
Dua minggu berlalu....
Aku mulai terbiasa dengan jadwal padat lagi, bangun sangat pagi dan pulang hampir malam hari. Ayah dan Ibu selalu mengerti, betapa anak sulungnya sedang dalam masa transisi. Setiap malam setelah makan bersama, mereka akan mengingatkan hal-hal kecil seperti: jangan lupa makan yang bener, minum vitamin dan jangan terlalu porsir diri.
Begitupun Andreas, dia yang hampir setiap hari mengantar jemputku. Meski kelasnya hanya seminggu tiga sampai empat kali, dia selalu menungguku hingga semua urusanku hari itu selesai.
Dia juga sudah menjadi asisten dosen reguler, dia mengajar di angkatan 2013 tepatnya di mata kuliah kosmografi. Keahliannya itu terpakai.
Topik tentang "Hot Dosen" sempat trending di kantor jurusan. Banyak sekali mahasiswa tingkat satu yang tiba-tiba sangat rajin melakukan diskusi dengan dosen, mengumpulkan tugas tepat waktu hingga nongkrong berburu wifi di kantor jurusan.
Semua bermula saat Andreas dan Kak Dhika menjadi bagian dari keluarga besar jurusan.
"Takdir keduanya memang sangat sulit dipercaya, julukan nyata dan bayangan bagi keduanya memang benar adanya. Bahkan, hingga tahun kedua pasca kelulusan mereka saja bisa-bisanya mereka kuliah dan mendapat job yang sama".....
Aku dan Hanifa yang sering menjadi incaran para mahasiswa tingkat satu, mereka akan menanyakan beberapa tips-tips untuk menggaet kakak tingkat yang keren. Kebanyakan dari mereka berniat mendekati Agung, Gian, Fariz dan Nirwan. Padahal, mereka semua sudah memiliki pacar masing-masing.
Rasanya lucu saja, saat melihat mahasiswa baru menjadi sangat antusias belajar karena dosennya itu Andreas. Aku ikut bangga. Bagaimanapun, pacarku sudah membuat banyak orang semangat belajar. Meski alasan mereka yang utama adalah menarik perhatiannya.
Pagi ini aku dan Hanifa punya jadwal kelas siang. Kami baru akan berangkat ke kampus pukul 10. Sementara Andreas dan Kak Dhika jadwalnya lebih siang lagi, yaitu sekitar pukul 2 siang. Sementara pagi sekali mereka berdua sudah berangkat karena ada tugas mengajar.
Akhirnya, aku dan Hanifa memutuskan untuk ikut pergi pagi dengan mereka. Hitung-hitung kami bisa sarapan di kampus dan mengerjakan tugas di perpus.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di kampus.....
Hanifa mengajakku berburu wifi di lobby fakultas, katanya dia hendak mencari bahan untuk tugas makalah mata kuliah Geomorfologi.
Aku sih sudah punya bahan, dari buku yang dipinjamkan Andreas dan hasil browsing semalaman. Maklumlah, siang nanti kami harus menyetorkan mentahannya pada ketua kelompok masing-masing.
"Kamu sarapan ya jangan lupa! Aku duluan" kata Andreas sebelum berlari menaiki tangga darurat menuju kelas maru.
Sementara Kak Dhika malah santai naik lift.
"Ah si Iyas lebay, paling telat 5 menitan ngajarnya biasa aja kali gak usah buru-buru" ledeknya sambil berjalan tanpa ekspresi kearah lift.
Sementara Hanifa asyik dengan laptopnya, aku pamit ke kantin sebentar untuk membeli sarapan. Mumpung tadi kulihat, kantin masih sepi.
"Mau nitip gak? Mumpung sepi tadi kantinnya" kataku.
"Mau, pesenin nasi kuning aja. Minta dianter kesini jangan kamu yang bawa" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah makan dan selesai mencari bahan, aku mengajak Hanifa mengembalikan buku pinjaman ke perpustakaan.
Di jalan menuju perpustakaan, aku teringat sesuatu. Seseorang yang meminta nomorku dengan alasan akan memesan totebag. Kinan namanya, anak bisnis.
"Oh si Kinan, iya dia ada dm di stagram ko. Katanya butuh 400pcs buat acara epicentrum. Gila ya? Aku bilang aja sanggup asal jangan mepet" jelas Hanifa.
"Hmm, emang bahan ready? Bukannya pesenan anak matematika yang minggu lalu aja kurang 50 ya?" tanyaku.
"Nah itu dia PRnya, kayanya kita harus belanja bahan sendiri deh kalau di pabrik kosong. Aku malah kepikiran bikin konveksi sendiri" kata Hanifa.
Setelah mendengar sarannya, kami berdua saling lirik seperti sudah mengerti satu sama lain.
"Oke!" jawabku.
Memang sudah saatnya kami punya konveksi sendiri, modal yang kami miliki memang belum seberapa. Tapi setelah ada campur tangan Papa Hanifa untuk membantu permodalan kami beberapa hari yang lalu, income kami jadi lebih banyak. Belum lagi Papanya juga memberikan kami banyak orderan untuk acara di kantornya.
Sekarang saja, kami mendapat hampir 1000 pesanan totebag untuk acara anniversary kantor Mamanya dan berbagai acara dari instansi terkait dengan Papanya.
Aku dan ketiga sahabatku hanya menjalankan. Kami sudah memiliki total 8 karyawan di rumah Hanifa dan 15 reseller kecil di lingkungan kampus.
Rasanya tidak menyangka bahwa bisnis bermodalkan dua juta rupiah ini bisa mencapai titik pesanan 1000 pcs lebih sekarang.
Benar kata pepatah "hasil tidak akan mengkhianati proses"....
Pemasukan bagiku dan ketiga sahabatku juga terbilang besar, keuntungan bersih kami setelah dibagi-bagi perbulannya bisa untuk uang jajan sehari-hari dan menabung untuk membayar uang semester nantinya.
Kami juga sudah merencanakan akan mengambil semester pendek di masa liburan ini, untuk mempercepat target mengejar sisa sks. Uangnya tentu dari hasil kerja kami masing-masing.
Aku yang menarik tabungannya dari mereka setiap harinya. Lumayan, untuk jaga-jaga kalau kami berempat ada kebutuhan mendadak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saatnya masuk kelas....
Mata kuliah yang akan kami pelajari saat ini adalah Astronomi 2. Kelanjutan dari mata kuliah astronomi dasar di tingkat awal. Dosennya adalah Pak Yana, ketua jurusan kami.
Sesaat sebelum kelas akan dimulai, Agung memberitahukan pengumuman kepada seisi kelas bahwa Pak Yana berhalangan hadir karena bentrok jadwal dengan seminar di pasca sarjana.
__ADS_1
Awalnya, aku tidak berfikiran bahwa kak Andreas akan menggantikan Pak Yana siang itu. Tapi, aku mencium wangi parfumnya beberapa detik setelah Agung selesai memberi pengumuman.
"Rain ahiw sapa tu" ledek Hanifa yang diikuti oleh teriakan teman-teman yang lain.
Aku melihatnya begitu berwibawa dan gagah saat dia duduk di kursi dosen.
"Kayanya aku ngerti deh, kenapa maru pada ngeceng dia" bisik Hanifa padaku.
Dia beranjak dan pandangan memburu ke seluruh sudut kelas.
"Oke kalian sudah tahu kan Pak Yana berhalangan hadir, sekarang tolong absennya dijalankan. Saya akan mulai memberikan materi" katanya.
Dia terlihat membuka laptopnya, dan menyambungkan kabel pembaca ke layar.
Saat layar desktopnya terlihat, teman-teman dikelas hampir saja gaduh. Mereka jelas-jelas menertawakan gambar dinding di laptop Andreas. Beruntungnya karena mereka sudah tahu watak Andreas, kebanyakan dari mereka mencoba menahan tawanya.
"R a i n a P r a m a d h i n i"
"Duh kenapa gambar desktopnya pas kebetulan nama aku sih" gerutuku.
"Hahahaha saking cintanya tuh rain" kata Hanifa.
Selama pembelajaran berlangsung, aku gagal fokus. Pikiranku malah bercabang kemana-mana. Aku tidak bisa sedetikpun mengalihkan pandanganku dari Andreas. Layar yang berisi materi dan gambar yang biasanya menarik minat belajarku, saat itu terkesan sangat biasa saja.
"Oke, ada yang ingin ditanyakan?" tanyanya saat pembelajaran sub satunya selesai.
"Kak, bakal ada praktikum gak buat astronomi dua?" tanya Robi.
"Hampir semua mata kuliah di semester enam ini terapan, kalian pasti butuh praktikum. Nanti diskusikan saja dengan Pak Yana. Jangan lupa banyak menabung karena pengeluaran semester ini akan sangat banyak" jelasnya.
"Kak, kenapa sih kita sampe harus belajar astronomi dua? Padahal kan ilmu kita dasarnya geografi, kayanya satu mata kuliah di tingkat awal aja sudah cukup" kata Agung.
"Itulah mengapa kalian perlu praktikum, untuk tahu di wilayah kajian mana kalian bekerja sebagai geograf meskipun kalian mempelajari bidang ilmu lain" jawabnya.
Aku terpesona dan bangga mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya setiap menjawab pertanyaan yang diajukan teman-teman dikelasku.
Waktu pembelajaran 2x45 menit menjadi terasa sebentar.
Setelah selesai, dia merapikan tasnya dan meminta Rima selaku sekertaris untuk mengumpulkan lembar absensi yang sudah selesai diisi itu.
Cara dia menandatangani lembaran absensi juga sangat keren. Matanya tetap fokus melihat Rima sementara tangannya bergerak diatas kertas.
Sekarang, aku banyak belajar dari caranya memperlakukan orang lain. Dia selalu membuat lawan bicaranya merasa dihargai.
"Udah sarapan?" tanyanya dengan suara pelan.
Aku menjawab "udah" dengan suara yang lebih pelan.
Hanifa yang melihat tingkah laku kami saat itu, tertawa dan meledek.
"Deuh yang selalu diperhatiin, sampe sarapan aja diingetin terus" ledeknya.
Aku beranjak keluar kelas untuk mengejarnya, tapi ternyata dia memang menungguku di samping pintu kelas.
"Aku ada kelas jam 2, sementara kamu udah beres kelas jam setengah 3 ya?" tanyanya.
"Iya, tapi aku tungguin kakak ko. Sekalian aku siaran juga sejam" jawabku.
"Oh iya bener, ini kan hari selasa ya? Jadwalnya radio kampus. Yaudah nanti kabar-kabarin aja ya" katanya.
"Iya, kakak semangat ya!" kataku.
"Senyumnya mana?" tanyanya.
Aku tersenyum sambil mencubit tangannya.
"Nah gitu dong, kalau udah liat kamu senyum semangat aku yang tadi turun jadi naik lagi" katanya.
"Hmm bisa aja, yaudah gih sana ke pasca sarjana. 15 menit lagi mulai loh" kataku.
"Yaudah bye baby" ledeknya sambil melambaikan tangan.
Baby? Panggilan macam apa? Hahahaha aneh banget. Wajahnya yang serius dan jutek itu, belum pantas kalau harus mengatakan kata-kata panggilan semanis baby.
"Rain, bilangin dong ke kak Iyas kala ngajar tuh senyum dikit gitu biar gak tegang" teriak Hasan.
"Iya rain hahaha, masih aja kaku" sahut Ega.
"Masukan diterima hahaha nanti aku sampein ya" kataku.
"Tapi gila ya kak Iyas dia pinter banget" kata Agung
__ADS_1
Setelah kelasku selesai, aku buru-buru ke ruang siaran di gedung REMA. Bulu kudukku sempat merinding saat melewati lorong gelap menuju ruang siaran.
Dulu sebelum masuk kampus ini, banyak cerita yang kudengar tentang keangkeran gedung REMA. Diantaranya di lorong dekat tangga naik menuju ruang siaran.
"Rain" teriak Irish yang juga terlihat ketakutan dibelakangku.
"Hahaha tetep ya padahal udah beberapa kali kesini, tapi masih aja takut sama lorong ini" kataku.
"Nanti mah kita janjian dibawah ah, barengan kesininya" katanya.
Setelah didalam ruang siaran, ada banyak sekali orang ternyata. Kebanyakan juga dari keluarga duta kampus dan beberapa dari REMA yang terlihat sedang berdiskusi.
"Eh rain, udah mau siaran?" tanya Genta salah seorang anggota REMA yang baru saja kukenal seminggu ini.
"Iya gen, kalian udah selesai?" tanyaku.
"Udah ko udah, silahkan dilanjut" jawabnya sambil meminta teman-temannya beranjak dari ruangan.
Aku dan Irishpun memulai siaran kami, tema hari itu adalah tentang hegemoni menyambut hari kemerdekaan. Aku sangat bersemangat saat menyuarakan banyak sekali pendapatku tentang kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya, saat aku mengajak semua teman-teman mahasiswaku untuk lebih mencintai produk dalam negeri. Aku bisa sambil mempromosikan karyaku. Irish juga memanfaatkan hal yang sama, dia mengajak semua orang mencintai negeri dengan jalan dan perjuangannya masing-masing.
......................
*Jika kamu merasa dengan kamu bersuara maka negerimu akan jadi lebih baik, maka bersuaralah!
Jangan takut tidak didengar, jangan lelah saat tidak digubris....
Semua adalah proses, yang semata-mata menempamu menjadi mahasiswa....
Kamulah harapan negri ini di masa depan....
Tanganmu yang akan mengetuk palu kebijakan untuk rakyat di masa yang akan datang....
Suaramu yang akan didengar saat terjadi ketidak adilan....
Perjuangan masih harus dilanjutkan kawan!
Merdeka*!
........................
Biasanya dalam rangka menyambut hari kemerdekaan, di banyak jurusan akan mengadakan acara lomba-lomba dan festival. Momen untuk mempererat tali persaudaraan dan memperluas jaringan pergaulan.
"Untuk info lebih lanjutnya, akan segera dibagikan lewat jejaring sosial rapus (radio kampus) so please pantengin terus ya! Selamat sore semuanya, sampai bertemu di siaran berikutnya" pungkasku.
Setelah selesai siaran, Irish dan aku pergi menuju gedung umum untuk membicarakan tentang kunjungan ke salah satu kampus di luar kota yang menurut jadwalnya akan diselenggarakan dalam waktu dekat.
Disana, kami berbicara langsung dengan salah satu dosen penanggung jawab untuk kegiatan duta kampus. Namanya Pak John.
"Dananya belum turun, nanti kalau dananya sudah turun mungkin keberangkatan kalian akan dipercepat dan kalian akan segera dikabari. Untuk saat ini, silahkan kalian melakukan pendaftaran saja untuk lomba debat dan menulis nasional" jelasnya.
"Baik pa" jawab kami.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah kegiatanku selesai, aku menelpon Andreas untuk menanyakan keberadaannya.
"Aku udah beres dari 15 menit yang lalu, ini otw gedung REMA. Kamu masih disana kan?" tanyanya.
"Gak, aku di gedung umum. Kakak tunggu aja tapi disitu, biar aku yang samperin" kataku.
Irish pamit terlebih dahulu karena ada jadwal ekskul. Sementara aku berjalan ke arah gedung REMA untuk menemui Andreas.
...........
Setelah itu, aku melihat mobilnya terparkir diparkiran samping dan langsung saja aku naik.
Dia terlihat tersenyum dan memuji siaranku. Katanya aku berhasil memecah belah konsentrasinya dikelas karena harus pintar-pintar menyembunyikan kecurangannya yang mendengarkan siaran sambil belajar.
"Nakal ah, bukannya fokus sama dosen malah dengerin aku siaran" kataku.
"Habis aku mau nanti kamu ada temen diskusi setelah siarannya selesai, jadi aku sekalian bisa ngasih saran dan masukan ke kamu" jelasnya.
"Iya juga sih, oh ya kak masa ya udah beberapa kali ke gedung REMA aku masih aja takut. Gak tahu kenapa hawanya beda aja selama di lorong itu, padahal didalem ruang siaran biasa aja tau" kataku.
"Aku pernah tuh dulu pas rapat REMA sampe subuh, digangguin di lorong itu. Dipanggil hey hey tapi pas aku tengok gak ada orangnya" jelasnya.
"Serius kak?" tanyaku.
"Serius, malah beberapa temen ada yang diliatin langsung sosoknya. Aku sih beruntung cuma denger suara-suara doang. Pokoknya kalau ada jadwal siaran malem atau apa, usahain jangan kosong pikirannya. Cari temen juga jangan sendirian" katanya.
__ADS_1
"Lah emang sosoknya kaya apa sih kata orang-orang yang udah pernah liat?" tanyaku.
"Sosok belanda gitu sih, katanya cantik dan suka nampakin iseng gitu. Tapi gak tau juga sih aku belum percaya kalau belum lihat langsung. Lagian cerita tentang gedung REMA tuh udah banyak banget versinya, jadi bingung aja itu cerita benernya yang mana" jelasnya.