
Hari demi hari berlalu begitu cepatnya...
Tak terasa aku sudah akan memasuki akhir semester tiga. Sementara Andreas, ini adalah semester terakhirnya. Dia sudah sidang dua hari yang lalu, secara resmi dia sudah mendapatkan gelar sarjananya.
"Dia lulus dengan 7 semester!!! Pacarku hebat bukan???"....
Hari dimana dia sidang, aku menunggunya didepan ruang sidang. Berdoa supaya dia diberikan kelancaran dalam menjawab semua pertanyaan dosen. Berharap semoga dia akan lega dan bahagia dengan usahanya selama satu semester ini.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana dia mengumpulkan data, menyebar angket dan kemudian mewawancarai banyak sekali orang untuk skripsinya itu.
Bahkan aku sering kali harus menelpon untuk mengingatkannya makan. Dia memang tipe pekerja keras tanpa ampun, dia akan mati-matian mengejar apa yang dia harapkan.
"Aku mau cumlaude de, bukan apa-apa sih alesannya biar Ibu aku gak perlu nunggu lama di auditorium buat denger nama aku dipanggil sama rektor" katanya.
Sebuah alasan yang sederhana dibalik cita-cita dan harapannya untuk cumlaude. Dia hanya takut Ibunya menunggu terlalu lama.
Aku memikirkan hadiah apa yang bagus untuk kuberikan padanya di hari wisudanya nanti. Sampai akhirnya pilihanku jatuh pada membuatkannya sketsa perjalanan kami berdua.
Rasanya aneh memang saat aku harus menggambar diriku sendiri dan menceritakan sudut pandangku tentang Andreas yang selama ini kukenal.
Aku mau membuatkannya scrapbook, isinya gambaranku dan beberapa tempelan foto kami berdua.
Aku mau dia mengingatku lewat gambaran yang aku buat nantinya, meski sederhana tapi maknanya dalam. Aku ingin menghargai setiap waktu yang sudah kami lewati bersama.
Saat aku sedang fokus menggambar... Ponselku berdering!!!
"ANDREAS!!!"
"Dek, kamu lagi apa?" tanyanya.
"Lagi beresin tugas yang deadline hehe, besok aku mau dispen buat survey lokasi penelitian mahasiswa baru soalnya" jawabku.
"Ciyee yang udah punya adik tingkat haha, udah berapa surat cinta yang kamu dapet?" tanyanya.
"Sejauh ini sih 7 hahaha, kakak berapa?" tanyaku.
"Baru 10, kayanya popularitas aku berkurang deh. Apa karena aku pacaran sama kamu kali ya? Terus mereka tau dan takut sama kamu?" ledeknya.
"Apasih? Orang aku baik juga sama maru gak galak kaya kakak dulu" jawabku.
"Gimana? Udah tau Hanifa sama Dhika pacaran?" tanyanya.
"Udah semalem kan? Hahaha akhirnya yaaa kak dhika berani juga ngungkapin perasaannya... Gak kerasa juga aku udah punya adik tingkat lagi" jawabku.
"Iya dan gak kerasa ya kita udah mau setahunan lagi aja" katanya tiba-tiba.
"Iyahaha, masih dua bulanan kurang lagi kali kak" ledekku.
"Iya tapi rasanya baru kemarin ya? Aku marahin Rani karena ngomongin kamu dibelakang?" katanya.
__ADS_1
"Hah kapan? Kakak marahin Rani karna aku?" tanyaku.
"Kamu mau denger cerita panjangnya? Hahaha kepo ya" ledeknya.
"Ih, cepet cerita" desakku.
"Ngga ah nanti aja, udah gih beresin dulu kerjaannya nanti aku telpon lagi ya" pungkasnya.
Aku merasa obrolan kami gantung saat itu, banyak hal yang langsung terpikir olehku setelah Andreas memancingku untuk penasaran dengan ceritanya memarahi Rani.
Sketsanya kusimpan dulu, untuk nanti kulanjutkan kembali.
Aku menelpon Andreas saat itu, berharap bahwa dia akan menceritakan segala kisah yang dia rahasiakan.
"Kakak ceritain sih aku nanti gak bisa tidur tau" kataku.
"Hahaha, yaudah keluar komplek gih aku nunggu didepan nih" jawabnya.
"Apaan? Gak salah? Kakak depan komplek rumah aku?" tanyaku.
"Iya lagi ngeprint di fotocopy'an langganan kamu nih" jawabnya.
"Yaudah aku kesana bentar ya" jawabku.
Setelah pamit pada Ayah dan Ibu yang sedang menonton sinetron lawak favorit mereka, aku bergegas setengah berlari ke depan komplek.
"Woy!!!" teriakku sambil menepuk punggungnya.
"Cepet amat lari ya kamu?" tanyanya.
"Iya hahaha abis takut kakak kabur" jawabku.
"Segitu penasarannya?" ledeknya.
"Iya penasaran, cerita ya? Aku mau denger pokoknya" jawabku.
"Tugas kamu udah selesai? Aku ajak kamu main keluar bisa?" tanyanya.
"Boleh, tapi aku harus telpon Ibu dulu" jawabku.
Setelah menelpon Ibu dan mengambil hasil printnan milik Andreas, kami berduapun pergi menuju cafe favorit Andreas.
Cafe ini jaraknya lebih dekat ke kampus alias cukup jauh dari rumahku... Bahkan cafe ini terletak di dataran cukup tinggi dan udara malamnya sangat dingin.
Selama perjalanan...
"Kak kenapa ngeprint jauh-jauh sih ke rumahku?" tanyaku.
"Gapapalah bagi-bagi rezeki, printnan di sekitaran kosan aku kan rame terus uangnya pasti udah banyak. Nah printnan deket rumah kamu kan gak rame-rame banget jadi aku datengin deh" jelasnya.
__ADS_1
"Alesan lah palingan mau ketemu aku kan?" ledekku.
"Iyasih haha, soalnya besok aku harus ke Palembang" jawabnya.
"Hah ko dadakan sih?" tanyaku kaget.
"Iya soalnya harus ngabarin Ibu kalau aku wisuda akhir bulan depan" jawabnya.
"Kakak lama disana?" tanyaku.
"Dua mingguan lah soalnya disini juga aku udah gak ada kegiatan di kampus kalau bukan nemuin kamu" jawabnya.
"Iyasih, itung-itung kakak nebus liburan yang gagal waktu itu" jawabku.
"Iya, kamu gapapa kan? Aku tinggal sebentar?" tanyanya.
Suasana berubah hening, air mataku rasanya berkumpul seketika menanti untuk segera kujatuhkan sesaat setelah Andreas menanyakan apa aku tidak apa-apa dia tinggal sementara.
Sebenarnya bukan masalah, bahkan jika dia harus tinggal di Palembang lebih lama. Toh, nanti setelah dia wisuda juga dia akan kembali ke Palembang dan bekerja disana seperti cita-citanya?
Hanya saja, aku belum siap untuk menata diriku kalau sehari-hari nanti dikampus tidak ada dia.
"Dek? Kenapa diem?" tanyanya.
"Gak papa haha abis aku bingung mau jawab apa" kataku.
Dia menghentikan laju motornya, segera berbalik ke belakang dan menatap wajahku.
"Maaf ya dadakan, maaf juga karna harus buat kamu sedih kaya gini" katanya sambil memegang tanganku.
"Hahaha gapapa, itu kan hak kakak untuk nentuin apapun. Aku cuma bisa mendukung dan menyemangati" jawabku.
Saat berkata demikian, sepertinya ada serpihan yang jatuh dari dalam hatiku. Aku merasakan sakit yang kecil tapi menusuk hingga kedalam. Aku berusaha menahan air mataku, tapi mereka terlalu kuat mendorong. Hingga akhirnya, air mataku jatuh tak terelakan lagi.
"Gapapa nangis aja, biar lega. Kamu berhak ko nangis, kamu berhak marah dan kecewa sama aku" katanya.
"Aku gak pernah kecewa sama kakak, aku cuma kecewa kenapa waktu putarannya cepet banget? Aku cuma gak nyangka aja nanti kita jadi pasangan LDR" jelasku.
Dia hanya tersenyum dan memelukku.
Pelukan diatas motor itu terasa sangat menyedihkan, dibanding pelukan-pelukan kami sebelumnya.
"Yaudah, kamu jangan sedih berlarut-larut gitu dong hahaha kan aku mau cerita banyak nih ke kamu" ledeknya.
"Iya, aku semangat ko" jawabku sambil menyeka air mataku.
"Nah gitu dong bagus!!! Ayo lanjut jalan ya?" ajaknya.
"Ayo" pungkasku.
__ADS_1