mana mobilnya?" kataku balik nanya.
"Tuh disana, kita kebagian kelompok sama ketua angkatan mereka si Erik yang aktif itu yang ngefans sama kamu" katanya.
"Erik?yang mana hahaha fans aku? baru denger ah" kataku.
"Liat deh, nanti pasti dia caper pas tau semobil sama kamu" jawabnya.
Kamipun menaiki mobil yang isinya kelompok maru dan satu bingkelnya, bingkel yang bertugas saat itu adalah Karla anak 2012.
"Ka Raina, Kak Gian silahkan kak!" kata Karla mempersilahkan kami masuk ke mobil.
Aku dan Gian duduk didepan tepatnya disamping supir.
"Erik, bukannya seneng sama kak Raina? tuh kak Raina mumpung semobil" kata Karla.
"Kak Karla jangan gitu dong, saya jadi malu nih" jawab Erik.
Aku sempat melirik wajah Erik dari depan, lalu kulihat dia tersenyum dan lalu menunduk karena malu.
Erik cukup menarik untuk ukuran mahasiswa baru, badannya tinggi dan setelannya rapi.
"Kamu doyan yang lebih muda gak?" bisik Gian.
"Apasih gi, ngakak deh hahaha dia tuh cuma setahun lebih muda dari ade aku wkwkwk" jawabku.
"Kamu gimana? doyan sama Nunu gak?" ledekku.
"Bingung rain, kata kamu kalau aku nembak dia akhir bulan ini setelah kita agak longgar jadwalnya gimana?" tanyanya.
"Cobain aja, gak ada salahnya ko! lagian dia kan siapa tau aja juga nunggu kamu" kataku.
"Aku nanti minta tolong kalian bertiga deh ya, pokoknya kalian harus bantuin aku" katanya.
Sesampainya di bukit Guntur....
"Dulu kita gak tau nama tempat ini, sekarang jadi tau kalau ini namanya bukit guntur haha gak kerasa udah tiga kali aja aku kesini. Setiap tahun rasanya berbeda sekali" gumamku.
Tempat ini punya sejarah khusus buatku, saat itu adalah pertama kalinya aku melihat Andreas mengkhawatirkanku. Mentalku ditempa, fisikku juga dilatih dan otakku terus berpikir. Jalan yang aku tempuh untuk dapat sejauh ini, sangat sulit ternyata entah berapa liter keringat yang menetes dan berapa kali tangisan yang keluar dari mataku. Sudah pasti tidak terhitung.... Aku tidak berpikir bisa melangkah sejauh ini, bisa bertahan di geografi hingga aku benar-benar jatuh cinta pada semua kewajiban dan kegiatan yang harus kulakukan setiap harinya.
Dulu, membawa carrierl seberat 60 liter saja rasanya sesak nafas. Sekarang? bahkan aku terbiasa membawa tas yang lebih berat saat harus praktikum ke lapangan.
Dulu, aku selalu menggerutu saat harus tracking beberapa kilometer saja. Sekarang? karena sering turun ke lapangan rasanya betisku sudah kuat saja meski harus dipaksa berjalan sejauh apapun.
Aku benar-benar tumbuh di tempat yang tepat....
Aku memproses diriku menjadi dewasa....
Aku dituntut mencintai alamku dan merawatnya....
Aku juga dituntut menyadari dan menerima keberagaman manusia....
Lalu setelah tuntutan demi tuntutan itu, aku menjadi benar-benar mencintai keduanya...
Aku jadi terbiasa melakukan hal baik....
Pun tentang kehidupan pribadikuuu....
Siapa sangka, aku bisa mendapatkan cinta kakak tingkat dengan begitu banyak fans itu?
Ya si jutek dengan banyak pesonanya...
Makhluk terdatar yang pernah aku temui...
Sekarang, dia adalah milikku..
Sementara dulu, memimpikan menjadi temannya saja rasanya mustahil....
Lagi-lagi, aku sadar betapa jauhnya perjalananku ke belakang....
.
.
.
.
"Rain, mana jobdesknya?" tanya Roby.
"Oya, kita kumpul sebentar dulu deh buat briefing sambil nunggu Maru persiapan pembukaan" kataku.
"Oke, aku panggil yang lain dulu ya?" kata Roby.
Maru sudah berbaris rapi, sambil tetap menggendong tas berat mereka.
"Waw gila ya? berarti dulu juga aku selelah itu? liat deh muka mereka kasihan banget" kata Rima.
"Iya terus belum apa-apa udah kucel karena kena debu, yaampun gila banget iyiiuh" sahut Firda.
"Iya ya, berarti kita dulu juga jelek banget dimata kakak tingkat hahaha" kataku.
"Jelek gak berlaku buat kamu mah rain, buktinya kakak tingkat seganteng Andreas aja luluh" ledek Hasan.
"Apa sih san? bisa aja deh mujinya hahaha" jawabku.
"Eh iya kak Raina dulu cakep banget tau, aku inget setiap kak Raina sama gengnya lewat pasti wangi banget dan semua anak cowok dikelasku bakal rebutan milih satu diantara kalian berempat" kata Firda.
"Yaampun, segitunya hahaha padahal kita mah gak berasa gimana-gimana ko" kataku.
"Yang cantik beneran mah ga akan berasa dia cantik, berasanya buluk aja tetep coba yang sok cantik padahal buluk jatohnya pasti nyari-nyari kesalahan si cantik biar dia keliatan lebih baik" kata Hasan sambil melirik ke arah tim logistik.
Tim logistik yang dimaksud Hasan, mungkin Rani dan Kayi. Mereka ditolak di semua divisi dan hanya diterima di logistik. Kadang, aku kasihan melihat mereka harus mengangkat-ngangkat barang dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dengan serba cepat. Apalagi, sekarang respon teman seangkatanku kepada mereka juga sudah sangat buruk.
Mereka masih kecewa dengan Kayi dan Rani.
__ADS_1
"Tuh Rain, kamu liat kan? karma itu gak pernah salah orang! inget waktu kamu jadi bahan gosip mereka dan akhirnya kamu dikucilin gara-gara disangka kecentilan dan cari muka? sekarang mereka yang ada di posisi kamu" bisik Roby.