
Seorang anak kecil berpakaian semi formal dengan sepatu gagah pilihannya Papanya sedang duduk-duduk di teras rumah sambil memandang lalu-lalang para pekerja kebun karet.
"Mam, bisa tidak nanti kalau Izaz udah besar kita ke kebun? Izaz mau kerja disana bersama Papa?" tanya si anak.
"Boleh iz" jawab sang Mama.
"Tidak iz, iz mendingan kerja dengan bakat dan minat Iz setelah dewasa. Papa tidak perlu bantuan" sahut seorang lelaki berusia 30tahunan dari dalam rumah.
Laki-laki itu terlihat menggendong si anak dan membiarkan anak tersebut duduk diatas pangkuannya.
"Kenapa gak boleh pa?" tanyanya.
"Iz kan suka musik, bermusik aja. Jadi anak band keren! Papa belikan drum atau apapun alat musik kesukaan Iz" jelas sang Papa.
"No Papa, Mama selalu cerita kalo Papa terlihat keren saat kerja di kebun sawit. Iz juga mau terlihat keren seperti Papa" gerutunya.
__ADS_1
Papa dari Izaz terlihat melirik sinis kearah si istri, dengan matanya yang berkedip manja istrinya terlihat malu-malu mengakui ceritanya pada sang anak.
"Kerjaan kamu nih, Izaz jadi mau mengalahkan kepopuleran Papanya" ucap si Papa kepedean.
"Apasih kaka, anaknya kaya gitu karna mau melanjutkan bisnis Papanya juga. Keren loh niatnya" jawab si Mama.
Obrolan keluarga kecil itu berlanjut dengan ringan namun terasa sangat hangat. Ditemani dua gelas teh panas yang tersaji di meja depan, serta obrolan sepasang suami istri berusia 50 tahunan yang sedang membicarakan masa muda si Papa dan Mama beranak satu bernama Izaz itu.
"Iz, Mama mau ikut tante Dewi ke makam Nenek dan Kakek. Iz mau ikut Mama atau menunggu disini dengan Papa?" tanya si Mama.
"Iz ini udah pinter banget ngobrolnya, diajarin Mamanya nih pasti?" sahut tante Dewi kegemasan.
"No Tante, Iz suka dengar Papa mengobrol dengan Om Dhika. Makanya Iz pintar bicara" jawab si anak.
Tante Dewi, Mama dan anak laki-laki itu pun pergi menuju komplek pemakaman yang berjarak satu kilometer dari rumah mereka.
__ADS_1
Izaz terlihat sangat bersemangat menggandeng tangan sang Mama sambil sesekali bersiul-siul kecil menirukan suara burung yang hinggap di pepohonan sepanjang jalan.
"Neng, kapan mau pulang ke Bandung? Ibu sama Ayah kamu pasti kangen sekali sama Izaz" tanya tante Dewi.
"Nanti tante nunggu Ka Iyas ngajak aja, soalnya gak enak kalau aku yang maksa. Disini kan ka Iyas lagi banyak kerjaan" jawabnya.
"Iyas kan gila kerja, mending kamu yang ajak dia duluan untuk pulang kampung. Suruh dia istirahat sebentar disana. Sambil kalian bereuni dengan teman-teman kuliah juga. Kayanya seru, Izaz juga sudah lumayan besar dan bisa diajak bepergian naik pesawat" jelas Tante Dewi.
"Iya tan, nanti aku coba ajak Kak Iyas deh. Semoga dia mau secepatnya pulang kampung. Aku udah kangen sama Ibu, Ayah dan kedua adikku juga" jawabnya.
"Mam, om Rendy sudah sebesar apa ya? Iz kangen digendong" celetuk Izaz.
"Emang Iz masih inget wajahnya Om Rendy?" tanya si Mama.
"Ingat dong Ma kan Iz suka melihat foto keluarga di hari pernikahan Mama dan Papa" jawab Izaz.
__ADS_1
"Oya ma, kenapa difoto pernikahan itu tidak ada aku?" tanya Izaz dengan nada tinggi seolah sedang penasaran sekaligus marah.