
Malam hari ketika aku tiba-tiba terbangun, aku menemukan Nunu tidak ada di sebelahku. Nunu tidur di kasur yang sama denganku, sementara Hanifa dan Arika ada di kasur sebelah..
Aku melirik ke kamar mandi, tapi kamar mandi juga kosong. Aku melihat pintu dalam keadaan tertutup tapi juga tidak dikunci. Aku berniat membangunkan Hanifa dan Arika, tapi mereka terlihat lelap sekali.
"Ah, nunu kan sleepwalker... Aku lupa gak cabut kunci kamar dan bisa aja dia jalan sambil tidur keluar dari kamar" gumamku.
Akupun mengambil handphoneku, menyalakan senternya, mengenakan jaket dan sedikit merapikan rambut lalu bergegas keluar dari kamar untuk mencari Nunu.
Aku agak takut karena sudah hampir tengah malam, sekitar pukul setengah dua belas malam lebih tepatnya.
"Duhh serem, gelap banget lagiiii" gumamku sambil terus memberanikan diri berjalan.
Tempat pertama yang kudatangi adalah aula dan lapangan disebelahnya, kondisi disana juga sangat gelap karena semua lampu sudah dimatikan. Hanya ada penyinaran dari beberapa lentera yang digantung di sudut-sudut ruangan.
Dari ujung cahaya di aula, kulihat ada sepasang kaki yang berayun dan bergerak beraturan. Kaki dengan celana berwarna putih yang panjang dan cukup longgar.
"Ih apa itu? Itu pasti bukan Nunu kan? Orang nunu tadi pake kulot biru ko" pikirku sambil mengontrol rasa takut yang sedari tadi hampir membuatku lari terbirit-birit.
Aku berusaha mendekati arah cahaya itu, arah dimana kaki tersebut kulihat. Semakin dekat rasanya semakin nyata saja bentuknya, seperti kaki seorang laki-laki yang hanya terlihat dari setengah pintu yang hampir dalam keadaan tertutup.
"Nu, nu, nu, itu kamu bukan?" kataku pelan sambil mengarahkan layar handphoneku kearahnya.
Sepasang kaki itu beranjak dan terlihat berdiri, sosoknya memantul menjadi seperti manusia.
"Aaaaahhhh" teriakku.
Aku berteriak karena kaget sekaligus takut, membayangkan bahwa sosok itu bukan manusia sungguhan dan merupakan penunggu tempat itu.
"Raina?" tiba-tiba saja ada suara orang memanggilku.
Aku memberanikan diri membuka kedua mataku yang kupejamkan barusan.
"Gian?"....
"Ya ampun, aku pikir kamu itu apa tadi aku kaget banget" kataku sambil terus menerus merasakan kakiku yang melemas dan kehilangan tenaga untuk berdiri.
"Kamu ngapain disini jam segini?" tanyanya.
"Nyari Nunu, aku lupa dia sleepwalker jadi kunci kamar gak aku cabut pas mau tidur. Eh dia ngilang tadi pas aku kebangun" jelasku.
"Hah? Terus belum ketemu sampe sekarang?" tanya Gian ikutan panik.
"Iya belum, makanya aku nyari sendirian kesini... Tadi aku mau bangunin Hanifa sama Arika tapi kasihan, mereka udah nyenyak banget keliatannya" jelasku lagi.
__ADS_1
"Gimana kalau dia ke laut?" celetuk Gian.
"Aku juga gak tau, sumpah deh aku khawatir banget.. Kamu mau bantu aku nyari dia gak?" tanyaku sungkan.
"Iya aku bantu, ayo kita cari barengan?" jawabnya.
"Kita nyebar aja biar bisa lebih cepet nyarinya ya?" kataku.
"Jangan, ini udah malem banget dan gimanapun kamu itu cewek gak mungkinlah aku biarin kamu nyari sendiri. Ini juga daerah baru yang kamu belum tahu bener, bahaya!!!" katanya.
"Yaudah ayo kita cari" ajakku.
Aku dan Gianpun berjalan beriringan menelusuri aula yang besar itu, sampe akhirnya aku baru sempat menanyakan pada Gian kenapa dia masih berada di aula dan belum tidur...
"Kamu ngapain di aula jam segini? Sendirian lagi?" tanyaku.
"Haha tadi aku sakit perut, kayanya salah makan deh udah ke kamar mandi ada mungkin 4 kali... Karena gak enak kalo di kamar takut ganggu yang tidur, yaudah aku ke kamarmandi aula" jelasnya.
"Hmmm, sakit perut dan buang air terus bisa juga karena masuk angin tau mungkin kamu masuk angin gi" jelasku.
"Iya kali ya, ohya si Nunu gak tidur di kamar orang gitu?" tanya Gian.
"Gak tau, tapi tadi di koridorku gak ada yang pintu kamarnya terbuka semuanya ketutup dan kayanya Nunu ketiduran di mana gitu" jelasku.
"Parah juga ya kalau jadi sleepwalker gitu" katanya.
Gianpun berinisiatif untuk mencari Nunu di dapur umum sebelah aula, karena hanya dapur umum yang lampunya menyala dan ada ibu-ibu yang sedang tidur disana untuk memasak makanan pagi untuk kami semua.
"Kita ke dapur umum deh, disana rame banyak orang. Dugaanku si Nunu kesana karena terang" kata Gian.
"Emang sleepwalker milih-milih gitu kalau mau tidur?" gumamku.
Saat hampir sampai di dapur umum, tiba-tiba ada cicak yang jatuh dari atas atap aula dan tepat diatas kepalaku. Aku berteriak karena kaget bukan karena takut, aku juga cukup geli pada cicak yang ukurannya agak besar dan berwarna putih itu.
"Ihhhhh" teriakku sambil berlari dan berusaha mengibas-ngibaskan rambutku.
Gian melihatnya dan membantuku menepis cicak itu dari atas kepalaku.
"Hahaha udah tuh udah jatoh" kata Gian.
"Hahaha lucu rambut kamu jadi berantakan" katanya lagi sambil merapikan rambutku.
"Hahaha makasih" kataku sambil agak sungkan.
__ADS_1
Baru kali ini, aku merasa jarakku dengan Gian sangat dekat. Baru kali ini juga aku melihat Gian tersenyum dan tertawa lebar seperti tanpa beban.
Sesampainya di dapur umum....
"Nunu???" teriakku saat melihat benar saja Nunu tidur disana dengan ibu-ibu setempat yang menjadi juru masak untuk kami.
"Tuhkan bener? Coba kamu bangunin, ajak dia pindah" kata Gian.
Akupun berusaha membangunkan Nunu, kupegang kaki dan tangannya dingin sepertinya Nunu bahkan tidak sadar dia berjalan sampai kesini dan berpindah tempat tidur.
"Nu...nu bangun!!!" kataku pelan karena takut membangunkan Ibu-ibu yang tidur disana dengan hanya beralaskan karpet yang agak tebal itu.
Nunu menggeliat dan kaget saat melihat aku dan Gian ada dihadapannya, pandangan Nunu berkeliling kesegala arah seolah menyadari bahwa dia sudah tidak berada di kamar kami.
"Na, aku ko bisa ada disini?" tanyanya.
"Harusnya kita yang nanya ke kamu, gimana kamu bisa jalan sambil tidur dan tiba-tiba pindah kesini?" celetuk Gian.
"Iya nih, kamu tuh bikin kaget dan takut aja" kataku.
"Ah iya aku inget tadi aku sempet kebangun dan sadar kalau aku ada di aula, karena aku takut balik ke kamar akhirnya aku kesini deh karena liat cuma dapur ini yang masih nyala lampunya... Eh aku malah tidur juga disini" jelas Nunu.
"Yaudah Nu bangun, kita pindah yu ke kamar?" ajakku.
Nunupun bangkit dan memegang tanganku seperti anak kecil yang menemukan ibunya.
"Aku juga sih yang salah, kuncinya gak aku cabut jadi kamu bisa keluar kamar" kataku.
"Enggak ko na, lagian tadi kan kita semua kondisinya cape dan ngantuk jadi wajar kalian lupa kalo aku sleepwalker" jawab Nunu.
"Yaudah, aku anterin kalian kekamar sekarang" kata Gian.
Nunu terlihat heran saat melihat aku dan Gian bersama saat itu, Nunu mengirimkan kode seolah menanyakan kronologi bagaimana Gian bisa membantuku mencarinya.
"Tadi dia kebetulan lagi di kamar mandi aula, aku juga heran jam segini masih ada aja yang nangkring di kamar mandi" kataku berbisik ditelinga Nunu.
Sesampainya didepan kamar kami...
"Udah gih masuk, na jangan lupa kunci pintunya dan taro ditempat aman" kata Gian menasehatiku.
"Iyahehe makasih ya gi, untung ada kamu jadi aku gak takut sendirian nyari Nunu" jawabku.
"Iya gi makasih ya, jadi repotin kamu" tambah Nunu.
__ADS_1
"Gapapa, cuma lain kali kalau ada apa-apa kabarin tim lapangan aja atau ke aku sekalian dan jangan sampai keluar kamar sendiri tengah malem untuk apapun alasannya" gerutunya panjang lebar.
"Iya maafin" kata kami berdua kompak.