
5menit kemudian setelah aku menunggu di parkiran.....
"Raina dianter sama Andreas aja ya soalnya aku udah janji sama Praya" kata Kak Lingga yang sudah mengendarai motornya keluar dari gerbang.
Andreas terlihat juga sudah membawa motornya menuju kearahku.
"Ayo de kamu naik! saya aja yang anter tapi gak gratis ya bayar 50" katanya sambil memberikan helm kepadaku.
Aku hanya tersenyum dan berusaha bertingkah senormal mungkin diatas motor Andreas....
.
.
Diatas motor Andreas.....
"De kamu jangan cerita sama temen-temen kamu kalau aku yang anter ya soalnya gak enak aja kalau ada yang tahu" pintanya.
"Iya aku tau kakak gak mau kehilangan fans kan?" kataku. "Bukan gitu de soalnya aku kan komdis kamu ngertilah posisi aku gimana" jawabnya.
("Kalau didepan orang aja bilangnya "saya" giliran udah berdua bilangnya "aku" emang ni anak gengsinya gede" batinku)
Selama beberapa menit perjalanan hening, aku hanya memegang sisi jaketnya yang sedari tadi terbawa angin yang begitu kencang bertiup.
Dia kemudian membuka kaca helmnya "megang aja sih de"katanya. "Eh nggak kak ini soalnya jaket kakak hiber (terbang dalam bahasa sunda)".
.
.
Beberapa menit kemudian .....
__ADS_1
Terdengar suara gemuruh keras dari langit dan tak lama hujan deras langsung turun menyerbu jalanan gelap yang nampaknya hanya dilewati oleh motor Andreas saja saat itu.
"Aduh De aku gak bawa jas hujan dua nih bentar kita neduh dulu ya"katanya.
Kamipun berteduh di sebuah pos RW yang disampingnya terdapat balai kecil. "hmmm maafin ya kak jadi ngerepotin gini" kataku.
Sementara waktu sudah menunjukan pukul setengah 10 malam. Aku tidak berani membuka pembicaraan dengan Andreas.
Aku hanya mencoba menggosok-gosokan kedua tanganku yang mulai merasakan dingin yang menusuk. Andreas kemudian membuka kedua sarung tangan yang dipakainya, bukan diberikan kepadaku melainkan untuk disimpan diatas tasnya yang diletakkan disampingku.
"Ih kirain mau dikasihin eh taunya disimpen disitu doang"gerutuku dalam hati.
Andreas kemudian menyadari ekspresi yang sedari tadi kutunjukkan kepadanya yaitu ekspresi kedinginan dan kelaparan secara bersamaan. Kedua mata Andreas terlihat tertuju kepadaku dengan seksama dia melihat pundakku yang sedikit bergetar.
Andreas : De kamu kedinginan?
Raina : Mayan kak hehe, kalau kakak gimana?
Raina : Hebattt juga ya (dingin gini masih aja mempertontonkan kehebatannya hihh)
Tiba-tiba Andreas mendekatkan jarak duduknya denganku. Aku hanya diam dan agak sedikit gugup memikirkan apa yang hendak dilakukan Andreas dengan maksud mendekat kepadaku begini.
Andreas : Mana tangan kamu? Sini taro diatas tangan aku! (sambil membuka kedua telapak tangannya di hadapanku)
Raina : Gak aku gak dingin ko kak hehe (aku takut nih)
Andreas : Aku gak macem-macem aku cuma mau ngajarin kamu caranya angetin tangan doang.
Raina : Yaudah ajarin aja aku liatin kok! (mana tahu ya dia cuma cari kesempatan doang)
Andreas : Ini maksud aku kamu coba aja gosok-gosok tangan kamu terus kamu tempelin ke pipi (sambil mempraktekkan)
__ADS_1
Aku mengikuti ajaran Andreas dan sesekali dia tertawa melihat ke arahku. Jarak antara aku dan Andreas mungkin hanya 10cm saja saat ini sampai pada akhirnya aku kurang nyaman dan yaaa handphoneku berdering....
"Teteh pulang sama siapa? Ini masih dimana?"tanya Ayah.
"Teteh sama kakak kelas nih dianterin tapi hujan gede yah jadi lagi neduh dulu"jawabku.
"Kakak kelasnya cowo apa cewe?"tanya Ayah.
"Cowo yah soalnya dia doang yang ada motor dan mau nganterin teteh"jawabku agak panik.
"Coba kasih telponnya ke kakak kelas kamu itu"pinta Ayah.
Akupun memberikan hp-ku pada Andreas dan dia terlihat agak bingung. Suara hujan dan petir saling bersahutan saat itu jadi aku tidak bisa mendengar pembicaraan Ayah dan Andreas.
Tak lama kemudian Andreas mengembalikan hp-ku.
"Ayah kamu bilang makasih karna aku udah mau jagain kamu sampe anterin kamu pulang juga, terus sekalian aja aku bilang maaf kalo malem ini kamu pulang telat soalnya aku gak mungkin nerobos hujan gini keadaan kamu juga lagi gak fit kan aku mana bisa" jelasnya.
Aku menatap kedua mata Andreas yang sepertinya tulus kali ini "Kak makasih ya" kataku sambil tersenyum.
Andreas menepuk kedua pipiku dengan punggung tangannya "kamu demam? kok bisa panas gini? kamu beneran bilang gak apa-apa kan barusan? tapi suhu badan kamu tiba-tiba naik begini?" tanyanya.
"Aku kayanya mau sakit deh maaf ya kak aku bukannya cengeng tapi aku beneran mau sakit kalo udah demam pilek batuk begini aku emang lagi kurang merhatiin makanan aku ditambah aku juga kurang tidur ngerjain tugas-tugas jadi aku belum terbiasa aja sama siklus hidup mahasiswa" terangku.
"Mana bisa ya Rani bilang kamu centil caper sementara nyatanya kamu polos gini sampe kamu curhat segala ke aku"jawabnya.
Obrolan kamipun terus berlanjut sampai akhirnya hujan mereda dan kami melanjutkan perjalanan. Andreas ternyata bukan orang yang menakutkan dia hanya menjalankan tugas sebagai komdis dan ada satu kata yang dia ucapkan yang sampai sekarang masih jadi pertanyaanku.
"Tunggu aku sebentar lagi aja sampe aku beres jadi komdis".......
Apa ya maksud dia bilang gitu ke aku? Dia nyuruh aku nunggu? nunggu buat apa? penting banget sampe minta ditungguin......
__ADS_1