Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kaget


__ADS_3

Setelah selesai dirumah, aku segera kembali kerumah sakit. Sementara Randy sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu.


"Oleh-oleh udah dibuka sama Ibu, udah dipindahin Recca ke kamar kamu" kataku.


"Asyik, makasih ya teh. Yaudah aku aja yang anter teteh ke rumah sakit" jawabnya.


Di perjalanan, kami berpapasan dengan Fasya. Dia mati-matian mencoba menghentikan motor Randy. Randy yang kesal akhirnya mengalah dan memutuskan untuk menepi.


"Apa sih lu ka? Mau nyelakain kita?" gerutu Randy.


Aku mencoba menahan Randy agar tidak terpancing. Secara postur adikku jauh lebih berisi. Tinggi badannya dengan Fasya juga hampir sama. Aku yakin adikku menang jika harus berkelahi dengan Fasya saat itu.


Tapi, aku tidak mau cari masalah. Tangan Randy kutahan dan kupegangi sambil menarik tubuhnya ke belakang badanku.


"Ada apa sih Sya?" tanyaku.


"Kenapa sih sombong amat? Aku cuma mau nyapa kamu aja. Kamu makin cantik ya. Lu juga makin ganteng loh Ran" kata Fasya berbasa-basi.


"Udah ngomongnya? Gue buru-buru nih" kata Randy.


"Sabar lah Ran, gue sama kakak lu udah baikan kali. Kita sahabatan kan ya rain?" katanya sambil menyentuh daguku.


Randy yang marah menangkis tangan Fasya. Dia hampir mengangkat kepalan tangannya dan menerjunkannya ke wajah Fasya. Tapi aku menahannya. Lagi-lagi karena aku merasa tidak ada gunanya meladeni Fasya saat itu.


"Udah ya sya, aku ada urusan penting. Kalau udah nyapanya kan gak usah sampe berhentiin motor aku dengan cara kaya tadi" kataku.


"Urusan penting? Kamu kan baru pulang kuliah lapangan kenapa gak istirahat dirumah?" gerutunya.


Aku mengabaikan Fasya dan menarik tangan Randy untuk segera kembali ke motor.


"Dasar lu kakak adek, sombongnya bukan main" teriak Fasya sesaat setelah Randy menjalankan motornya.


"Aku puter balik kak, gila dia berani banget ngatain kita kaya gitu" gerutu Randy.


"Udahlah Ran, teteh kan mau ketemu kak Iyas" kataku mencoba mengalihkan fokus Randy.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah sakit...


"Kak, aku langsung balik ya. Tapi aku mau mampir ngopi dulu di warkop depan tuh soalnya esmosi gara-gara si Fasya tadi" kata Randy.


"Iya, hati-hati ya jangan disusulin si Fasyanya" kataku.


"Enggak lah ngapain" jawabnya sambil memutar balikkan motor.


Aku sudah berada didepan ruangan kak Iyas. Tanpa sengaja, aku mendengar suara seseorang dari luar ruangan sepertinya ada dokter yang sedang berada didalam. Mungkin sedang memeriksa kak Iyas. Aku mencoba membuka pintunya perlahan karena takut mengganggu.


"Jadi dok, saya udah boleh pulang kan malam ini?" suara Kak Iyas bertanya.


"Boleh, saya sudah urus suratnya ko. Oh jadi kamu dijodohin sama Andreas? Haha dunia sempit ya?" jawab seorang laki-laki.


"Iya haha, kita bisa ketemu disini barengan lagi. Ya ampun gak nyangka. Papa aku sama Bapaknya Reas sahabatan dan jodohin kita dari SMP gitu" suara seorang perempuan muda.


"Iya kita dijodohin abis-abisan, sampe sekolah harus sama terus dari SD sampe SMA" jawab kak Iyas.


Kakiku langsung mati rasa, ada emosi yang bergejolak di hatiku. Rasanya sangat aneh. Aku ingin segera berlari tapi berat sekali langkahku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kak Iyas sudah dijodohkan dari SMP oleh bapaknya?


Apa aku tidak salah dengar?


Kenapa aku baru tahu sekarang?


Ya Tuhan, kenapa dadaku sesak?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tanpa sengaja aku menjatuhkan ponselku ke lantai. Mungkin karena tanganku sedari tadi gemetaran.


"Dek!" teriak Kak Iyas.


Aku kepergok sedang mengintip dari balik pintu.


"Maaf ganggu kalian" kataku gelagapan.


Secepat mungkin aku mengambil ponselku dan berlari meninggalkan ruangan itu.


Aku mendengar teriakan kak Iyas memanggilku.


"Dek mau kemana? Dekkkkk...."


Aku sakit hati. Bagaimana bisa seseorang yang dijodohkan dengannya dari SMP tiba-tiba muncul diantara kami. Aku yang akan ditinggalkan? Aku yang akan terbuang?


Tanpa sadar aku berlari hampir ke gerbang rumah sakit, kudapati Randy sedang duduk di warkop.


"Ran" teriakku.


Randy berbalik dan menyadari kehadiranku.


"Loh teh, ada apa? Kak Iyas kenapa?" tanyanya panik.


Randy pasti panik karena melihatku menangis. Dia menyangka terjadi sesuatu pada Kak Iyas. Aku memeluk Randy dan menceritakan apa yang baru saja aku dengar.


"Teh gak mungkin, pasti teteh salah denger. Mending kita balik ke kamar kak Iyas ya terus kita denger penjelasannya" ajak Randy.


"Gak mau, aku mau pulang" bentakku.


"Teh tapi kasihan kak Iyas gak ada yang jagain" bela Randy.


"Dia boleh pulang ko malam ini. Udah lah Ran, anterin teteh pulang" kataku.

__ADS_1


Randy tahu bahwa aku bukan tipe kakak yang akan mau mendengar penjelasan orang saat sedang marah. Apalagi posisinya Randy juga paham bahwa aku sudah emosi sejak dihadang Fasya dijalanan tadi.


Randy menuruti kemauanku. Kami kembali kerumah.


Selama perjalanan, aku tak hentinya menangis. Suara perempuan itu terdengar terus di telingaku. Berulang-ulang terus terngiang.


Aku berfikir, kalau aku pulang kerumah kak Iyas pasti mendatangiku. Sedangkan aku sangat ingin menghindarinya dulu.


"Teh, yakin sama keputusan teteh?" tanya Randy.


"Kamu anterin aku ke Lembang. Aku mau nginep dirumah Enin (nenekku)" kataku.


"Lah ngapain? Udah jam 7 loh nyampe Lembang jam berapa teh?" tanyanya.


"Pokoknya teteh mau kerumah Enin mau nginep disana. Kalau kamu gak mau anterin, turunin aja teteh disini. Biar teteh naik angkot" bentakku.


"Apa sih teh? Bahaya tahu pergi ke daerah sana malem-malem. Yaudah aku anterin" kata Randy pasrah.


Ponselku terus menerus berbunyi. Pasti itu kak Iyas. Aku membaca chat-chat yang dia kirimkan.


"Dek, kamu denger apa sih? Kamu dimana? Aku mau pulang nih"


"Dek kamu dimana?"


"Sayang kenapa sih gak aktif?"


"Sayang!!!!!!!"


"Sayang kamu dengerin penjelasan aku dulu"


"Kamu denger obrolan yang tadi ya? Itu gak seperti yang kamu denger"


Chatnya yang terakhir terkesan ambigu buatku. Secara tidak langsung, itu menguatkan pikiranku tentang kebenaran obrolan yang tadi aku dengar.


Aku segera mematikan ponselku dan meminta Randy untuk tidak mengabari kak Iyas bahwa aku akan menginap dirumah Enin.


"Kamu bilang aja gak tau teteh kemana, Ibu sama Ayah gak apa-apa tahu. Nanti teteh telpon Ayah pas nyampe disana" kataku.


"Iya" sahutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah Enin...


Enin dan Abah terlihat khawatir karena baru saja datang, aku sudah menangis dan memeluk Enin dengan erat.


"Nin, teteh lagi galau tuh berantem sama pacarnya. Katanya mau nginep disini" jelas Randy.


Enin sepertinya paham dan mengelus-elus rambutku.


"Cup cup cu, hayu masuk dulu" ajak Enin.


Randy ikut menginap bersamaku, karena hari sudah terlalu malam untuk pulang. Apalagi jalanan dari Lembang ke Bandung diatas jam 9 malam pasti sepi. Aku takut terjadi sesuatu pada Randy.


"Teh, telpon Ayah ah sekarang. Aku takut kena marah" katanya.


Akupun menelpon Ayah menggunakan ponsel Randy. Ayah khawatir dan menanyakan keberadaan kami.


"Teteh sama Randy dimana? Iyas nelponin Ayah loh dari tadi katanya kamu kabur" jelas Ayah.


"Aku sama Randy dirumah Enin. Kita mau nginep disini. Ayah jangan bilang kak Iyas. Aku lagi marah sama dia" kataku.


Ayah menanyakan apakah Andreas sudah menjelaskan semua padaku. Lalu aku jawab saja bahwa aku langsung kabur tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


"Ih ayah jangan belain kak Iyas terus" gerutuku


Ayah tertawa dan menyadari betapa manjanya anak sulungnya sekarang. Menurut Ayah Kak Iyas pasti punya penjelasan dan pembelaan yang sebenarnya.


"Pokoknya sebelum dia nyari aku, Ayah sama Ibu jangan ngasih tahu ke dia aku ada dimana" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Abah dan Enin menemaniku duduk di teras depan. Mereka memintaku masuk kerumah, katanya angin terlalu dingin dan menusuk.


Aku melihat ke sekeliling rumah Enin, menyadari bahwa sudah cukup lama aku tidak mengunjungi rumah ini. Apalagi setelah aku sibuk menjadi mahasiswa. Padahal jaraknya hanya satu jam dari rumahku, kalau dari kampus mungkin hanya setengah jam. Tapi, aku malah tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi mereka.


Abah dan Enin membuatkanku teh hangat dan bubuy singkong. Bubuy singkong adalah singkong yang dimasak dengan cara dimasukkan ke bara api yang menyala. Baranya berbahan bakar kayu. Sangat otentik da original sekali rasanya.


"Aaaah jadi inget waktu aku kecil. Abah sama Enin pasti selalu jemput aku tiap liburan sekolah" kataku.


Abah tertawa dan mengingat kejadian saat aku masih kecil dulu, kata beliau aku adalah cucu yang paling manja diantara semua anak Ayah dan Ibu.


Sejak kecil, aku sangat mudah marah dan sensitif. Jadi kata Enin aneh saja rasanya ketika sudah dewasa dan melihatku bisa seperti sekarang.


"Kamu makin cantik, makin dewasa. Enin seneng lihat foto kamu" kata Enin.


"Abah juga bangga pas tahu kamu juara duta kampus. Cucu Abah emang terbaik" kata Abah.


Aku memegang tangan Enin menyadari betapa telah keriput tangannya. Merasa bersalah karena banyak sekali waktu yang kusia-siakan. Aku tidak pernah menjadi cucu mereka yang seperti dulu. Aku jarang menengok dan memanjakan mereka. Padahal bisa saja setiap minggu aku mengunjungi mereka kesini.


"Maaf ya nin, bah... Aku gak sering jenguk, aku cucu yang gak berbakti" kataku.


Ada hikmahnya juga kejadian malam ini. Aku seperti dituntun oleh intuisiku untuk menuju kerumah Enin. Padahal bisa saja aku berdiam diri diluar rumah.


"Udah yu rain masuk. Dingin loh" ajak Abah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dikamar Enin, aku malah tidak bisa tidur. Malah memikirkan Kak Iyas. Kakinya gimana ya? Dia pasti pake kursi roda deh? Di kosannya sama siapa ya?

__ADS_1


Aku jadi menyesal karena sudah meninggalkannya sendirian. Bagaimanapun harusnya aku mendengarkan penjelasan dari kak Iyas terlebih dahulu. Bukannya malah langsung pergi begitu saja.


Lagipula, aku tidak pernah mendengar cerita bahwa dia pernah menyukai wanita lain sebelum aku di masa lalunya. Lantas kenapa bisa ada seseorang yang datang dan mengaku-ngaku sebagai calon istrinya.


Tapi tetap saja aku menjadi pihak yang dikagetkan. Seharusnya ada cerita yang masuk padaku terlebih dahulu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah pukul 1 malam, aku masih tidak bisa tidur. Rasanya ingin sekali kunyalakan ponselku dan melihat chat dari kak Iyas. Dia pasti sangat khawatir. Bahkan kalau benar Ayah dan Ibu merahasiakan keberadaanku, mungkin sekarang dia juga belum tidur. Karena khawatir dan memikirkanku.


Aku berjalan dengan pelan keluar kamar dan melihat Randy sudah terlelap di sofa depan televisi.


...........................


............................


Tak lama, ada cahaya lampu jauh yang menyorot dan terlihat di jendela depan. Akupun mengintip dari balik tirai.


"Itu mobil kak Iyas!"


Dia datang kerumah Enin, sepertinya Ibu atau Ayah yang sudah memberitahunya.


Tak lama kulihat Ayah keluar dari kursi pengemudi, diikuti Ibu yang menggendong Recca yang terlelap dan Kak Iyas yang duduk di kursi belakang.


Jalannya agak tertatih. Nampak sakit dan tidak seperti biasanya.


Aku berlari ke kamar dan menjaga suara langkahku. Berniat untuk pura-pura tidur.


Kututup seluruh badanku dengan selimut dan tak lama kudengar suara Ayah mengetuk pintu. Diikuti langkah Randy yang membukakan pintunya.


"Yah, kesini sama siapa?"


"Lengkap, ada Iyas juga tuh ikut. Teteh kamu mana?"


"Tidur kali yah, abis makan singkong terus manja-manjaan sama Enin. Sekarang tidur dikamar Enin juga tuh kayanya"


"Yaudah, ajak Iyas masuk ke kamar yang kosong. Biar istirahat dulu disana"


"Iya yah"


Setelah itu suasana kembali hening, aku mencoba tetap untuk mengatur nafasku agar tidak ketahuan Enin bahwa aku hanya pura-pura tidur sekarang.


Nampaknya Enin terbangun dan menyadari kehadiran Ibu dan Ayah. Benar saja, sekarang Enin beranjak.


"Eh La, ko nyusulin segala sih? Tidurin Recca di kamar depan" kata Enin.


"Iya, pacarnya Raina tuh khawatir sampe keukeuh mau nyusulin kesini. Dia lagi sakit makanya aku sama Ayahnya nemenin kesini" jawab Ibu.


"Raina sakit hati kali, wajar anak muda. Emosinya masih naik turun. Tuh udah tidur kekenyangan" kata Enin membelaku.


.....................


..............................


Beberapa jam kemudian....


Saat aku yakin bahwa semua penghuni rumah sudah tertidur. Akupun bangun dan berjalan perlahan keluar kamar. Randy masih memilih tidur ditempat yang sama. Sementara Ayah dan Ibu sepertinya tidur di kamar depan.


"Kak Iyas kayanya tidur di kamar belakang" gumamku.


Aku menuju ke kamar itu dan berniat memberikannya selimut tambahan karena pasti dia sedang kedinginan. Suhu malam hari di Lembang kan cukup rendah jika dibandingkan dengan suhu di kota Bandung yang relatif tidak terlalu dingin.


Ternyata pintu kamarnya terbuka sedikit dan dia sudah tertidur. Aku menyelinap masuk dan menyelimuti tubuhnya dengan sebuah selimut yang kubawa dari kamar Enin.


Hingga saat aku beranjak untuk pergi, tangannya tiba-tiba menarik tanganku.


"Aku udah duga kamu pasti datang ke kamar ini" katanya.


Aku mencoba melepaskan diri dan mengabaikan perkataannya. Tapi dia menggenggam tanganku dengan sangat kuat.


"Tidur! Udah malem" kataku ketus.


Dia beranjak ke posisi duduk dan memeluk pinggangku. Kepalanya kini bersandar didadaku.


"Aku ketemu Masayu secara gak sengaja di rumah sakit. Ternyata dia dokter spesialis anak dan suaminya dokter juga disana. Emang dulu kami dijodohin, tapi itu cuma semacam candaan sahabat lama antara Bapak sama Papanya Masayu" jelasnya.


"Kenapa gak pernah cerita sama aku? Aku gak pernah denger nama Masayu. Aku kan kaget" kataku.


"Lagian kan gak penting aku ceritain siapa Masayu, toh aku juga gak pernah punya perasaan apapun sama dia" jawabnya.


"Buat aku semua hal tentang kakak itu penting. Kakak gak boleh anggap remeh semua orang yang pernah ada di masa lalu kakak" gerutuku.


"Maaf sayang, aku gak pernah niat bohongin kamu. jangan marah terus dong" katanya.


Menyadari ekspresiku yang masih tidak berubah dan tetap dingin. Dia terlihat takut dan kehilangan percaya dirinya.


Perlahan dia melepaskan pelukannya. Lalu menatap mataku lagi dalam-dalam.


"Yaudah kalau kamu masih marah, kamu tidur lagi gih. Aku mau pulang aja" katanya sambil berdiri.


Beberapa langkah dia berjalan, egoku masih terlalu tinggi untuk mengejar dan memaafkannya. Hingga dia keluar dari kamar tamu.


Tak lama, aku mendengar suara pintu dibuka sepertinya dia sudah sampai di pintu depan.


Aku segera berlari mengejarnya. Dia tidak ada. Padahal mobilnya masih terparkir didepan rumah. Kondisi mobilnya juga kosong dan masih gelap.


Aku mencarinya ditengah kegelapan malam. Hingga tak kukira dia memelukku dari belakang.


"Maaf banget, aku bikin kamu nangis dan kecewa ya?" katanya berbisik di telingaku.


Aku menangis dan membalas pelukannya.

__ADS_1


"Maaf juga karena aku gak mau denger kakak ngomong tadi. Aku kaget dan kebawa emosi aja" kataku.


"Gapapa sayang, wajar ko. Sekarang yang terpenting kita udah ketemu dan baikkan lagi" jawabnya.


__ADS_2