Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Sebuah Renungan....


__ADS_3

Kami sampai di bumi perkemahan tepat pukul 1 siang, segera setelah kami mendirikan tenda lalu melakukan sholat berjamaah kami diminta berkumpul di lapangan untuk pematerian seputar keagamaan.


Aku dan teman-teman sekelompok lumayan khusyuk mendengarkan materi sambil mencatat point-point penting pada buku jurnal masing-masing.


Tak lama setelah pematerian selesai, kakak-kakak dari evaluasi mengumpulkan sketsa-sketsa dan catatan perjalanan yang sudah ditugaskan kepada kami.


Kami diminta menjelaskan sketsa dari kelompok masing-masing dan aku maju kedepan mewakili kelompok untuk menjelaskan sketsaku, ketika aku sudah berada didepan aku bisa melihat semua orang telah bekerja keras hari itu.


Teman-teman seangkatanku terlihat berkeringat dan lelah. Suhu di bumi perkemahan memang rendah tapi karena kami berjalan kaki hampir 3 jam dari pos pintu masuk, kami pasti berkeringat.


Mataku berkeliling hingga ke sudut-sudut, dan "Andreas ada disini juga kalo dia ada berarti bener dong hari ini ada jerit malam" kataku dalam hati.


Aku mencoba menjelaskan sketsa sederhanaku dengan kalimat agak berantakan hingga mengundang tawa dari teman dan kakak tingkatku yang mendengarkan. Maklumlah aku tidak ada persiapan HAHAHAHA.


Andreas terlihat memerhatikanku dari tempat dia duduk, ketika mata kami bertemu dia terlihat membuang mukanya seolah jijik melihatku. "Ini anak kenapa sih?" tanyaku dalam hati.


Ketika presentasiku selesai semua bertepuk tangan termasuk Andreas yang sepertinya sih agak bangga padaku.


"Na gambar kamu paling bagus loh diantara yang lain" kata Karin.


Aku hanya tersenyum sambil merasa lega karena sedari tadi kakiku gemetaran tak ada hentinya. Presentasipun selesai, meski kelompokku ada di peringkat kedua tapi aku cukup senang karena hasil kerjaku lumayan memuaskan teman-temanku yang lain.


"Gak malu-maluin kan kita juara dua?" Tanyaku.


Mereka kompak menjawab "ngga ko na bagus!".


Kami diberi waktu 1 jam untuk istirahat dan mandi untuk kemudian sholat ashar berjamaah dan kembali pematerian.


Aku hendak berjalan menuju kamar mandi yang letaknya lumayan jauh dari tenda, aku pergi sendiri karena yang lain sudah bergiliran dari tadi untuk berbagi tugas memasak, bersih-bersih tenda dan mandi sedari tadi.


Aku sesekali mengobrol dengan Arika dan Hanifa yang terlihat sangat tersiksa di Studi Keagamaan ini. "Asli ya pingin pulang banget tau gak na?" Kata Arika.


Sementara Hanifa hanya memelukku sembari menunjukkan muka cemberutnya.


Kami memang berbeda kelompok, tapi aku harap semoga Hanifa dan Arika juga menikmati perjalanan kali ini.


"Na, kamu betah kayanya disini?" Tanya Arika.


"Ya iyalah betah primadona angkatan lagi naik daun nih" rayu Hanifa.


Aku hanya mencubit keduanya sambil tertawa geli karena mereka melebih-lebihkan HAHAHA.

__ADS_1


"Raina tadi presentasi kamu bagus yaa meskipun gugup bgt" sahut seseorang dari kejauhan.


Aaaaahhh itu Andreas dia baru menyapaku setelah beberapa kali kami papasan hari ini.


Andreas berjalan menuju ke arahku sambil melirik kanan kiri sepertinya dia takut ada yang melihat perbuatannya "kakak kenapa celingukan?" tanyaku.


A : Gapapa, kamu gak ada yg gangguin kan?"


R : Aku? Digangguin? Sama siapa? Ngaco deh


A : kali aja si ketua angkatan kamu berani-berani sama kamu lagi! (dengan wajah penasaran)


R : Aku gak mau kakak ikut campur masalah aku, kalo kakak belain aku gak usah sampe terang-terangan gitu karna justru geng mereka jadi ngiranya aku kecentilan.


A : Aku cuma mau kamu gak diusilin soalnya tiap aku lewat depan mereka pasti mereka lagi ngomongin kamu Hanifa sama Arika.


R : Yaudah itu urusan aku, kakak gausah ikut campur! (dengan wajah datar)


Akupun berlalu meninggalkan Andreas karena Arika memanggilku untuk segera menyusul. Mendengar perkataanku yang terakhir, Andreas kelihatannya agak sedih. Aku bukannya tega tapi karena kalau dibiarkan begitu saja aku hanya akan membuat posisiku tidak aman. Aku harus tegas menjelaskan bahwa aku tidak ada kaitan apapun dengan Andreas.


.


.


Aku sudah setengah tidur karena kegiatan penuh hari ini, tapi aku dan teman-teman yang lain sudah bersiap untuk jerit malam. Jerit malam ini bukan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Kami diarahkan masuk ke aula satu-satunya di bumi perkemahan dan seluruh lampu ruangan dimatikan.


Kami hanya dibekali lilin perkelompok, kami saling bergandengan tangan menuju tempat tersebut lalu kemudian duduk berjajar dengan rapi. Didepan kami sudah menyala layar besar dengan sebuah kata tebal bertuliskan :


"IBU AYAH AKU MASUK KE PERGURUAN TINGGI HARI INI!!! LIHAT SEBERAPA DEWASANYA AKU!!!"


Dari judul yang aku baca saja sudah tergambar bahwa isi acara kali ini adalah mengenang jasa orang tua sepanjang perjalanan kami. Handphone yang sebelumnya disita tiba-tiba disimpan didepan masing-masing jajaran kelompok.


Sementara setelah semua teman-teman duduk, Kak Setya selaku Ketua Pelaksana acara Studi Keagamaan memberikan sambutan dan rasa terimakasihnya karena kami sudah bekerja keras hari ini.


Tiba-tiba di layar ditampilkan sebuah video dokumenter tentang perjalanan seorang bayi dari lahir hingga menginjakan kakinya di universitas. Hatiku seketika tersentuh ketika salah satu slide di layar menampilkan paragraf demi paragraf berisi kata-kata nasihat :


"Bagaimanapun kerasnya hati kalian...


bagaimanapun dinginnya sifat kalian menghadapi sesuatu...


dan bagaimanapun tingginya gengsi kalian hari ini alasan kalian bersama duduk dan berkumpul ditempat ini adalah orang tua kalian....

__ADS_1


Orang tua yang dengan darah dan keringatnya dapat membantu kalian mencapai titik ini.....


Orang tua yang kalian sering abaikan telpon dan pesan singkatnya, orang tua yang kalian abaikan kekhawatirannya, orang tua yang tidak pernah kalian pikirkan ketika rela tidak tidur menunggu kalian di pintu rumah saat kalian belum pulang....


Hari ini merekalah yang harus kalian cintai melebihi cinta kalian kepada apapun...


Bayangkan jika kalian belum sempat mencintai mereka sepenuh hati kalian, tapi orang tua kalian sudah berpulang kepada sang Maha Pencipta.....


Bayangkan ketika kalian pulang dari sini, tanah merah sudah menutupi badan orang yang selalu memelukmu ketika kau sakit. Bayangkan jika mereka masih belum kamu sayangi dengan segenap hatimu?........


.


.


.


.


Air mata yang kutahan sejak menit pertama video dokumenter itu ditayangkan kini jatuh sederas-derasnya. Aku tidak tahan lagi!!! "Aku ingin meluk orang tuaku" jeritku dalam hati.


Semua teman yang hadir malam itu tidak ada yang tidak menangis, bahkan teman-teman laki-laki pun mengeluarkan suara tangisan lebih kencang dari suara tangisan perempuan.


Setelah video selesai, kami diberi kesempatan untuk menelpon orang tua kami masing-masing.


"Mah, teteh minta maaf ya belum bisa ngasih apa-apa ke mama cuman bisa nyusahin gak bisa jadi kakak yang bener buat adik-adik teteh" kataku di telpon.


Mama tanpa kata hanya menangis mendengar ucapanku yang terengah-engah.


Ayah akhirnya yang ikut berbicara "teteh gak nyusahin, teteh kan manusia berproses teteh sekarang harus coba untuk jadi lebih baik yaa teteh harus semangat disana terus nanti kuliahnya jangan mudah putus asa".


.


.


.


Teruntuk orang tuaku :


Ada kata yang belum sempat diucapkan seorang gadis kecil kepada kedua malaikat penjaganya


"aku beruntung memiliki kalian"

__ADS_1


Adapula kata yang belum sempat diucapkan seorang gadis remaja kepada kedua orang hebat yang selalu menuruti kemauannya "aku mencintai kalian".


Kata yang belum sempat terucapkan itu adalah kata yang seharusnya kuucapkan berkali-kali dalam hidupku. Aku mencintai kalian dengan sepenuh hatiku dari sejak aku dikandungan hingga nanti aku kembali dikandung oleh Bumi.


__ADS_2