
Aku kelelahan setelah mengikuti tracking bersama kelompok maruku, Gian sesekali memintaku beristirahat.
"Tumben, padahal biasanya aku gak terlalu payah gini loh Gi" kataku.
"Lagi gak fit kali kamu" sahut Gian sambil memijit kakinya yang sepertinya kelelahan juga.
Melihat Gian memijit kakinya, aku jadi teringat kondisi kaki Andreas saat terakhir kali kambuh di rumah sakit.
"Iya kali ya, Gi kamu pernah gak sih cedera kaki gitu parah terus sempet sembuh tapi masih suka sakit terus kalau sekalinya kambuh badan kamu keringetan kaya nahan sakit" tanyaku.
"Pernah, dulu tulang kaki aku geser terus aku gak ngerasa aja dipake jalan malah. Eh pas kerasa sakit banget terus diperiksa ternyata udah geser banget akhirnya ya terapi sampe sebulan gak bisa jalan" jawabnya.
"Tapi dia sering ke tukang pijit ko? cuma ya semenjak kerja di Tangerang mungkin udah gak pernah" kataku.
"Kak andreas maksudnya?" tanya Gian.
"Iya hehe, dia suka sakit kaki dari kita praktikum awal kuliah sampe terakhir dia ke Bandung datengin aku masih suka kambuh tapi aku gak pernah dikasih tau alasan sakitnya apa" jelasku.
"Bahaya juga dong kalau selama itu gak pernah ada rekam medisnya, minimal dia harusnya rontgen atau ct-scan" kata Gian.
Saat sedang istirahat, Karla mendatangi kami berdua dan mengabarkan bahwa kelompoknya sudah akan melanjutkan perjalanan ke pos 2.
"Ayo kak, kita lanjut pos 2" ajak Karla.
"Oke, kita pisah dari sini berarti ya? soalnya aku harus segera ke pos akhir" kata Gian.
Gianpun pergi lebih dulu ke pos akhir, dimana akan jadi tempat tes kejutan bagi maru karena semua komdis berkumpul disana.
Sementara Gian pergi lebih dulu, aku harus mengikuti maru dari belakang bersama dengan Karla.
Selama perjalanan menuju ke pos-pos.
Ingatanku lagi-lagi melanglang buana
Pergi ke waktu-waktu yang berlalu.
Menerobos ke jembatan-jembatan berisi ingatan.
Lalu berjalan melewati banyaknya tokoh-tokoh yang pernah bermunculan di kisahku...
"Kak rain" panggil seseorang.
"Eh erik, iya kenapa?" tanyaku saat melihat Erik berhenti dari langkahnya dan menungguku.
"Kakak kenapa masuk geografi?" tanyanya.
"Kenapa emang? kakak gak pantes ada di geografi ya?" jawabku yang malah membuatnya kebingungan.
"Bukan haha, cuma kakak kan lebih cocok masuk pariwisata atau manajemen atau apa gitu yang bukan kerja lapangan" jelasnya.
"Loh, emangnya kenapa kalau cewek kaya kakak kerja lapangan? toh di lapangan juga asyik, bisa tahu kondisi asli masyarakat" kataku.
"Kakak gak sayang sama perawatan kulit? atau kakak gak mikirin nanti badan kakak jadi gimana" tanyanya.
"Hahahaha dek, mikirnya kejauhan deh. Emangnya geografi itu penyiksaan? justru masuk geo tuh kakak jadi lebih self healing dan mental healing karena sering ke lapangan dan sering dimanjain sama pemandangan" jelasku.
"Hmmm, yaudah aku cuma mau tanya itu aja. Kirain aku sih kakak ada alasan lain seenggaknya aku butuh alasan yang masuk akal, minimal untuk meyakinkan aku yang masuk geografi karena disuruh Ayah" katanya dengan ekspresi sedih.
"Tunggu dek" kataku menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu nanya alasan itu ke orang lain, mau sebagus apapun jawaban orang itu kamu gak akan pernah dapet kepuasan. Justru kamu harus cari alasan itu dari dalam diri kamu sendiri. Alasannya, karena kamu akan berada di jurusan ini untuk empat tahun kedepan" jawabku sambil tersenyum.
Erik mengacungkan jempolnya, seolah paham akan makna yang tersirat dari penjelasanku barusan.
Kasus Erik juga terjadi padaku, Hanifa, Nunu dan Arika. Kami berempat sama-sama mencari jati diri kami di awal perkuliahan dulu. Sampai akhirnya, kami menemukan alasan masing-masing untuk saling menguatkan dan bertahan satu sama lain.
__ADS_1
Sebenarnya, aku ingin memberi tahu satu hal kepada Erik.
"Geografi itu rumah bagi ilmu pengetahuan apapun, kamu bisa diterima oleh masyarakat hanya bila kamu mengerti mereka dan geografi mempelajari itu. Geografi mengkaji masyarakat dan berbaur diantaranya. Maka dari itu, setelah sering turun ke lapangan mungkin kamu akan menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur. Setelah kamu melihat sendiri sejuta problematika konkrit yang terjadi di masyarakat. Alam juga kajian geografi, kami juga berbaur dengannya. Membaca tanda-tandanya dan menanggulangi masalah yang timbul. Kamu akan jatuh cinta dengan jurusan ini, sampai kamu tidak tahu caranya untuk berhenti turun ke lapangan"
"Kak, nanti malam katanya ada anak 2009 yang mau datang dan reuni sekaligus mimpi acara renungan malam" kata Karla.
Mendengar kata 2009, tentu saja hanya ada satu nama yang terlintas di pikiranku.
"Andreas"
"Oya kar? bagus dong berarti yang mimpin gak usah angkatan kakak haha" jawabku.
"Siapa aja ya kira-kira yang dateng?" tanya Karla.
"Kurang tau sih kar, mungkin kejutan atau mungkin cuma Nirwan dan Agung yang tahu" jawabku.
Aku sudah yakin, Andreas pasti tidak akan menjadi special guest untuk renungan nanti malam. Dia kan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Belum lagi dia mendapatkan proyek dari Dosen. Kalau kak Dhika sih masih mungkin, karena jam kerjanya yang longgar dan fleksibel.
Tibalah kami di pos terakhir....
Aku melihat Hanifa, Nunu dan Arika sudah dengan wajah tegasnya berdiri dihadapan maru kelompokku.
"Ka, sahabat kakak yang bertiga itu jutek banget sih mukanya padahal mereka kan cantik-cantik" bisik Karla.
"Sssst ah, kamu kan gak kenal sama mereka makanya kamu nyimpulin begitu" jawabku.
Pendapat Karla tentang Hanuka, mungkin sama dengan pendapat teman-teman angkatanku terhadap kami berempat di awal-awal perkuliahan dulu. Mereka hanya melihat bungkusannya saja, tapi tidak mau melihat isinya.
Bagaimanapun, aku tetap melihat mereka bertiga sebagai sosok paling berpengaruh untukku. Mereka selalu ada di setiap waktu sulit dan senangku. Mereka tidak pernah pergi. Semoga akan selalu seperti itu, hingga kami lulus bersama-sama nanti.
Setelah kegiatan pos-posan selesai.....
Aku beristirahat dengan tim evaluasi yang lain dibawah saung besar. Saat baru saja meluruskan kaki, aku melihat Rani kesusahan mengangkat speaker sendirian.
"Sini Ran, aku bantuin" kataku sambil mengambil satu sisi speaker yang diangkut sendirian oleh Rani.
Rani menatapku dengan wajah datar, seolah tidak percaya bahwa aku akan membantunya.
"Ran, ayo kita angkat? kamu mau angkat speakernya kemana?" tanyaku lagi.
"Ke aula rain, buat renungan malam" jawabnya.
"Oke, yuk!" ajakku.
Teman-teman di timku, melihat kearahku dengan aneh. Aku bisa membaca pikiran mereka yang seolah berkata "Raina, gak salah kamu bantuin dia?"
Sesampainya didepan aula, aku melihat tim komdis sedang berkumpul sepertinya mereka sedang briefing untuk nanti malam.
"Sebelah mana Ran ditaruhnya?" tanyaku.
"Itu dipojokan" jawab Rani.
"Kamu ko sendiri, tim logistik yang lain kemana?" tanyaku.
"Mereka lagi ngangkut proyektor dan lain-lainnya, jadi aku diminta angkat barang yang ada sebisaku kesini" jawabnya.
"Hm, padahal kamu minta tolong anak cowok aja biarpun mereka bukan logistik tapi kan kamu tetep cewek gak boleh angkat-angkat barang berat sendirian" kataku.
"Tapi aku kan bukan kamu, aku Rani bukan Raina yang selalu bisa buat orang tertarik bantuin dia kapanpun. Aku Rani, bukan Raina yang meski berusaha sekeras apapun tetep gak bisa dihargain kaya Raina" katanya sambil menundukan kepalanya.
"Ran, kamu ngomong apa sih?" tanyaku dengan suara pelan.
Aku takut, kami berdua akan jadi pusat perhatian makanya aku memelankan suaraku.
"Kenapa rain? kamu mau terlihat baik dengan bantuin aku? kamu mau mereka makin benci sama aku karena aku kalah telak dari kamu? hah? kamu mau main cantik sama aku? kamu munafik rain, kamu bahkan sok peduli sama aku dengan bantuin aku kaya gini" kata Rani setengah berteriak.
__ADS_1
Mendengar teriakan Rani, komdis yang sedang berkumpulpun menjadi pecah dan Hanifa, Nunu serta Arika langsung berlari kearahku.
"Ran aku makin gak paham ya sama obrolan kamu" kataku.
"Kamu gak usah pura-pura gak paham" jawabnya.
Hanifa sudah berancang-ancang hendak berbicara melawan Rani, tapi aku menahannya.
"Kenapa diem Raina? kenapa kamu selalu bersikap manis seolah kamu tanpa dosa? aku sama Kayi udah tau ya akal busuk kamu sama geng kamu! kalian itu cuma bisa sembunyi dibalik ketiak Andreas dan Dhika" teriaknya.
Emosiku masih stabil saat Rani memfitnahku, tapi ketika Rani membawa-bawa nama Andreas dan kak Dhika. Entah kenapa ada kemarahan yang muncul dan bergejolak di hatiku.
"Cukup ya Ran, kamu bilang kamu sama Kayi yang tau kebusukan aku sama geng aku? kebusukan yang mana? coba jelasin ke aku, ke kita biar semua yang disini denger! apa kebusukan aku lebih hina dari nyembunyiin lembar kerja peta yang mau dikumpulin ke dosen? apa kebusukan aku lebih hina dari gosipin orang sebagai cewek kecentilan dan gak bener? apa kebusukan aku lebih hina dari cewek yang masih berani deketin pacar orang?" teriakku.
"Padahal ya ran, selama ini aku Hanifa Nunu sama Arika mana pernah ngasih tau orang tentang kejahatan yang udah pernah kalian lakuin ke kita? bahkan ya kita tutup rapet-rapet sampe akhirnya mereka tahu kesalahan kamu dengan sendirinya. Dan you see, sekarang tanpa aku bongkar apapun ke mereka justru mereka jadi semakin tahu tentang diri kamu yang sebenernya!" kataku.
Rani terlihat gemetaran dan kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaanku.
"Kasih tau aja Rain, dia juga ngehasut Andreas soal kamu dan Kayi sahabat kesayangannya itu bahkan memutar balikkan fakta seolah-olah kamu rebut Gian dari dia. Padahal realitanya, Gian emang gak tertarik sama sekali sama Kayi. Ya gimana mau tertarik, tingkah lakunya aja begitu bikin illfeel" sahut Hanifa.
"Lu ya Ran, kenapa sih lu gak bisa berhenti nyeret-nyeret Raina di kehidupan lu? lu selalu aja jadiin Raina kambing hitam. Lu syirik karena Raina dapetin Andreas sementara lu kagak? hah?" teriak Nunu.
"Panggil temen kamu gih si Kayi, kalau kamu emang mau beresin masalah dan bersihin nama kamu didepan kita semua ya kalian berdua usahalah yah sendiri! Ngapain juga ya mereka susah-susah bersihin nama? terlanjur jelek juga mereka di mata kita semua hahahaha" ledek Arika.
Rani sekarang terdesak, aku bisa melihat keringat keluar diantara dahinya.
"Udahlah guys, kalian gak perlu buang tenaga berantem sama dia. Mending kalian stay focus buat kerja nanti malem" teriak Gian dari depan.
"Iya udah sini, cantik-cantik kalian pedes juga ya kalau ngomong hahahaha udah sini gak enak didenger adik tingkat" sahut Nirwan.
Kami berempatpun mengalah dan berjalan membelakangi Rani.
"Kamu bener Rain, aku emang syirik sama kamu. Kamu selalu dapetin apa yang kamu mau. Tanpa berusaha, kamu disukai Andreas dikejar-kejar Gian dan sekarang kamu tahu berapa adik tingkat yang selalu ngomongin betapa menariknya kamu dan ketiga sahabat kamu itu? Bahkan dosenpun lebih hafal nama kamu, dibanding aku yang selalu berusaha keras buat kepake sama mereka" katanya.
"Yang paling bikin aku gak ngerti, Andreas sepinter itu kenapa dia milih kamu? aku bahkan lebih pinter dari kamu. Kenapa harus kamu rain? aku ngerti Andreas cuma mau pacarnya cantik! padahal isi otaknya gak ada! hahahahaha ya kan rain? kamu mikir gak sih, Andreas si sempurna itu mana bisa dia sama kamu. Pada akhirnya, kamu paling bernasib kaya Praya yang dibuang dan gak dianggap" teriak Rani lagi.
Rasanya emosiku memuncak kembali, tanganku seolah meminta segera diayunkan untuk didaratkan di pipi wanita tanpa hati itu.
"Ran cukup ya, kamu kaya mendeskripsikan diri kamu sendiri lewat omongan kamu barusan. Kamu bilang, Raina cuma modal tampang cantik doang? emang kenapa kalau Raina cuma modal cantik? kamu mau buat pengakuan dong kalau kamu emang gak secantik Raina? hahaha makin kasihan aku sama kamu Ran!" balas Hanifa.
"Udahlah Fa, kalau di hati dia yang ada cuma syirik dengki dan dendam ya sampai kapanpun dimata dia kita tetep salah. Terakhir, soal modal tampang doang itu makasih ya Ran secara gak sengaja kamu udah muji aku! soal Andreas mungkin kamu harus ngaca Ran, kamu yang gak sejajar sama Andreas!" balasku sambil berlalu pergi meninggalkan Rani.
Malam harinya.....
Perkataan Rani masih membekas di ingatanku, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah menancap di hatiku.
Setelah perkelahian dengan Rani tadi, Andreas sudah menelponku sebanyak 7 kali. Mungkin ada yang merekam pertengkaranku dan mengirimkannya pada Andreas.
Aku percaya orang itu Nirwan. Nirwan terlihat memegang ponselnya saat aku selesai berbicara dengan Rani dan hendak keluar dari aula.
"Rain, udah dong jangan ngelamun terus jelek tau" kata Iria.
"Lagian ngapain sih kamu bantuin Rani tadi? padahal kamu diemin aja orang udah tahu jahat gitu" kata Roby.
"Ya aku kasihan aja, dia cewek loh bawa speaker sendiri berat begitu!" jawabku.
"Ish Rain, kamu tuh ya makanya jangan terlalu polos sama jangan terlalu baik sama orang jadi diinjek-injek begitu kan?" sahut Hasan.
Renungan malam sudah akan dimulai, kami semua panitia diminta untuk menuju Aula dan bergabung bersama semua maru disana.
"Wuih, kak Dhika tuh dateng" teriak Rima.
Seketika, aku melihat kedepan dan benar saja special guest malam ini adalah angkatan 2009 diantaranya kak Dhika, kak Doni dan kak Lingga.
"Dulu kalau ngeliat tiga orang itu, pasti dibelakangnya ada sosok lagi. Tapi sekarang, sosok itu gak mungkin dateng" gumamku.
__ADS_1