Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Hmmmm


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kehidupanku semakin hactic beberapa hari ini, aku harus bimbingan proposal PKM, rapat BEM dan tugas-tugas harian lain.


Penjualan totebag dan pouch ku juga sedang laku keras, banyak sekali pre-order dan bahkan waiting list.


Kami berempat sampai harus pulang malam tiap harinya, untuk kerja bakti mengemas pesanan costumer yang berasal dari luar kota dan harus segera dikirimkan.


Hingga suatu malam, saat aku keluar sendirian dari kosan Nunu untuk membeli pulsa di warung gangnya... Aku mendengar langsung sebuah rahasia..


Saat itu, karena aku berantakan kebetulan aku memakai masker dan kuikat asal rambutku lalu kututup dengan kupluk dari hoodie yang kupakai.


Aku jamin, tidak akan ada yang mengenaliku...


Setelah selesai membeli pulsa dan beberapa cemilan, aku mendengar suara berisik dari warung makan sebelah tempatku membeli pulsa tadi.


Ada segerombolan laki-laki yang juga sedang nongkrong disana...


Salah satunya Fasya....


Aku yakin itu adalah Fasya, aku melihatnya sendiri. Fasya duduk diantara teman-temannya dan sedang sangat santai menceritakan sesuatu.


Aku menahan langkahku dan mencoba untuk mengulur waktuku disana dengan pura-pura melihat-lihat layar handphone sambil duduk disebelah warung itu.


Warungnya kecil, sehingga aku bisa mendengar semua pembicaraan mereka.


"Parah lu sya, cewek secantik Yasmin lu sia-siain. Dia tajir, badannya bagus, cantik dan populer lagi! Lu mau cari yang kaya gimana lagi?"


"Gue? Belum cukuplah kalau dapetin Yasmin doang mah. Si Raina itu lebih bagus badannya dari Yasmin, gue yakin dia itu pemain. Pasti dia peliharaan orang. Lu liat aja badannya sama tiga sahabatnya itu, pada bagus kan?"


"Alah lu, bukannya itu karena mereka sering ke lapangan dan sering kena latihan fisik ya makanya badannya kenceng dan bagus gitu?"


"Sok tau lu, gue yakin banget ya mereka berempat punya sumber duit yang gede. Pokoknya gue gak akan nyerah lah dapetin Raina, jadi gak nih lu tambah nominal taruhan kita?"


"Ah mancing aja lu, oke gue taruhan 200rb... Kalau sampe si Raina nolak lu, gue yang menangin itu duit"


"Alah, lu belum kenal siapa gue... Urusan dapetin cewek kaya Raina mah gampang. Ntar ya kalau gue udah jadian sama dia, gue cium dia depan lu biar lu syirik"


"Menurut gue sih, Raina bukan tipekal cewek yang kaya gitu. Gue bisa liat, dia tuh punya nilai sendiri aja kayanya"


"Alah semua cewek tuh sama, sama-sama manja rese maunya cuma diperhatiin dipukpukin hahaha gue udah hafal lah"


Rasanya saat itu aku ingin mendatangi Fasya, menamparnya dengan segenap kekuatanku. Membuatnya sadar, bahwa aku bukan seperti yang dia katakan barusan.


Lagi-lagi aku hanya bisa berdiri mematung sambil memegang ponsel yang baru saja merekam percakapan mereka.


Aku tidak punya kekuatan untuk mendatangi kumpulan lelaki yang hanya bisa memandang perempuan sebagai objek yang bisa mereka mainkan itu.


Dengan menahan emosi dan tangisan, aku berjalan pulang menuju kosan Nunu.


Kakiku lemas sedari tadi, ini tuduhan kedua paling menyakitkan yang aku dapatkan setelah di awal perkuliahan dulu juga aku dan ketiga sahabatku dituduh demikian.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Memang salah, kalau kami peduli penampilan?


Memang salah, kalau kami ingin terlihat menarik?


Toh kami susah payah memperbaiki diri kami dengan hasil kerja kami sendiri... Bukan hasil dari minta-minta...


Kenapa orang baru lebih pandai menilaiku daripada diriku sendiri?


Kenapa orang baru lebih berhak menentukan arah hidupku dibanding diriku sendiri?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


........


Sesampainya di kosan Nunu...


Aku melempar ponselku dan berlutut lesu didepan pintu.


"Rain, kamu kenapa?" tanya Hanifa yang langsung mendatangiku.


Aku tidak mau menjawab, badanku masih gemetar menahan marah.


Jelas aku introvert yang kesulitan mengekspresikan diriku, tapi aku juga bisa marah... Apalagi saat harga diriku dianggap rendah...


"Rain, cerita dong... Kamu kenapa?" tanya Nunu.


Aku mengambil ponselku dan kuperdengarkan rekaman suara yang tadi kuambil diam-diam itu.


"Fasya, dia jadiin aku taruhan..."


Ketiga sahabatku terlihat sangat marah, Hanifa malah langsung mengambil jaketnya dan hendak mendatangi gerombolan Fasya.


Aku menahannya,...


"Udahlah fa, gimanapun mereka banyakan dan dimata mereka aku ini cewek gak bener" ...


"Gak bisa gitu dong Rain, kamu harus jelasin siapa kamu ke mereka. Kamu harus buktiin Fasya cuma asal nilai kamu aja" bela Nunu.

__ADS_1


"Udah dulu, bener kata Raina. Gak ada gunanya, kita jelasin ke gerombolan itu sekarang. Fasya malah seneng kalau disamperin kan? Kita diemin aja dulu, sampe kita bisa balas perlakuan dia nanti" jelas Arika membelaku.


Aku memang sakit hati saat mendengar diriku dijadikan bahan taruhan, dianggap perempuan tidak benar dan lain-lainnya yang lebih jahat dari itu. Tapi, aku tidak mau sahabat-sahabatku ikut merasakan dampaknya. Bagaimanapun ini urusanku dan Fasya... Aku harus menyelesaikannya berdua dengan Fasya...


"Yaudah, biar kamu seger dan gak mumet mending kamu makin dulu gih! Abis itu kamu pulang dan istirahat, atau kamu nginep aja disini" kata Nunu.


"Iya Rain, aku juga tadi habis mandi seger" sahut Arika.


Akupun menurut dan segera mandi.


Kosan Nunu bagaikan rumah kedua buat kami bertiga, kami menyimpan sendal jepit dan satu handuk kami disini untuk persiapan kalau-kalau kami menginap.


Setelah mandi, aku melihat Arika dan Hanifa seperti sedang membicarakan sesuatu. Tapi, secara tiba-tiba berhenti saat aku datang.


"Fa, kamu mau pulang sekarang?" tanyaku.


"Iya, tapi gapapa kan kalau mampir ke grosir soalnya aku mau ngambil mochi dulu buat jualan besok" katanya.


"Iya gapapa"...


Aku, Arika dan Hanifapun pamit pulang pada Nunu.


"Yah sepi lagi kosan gue" keluh Nunu sebelum mengunci pintu kamarnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


NRH...NRH....NRH...NRH...NRH....NRH...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah....


Andreas menelponku, dia minta aku mengganti nomor handphoneku mulai besok.


"Kenapa tiba-tiba?" tanyaku.


"Aku beli nomor couple, pokoknya kamu aktifin pas paketnya dateng. Aku udah kirim barusan, inget harus ganti nomor" katanya.


Aku heran, untuk pertama kalinya dia menelponku tanpa basa-basi menanyakan aku sedang apa..bagaimana hariku atau aku sudah makan atau belum. Dia seperti sedang marah.


"Kakak kenapa? Lagi ada masalah ya?" tanyaku.


"Gak ada, cuma aku lagi mumet aja jadi pingin denger suara kamu. Aku susah hafalin nomor kamu yang ini, jadi tadi aku cari nomor baru yang mirip-mirip cuma beda 2 digit akhirnya aja" jelasnya.


"tapi sim card yang itu kan udah banyak yang tau kak, apa gak apa-apa kita ganti nomor?" tanyaku.


"Gak apa-apa, nanti kita pc aja satu-satu kontak yang penting dan kasih tau kalau nomor kita udah ganti. Gampang kan?" katanya.


"Yaudah iya, Oya kakak gimana hasil terapinya? Ko gak pernah cerita ke aku?" tanyaku.


"Kabar baik apa?" tanyaku.


"Tiga hari lagi aku ke Bandung, cuma semalem aja sih soalnya aku mau urus-urus berkas buat pendaftaran ke s2" jelasnya.


"Ah iya, pendaftaran gelombang 2 ya?" tanyaku.


"Iya, kamu temenin aku ya? Ya aku tau sih kamu sibuk tapi kamu bisa kosongin jadwal sehari kan buat aku?" pintanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


nrh..nrh..nrh..nrh..nrh..nrh..nrh..nrh..nrh..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari setelahnya, sesudah perkuliahan ...


Hanifa sudah pergi lebih dulu karena harus ke bazzar dengan Arika. Sementara aku dan Nunu harus mengumpulkan tugas dan kumpul divisi menyambut puncak kaderisasi sebelum pulang.


Setelah semua tugas kami selesai....


Nunu mengajakku mendatangi acara di kampus sebelah karena Hanifa dan Arika buka stand disana.


"si Arika nitip motor ke aku, katanya suruh dianterin kesana Rain haha dia malah ikut Hanifa pake si Kutil" jelas Nunu.


"Yaudah, tapi temenin dulu ke sekertariat soalnya aku ada perlu" kataku.


"Oh, daftarin proposal PKM ya?" tanya Nunu.


"Iya" jawabku.


Meski banyak sekali kegiatan, akhirnya kami dapat menyelesaikan proposal penelitian dan menyetorkannya tepat waktu.


Aku berharap hasilnya tidak mengecewakan...


Karena hujan rintik-rintik, aku memutuskan potong jalan melewati fakultas MIPA agar tidak kehujanan dan kebasahan. Namun, tiba-tiba saja ada teman-temannya Fasya mendatangiku dan Nunu.


"Eh raina, mau kemana? Nyari Fasya ya?" tanya salah satu dari mereka.


"Gak, aku kebetulan lewat aja mau ke sekertariat" jawabku sambil menarik tangan Nunu untuk segera melewati mereka.


Tiba-tiba saja temannya berteriak memanggil Fasya.


Saat aku sudah meninggalkan mereka dibelakang, Fasya berlari mengejarku.

__ADS_1


Dia menarik tanganku.


"Rain, nomor kamu ko gak aktif? Kamu ganti nomor ya?" tanya Fasya.


"Iya" kataku sambil berhenti.


"Hmm yaudah, tulis dong di hape aku" katanya sambil memberikan ponselnya.


"Heh lu gak tau malu ya, kemarin-kemarin kan lu jelek-jelekin Raina depan pacar lu. Lu muter balikin fakta dan bilang kalau Raina yang godain lu. Lu pura-pura gak inget heuh?" kata Nunu bergerutu.


"Gue bercanda kali, itu trik gue aja biar gue sama Yasmin bisa putus dengan mudah. Gue kan mau sama Raina" jawab Fasya sambil tersenyum angkuh.


"Ngaca dong lu, lu tuh cuma....


"Udah-udah nu, kita cabut aja! Kita juga gak ada waktu ngurusin dia kan?" kataku sambil berlalu.


"Raina, inget ya kamu gak akan bisa lari dari aku. Dengan sikap kamu yang kaya gini, justru aku semakin tertantang deketin kamu" teriak Fasya yang disambut tertawaan teman-temannya.


"Kamu gak beneran kasih nomor kamu kan?" tanya Nunu.


"Aku kasih nomor Andreas haha, biarin aja biar dia tau dia berurusan sama siapa" jawabku.


"Hahaha bagus-bagus, kita liat ya dia bisa gak ngelawan algojo kita" kata Nunu.


Setelah mengumpulkan proposal kami, aku dan Nunu segera menuju kampus sebelah yang jaraknya tak sampai 800 meter dari kampus kami itu.


Sesampainya disana, meski cuaca tidak mendukung tapi acaranya sangat ramai didatangi banyak mahasiswa pribumi dan pendatang dari kampus lain.


"Gimana dagangannya abis?" tanyaku.


"Mochi sisa dikit tadi soalnya sempet terik banget matahari jadi laku, pas ujan langsung deh gak ada yang beli" jawab Arika.


"Iya, tapi untung donat kita bawa banyak haha dari tadi laku keras Rain. Sama totebag dan pouch juga sisa dikit tuh" tambah Hanifa.


"Eh lu pada mau tau gak? Tadi si Fasya cegat kita deket fakultasnya pas kita mau ke sekertariat ngumpulin proposal" kata Nunu.


"Haah? Terus gimana? Dia bilang apa?" tanya Arika.


"Dia minta nomor baru Raina" jawab Nunu.


"Terus kamu kasih Rain?" tanya Hanifa.


"Nggalah, aku kasih nomor Andreas" jawabku.


"Akhirnyaaaaa" kata Hanifa terlihat lega.


Aku heran, kenapa Hanifa menjawab demikian. Wajahnya juga terlihat sangat lega dan tenang setelah tahu bahwa aku memberi nomor Andreas kepada Fasya.


"Akhirnya kenapa fa?" tanyaku.


"Akhirnya, kamu bisa bikin Fasya dapet ganjaran yang setimpal" jawabnya.


"Maksudnya?" tanyaku tidak paham.


"Kita liat aja, apa yang bakal dilakuin kak Iyas sama Fasya" jawab Hanifa.


"Hahaha, gue juga gak sabar. Sayangnya kali ini Fasya gak tau sama siapa sebenernya dia berhadapan" tambah Arika.


"Apa sih kalian? Aku makin gak ngerti tau gak. Setahuku ya paling ntar pas si Fasya nelpon kak Iyas bakal reject dan masukin ke daftar blokirnya" kataku.


"Kamu yakin? Hahaha aku sih justru mikirnya kak Iyas bakal buat perhitungan sama Fasya. Kamu lupa pacar kamu itu ketua komdis sekaligus ketua BEM dulunya?" kata Nunu.


"Iya nih Raina, terlalu menyepelakan pacarnya" kata Arika sambil tertawa.


Aku tidak paham pada obrolan mereka, aku hanya mencoba fokus meladeni pembeli yang datang ke stand kami.


Setelah acara selesai dan barang dagangan kami habis semua, aku dan Hanifa harus melunasi uang sewa stand kepada salah satu perwakilan panitia disana.


"Rain, tadi katanya nama panitianya Firly" kata Hanifa.


Akupun menanyakan orang yang bernama Firly itu kepada mahasiswa yang terlihat memakai id-card panitia.


"Itu Firly yang lagi dideket stand merchandise" jawab salah seorang panitia.


Akupun memanggil Firly dan melunasi pembayaran segera.


"Eh, anak kampus sebelah ya?" tanya Firly padaku.


"Iya hehe" jawabku.


"Hmm anak fakultas mana?" tanyanya.


"IPS" jawabku.


"Hmm sebelahan sama MIPA ya?" tanyanya lagi


"Iya sebelahan" jawabku.


"Kenal yang namanya Fasya? Anak MIPA" tanyanya.


Aku terkejut, kenapa setelah berada diluar kampus saja bayang-bayang Fasya masih menghantuiku kemanapun.


"Gak tau, hehe aku gak punya temen anak MIPA soalnya" jawabku berbohong.

__ADS_1


Aku hanya malas, kalau aku jujur dan bilang bahwa aku kenal dengan Fasya pasti Firly akan lebih banyak menanyaiku tentangnya saat itu.


"Oh, kirain kenal hehe dia pacar aku" katanya.


__ADS_2