
Handphone-ku berdering cukup keras dan setelah kak Andreas mengeluarkan dan melihat siapa yang menelpon tiba-tiba dia malah menjauhi aku.
"Siapa yang telpon aku kak?" tanyaku sambil berlari kearahnya.
"Diem disitu, tuh tolong isi kuesioner di map ijo di tas aku nanti kalo udah beres baru kita lanjut" jawabnya malah ngeles.
"Ish ish ish" gerutuku sambil terpaksa menuruti perkataannya.
Akupun mengambil selembar kuesioner yang harus diisi.
"Ini sih bukan kuesioner, lebih ke kaya pertanyaan essai yang harus dijelasin jawabannya" gerutuku dalam hati.
"Pengamatan apa saja yang bisa dilakukan oleh mahasiswa di Bosscha pada siang hari ketika tidak sedang melakukan peneropongan bintang? Ih ini sih pertanyaan aku, gimana aku bisa jawab coba" tanyaku keheranan.
Tiba-tiba kak Andreas datang menghampiriku..
"Gimana? Lumayan kan bobotnya?" tanyanya sambil meledek.
"Kak ini sih bukan kuesioner, ini yang buat siapa sih? Ko songong banget pertanyaannya?" gerutuku.
"Dihh haha itu dosen yang bikin, emang kamu pikir survey tuh gampang haha kita harus bisa merencanakan kegiatan juga selama nanti kunjungan kesini. Jadi, sepulangnya dari kunjungan si mahasiswa akan dapet ilmunya" jelasnya.
"Oh" kataku.
"Hmmm yaudah, sini biar aku yang isi bagian ini. Kamu tolong aja pikirin ya beberapa pertanyaan yang bisa muncul ketika kamu jadi mahasiswa yang berkunjung kesini?" katanya.
"Tadi suruh jawab pertanyaan, sekarang suruh bikin pertanyaan ribet juga ya jadi asdos" gerutuku.
Kulihat kak Andreas malah tersenyum mendengarku menggerutu. Dia juga langsung fokus mengisi lembaran kuesioner itu dengan wajah seriusnya.
Aku mencoba mencari tempat duduk karena kesulitan menulis kalau sambil berdiri. Akhirnya setelah mendapatkan kursi dan hendak duduk, kakiku terasa sakit lagi. Sepertinya karena aku jalan-jalan terus dari tadi. Andreas yang mungkin sejak lama memperhatikan gerak-gerikku, langsung mendatangiku saat itu juga.
"Masih kerasa sakit ya?" tanyanya sambil refleks berjongkok dihadapanku.
"Engga sih ini paling karena aku salah ngambil posisi duduk" jawabku ngeles.
"Sini aku liat, sepatu kamu ngiketnya kekencengan kali de?" katanya sambil membuka sepatuku.
"Udah gak usah, aku bisa sendiri ko sini aku kendorin talinya" kataku sambil menunduk berniat untuk melonggarkan tali sepatuku.
Karena bersikeras tidak mau ditolong oleh Andreas saat itu, akhirnya kepala kami berbenturan.
"Aw" katanya sambil tiba-tiba malah mengelus kepalaku.
"Sakit haha!" ledeknya.
"Ternyata bener ya dugaan aku!" gumamnya.
"Dugaan apa?" tanyaku.
"Kamu keras kepala haha buktinya pas kepala kita benturan sakit banget barusan!!!" tambahnya.
Aku cuma menepuk-nepuk kepalanya yang katanya sakit. Rambutnya juga tak lupa kuacak-acak sesuka hatiku. Tangannya dengan sigap menghentikan keisengan tanganku.
"Eh?" gumamku.
Tak lama mata kami bertemu, rasanya seperti seluruh dinding yang menutupi diriku runtuh dan semua isi perasaanku tumpah saat itu. Tangan Andreas juga masih menyentuh tanganku, sampai beberapa detik dia bahkan seolah tidak berniat melepaskannya.
"De, ayo kita keluar. Kamu udah beres kan?" tanyanya sambil bergegas berdiri dan menghindariku.
"Eh iya udah kak, ayo bentar ya aku benerin dulu tali sepatuku" jawabku dengan gelagapan.
Setelah pekerjaan Andreas didalam ruangan selesai, saatnya kami berdua melakukan tracking. Sebenarnya tujuan dari tracking ini adalah memperkirakan jarak tempuh perjalanan dengan jalan kaki dari bawah hingga sampai ke bosscha. Didekat bosscha juga sudah banyak tempat parkir, hanya saja mungkin ada tujuan lain dari dosen yang mengajar selain dari pengamatan di observatorium. Seperti contohnya : memperkirakan mengapa dibangun observatorium disana, alasan-alasan yang mendukung pembangunan observatorium dan sejarahnya.
"De, kamu gak usah ikut tracking lah ya? Tunggu disini aja, atau di deket motor sana" kata Andreas sambil melepaskan tasnya.
"Gak mau, aku mau sama kakak!" jawabku.
"Kaki kamu itu sakit gitu gimana?" tanyanya.
"Gak apa-apa kalo sakit tinggal diem aja dulu, aku kan udah janji mau bantuin kakak ih pokoknya kemanapun kakak butuh bantuan aku yah aku ikut" jawabku tegas.
"Bener-bener keras kepala ya?" gumamnya sambil menaruh tasnya ke bagasi motor.
Kamipun mulai berjalan menyusuri jalanan sekitaran komplek observatorium tersebut, sambil beberapa kali aku juga tidak lupa mengambil gambar.
"Kak, kira-kira waktu Sherina kabur dan turun dari sana kan dia pake webbing tuh nah dia iketin kemana ya?" tanyaku sambil menunjuk jendela tempat Sherina kabur dari Bosscha untuk meminta pertolongan.
"Ya ke siku-siku jendela kali, apa kemana gitu yang kuat nahan beban dia" jawabnya.
"Kak, aku gak usah ngapa-ngapain kan? Cuma nemenin kakak jalan doang?" tanyaku.
__ADS_1
"Kamu tetep disamping aku aja, aku udah seneng ko"....
Jawaban Andreas yang singkat tapi sarat makna, hampir membuatku jantungan. Entah kenapa di situasi seperti itu dia berani mengeluarkan kata-kata yang mungkin selama ini kupikir 'haram' untuk diucapkan oleh seorang Andreas.
"Kak hhaha gak salah ngomong?" tanyaku sambil mencoba untuk tetap bersikap tenang.
"Kenapa kamu gak ketawa? Bukannya tiap dhika yang bilang begitu kamu selalu ketawa ya? Kenapa pas aku yang bilang kamu biasa aja?" gerutunya.
"Ka Dhika kan lucu, wataknya emang gitu lagi jadi aku ga aneh. Nah kalo kakak hahahahaha udahlah gak usah dibahas yu jalan lagi" sahutku sambil pura-pura tidak terlalu menghiraukan pertanyaannya barusan.
Andreas langsung menarik tanganku dan membuat kami saling berhadapan satu sama lain sekarang.
"Kamu suka sama Dhika?" tanyanya.
Wajahnya kini sangat serius, alis matanya seperti menaik dan situasinya sama percis ketika dia menjadi ketua komdis pada acara kaderisasiku beberapa minggu lalu.
Aku ketakutan sebenarnya, hanya saja aku harus menjelaskan kekeliruan yang mungkin selama ini mengganggu pikiran Andreas.
"Dulu Gian sekarang kak Dhika hahaha kayanya kakak doyan banget gosipin aku sama cowok?" ledekku.
"Jangan ngalihin topik raina, aku udah tanya Gian dan jawaban dia selalu beda. Dia bilang kalian pacaran pas aku tanya malem itu sebelum kalian berdua pergi ke pos pengamatan. Terus pagi harinya, kamu bilang kalian cuma pura-pura pacaran tapi disaat yang bersamaan juga kamu cerita Gian nyatain perasaannya ke kamu. Terus Dhika, akhir-akhir ini aku liat kamu nyaman ngobrol sama dia terus sering bercanda malah kalian kemarin pergi berdua. Kamu tau gak sih, ini semua tuh ganggu pikiran aku?" .....
Penjelasan Andreas yang seolah mendesakku semakin membuat aku tidak tahu harus bagaimana saat itu, aku hanya bisa mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Andreas sambil memikirkan bagaimana caranya untuk jujur terhadap perasaanku selama ini.
"Kamu dateng ke ulangtahun aku, kamu jadi yang bawa kuenya. Kamu mau bantuin aku sekarang, kita pergi berdua kaya gini. Maksudnya apa? Sementara diluar sana, aku masih gak tenang aja liat kamu deket sama banyak cowok. Aku khawatir" pungkasnya sambil berbalik dari arahku.
Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam, sambil melangkahkan kakiku menuju kearah Andreas.
"Kak, bukannya itu harusnya pertanyaan yang aku tanyain. Kenapa kakak selalu ada buat aku? Kenapa kakak yang super sibuk bisa mikirin hal-hal kecil kaya gitu? Apa artinya aku buat kakak?" ...
"Kalo bener kakak sampe khawatir, apa maknanya?"
"Mumpung sekarang kakak yang bahas duluan, aku mau kakak yang jelasin ke aku" jawabku.
Andreas kemudian berbalik kembali, menatapku dengan tajam dan berkata
"Aku udah pernah jelasin perasaan aku ke kamu kaya gimana di malam kaderisasi itu, aku gak bisa ngulang kata-kata yang udah aku ucapin. Kamu harusnya yang inget-inget! Masalah kamu sama Gian atau sama Dhika, aku cuma takut aja mereka nyakitin atau mainin kamu... Karna gak dipungkiri, kamu dan geng kamu sekarang jadi magnet buat cowok-cowok di jurusan. Kalian harus pinter-pinter cari temen!" jawabnya.
"Apa aku kurang pinter kalau aku mutusin untuk milih satu orang yang aku suka?" tanyaku.
"Tergantung siapa orang itu" jawabnya.
Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengatakan secara langsung kalau orang yang aku suka itu adalah kak Andreas sendiri. Aku hanya bisa menunjuk gantungan papan nama yang ada di baju lapangannya.
Tanpa kusadari saking malunya karena sudah jujur barusan, aku segera berjalan kembali untuk menjauh dari Andreas.
Tiba-tiba langkah kakiku tertahan, lengan kanan Kak Andreas sekarang sudah melingkar di leherku. Kepalanya sudah bersandar tepat diatas bahuku.
"De, maaf karena udah buat kamu nunggu!" gumamnya sambil menangkap satu tanganku dengan lengan kirinya.
Kulirik kearah wajahnya, kudapati matanya terpejam saat mencoba berbicara padaku. Mungkin baginya mengutarakan perasaan adalah sesuatu yang sulit, buktinya sekarang tangannya terasa agak gemetar dan dingin.
Aku mencoba merespon dengan menggenggam tangannya. Kuharap saat itu Andreas juga bisa merasakan perasaanku terhadapnya.
Jika bisa saat ini ...
Kumohon beberapa detik saja Tuhan...
Biarkan roda waktu berhenti...
Beberapa detik saja Tuhan...
Saat dia berada sangat dekat denganku...
Beberapa detik lagi Tuhan...
Hingga aku merasakan ketulusannya...
Hape kak Andreas tiba-tiba saja berbunyi sepertinya ada telpon dari seseorang. Refleks kulepaskan diriku dari jangkauannya dan dengan gugup merapikan rambut.
"Bentar ya!" katanya.
Aku tidak mendengar dia sedang berbicara dengan siapa saat itu, hanya saja aku sebenarnya kurang suka kenapa disaat-saat langka seperti tadi harus ada telepon dari seseorang.
Tak lama kak Andreas kembali dan memberikan handphoneku.
"Nih hape kamu, ayo kita pulang!" katanya.
"Apa-apaan abis meluk anak orang tanpa penjelasan langsung ngajakin pulang begini?" gerutuku dalam hati.
Aku kesal..
__ADS_1
Belum selesai aku berkata, Andreas sudah memegang tanganku.
"Mulai hari ini, kamu pacar aku" katanya singkat.
"Hah? Maksud kakak?" tanyaku.
"Kamu pikir aku meluk kamu barusan itu bercandaan?" gerutunya.
"Kapan kakak bilang kakak nembak aku?" tanyaku keheranan.
"Aku meluk kamu, kamu bales megang tangan aku. Itu udah lebih dari sekedar nembak" jawabnya.
"Tapi kak, aku gak bisa pacaran sama kakak" kataku.
Sekarang Andreas terlihat keheranan dan bingung.
"Kenapa? Karena aku galak? Aku komdis?" tanyanya.
"Karena terlalu banyak yang suka ke kakak, aku gak bisa gitu aja ngambil kesempatan. Aku bahkan gak tau caranya gimana ngadepin fans-fans kakak, saat mereka tau kalau kita pacaran" jawabku.
"Bodo! Hidup kamu ya terserah kamu, jangan mau disetirin orang dong! Kalau ada yang gangguin kamu, bilang sama aku! Oke jadi intinya kamu mau jadi pacar aku ngga?" tanyanya lagi.
"Kakak yang bodo, kakak ini lagi nembak orang apa interogasi sih?" gerutuku.
"Maaf, aku gak biasa kaya gini. Bahkan saat aku mulai sadar aku tertarik sama kamu aja, aku gak tau harus gimana. Didalam pikiran aku saat itu, aku cuma bisa nyiksa kamu dengan banyak hukuman. Supaya kamu inget sama aku, supaya aku membekas di hati dan pikiran kamu. Itu semua karena aku gak tau cara untuk deketin kamu, cara untuk mengekspresikan perasaan aku. Aku cuma bisa liatin kamu dari jauh, mengontrol diri aku supaya bisa nunggu saat yang tepat kaya sekarang. Maaf kalau aku cuma bikin kamu ngerasa takut dan gak nyaman, maaf juga sering repotin kamu... Anggap aja yang tadi bercandaan, kalau kamu gak bisa yaudah jangan dipaksa. Kita jadi kaya biasa lagi aja" jelasnya.
Aku tidak mau moment itu berlalu begitu saja, aku mau saat itu benar-benar bisa kumanfaatkan untuk mengutarakan semuanya pada Andreas. Akhirnya, tanpa pikir panjang aku memeluk Andreas.
"Maaf juga karena aku gak bisa peka, maaf karena aku juga gak tau cara untuk liatin ke kakak kalau aku juga suka sama kakak. Maaf karena udah buat kakak khawatir. Dari pertama aku nginjakin kaki aku ke kampus sampai sekarang, perasaan aku gak pernah berubah.... Kakak harus janji tapi, kakak bakal jagain aku dan gak boleh selingkuh" jelasku.
Mendengar perkataanku, Andreas hanya tertawa dan seolah tak percaya.
"Aku janji de... Aku bakal terus jagain kamu" jawabnya sambil mengelus rambutku.
"Kak mau ujan deh kayanya! Ayo neduh'" teriakku sambil menarik tangannya untuk menepi ke gedung.
Kamipun memutuskan untuk duduk didepan pelataran dan mengecek semua tugas Andreas.
"Udah semua de, tinggal aku laporan aja sama dosen" katanya sambil membuang nafas lega.
"Syukur deh" jawabku.
"De, mulai hari ini kita officialy nih?" tanyanya.
"Harusnya aku yang nanya haha gimana sih?" gerutuku.
"Oke, aku jawab ya hari ini kita officially jadian" jawabnya dengan muka datar sambil merapikan tumpukan kertas kertasnya kedalam map.
Langit sudah mulai mendung.. Tapi hujan sepertinya masih bisa dibendung... Akhirnya aku meminta Andreas untuk mencari kelinci.
"Kak, beli kelinci yu?" ajakku.
"Kelinci? Haha gak salah? Buat siapa?" tanyanya.
"Buat kita, satu buat kakak satu buat aku. Kakak bisa kan di kosan melihara kelinci? Toh kosan kakak juga luas" kataku.
"Iya boleh kayanya, tapi jangan sekarang ya belinya soalnya aku takut dibawah udah hujan. Mending kita cari tempat makan dulu, kamu juga pasti udah laper kan?" katanya.
"Iya sih, aku mau makan ayam bakar" pintaku.
"Yaudah kita ke punclut aja gimana?" tanyanya seperti hendak mengabulkan permintaanku.
"Mau mau mau" jawabku kegirangan.
"Huh dasar bocah" katanya sambil mengelus pipi kananku.
Rasanya seperti mimpi sekarang... Andreas mengakui perasaannya terhadapku, mengatakan bahwa dia akan menjagaku. Bahkan membiarkan aku meminta banyak hal padanya. Aku suka saat seperti ini, aku suka saat melihat senyum Andreas hanya tertuju buatku bahkan aku mau selalu seperti itu...
Saking senang dan lupa waktu bersama Andreas, aku hampir lupa bahwa besok aku berulang tahun. Pantas saja sedari tadi malam banyak sahabat-sahabat yang mengajakku ketemuan. Kalau aku boleh geer sih, mereka pasti mau merayakan ulang tahunku.
Tapi, aku sudah ada janji dengan Hanifa, Arika dan Nunu untuk mencari inspirasi design-design baru totebag. Kalau Andreas sih, aku ragu dia tahu tanggal ulangtahunku atau tidak hmm sepertinya tidak...
"De, besok aku ada acara sama dosen mau bicarain biaya kunjungan sama semuanya" katanya.
Belum juga aku mau cerita tentang hari ulangtahunku, Andreas sudah bilang dia punya acara besok.
"Ya terus kenapa kak?" tanyaku.
"Besok kayanya aku gak bisa ngabarin kamu seharian" katanya.
"Iya gak apa-apa" jawabku.
__ADS_1