Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Permintaan yang terdalam


__ADS_3

"Kak, aku bahkan gak sempet loh berpikiran untuk bales perbuatan Rani sama Kayi ke aku tapi ya mereka tuh cari masalah terus kerjaannya" keluhku.


"Kamu sempet kontak fisik sama mereka? Kalau memang mereka cari masalah terus, kayanya aku harus turun tangan"


"Jangan kak, gak usah. Nanti sama aja kaya tuduhan mereka ke aku bener kalau kakak turun tangan. Pokoknya, aku mau bales mereka kaya cara mereka dulu ke aku. Biarinlah mereka mau mikirin gimana lagi tentang aku juga"


"Gak bisa gitulah de, mereka pasti terus-terusan ngincer kamu kalau kamu gak kasih peringatan keras. Apalagi posisi Rani hampir semuanya emang jadi milik kamu, bahkan yang terakhir ini kata Nirwan kamu jadi sekertaris kan buat Praktikum Hidrologi?"


"Iya, karena aku kan dikasih amanah sama orang. Ya masa aku gak jalanin amanah yang dipercayain orang ke aku sih? Toh juga itu bukan aku yang mati-matian rebut, posisi itu datang sendiri ke aku dan ditawarin orang-orang ke aku. Kakak nanyain terus tentang aku ke Nirwan?"


"Iya aku cuma nanya ke Nirwan, karna aku kan gak bisa setiap saat nemenin kamu. Lagian gak mungkin kan aku nanya ke tiga sahabat kamu, mereka pasti bakal lebih berat ke kamu"


Aku melihat kekhawatiran tersirat di wajahnya, sepertinya dia ingin aku menghentikan perang dinginku dengan Rani dan Kayi.


"Pokoknya ini jadi urusan aku sama mereka berdua, bahkan ketiga sahabat aku aja gak boleh turun ikut bantu lagi. Itu juga berlaku buat kakak" kataku.


Andreas mencubit pipiku dan berkata pelan:


"Aku sedih kamu jadi nakal gini, biasanya kamu nurut sama aku. Tapi aku seneng juga sih seenggaknya kamu berproses dan berani bertanggung jawab atas masalah yang kamu buat. Aku selalu dukung kamu ko"


.


.


.


Lagi-lagi malam itu, aku memeluknya. Pelukan yang selalu membuatku tenang. Tenang sekali. Seperti semua bebanku hilang.


"Aku sempet takut kak, aku udah stress aja mikirin bulan depan mau gimana. Kakak tau gak? Banyak banget schedule aku, PKM lah BEM, jualan dan belum lagi tugas-tugas" keluhku.


"Yaudah, bulan depan aku bakal sering ke Bandung jenguk kamu. Awas aja ya kalau kamu gak jaga kesehatan"


Selang berapa menit saja, aku mungkin terlelap dikursi sebelah ranjangnya.


Hingga saat aku bangun, kulirik jam sudah menunjukan pukul 11 malam.


Dia tertidur sambil meletakan tangan kirinya diatas kepalaku. Posisi tidurnya terlihat tidak nyaman.


Aku mencoba mengubah posisi tidurnya dengan sangat hati-hati, takut dia terbangun.


Akhirnya setelah menyelimutinya, aku beranjak untuk tidur di sofa supaya lebih nyaman.


Entah kenapa, pandanganku malah terfokus pada tumpukan buku dan map-map yang sepertinya berkas kerja Andreas yang diletakan diatas meja kecil.


"Bukannya besok udah bisa pulang? Kenapa file-filenya malah masih berantakan diluar begini sih? Tumben banget dia gak rapih" kataku dalam hati.


Akupun mencari tasnya dan menemukannya dibawah ranjang.


Kutata setiap map dan setiap bukunya dengan rapi, hingga tak sengaja selembar surat jatuh.


"HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN TN.ANDREAS"


Setelah kubaca kepala suratnya, aku langsung membukanya karena penasaran dan karena aku sudah tahu dari Andreas kalau hasil CT-Scannya bagus.


Tapi....


Betapa terkejutnya aku, setelah membaca diagnosa dokter yang menyatakan bahwa Andreas menderita Sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome/RLS) atau penyakit Willis-Ekbom.


RLS adalah penyakit saraf yang ditandai dengan sensasi tidak menyenangkan yang menimbulkan dorongan kuat untuk menggerakkan dan menghentakan kaki.


Aku langsung mengambil ponselku yang sedang dicharge, menyalakannya dan mencari keterangan tentang penyakit ini di internet.


RLS bisa menimbulkan sensasi berupa rasa gatal, geli, kesetrum, kesemutan, nyeri, kram, atau seperti ada serangga sedang merayap di bawah kulit. RLS biasanya terjadi ketika penderitanya sedang istirahat, terutama di malam hari, hingga dapat mengganggu waktu dan kualitas tidur.


"Kakak kenapa bohong sama aku? Kenapa kakak bilang hasil CT-scannya bagus? Tapi kenyataannya malah ada penyakit yang aku gak tau ini apa artinya" ....

__ADS_1


Semalaman aku melakukan riset tentang penyakit RLS, aku menulis gejala-gejala yang mungkin timbul hingga cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejalanya. Aku yakin, Andreas menderita RLS karena genetik. Selama ini aku tahu pola hidup pacarku sehat, dia tidak merokok apalagi minum minuman beralkohol.


Menjelang dini hari, aku mencoba memejamkan mataku. Tapi rasanya sulit sekali, meskipun aku tahu bahwa RLS bukan penyakit berbahaya rasanya aku belum tenang kalau tidak mendengar penjelasan dari dokter secara langsung.


"Pokoknya besok pagi, aku harus ke ortopedi. Aku harus nanya tentang RLS, dan aku harus tahu bagaimana penanganan yang tepat untuk penderita penyakit ini"...


Karena sulit tidur, aku memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Lalu saat langit sudah agak cerah, aku pergi keluar untuk membeli sarapan.


Saat aku kembali keruangan, Andreas sudah bangun dan sedang memainkan ponselku.


"Kamu darimana? Sepagi ini udah keluar?" tanyanya.


"Aku habis cari sarapan, bentar ya aku siapin. Kakak udah cuci muka kan? Kata dokter kemarin kakak gak boleh mandi dulu loh" jelasku.


"Kamu emang udah mandi? Kamu bisa-bisanya bangun sepagi ini" tanyanya keheranan.


"Ya bisalah, aku kan gak tidur semaleman" jawabku.


"Kenapa? Gak suka ya suasana rumah sakit?" tanyanya.


"Habis riset soal penyakit" jawabku sambil mengeraskan suaraku.


"Penyakit? Siapa yang sakit? Penyakit apa?" tanyanya kaget.


"RLS" jawabku sambil memandangnya dengan sinis.


Dia membuang mukanya ke arah lain, seolah tidak mau membahasnya denganku.


Aku belaga sibuk saja menyiapkan sarapan dan sempat menyisir rambutku sambil berkaca di dekat sofa.


"Oke, aku akuin aku bohong sama kamu soal hasil ct-scan itu. Semaleman ini kamu riset soal RLS?" tanyanya.


"Kakak kan selalu bilang, urusan kesehatan jangan disembunyi-sembunyiin. Tapi kakak justru yang ngelanggar, disaat aku cuma bohong soal makan ramen. Kenapa kakak bisa nyimpen rahasia segede ini sendirian?" tanyaku.


"Bukan gitu, aku niat ko ceritain ini ke kamu tapi bukan sekarang saatnya. Aku gak ada niatan bohong ke kamu, beneran deh." katanya mengelak.


Pada kenyataannya, aku memang marah karena dibohongi. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih lebih banyak diam dan tidak bicara apapun sampai dia menjelaskan secara gamblang semuanya kepadaku.


"Maafin aku, beneran aku gak ada maksud bohong ke kamu. Aku aja pas nerima hasil Ct-scan ini kaget, karena penyakitku sama kaya Ibu. Aku cuma ngabarin Ibu karena saat itu Ibu yang paling penting dan harus tahu soalnya Ibu udah ngalamin penyakit ini duluan" jelasnya.


"Iya gapapa, Ibu emang yang paling penting kan? Aku emang gak harus tahu juga kan? Mungkin aku kurang penting ya? Yaudahlah, kita sarapan aja yu" kataku dengan ekspresi sinis.


"Dek, jangan gitu lah coba kamu liat muka aku sekarang? kamu liat apa ada kebohongan di mata aku? apa aku terkesan ngomong kalo kamu gak penting? Kamu sama pentingnya sama Ibu" jelasnya.


"Iya, udah makan dulu. Nanti keburu dokter dateng terus periksa kakak loh. Pasti nanti kakak disuruh pulang kan karena udah sehat?" tanyaku.


Dia terlihat sangat menyesal atas keputusannya yang sudah memilih menyimpan rahasia ini dariku. Wajahnya terlihat kecewa pada dirinya sendiri, sebenarnya aku tidak tega saat harus memasang wajah sinis dihadapannya. Tapi, dia hanya akan jujur saat aku sudah marah seperti ini.


Marah adalah sesuatu yang langka untuk bisa kulakukan, karena biasanya sekesal apapun aku... aku tidak pernah marah. Aku hanya akan memilih diam dan tidak banyak berbicara dengan siapapun.


Andreas mengambil kotak makanku, dan meletakannya di meja pasien. Lalu dia beranjak dan duduk menghadap kearahku.


Wajah kami sekarang bertatap-tatapan. Aku mencoba terlihat natural dan tidak terpengaruh oleh ekspresi bersalahnya sama sekali.


"Raina, kamu tahu sesayang apa aku sama kamu? kamu tahu gak mungkin aku sembunyiin hal segede ini ke kamu, aku pasti cerita tapi bukan di waktu yang salah seperti kemarin. Aku udah rencanain semuanya, untuk bilang ke kamu dan untuk mengurangi rasa khawatir kamu ke aku. Aku gak ada niatan sama sekali untuk bohong" katanya sambil menggenggam tanganku.


"Iya aku percaya ko, kapan sih aku gak percaya sama kakak? udah ya sekarang kita makan" kataku tetap keukeuh.


"Gak, sampe kamu marah dan bawel lagi aku gak akan makan. Aku tahu banget kamu, kamu bersikap kaya gini buat ngetes aku kan? kamu marah dan kecewa kan sama aku? marahin aku aja, pukul aku kalau perlu. Asal, kamu jangan diemin aku kaya gini" bujuknya.


Aku menarik nafasku dalam-dalam dan memintanya untuk bersabar.


"Gak bagus ah berantem disini, ganggu pasien lain. Lagian kan aku udah bilang kalau aku percaya sama kakak. Nanti aja ya kita bahas di kosan kakak" kataku.


Setelah sarapan, aku memanggil doktee untuk memeriksa kondisi Andreas terakhirkali sebelum pulang.

__ADS_1


Sementara selama dokter memeriksanya, aku berlari ke bagian ortopedi.


Aku menanyakan banyak hal tentang RLS kepada salah satu staff dokter yang sedang piket disana.


Hingga setelah mendapat jawaban yang banyak, aku kembali ke ruangan Andreas.


"Yaudah, kamu udah boleh pulang sekarang. Inget ya terapi!" kata Dokter sambil tersenyum kearahku.


Aku masih tak bergeming, aku hanya mencoba membereskan semua barang Andreas tanpa harus berbicara dengannya. Sekarang aku tahu, perasaannya pasti tidak karuan. Dia bingung harus bagaimana memperlakukanku saat itu.


"Yu kebawah, aku udah pesen taksi online" ajakku sambil membantunya berjalan.


Dia menatapku dan terus saja menatapku hingga kami masuk ke taksi.


Didalam mobil, Hanifa sempat menelponku menanyakan kondisi Andreas dan rencana makan bersama kami hari ini.


"Iya fa, nanti pas mau sunset ya kita makan di pinggir pantai. Ntar aku kabarin lagi, sekarang aku baru aja keluar dari rumah sakit" kataku.


"Oke bye faa see you" pungkasku.


Andreas masih saja menatap heran kearahku, dia mungkin gemas karena aku tidak kunjung mengeluarkan suara.


.


.


.


Setelah beberapa saat....


"Pak berhenti disini aja, itu kosannya" katanya sambil menunjuk sebuah kosan mewah disamping tempat taksi kami berhenti.


"Kamar aku nomor 18, sama kaya ulang tahun kamu terus pin kosan aku juga tanggal jadian kita 30 Juni 2012. Gak kerasa ya kita udah mau satu setengah tahunan aja, oya kita mau rayain dimana?" tanyanya basa-basi.


Aku tidak menjawab pertanyaan ataupun merespon ceritanya barusan. Aku masih memilih bungkam dan hanya tersenyum kecil saja.


Meski dalam hati, aku sempat takjub dan tidak menyangka bahwa dinding kamar kos Andreas didominasi oleh foto-fotoku.


Sebenarnya saat itu, aku ingin sekali bertanya.


"Ini foto aku yang dari kamera kakak waktu itu kan?"


Tapi aku gengsi, aku tidak mau kalah dari dia.


Hingga akhirnya, saat aku hendak membereskan lembar kerjanya ke rak buku tiba-tiba dia menarik tubuhku dan memeluknya dari belakang.


"Tolong, jangan diemin aku kaya gini" ...


"Kasih aku 1 aja kesempatan untuk jelasin semuanya ke kamu, tentang alasan kenapa aku belum cerita dan alasan kenapa aku takut untuk ceritain penyakit aku ke kamu"


"Rain, aku beneran gak ada maksud bohong"


Aku berbalik menatap wajahnya, lalu menatap dua bola matanya dalam-dalam.


"Pertama, alasan apapun untuk menutupi kebohongan tetep gak bisa diterima. Kedua, aku gak suka ya kakak gak adil. Giliran aku aja kakak tegas, aku gak boleh nutup-nutupin tiap sakit atau gak boleh makan makanan instan. Ketiga, meskipun aku ngelanggar ujungnya aku gak pernah bohong lama ke kakak. Tapi, kakak sembunyiin hasil CT-scan dari aku hampir 10 hari loh dari tanggal hasilnya keluar. Itu lama banget" jelasku.


"Aku cuma gak bisa cerita karena Ibu larang aku, Ibu takut kamu gak bisa nerima kondisi aku. Mungkin aja kalau parah kasusnya aku bisa terapi berbulan-bulan atau gak bisa beraktifitas sama sekali. Malah mungkin harus ada tindakan operasi kalau emang diperlukan. Ibu ngasih aku saran, biar aku gak cerita ke kamu apalagi via telepon. Kata Ibu mending aku ceritain secara langsung ke kamu. Akhirnya, aku nurut sama Ibu karena Ibu emang ngasih saran terbaik. Tapi karna aku gak tau kalau kamu bakal nyamperin aku kesini duluan, dan bodohnya aku gak taroh hasil Ct-scannya di tempat yang aman. Sampe akhirnya kamu liat sendiri semalem" jelasnya.


"Aku gak mungkin ninggalin kakak, aku gak mungkin bisa" jawabku.


"Nah gitu dong, akhirnya kamu ngomong juga kan kalau kamu gak mau dan gak mungkin ninggalin aku?" katanya dengan ekspresi lega.


"Yaudah untuk kasus ini, aku anggap clear. Tapi kedepannya aku gak mau ya kakak bohong sampe lama begitu" kataku.


"Iya sayang, maaf ya. Yaudah buat nebus kesalahannaku kamu boleh deh minta banyak hal ke aku" katanya.

__ADS_1


"Aku cuma mau kakak sehat, kakak terapi yang rutin ya? kakak jangan sampe kenapa-kenapa lagi. Jangan kecelakaan jangan sakit tiba-tiba! Aku gak bisa denger apalagi liat Kakak sakit lagi. Kakak janji sama aku ya? kakak bakal jaga diri kakak baik-baik disini?" pintaku.


__ADS_2