Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Selembar kertas catatan Raina....


__ADS_3

Tibalah hari praktek pengamatan lapangan...


"Yas, mau pake motor gua apa motor lu kesana?" tanya Dhika.


"Motor gua aja! Lagian motor lu kurang enak dibawa nanjak" jawabku.


"Iya deh yang motornya selalu di service mah beda" jawab Dhika meledek.


Akupun memutuskan untuk berangkat menggunakan motor dengan Dhika, sementara Doni dan Lingga akan ikut di mobil rombongan mahasiswa baru.


Pagi-pagi sekali Pak dosen sudah memanggilku ke ruangannya, untuk briefing kegiatan di lapangan nanti selama pengamatan.


"Dhika dan Lingga jadi tim keliling ya, kalian harus lihat pos mereka setiap dua atau tiga jam sekali. Catat perkembangan juga, bapak juga sudah buat lembar soal buat dikerjakan secara berkelompok nanti tolong dibagikan...."


Pak Dosen sudah menceritakan semuanya secara rinci, kamipun menuju lobby untuk memberikan pengarahan kepada adik-adik kami..


"Yas, lu siap?" tanya Dhika sambil tertawa terbahak-bahak.


"Siap apa?" tanyaku balik.


"Lu gak mungkin gak tau kan kalo Raina satu kelompok sama Gian, dan lagi mereka satu tim jaga juga" jelas Dhika.


"Ya terus?" tanyaku.


"Ya gak terus-terusan juga lu bisa ngindar kan haha" ledek Dhika.


Sesampainya di lobby, aku mencoba meluruskan pandanganku untuk menghindari kontak mata dengan para adik tingkatku. "Andreas, lu cuma jadi kakak tingkat yang bantu dosen dan bantu adek-adek lu! Lu gak boleh berharap lebih!" kataku dalam hati.


Tanpa sadar aku menemukan Raina diantara barisan mahasiswa baru, dia memakai coats berwarna navy serta sneakers senada. Rambutnya masih basah dan tergerai, mungkin dia belum sempat mengeringkannya.


Sesekali dia menunduk dan malu ketika Dhika dengan sengajanya, menggoda dan tersenyum kearahnya sembari mengatakan "dede"..


Setahuku Dhika juga memiliki adik seumuran dengan Raina, tapi adiknya baru beberapa bulan ini meninggal karena kecelakaan. Adik Dhika bernama Dhinia. Anaknya ramah dan manis. Aku pernah bertemu dengannya ketika Dhinia dan kedua orang tuanya mengunjungi Dhika ke Bandung.


Belakangan ini Dhika jadi agak melantur seperti berniat menutupi kesedihan hatinya. Aku mengenal sekali sahabatku yang satu ini, dia akan menjadi lebih ekspresif ketika dia bersedih. Pantas saja setiap kali melihat Raina, Dhika akan bersemangat dan tertawa-tawa kegirangan. Mungkin karena Dhika merindukan Dhinia.


"Gue kangen adek gue yas, si Raina ini diliat-liat hampir mirip nia (panggilan untuk adiknya) ya sama-sama pendiem tapi juga manis" bisik Dhika sambil menyenggol sikutku.


"Haha lu sabar ya! Adek lu udah tenang disana.." jawabku.


"Lu jangan salah sangka ya, gue cuma anggep Raina sama kaya yang lain cuma ya karena gue seperti dapef gambaran hidup adik gue aja di diri Raina" jelas Dhika.


"Santai" jawabku singkat.


Beberapa menit kemudian .....


Aku dan Dhika berangkat duluan, karena harus sampai di tempat lebih dulu untuk menetapkan pos-pos pengamatan bagi mahasiswa nantinya.


Aku memacu motorku cukup cepat dari biasanya. Dhika sesekali mengingatkan agar aku mengontrol kecepatanku, takutnya di belakang mahasiswa baru melihat dan menyangka kami tukang ugal-ugalan.


"Iya Dhik haha tenang!" kataku.

__ADS_1


Ternyata di jalan, aku berpapasan dengan Gian dan Raina. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan bersahabat. "Maklum pasangan baru" pikirku.


Raina terlihat nyaman berada didekat Gian, begitupun Gian yang reliable dan pantas berada disisi Raina.


"Sepertinya aku harus tahu diri" gumamku.


Akupun sebisa mungkin menghindari mereka dan dengan cepatnya memacu motorku mendahului mereka.


"Lu lagi-lagi ngehindarin Raina? Lu bilang Raina yang ngehindarin lu, tapi dari pandangan gue justru lu yang ngehindarin dia. Kenapa lu?" teriak Dhika.


"Gue? Nggak kenapa-kenapa. Gue emang kaya gini" jawabku.


"Lu masih aja sama yas, lu naif!" sahut Dhika.


Sebenarnya aku risih melihat Raina dengan Gian semakin akrab, tapi ya mau bagaimana lagi? Kalau mereka faktanya memang sudah berpacaran.


Sesampainya di tempat...


"Yas, menurut lu Raina anak yang kek gitu?" tanya Dhika saat kami berdua sedang menentukan titik pos-pos pengamatan.


"Lu bisa gak profesional? Kita kan lagi kerja lu jangan bahas yang gak penting dulu lah.." jawabku kesal


"Wey oke bosque maaf!" jawab Dhika seperti menyadari ketidaknyamananku.


"Sorry dhik cuma gua gak biasa aja kalo lagi mikir gini, harus mikirin yang lain hahaha sorry ya!"...jawabku


"Its ok yas!" jawab Dhika.


Kalau maksud dari pertanyaan Dhika adalah tentang hubungan Raina dengan Gian, aku tidak mau membahasanya lebih jauh. Menurutku, dari jawaban Raina waktu itu saja sudah cukup jelas. Mereka memang sudah dekat dari dulu, dari saat studi keagamaan dan belum lagi waktu Raina pulang hampir tengah malam. Di tempat parkir yang sama, aku juga melihat Gian.


Setelah selesai menentukan titik, aku dan Dhika kembali ke basecamp. Disana aku, Dhika, Doni dan Lingga sengaja berbaur dengan mahasiswa baru untuk lebih dekat dengan mereka. Karena, sebentar lagi mereka akan jadi bagian dalam organisasi Bem.


Dari banyaknya maru, aku lihat ada Raina juga. Dia masih terlihat bersinar diantara anak-anak kelasnya. Mau bagaimanapun menurut Dhika, Raina tetap manis. Aku hanya mengangguk saja setiap kali Dhika memuji Raina.


"Dhik lu kayanya emang bener-bener kangen adek lu" kataku.


Ekspresi Dhika menjadi muram dan sedih. Aku lalu menepuk-nepuk punggungnya sebagai tanda penguatanku sebagai sahabatnya.


Lingga dan Doni meminta kami untuk mengumpulkan buku catatan kelompok masing-masing untuk diberikan lembar tugas dan pengecekkan tabel manual yang sudah mereka buat. Akhirnya, aku yang mengambil inisiatif untuk mengumpulkannya.


Beberapa menit kemudian...


Semua buku catatan mereka sudah ada di tanganku. Lingga lalu memintaku menempelkan lembar tugas dan memeriksanya satu persatu.


"Lu ngerjain ini aja yas, soalnya gue sama Doni mau nunjukin pos-pos ke mereka sementara Dhika harus nemenin Pak Dosen. Lu kan tadi udah cape duluan nentuin titik, jadi sekarang lu yang ringan aja" kata Lingga.


"Serius gapapa?" tanyaku agak tidak enak karena yang lain mendapat porsi kerja lebih banyak.


"Iya gapapa lu kalo cape tidur aja bentar tu kantung mata masih keliatan gitu hahaha" jawab mereka bertiga secara bergantian sambil meledek


Akhirnya aku diminta menunggu di ruangan yang menjadi ruang istirahat Pak Dosen, sementara maru yang bertugas jadi tim satu bergerak menuju pos-pos pengamatan dan sisanya menunggu di basecamp.

__ADS_1


Buku catatan kelompok Raina yang pertama kuperiksa, sampul bukunya seperti bekas kalender yang dibalik. Nama belakang Raina ternyata Pramadini.. "Wah ada mirip-miripnya sama adeknya Dhika pantes dia seneng banget sama Raina" batinku.


Buku yang dikumpulkan Raina ternyata buku catatan kaderisasinya. Ada biodata dan foto semasa SMAnya ditempel dihalaman paling depan.


"Polos mukanya" pikirku.


Foto SMA Raina masih wajah khasnya yang sekarang, belum ada yang berubah. Mungkin karena Raina juga tidak pernah berdandan seperti kebanyakan mahasiswi di kelasnya, jadi Raina masih terlihat seperti anak-anak.


"Hobiku membaca novel, aku suka menonton anime terutama Naruto dan One piece. Aku suka bernyanyi. Cita-citaku jadi Menteri Pariwisata"


Begitu sekilas biodata Raina yang aku baca barusan. Ketika aku selesai membaca, lalu aku membuka halaman berikutnya untuk menempelkan lembar soal dan intruksi pengamatan.


Saat aku hendak menaruh buku Raina, tiba-tiba ada selembar kertas yang menonjol keluar. "Ah sepertinya aku gak bener nempelin lembarnya" pikirku.


Akupun membuka lembar tersebut dan menemukan ujung atas halamannya seperti sudah disobek dengan sengaja tapi belum lepas semua.


"Oh ini catatannya Raina ternyata bukan lembar tugas" gumamku.


Mataku penasaran tentang apa yang tertulis di halaman itu. Akhirnya, aku menemukan kejanggalan diantara bait-baitnya.


*Kak, hari ini kita ketemu lagi....


Ditempat yang sama...


Dikampus yang sama...


Tapi kenapa rasanya berbeda?


Kenapa kakak terasa jauh?


Kenapa kakak terasa asing?


Kenapa ada jarak semenjulang ini diantara kita?


Aku bahkan lupa tatapan mata Kakak...


Aku lupa cara Kakak nyapa aku pertama kali...


Kak, sehat-sehat ya! Sepertinya hari ini kakak sakit..


Kantung mata kakak keliatan jelas...


Senyum kakak juga ilang gatau kemana...


Kak... Semangat!!!!


Bandung....di hari Praktikum...*


"Siapa kakak yang dimaksud Raina disini? Siapa orang yang berjarak dan berkantung mata? Siapa yang buat Raina merasa dia asing?" pikirku.


Berulang kali kubaca catatan itu, aku masih penasaran dengan sosok yang dimaksud Raina. Aku mengingat-ingat kejadian saat pertama kali kami bertemu di kampus. Saat itu aku dan Raina juga bertemy di lobby. Aku juga selalu menyapanya duluan, dimana aku tidak melakukannya kepada mahasiswa baru yang lain. Yaa... Hanya pada Raina saja... Kuambil hapeku dan aku berkaca disana.

__ADS_1


"Aku kantung mataan? Ini beneran aku yang dimaksud Raina? Raina ngerasa aku jaga jarak sama dia?"....


De... kamu respon aku?....


__ADS_2