
Rasanya sudah lama sekali tidak menikmati udara luar ruangan. Hidungku kembang kempis menghirup oksigen yang lebih segar berkali-kali lipat itu.
Melihat kembali jejeran pepohonan menuju komplek rumahku, menikmati jajanan pasar yang setiap hari biasanya suka Ibu bawakan dan meminum jamu sebelah sekolah Recca.
Ahhhh..... aku sudah sangat rindu.....
"Kamu mau pamit sama dokter dulu gak?" tanya Andreas.
"Gak mau ah, aku mau langsung pulang" jawabku.
"Dih, bukannya tadi kamu mau pamitan" katanya.
"Gak mau nanti aku sedih tau" jawabku.
"Yaudah ayo" ajaknya.
Aku agak risih saat harus memakai kursi roda, menyusahkan Kak Iyas dan membuatnya harus setiap saat membantuku.
Tapi, kalau menolak untuk memakai kursi roda pasti Kak Iyas akan kecewa padaku.
Mobilnya kak Iyas sangat wangi, entah baru saja dicuci atau bagaimana. Hanya saja nuansanya berbeda.
"Iya aku baru cuci mobil, terus jok nya aku ganti warna jadi maroon. Kamu suka gak?" tanyanya yang ternyata juga memperhatikan tingkahku.
"Suka, tapi mahal ya pasti?" jawabku.
"Ya ada harga ada kualitas lah" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah......
Ternyata semua sahabatku sudah ada dirumah, mereka mempersiapkan kejutan buatku. Pesta penyambutan kecil-kecilan.
""""""Welcomeback Raina!!!!""""
Ibu, Ayah juga mempersiapkan banyak sekali makanan untuk kami.
"Kak, aku mau jalan biasa ya gak usah pake kursi roda" bujukku.
"Gak boleh!" jawabnya tanpa menoleh.
Seolah mengerti mauku, kak Dhika menggendongku menuju teras belakang untuk berkumpul dengan yang lain.
"Hahahahaha kak ih aku berat loh" kataku.
"Lagian Iyas gak peka banget jadi cowok" jawabnya.
"Kak ati-ati itu Raina masih sakit" teriak Hanifa.
Kak Iyas malah tertawa, dia jelas tidak bisa memarahi kak Dhika saat itu.
"Rain, penelitian kita sama Pak Yana dimulai dua hari lagi" kata Hanifa.
"Yaudah aku ikut, aku bisa ko" jawabku.
__ADS_1
"Gak boleh" teriaknya dari belakang.
Aku melirik Andreas, menyadari bahwa dia benar-benar akan sangat protektif padaku.
"Lagian aku kan udah ditumbalin buat gantiin kamu, jadi kamu diem aja dirumah" jelasnya.
"Iya, aku diem dirumah" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore harinya saat semua sudah pulang....
Aku sudah berada dikamar dan ditemani Kak Iyas, Randy dan Recca.
Mereka bertiga sedang main uno.
"Apa sih? aku dicuekin" kataku kesal.
"Mau apa sih sayang?" tanya Andreas melirikku.
"Ih kakak gak boleh sayang-sayangan depan Recca tau" kata Randy meledek.
Aku dan Andreaspun malu...
"Oya kak, kunci kosan baru udah ada di Ibu soalnya tadi Ibu kesana buat nitipin kakak sama Bu Mirna yang punya kosan" kata Randy tiba-tiba.
"Apa? kosan bu Mirna? kakak pindah ke kosan Bu Mirna yang dideket stikes itu?" tanyaku keheranan.
Randy dan Andreas malah lirik-lirikan dan tidak menjawab pertanyaanku.
"Euh kamu Ran, diminta jaga rahasia segitu aja gak bener" kata Andreas sambil memukul tangan Randy yang sedang mengocok kartu.
Aku mulai mengerti sekarang, alasan kenapa Randy sering sekali menelpon Andreas dua harian ini adalah karena dia yang membantu kepindahan Andreas ke kosan Bu Mirna.
"Iya, aku pindah ke kosan Bu Mirna hahaha tadinya mau dijadiin kejutan gitu ke kamu pas kamu sehat nanti jadi bisa main kesana. Eh Randy udah keceplosan aja" jelasnya sambil duduk disebelahku.
"Terus ke Palembang kapan?" tanyaku.
"Gak jadi, aku mau buka bisnis disini sama Dhika. Soalnya aku kan juga mau lanjut kuliah sama dia semester depan" jawabnya.
Aku kaget mendengar penjelasannya, rasanya aku jadi semakin sedih. Apa ini semua terjadi karena aku? karena aku sakit? karena aku kecelakaan?
"Ran bawa Recca keluar sebentar gih, beliin aku eskrim" kataku.
"Rasa biasa?" tanyanya.
"Iya" jawabku.
Aku hanya alasan meminta Randy dan Recca membelikanku eskrim, sebenarnya aku mau berbicara berdua saja denga Andreas.
Aku mau menanyakan alasan mengapa dia mengambil keputusan ini tanpa memberitahuku atau meminta pendapatku terlebih dahulu.
Bagaimanapun, aku mau dia melanjutkan bisnis keluarganya. Amanah dari Ibu dan Bapaknya yang tidak boleh dia abaikan begitu saja.
"Kak, ko bisa aku gak dikasih tau tentang semua ini?" tanyaku.
__ADS_1
Dia menyadari perbedaan raut wajahku.
"Tentang kosan pindah? tentang s2 atau tentang apa?" tanyanya.
"Tentang semuanya" jawabku.
"Gini, bukannya aku gak mau kasih tau kamu cuma kan kondisinya kamu sakit dan gak boleh banyak pikiran. Lagipula harusnya kamu seneng dong kalau aku gak jadi pindah?" katanya.
"Tapi kakak ka gak bisa gitu aja nyerahin bisnis di Palembang, itu amanah dari Ibu loh. Kakak ko bisa nyepelein sih?" kataku.
"Amanah Ibu itu minta aku jagain kamu, minta aku nikahin kamu bukan buat urusin perkebunan" jawabnya.
Dia menjawab semua pertanyaanku seolah tanpa beban.
"Kak tapi.....
Belum selesai mendengar perkataanku, dia malah memelukku.
"Udah ah jangan banyak mikirin aku, pikirin dulu aja kesehatan kamu. Lagian anggap aja kepindahan aku ke kosan Bu Mirna itu buat lebih deket sama keluarga kamu. Meskipun kamu gak mau deket aku, ya siapa tau Ibu sama Ayah kan" jelasnya.
Benar juga sih, disisi lain setelah mendengar penjelasannya. Bagaimanapun dia sudah sangat mengkhawatirkanku, bahkan sampai memilih pindah kosan ke dekat rumahku.
Entah karena faktor Fasya atau bagaimana, aku hanya merasa lebih aman saja sekarang.
Saat dia memintaku untuk tidak terlalu memikirkan masalahnya, sebenarnya aku kurang suka.
Bagaimana bisa dia memintaku untuk tidak memikirkan sesuatu yang paling menyita pikiranku setiap harinya?
Isi otakku kalau bukan tugas dan penjualan totebag, ya paling utamanya dia. Lantas bagaimana caranya untuk tidak memikirkannya?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akupun memintanya menggendongku kebawah karena Ibu sudah memanggil untuk makan bersama-sama.
"Yas, mulai hari ini udah pindah ke kosan Bu Mirna?" tanya Ayah.
"Udah yah, sama Dhika juga" jawabnya.
"Baguslah, kalau makan kesini aja jangan beli" kata Ayah.
"Itusih pasti ya kak, nanti aku anterin ke kosan" sahut Randy.
Aku cuma menikmati masakan Ibu sambil mendengarkan obrolan mereka saja.
"Teh, besok terapi ya sama Pak Sugeng? biar otot-otot normal lagi kan udah lama gak digerakin" kata Ibu.
"Jangan bu, kalau mau terapi biar kerumah sakit lagi aja nanti Iyas yang anter" jawab Andreas.
"Gak usah yas, Pak Sugeng itu langganan kalau Raina Randy sama Recca dulu pas masih bayi kecengklak" jawab Ayah.
"Iya, aku terapi di Pak Sugeng aja kan bisa dipanggil kerumah gak usah pergi kerumah sakit" kataku.
Diapun pasrah dan mengangguk.
Setelah selesai makan dan membantuku minum obat, dia memintaku istirahat dan tidur lebih awal.
__ADS_1
"Aku pamit ya? kalau ada apa-apa cepet telpon aku" katanya.
"Kakak yang harus istirahat, kakak kan dua hari lagi ke lapangan" kataku.