Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Brand new day


__ADS_3

Sore ini rasanya sangat berbeda sekali, dengan sore-sore lain yang kulewati seminggu yang lalu. Dimana hanya ada langit-langit kamar pasien yang menjadi atapku juga tirai-tirai biru muda yang menghalangi sinar matahari masuk ke kamarku.


Angin yang bertiup juga tidak enak, membawa bau-bau khas obat-obatan dan ethanol yang menyengat. Aku kurang menyukainya.


Aku lebih suka rumahku. Suasananya, wangi bunga kenanga yang ditanam Ibu. Dedaunan pohon mangga yang selalu berisik saat diterbangkan angin. Suara bel bunyi saat ada pembeli masuk. Semuanya, aku menyukainya tanpa terkecuali.


Pikiranku jadi menerawang jauh. Pada masa depan dimana mungkin saja aku harus meninggalkan rumah ini. Mengikuti jejak takdirku setelah lulus kuliah nanti. Entah dimana aku akan tinggal, bersama siapa dan melakukan apa. Aku bahkan tidak tahu. Semuanya masih menjadi misteri. Tapi, rasanya aku tidak sanggup kalau harus jauh dari Ayah dan Ibu.


Aku enggan menjadi lebih dewasa. Aku ingin terus menjadi anak Ibu dan Ayah. Dengan segala kesederhanaan didalamnya.


Semilir angin menyadarkanku, bahwa aku sudah sangat jauh melangkah kedepan. Aku ingat saat dulu bersepeda di jalanan komplek, melihat bagaimana Ayah mendorong sepedaku dan membantuku hingga lancar.


Suara panggilan Ibu dari rumah yang memintaku segera pulang karena hari sudah petang. Suara deru kendaraan bermotor yang waktu itu belum banyak seperti sekarang. Ah, aku benar-benar rindu.


"Neng, beli telor tiga kilo" kata seorang Ibu yang datang.


Lamunanku langsung buyar dibuatnya.


"Iya bu sebentar ya" jawabku.


//////////////////////////////////


/////////////////////////////////


Malam harinya....


Nunu menelponku melaporkan progress mereka disana.


Akhirnya karena menurut Nunu sinyalnya bagus, aku melakukan video call dengannya.


"Lagi apa sih Rain?"


/"Lagi makan sambil balesin chat customer"/


"Jangan kecapean ya? Udah minum obat?"


/"Udah nu, hahaha santai aja aku makin baik ko. Oya, gimana desanya bagus gak?"/


"Bagus banget ih, adem banget cuma bau kotoran sapi dimana-mana. Soalnya warga pada pake bluegas. Dari kotoran sapi gitu"


/"Sirik deh pengen kesana jadinya"/


"Nanti kesini kalau udah sembuh, ada villa sewaan ko katanya. Kita bisa nginep disini"


/"Asyikkkkk, kak Iyas lagi apa? Sombong banget gak ngabarin aku"/


"Hahaha tau sendiri pacar kamu kalau udah kerja gak bisa diganggu, dia lagi buat denah lokasi gitu. Dia tadi aku liatin postingan sketsa kamu loh. Terus langsung dia jadiin wallpaper di hapenya"


Obrolan dengan Nunu, Hanifa dan Arika berlanjut dengan seru. Belum lagi Gian dan Nirwan yang menambah rindu suasana. Aku jadi semakin merindukan kegiatanku bersama mereka.


Malam semakin larut dan aku malah tertidur diruang tamu.


Ayah berniat menggendongku untuk memindahkanku ke kamar.


"Gak usah digendong yah, aku bisa jalan sendiri" gumamku.


Ayah bersikeras menggendongku dan menidurkanku di kamar. Pelukan Ayah rasanya terasa langka, sudah lama sekali Ayah tidak memelukku.


"Kalau perlu apa-apa panggil Randy atau teriak ke Ayah ya? Ayah tidur didepan Tv ko" katanya.


"Makasih ya yah" kataku.


"Yah, boleh gak besok aku minta dianter beli cat? Aku mau ganti cat kamar kak Iyas kasian soalnya dia gak suka warna kuning" kataku.


"Iya boleh, tapi kamu jangan cat langsung. Nyuruh tukang aja, nyuruh si mamang ya?" kata Ayah.


"Okedeh, makasih ya yah" kataku.


"Makasih mulu, Ayah kan udah seharusnya ngerawat anak Ayah" jawabnya.


Aku beranjak memeluk Ayah dan menangis sejadi-jadinya.


Aku terbawa suasana setelah mengingat banyak kejadian tadi sore. Aku ingat bagaimana Ayah selalu mengurusku dengan baik, bahkan kemarin Ayah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya perawatanku dirumah sakit. Ayah juga tidak menuntut orang yang menabrakku dan begitu sabar menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.


Aku ingin berterimakasih pada Ayah. Memeluk Ayah tanpa jarak sedikitpun, mengatakan betapa bersyukurnya aku karena dilahirkan sebagai anak dari Ayah dan Ibu.


Meminta Ayah untuk terus menganggapku putri kecilnya, jangan memperlakukanku sebagai anak yang sudah dewasa. Aku tetap mau menjadi kesayangan Ayah.


"Yah, kalau aku udah lulus nanti terus aku punya keluarga sendiri. Boleh gak kalau aku tetep tinggal sama Ayah?" tanyaku.


Ayah melepaskan pelukannya, melihatku dengan ekspresi keheranan.


"Wah, anak Ayah udah punya pikiran buat keluarga?" ledeknya.


"Bukan gitu ih yah, cuma aku gak mau aja nanti ninggalin Ayah sama Ibu. Bayangin aja ya, aku udah tinggal dua puluh tahun disini dan aku harus ninggalin rumah ini" kataku.


"Tanya Iyaslah, dia mau bawa kamu ke Palembang atau mau ikut tinggal disini sama Ayah" jawabnya sambil tersenyum.


"Kayanya Ayah yakin banget kalau suami aku nanti Kak Iyas" kataku


"Lah emang kamu mau cari yang lain? Ayah sih yakin kamu juga udah ngebet mau nikah kan?" ledeknya.


Setelah bernostalgia sebentar dengan Ayah, akupun tertidur.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya.....


Ayah membangunkanku dan mengajakku membeli cat, katanya si mamang juga sudah menunggu diteras depan.


"Teh, bangun mandi dulu terus makan gih. Mamang udah ada didepan" kata Ayah.


..............................


.............................................

__ADS_1


Di perjalanan menuju toko bangunan langganan Ayah, aku melihat jalanan itu lagi. Jalanan saat aku mengalami kecelakaan. Rasanya aku sedikit trauma. Ayah memintaku untuk melihat jalanan itu.


"Gak boleh takut ya? Kan nanti bakal terus lewat sini" kata Ayah.


Aku tidak takut hanya saja masih belum terbiasa melewati jalanan itu lagi.


/////////////////////////////////


Sesampainya di kosan Andreas.


Aku meminta izin pada Bu mirna untuk meminjam kunci kamar nomor 7 untuk mengecat dan merapikan kamarnya.


Bu Mirna sangat baik dan memberikan kuncinya padaku.


"Neng, biar Mamang sama Randy aja yang beresin. Neng kan masih sakit" kata Mamang.


"Iya teh, duduk aja gih dipojokan" kata Randy.


"Iya iya" jawabku mengalah.


....................................


............................................


Beberapa jam kemudian.....


Kamar Andreas sudah selesai di cat dan barang-barangnya juga sudah dirapikan kembali.


"Mang ini buat mamang ya. Makasih udah bantuin ngecat dan beresin kamar ini" kataku sambil memberikan amplop.


"Iya makasih ya neng, tapi Bapak udah kasih tadi. Jadi saya gak bisa nerima ini" jawab Mamang.


"Ih mang gak boleh nolak rezeki" kataku.


"Iya mang, ambil aja" sahut Randy.


Setelah selesai, akupun mengembalikan kuncinya pada Bu Mirna dan kamipun pulang kerumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya, Andreas dan kak Dhika mampir kerumah setelah baru pulang dari desa tempat penelitian.


Kebetulan, Ibu sedang masak banyak karena untuk kegiatan rutin RW. Ibu mengajak Andreas dan Kak Dhika makan dirumah.


Sementara aku hanya mendengarkan percakapan mereka dari kamar.


Hingga akhirnya, Ibu berteriak memanggilku.


"Teh, turun ada Iyas nih"....


Akupun keluar kamar dan melihat Andreas sedang menungguku di tangga. Wajahnya terlihat kelelahan dan kusam.


"Kakak!!!!" teriakku.


"Udah sehat?" tanyanya.


"Hahahaha bagus dong bu, tapi jangan main kelamaan ya?" katanya.


Aku seperti anak kecil yang dikhawatirkan oleh Ayahnya yang baru kembali setelah bekerja.


Andreas melihat kakiku dan menyadari bahwa gerakan kakiku mulai luwes.


Aku malah meledek dengan mencubit pipinya. Dia terlihat tersenyum dan menyambut tanganku.


"Yu yas dhik makan" ajak Ibu.


"Kamu udah makan?" tanya Andreas.


"Aku udah makan barusan jadi masih kenyang. Kakak makan aja sana. Aku mau jaga warung" kataku.


Saat itu, aku merasa kakiku sudah sangat baik dan malah dengan asyiknya berlari keluar rumah.


Dari dalam, kudengar teriakan Andreas.


"Hey jangan lari-larian" ....


Aku tertawa menyadari betapa dia memperhatikan peritilan tingkah lakuku.


Tak lama, mereka berdua sudah selesai makan.


Kak Dhika mendatangiku dan menceritakan kejadian selama mereka penelitian di desa.


Ternyata, mereka aman dan bisa bekerja sama dengan baik karena ada Andreas yang membagi tugas dan mengurus semuanya.


"Pak Yana puas sama hasil kita, oya dia juga titip salam buat kamu. Katanya cepet sembuh semester enam menunggu" katanya.


"Dhik, balik yu ah? Pingin buru-buru mandi" ajak Andreas.


"Aku ikut ya?" teriakku.


"Jangan, nanti abis mandi aku kesini lagi ko" katanya.


"Bohong ah, paling lu tidur! Semalem kan lu gak tidur" kata kak Dhika.


"Tidur aja kak, nanti aja kesininya" jawabku.


Mereka berduapun pulang ke kosannya...


Tak lama setelah itu, Andreas menelponku.


"Sayang, makasih ya" katanya.


"Suka gak? Bagus kan? Aku juga ubah tata barangnya biar keliatan lebih luas ruangannya" kataku.


"Suka banget, kamu gak ngecat sendiri kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Randy sama mamang yang cat hehe, aku mah nunjuk-nunjuk sama pasang wallpaper aja. Itu pake cat yang cepet kering hehe jadi gak bau kan?" tanyaku.


"Gak ko, nanti uangnya aku ganti ya?" katanya.


"Gak usah, gantinya pake traktiran makan sama nonton ya? Udah lama gak nonton" jelasku.


"Iya, nanti kita nonton. Yaudah aku mandi dulu ya?" pungkasnya.


Syukurlah, saat itu Andreas suka hasil kerja kami. Mungkin itu bisa membuatnya lebih nyaman. Meski sebenarnya luas kamarnya kini agak sempit. Setidaknya, dia bisa lebih dekat denganku.


Makanannya terjamin oleh Ibu, kesehatannya juga bisa kuawasi. Belum lagi, Ayah akan punya teman main catur tiap malam. Recca dan Randy juga akan punya donatur pengirim martabak dan eskrim gratis.


Hari itu berjalan dengan sangat baik, aku berharap akan banyak hari-hari baik menyambutku didepan.


Kali ini, aku tidak akan takut lagi menghadapi apapun. Asal ada Ayah, Ibu, adikku dan Andreas...


////////////////////////////////////


Beberapa hari berlalu....


Ayah memiliki jadwal keluar kota dan Ibu juga Recca menemaninya. Randy dan aku ditinggal berdua dirumah.


"Kalau ada apa-apa, minta Iyas nginep aja" kata Ayah sambil memberikan kami uang saku.


"Gak usah yah, aku punya uang ko" kataku.


"Ini buat beli sayuran buat kalian makan, di kulkas gak ada apa-apa. Kamu sama Randy kan dua-duanya libur jadi Ayah mau kalian masak sendiri ya?" jelas Ayah.


Aku dan Randy lirik-lirikan seolah pasrah dengan kondisi yang terjadi saat itu.


Recca dengan polosnya meledek kami berdua dan berkata "Hahaha kasian masak sendiri mending kalau enak, kalau gak pasti teteh sama aa beli bakso atau masak mie doang"....


"Berapa lama sih yah? Ko dititipin uangnya banyak banget" tanyaku.


"Empat sampai lima hari, agendanya silaturahmi sama kantor cabang dan sekalian liburan ko. Cuma karena kuotanya hanya untuk 3 orang, jadi kalian lagi-lagi gak Ayah ajak" jelas Ayah.


"Iya gapapa udah biasa" jawab Randy.


"Teh, Ran...hati-hati ya dirumah! Jaga warung kalau bisa, kalau engga tutup aja. Jangan lupa kunci sebelum tidur" kata Ibu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sore harinya saat sedang duduk di teras dan melihat Randy yang sedang melayani pembeli.....


Aku menelpon Andreas, berniat memintanya datang kerumah. Sebenarnya karena rumah terasa sangat sepi, jadi aku minta ditemani.


Belum lagi, beberapa hari ini dia sibuk merencanakan bisnisnya dengan kak Dhika. Entah apa yang akan mereka buat, aku hanya mendoakan yang terbaik buat mereka.


"Kak, Ayah sama Ibu sama Recca udah pergi" kataku.


"Hmmm terus?" tanyanya.


Aku kesal mendengar jawabannya, mana bisa dia hanya merespon hmm saja. Harusnya kan dia menjawab dengan sedikit basa-basi. Misalnya "ya nanti aku kerumah ya" atau "Oh yaudah tungguin deh nanti kita kemana"....


Dia juga belum menepati janjinya untuk mengajakku pergi nonton. Terakhir kali setelah kepulangannya dari desa wisata, dia hanya mampir kerumah dan mengobrol denganku.


Bermain catur dengan Ayah dan ya seperti itu saja.


Berulang kali aku memancingnya, agar dia mengajakku keluar rumah. Tapi sayangnya dia tidak pernah terpancing.


"Yaudah, aku ngasih tau doang. Maaf ganggu" pungkasku.


Akupun meninggalkan ponselku di dalam rumah, sementara aku mendatangi Randy yang sedang menimbang tepung dan membungkusnya untuk memudahkann jika ada yang membeli nantinya.


"Ran, sini teteh bantuin" kataku.


"Teteh kiloin gula aja tuh, soalnya udah habis juga" kata Randy.


Tanpa sadar, aku dan Randy malah asyik di warung dan membereskan barang-barang. Menulis stok yang habis dan melayani pembeli yang cukup banyak sore itu.


"Teh, kayanya kita harus belanja deh soalnya banyak yang habis tuh kecap sama pasta gigi" kata Randy.


"Tulisin ajalah yang udah kosong apa, terus kamu telpon si Kokonya nanti kan bisa dia anter kesini" jawabku.


"Yaudah, tapi nanti teteh yang telpon ya? soalnya si kokonya kalau ngomong cepet banget aku gak bisa ngimbangin" katanya.


Tak lama kemudian, Andreas kerumahku.


Aku melihatnya membuka gerbang rumah dan melambaikan tangan.


"Wey ka!" sapa Randy.


Aku hanya pura-pura fokus menghitung uang saja saat itu, tanpa menghiraukannya yang ternyata masuk juga ke warung.


"Serius banget" ledeknya sambil memegang kepalaku.


"Bukannya lagi sibuk ya? kenapa bisa mampir?" tanyaku.


"Galak deh, tadi aku ada tamu.Orang yang mau bantuin aku buat buka bisnis itu. Jadi, aku agak susah ngomong di telepon karena gak enak" jelasnya.


"Hmmm" jawabku.


"Ko hmm doang jawabnya?" tanyanya.


"Gak enakan cuma dijawab hmm doang?" ledekku.


Dia tertawa dan menyadari kesalahannya saat itu.


"Yaudah maaf, gimana mau nonton sekarang? atau mau apa?"tanyanya.


"Gak mau apa-apa, mau kakak disini aja nemenin kita. Soalnya rumah sepi" jawabku.


"Yaudah, aku disini ko. Boleh minta makan gak tapi?" tanyanya.


"Kakak belum makan? Yaampun, yaudah aku ambilin tunggu ya" kataku sambil beranjak.

__ADS_1


Dia malah menahan tanganku dan bilang bahwa dia hanya bercanda.


"Hahaha bercanda, aku cuma mau liat ekspresi kekhawatiran kamu aja" katanya.


__ADS_2