
Aku pura-pura fokus menatap layar laptopku, saat Kayi masuk kekelasku dengan wajah sedihnya.
Aku berusaha tidak menghiraukan kedatangan Kayi. Sampai akhirnya, Kayi menyadari kehadiranku dan melirik sinis ke arahku.
Aku bergegas membereskan barang-barangku untuk segera keluar kelas, karena aku takut akan membuat Kayi tidak nyaman.
"Mau kemana rain? mau nertawain aku dibelakang?" tanya Kayi.
"Apa sih Kayi, ngetawain kamu karna apa?" tanyaku.
"Kamu nguping kan barusan? kamu tau kan aku sama Rani abis berantem?" teriaknya..
"Biasa aja dong gak usah teriak-teriak, suruh siapa kalian ngobrol keras-keras? ya pasti kedengeran orang banyak lah" jawabku.
"Kamu seneng kan? ngeliat aku sama Rani bertengkar kaya tadi?" tanyaku.
"Seneng? buat apa seneng liat orang berantem? emangnya aku gak waras?" jawabku.
"Kenapa sih Rain, kamu gak memperlihatkan diri kamu yang asli ke semua orang? kenapa kamu masih bisa masang dua muka, padahal sebenarnya aku tau kamu tuh gak sebaik kata orang-orang?" jelas Kayi.
"Kenapa? apa perlu aku jawab alasannya kenapa? bukannya kamu lebih jago nilai aku dari pada orang lain? harusnya kamu bisalah cari jawaban sendiri... Iya gak?" kataku sambil melirik Kayi dengan sinisnya.
"Dari mana kamu dapet keberanian kaya gini Rain? darimana kamu dapet kepercayaan diri untuk ngelawan semua perkataan aku. Padahal dulu, biasanya kamu diem" bentak Kayi.
"Kenapa? heran ya? makanya jangan sok paling tahu nilai seseorang! kamu salah sih mainnya sama aku, belum tau aslinya aku kaya apa kan?" pungkasku sambil keluar dan menutup pintu dengan sedikit dorongan.
Aku berniat menuruni anak tangga untuk menuju selasar, karena kalau harus berjalan menuju lift rasanya tidak sanggup untuk antri.
"Raina, mau kemana?" teriak Gian dari arah bawah.
"Mau ke selasar, soalnya dikelas takut ada macan ngamuk" jawabku.
Gian berlari keatas menuju kearahku, dia membawakan tas berisi laptop Nunu.
"Tadi Nunu titip pesen, suruh nemenin kamu. Dia masih jualan di MIPA. Siapa macan ngamuk?" kata Gian.
"Aku gak sengaja denger Rani sama Kayi berantem dikelas sebelah, eh si Kayi malah marah ke aku nyangka aku nguping" jelasku.
"Udahlah gak usah diurusin, buang tenaga tau gak sih Rain?" jelas Gian.
"Gi, bentar dong pegangin buku aku juga. Aku mau betulin tali sepatu nih" pintaku.
"Udah sini aku aja yang naliin" jawabnya sambil langsung jongkok dan menalikan tali sepatuku.
.
Disaat yang bersamaan, Kayi menuruni anak tangga yang sama dengan cepatnya dan berhenti sejenak saat melihat Gian membantuku.
"Gi, jadi kapan kamu nembak Nunu?" tanyaku sambil mengeraskan suaraku dengan maksud memanas-manasi Kayi.
"Hahaha, aku kan udah jawab waktu itu. Kenapa kamu masih nanya aja sih?" jawab Gian.
"Sorry ya kay, aku bukannya jahat tapi aku mau kamu rasain apa yang aku rasain dulu" gumamku.
Akupun bergabung bersama Gian, Roby, Hasan dkk yang sedang berburu wifi di selasar.
"Rain, kaderisasi puncak udah ada tanggalnya tau" kata Nirwan.
"Oya? kapan?" tanyaku.
"Tgl 5 bulan depan?" jawab Nirwan.
"Sebulan lagi dong?" tanyaku.
"Iya, makanya evaluasi semangat ya! jaga kekompakan dan kesehatan juga" katanya.
Setelah mendengar kabar itu, aku semakin takut menghadapi bulan depan. Rasanya kepalaku mau pecah, padahal belum juga apa-apa tapi sudah banyak keluhan bermunculan di otakku.
"Gimana ya nanti PKM? jalan gak ya nanti dagang sama bazzar? apa aku masih bisa fokus juga di BEM?" pikirku.
"Terus praktikum kapan hidrologi?" tanya Hasan.
"Minggu ketiga bulan ini, jaga kesehatan ya semua hahaha kita bener-bener jadi zombie deh semester ini" kata Gian.
"Oya Rain, buat praktikum hidrologi belum ada sekertarisnya loh. Kalau kamu mau jadi sekertaris, bilang ke aku ya? lagian pas rapat kemarin pada nyaraninnya kamu" jelas Roby yang menjadi ketua praktikum.
"Ko aku sih? hanifa aja lah. Dia mau pasti" jawabku.
"Dia udah jadi bendahara Rain hahaha, Nunu seperti biasa konsumsi dan Arika jadi assisten dosen" jelas Nirwan.
"Terus anak cewek yang lain?" tanyaku.
"Pada gak mau, mereka kan takut sama Pak Rohmat hahaha" jawab Hasan.
"Yaudah, aku mau lah" jawabku pasrah.
Saat sedang asyik memainkan handphone, ada telpon dari seseorang nomor kantor dengan kode area 0252.
__ADS_1
"Halo, ini dengan keluarganya Andreas?" tanya orang tersebut.
"Iya benar, ada apa ya pak?" tanyaku.
"Andreas mengalami kecelakaan tadi pagi, dia dibawa kerumah sakit sekarang. Saya tidak bisa menelpon keluarganya di Palembang, saya cuma punya nomor kamu" jelasnya.
"Kecelakaan dimana pak? sekarang keadaannya gimana? dirumah sakit mana?" tanyaku.
"Kecelakaan pas mau ke kantor. Sekarang di Rumah Sakit Persada, sekarang sedang di ICU memang lukanya tidak parah hanya saja dia sempat pingsan karena mungkin kepalanya terbentur ke setir" jelasnya.
"Baik pak terima kasih, sudah mengabari. Saya usahakan untuk segera kesana" jawabku.
Aku menelpon Hanifa saat itu juga, memintanya untuk mengantarkanku ke travel terdekat dari kampus.
"Fa, dimana? ke selasar sekarang kak Andreas kecelakaan tadi temen kantornya telpon aku. Sekarang dia di ICU, aku mau kesana sekarang. Kamu temenin aku ke travel mau gak? mumpung masih lama jam masuk kelasnya" kataku.
Semua anak laki-laki yang berada didekatku terlihat kaget dan memperhatikanku bercerita.
"Rain beneran kak Iyas kecelakaan? terus gimana? Ibunya udah dikabarin?" tanya Gian.
"Belum gi, dia pasti gak mau aku ngabarin Ibunya soalnya takut buat Ibunya khawatir. Jadi, aku harus kesana buat nemenin dia. Kasihan dia pasti sendirian banget" jelasku.
Tak lama Hanifa, Nunu dan Arika datang.
"Ini denger dulu kak Dhika mau ngomong sama kamu" kata Hanifa sambil memberikan ponselnya.
"Dek, dengerin kakak. Kamu kan lagi sakit kaki, Hanifa udah ceritain semuanya ke kakak. Mending kamu di kampus aja, besok aja kamu ke tangerang barengan sama yang lain. Kalian ada rencana ke tangerang sabtu kan? percepat aja berangkat besok jumat sore pulang dari kampus. Hari ini biar kakak yang jenguk Andreas kesana, tenang aja dia pasti ngerti ko. Kamu juga gak mungkin gak masuk kuliah gitu aja kan? disana juga kalian punya tanggung jawab kan?" jelas kak Dhika.
"Tapi aku khawatir, aku gak tenang kalau gak liat dia langsung" kataku.
"Ini aku otw ko ke RSnya, nanti aku video call sesampenya disana. Dia pasti ngertiin kondisi kamu dek, lagian dia juga pasti gak mau kamu maksain kesana dalam kondisi kaki kamu sakit gitu? ya kan? tolong kali ini kamu nurut sama kakak" bujuknya.
"Okedeh kak, jagain dia sampe aku dateng ya? kakak jangan lupa langsung videocall aku pas udah sampe" pintaku.
"Iya-iya, aku janji" jawabnya.
Hanifa memberikan aku minum, entah kenapa aku menyambut botol air yang diberikannya dengan sukarela dan menghabiskan setengah isinya tanpa jeda.
"Udah, agak tenang kan Rain sekarang? maaf ya aku telpon kak dhika duluan, soalnya aku gak mau kamu maksain pake travel sendirian. Mending sekarang kita ikut kelas dulu, kumpulin semua tugas-tugas terus besok kan cuma sampe jam 1 kelasnya langsung kita cabut ke tangeran berempat. Lebih aman dan lebih enak kitanya, jadi gak khawatirin kamu juga" jelas Hanifa.
"Iya fa, aku minta maaf ya tadi habisnya panik aja jadi gak bisa mikir jernih" kataku.
"Tenang ya raina, sini peluk dulu" rayu Nunu sambil memelukku.
Aku memeluk Nunu dan Arika ikut memeluk kami berdua.
"Nu, Gian mau dipeluk tuh syirik" ledek Hanifa mencairkan suasana.
"Gitu dong Rain, ketawa jangan terlalu dipikirin pasti Kak Dhika lebih berguna disana daripada kita. Kak Dhika pasti bisa ko jagain kak Andreas" jelas Nirwan menenangkanku.
Aku bersyukur disaat-saat seperti sekarang, aku diberikan sahabat-sahabat yang selalu mendukung dan memberikan semangat yang positif buatku.
"Udah yu masuk kelas, keburu ada dosen" ajak Gian.
"Dah gian" kata Nunu dengan manjanya.
"Dah Nu, kabarin ya" jawab Gian sambil melambaikan tangan.
Aku, Hanifa, Gian dan yang lainnya masuk kelas untuk mata kuliah berikutnya. Sementara Nunu dan Arika masih harus menunggu satu jam lagi untuk mata kuliah selanjutnya.
Selama kelas berlangsung, kami menyaksikan salah satu kelompok dikelas kami melakukan presentasi tentang "Geografi lingkungan". Mataku memang fokus menatap materi di layar, tapi pikiranku melayang.
.
.
.
Setelah kelas selesai....
.
.
.
Aku buru-buru menelpon kak Dhika.
"Gimana keadaannya kak? ko kakak gak ngabarin aku sih?"
"Yaelah dek, aku baru aja sampe di RSnya. Ini udah ketemu sama pujaan hati kamu. Dia cuma lecet dikit doang, sempet pingsan karena rem mendadak dan kebentur setir. Sekarang udah baik-baik aja ko, udah bisa ketawa nih mau ngobrol?"
"Mana kasihin hapenya ke dia"
"Halo dek, kamu katanya keserempet motor ya tadi pagi? kamu inget platnya? biar aku cari tuh orang, beraninya nyerempet kamu sampe lecet-lecet begitu"
"Bodoh, kenapa kakak yang khawatirin aku? harusnya aku yang nanya keadaan kakak gimana? kepalanya sakit? apa aja yang luka? aku mau kakak video call sekarang"
__ADS_1
"Aku gak apa-apa sayang, kamu gak usah khawatir. Nanti aku marahin ya Bagus, dia ya yang nelpon kamu dan ngasih tau kamu kalau aku kecelakaan? berani-beraninya dia bikin pacar aku khawatir"
"Kakak, ihhhhh. Ini bukan waktunya bercanda! Kesel ah, pokoknya video call atau gak aku ngambek"
"Iya-iya, aku vc ya sekarang bentar"
Akhirnya setelah melihat langsung kondisi Andreas meski hanya lewat video call saja, aku sedikir tenang. Pelipisnya diperban dan ujung atas bibirnya juga terlihat berdarah. Selain itu, aku tidak melihat luka lainnya.
Semoga saja, hanya itu luka-luka yang dimiliki Andreas...
.
.
.
Sesampainya dirumah...
Aku langsung mencari Ibu dan menceritakan semua kejadian yang terjadi kepadaku seharian tadi. Ibu hanya memelukku dan bilang:
"Kamu harus lebih hati-hati lagi, bisa aja tadi kamu keserempet di waktu yang bersamaan sama Andreas kecelakaan. Mungkin itu ikatan kalian yang secara gak sengaja, merespon satu sama lain. Ibu setuju sama sarannya Dhika, Ibu juga gak akan ngelarang kamu mau pergi besok sore. Nanti biar Ibu yang jelasin ke Ayah ya?" ...
Aku memeluk Ibu dan berterima kasih karena sudah mau mengerti keadaanku.
"Dulu waktu Ibu seumuran kamu, ibu sama Ayah udah nikah. Kita saling protektif satu sama lain, kalau Ayah kenapa-kenapa Ibu selalu punya feeling begitupun sebaliknya" jelas Ibu.
"Apa itu artinya aku sama kak Andreas semakin cocok ya bu satu sama lain?" tanyaku.
"Bisa jadi, tandanya kalian saling terhubung satu sama lain meskipun kalian hubungan jarak jauh" jelas Ibu.
Akupun mencoba memejamkan mataku setelah selesai merapikan tasku untuk pergi ke Tangerang besok, rencananya setelah selesai kelas kami berempat akan langsung berangkat.
Beruntungnya sekarang, bukan hanya Hanifa yang akan menyetir mobil penuh. Arika yang semakin lancar mengendarai mobilpun, akan bergantian menyetir dengan Hanifa.
Sementara aku dan Nunu, meski sering mendapat kursus kilat dari mereka berdua hampir setiap harinya masih saja belum lancar.
"Pada packing ya guys? besok abis beres kuliah, kita langsung cabut!" kata Hanifa di roomchat.
"Siap" jawab kami bertiga kompak.
.
.
.
Keesokan harinya...
Aku segera mengumpulkan semua tugas-tugas ke meja dosen, melakukan rapat dadakan bersama panitia praktikum hidrologi dan memberikan jobdesk untuk tim evaluasi.
"Rasanya kaki aku lemes banget, dari tadi naik turun tangga" keluhku.
"Urut lah Rain, mau ke Pak Ibun dulu?" tanya Nunu.
"Gak usahlah, nanti di mobil aku urut sendirian aja" jawabku.
Entah aku harus merasa senang atau khawatir hari ini, satu sisi aku senang karena akan bertemu Andreas. Sisi lain aku sedih karena aku malah akan bertemu dengannya dirumah sakit bukan untuk liburan singkat seperti yang selama ini aku rencanakan.
"Rain, kamu mau mampir dulu kemana gak? beli oleh-oleh atau buat bawaan ke rumah sakit?" tanya Hanifa.
"Iya, aku mau beli tiramisu kesukaan Andreas dulu di sebelum gerbang tol. Sekalian beli cemilan buat kita di perjalanan" jawabku.
"Okelah, siap ya kita berangkat????" tanya Hanifa.
"Fa, aku aja dulu yang nyetirlah hahaha. Nanti masuk tangerang baru kamu yang nyetir. Gimana?" pinta Arika.
"Hahaha curang lu, maunya nyetir di jalan tol doang" ledek Nunu.
"Daripada lu belum lancar-lancar" balas Arika.
Aku hanya tertawa mendengar Arika dan Nunu berdebat, sementara Hanifa melirik ke arahku seolah ingin aku menghentikan perdebatan mereka.
"Berisik banget lu berdua ih, kasian tuh si Raina pusing mana lagi sakit kakinya. Pusing ya rain? denger mereka ngoceh" kata Hanifa.
"Iya ih, mending kalian mikir tuh Gian sama Nirwan mau ditolak apa diterima" kataku.
"Rain, Nirwan belum nembak aku" jawab Arika.
"Gian juga belum nembak aku tahu ih" jawab Nunu.
"Woooaaah, berarti mereka berdua nungguin ditembak Rain" ledek Hanifa.
"Aaaah bilang ah sama Gian sama Nirwan" kataku bercanda.
Aku dan Hanifa terus-terusan meledek Nunu dan Arika yang terpancing dan mencurahkan isi hati mereka tentang Gian dan Nirwan.
"Jangan dibilangin Rain, jangan yaaa pleaseeee" kata Nunu membujukku.
__ADS_1
"Iya rain jangan lah, tengsin nih masa ketauan sih kita ngarep banget" sahut Arika.
"Iya enggak, masa iya sih aku tega ngaduin kalian begitu hahaha" ledekku.