
Aku segera pamit dari mereka dan bilang pada Gian "Yaudah nanti kita ngobrol lagi ya?" pada Gian seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal dari tadi kami jelas memamerkan kedekatan dengan Raina satu sama lain, tapi kurang etis rasanya kalau Raina tahu hal ini. Jadi, mungkin Gian juga tidak akan menceritakan apapun pada Raina termasuk catatan kecil temuanku.
Lingga dan Doni meminta aku dan Dhika untuk beristirahat dan kembali berjaga mulai pukul 5 pagi.
"Lu sama Dhika istirahat aja, gue jaga malam pertama ya sama Doni nanti kita switching jam 5 ya?" kata Lingga.
Akupun mengambil waktu istirahatku untuk berdiam diri di pinggiran danau yang kering. Menikmati suasana malam yang memukau. Langit yang bersih tanpa bintang, seolah kehilangan cahayanya. Wajar sih, ini musim hujan juga. Jarang sekali bintang bisa terlihat dari permukaan bumi.
Aku merindukan Ibuku... Mengingat masa kecilku yang kuhabiskan di Palembang dengan kedua orang tuaku.. Membayangkan Ayah yang selalu mengantarku pagi-pagi buta menuju sekolahku yang letaknya agak jauh..
Langit masih gelap, tapi Ayah sudah pergi ke surau untuk berjamaah. Ayah selalu mengajakku kesana, katanya harus terbiasa bangun pagi supaya memberikan teladan yang baik kepada istri dan anak kelak.
"Nanti, kamu akan paham bagaimana caranya terlihat berkesan didepan orang yang kamu suka... Seperti Ayah dulu saat mendekati Ibu, Ibu adalah cinta pertama Ayah semasa kuliah dan Ayahpun ternyata cinta pertama bagi Ibu." cerita Ayah.
Aku selalu memfavoritkan semua cerita Ayah dan Ibu. Tentang apapun bagiku selalu menarik.
"Yah, iyas disini sekarang sudah dewasa loh... Yas sudah merasakan apa yang Ayah rasakan dulu ke Ibu"...
Akupun mengantuk dan akhirnya memilih untuk masuk ke basecamp. Menggelang sleeping bagku dan terlelap.
Keesokan Paginya ....
Aku bangun jam 4 shubuh karena ini jadwal aku untuk berkeliling pos-pos pengamatan.
"Dhik...Dhik... Bangun!!!" kataku pada Dhika yang entah kapan sudah tidur disebelahku.
"Jam berapa sih yas sekarang?" tanya Dhika sembari mengucek-ngucek matanya.
"Jam 4, gue mandi duluan ya?" kataku sambil bersiap untuk mandi.
Seingatku Raina berjaga dari pukul 2 pagi hingga pukul 6, jadi aku masih bisa mengontrol posnya sekali lagi.
Sehabis bersiap-siap, aku dan Dhika pun berjalan kaki menuju pos-pos terdekat karena udara yang dingin sekali membuatku dan Dhika harus memanaskan diri dengan beraktivitas.
Pos demi pos pertama pun berhasil kulalui, rasanya aku semakin sehat saat itu meski seringkali jika aku melakukan jalan jauh pasti kakiku selalu ada masalah kram atau kesemutan. Tapi, akhir-akhir ini gejalanya berkurang. Mungkin karena selalu ku biasakan berlari di akhir pekan, untuk menjaga kekuatan otot kakiku.
Sampailah aku dan Dhika di pos Raina tepat pukul 5,30 pagi. Dhika dengan enaknya langsung minta sarapan pada tim konsumsi yang kebetulan lewat didepan pos Raina. Sementara aku, melihat dengan seksama wajah Raina yang sangat kelelahan.
__ADS_1
"Dede ngantuk?" tanya Dhika dengan gaya sok imutnya.
"Hmm iya kak, cape hahaha" jawab Raina sambil tersenyum.
"Kak, makan disini aja dulu tuh disana ada saung yang lebih gede. Kita kesana yu?" ajak Raina pada aku dan Dhika.
Sepertinya sih dari respon Raina yang biasa saja begini, mungkin Gian tidak menceritakan apapun padanya. Baik tentang keisenganku atau tentang catatan itu.
"Ayok" jawab Dhika.
"Kalian makan aja duluan, aku jaga pos soalnya bentar lagi giliran ketok buat nulis suhunya" kata Gian.
"Eh barengan aja sih Gian nanti kan kita tinggal lari bentar kesini kalo alarmnya bunyi" kata Raina.
"Udah gapapa makan duluan aja gih, lagian aku kan barusan udah makan roti juga jadi masih belum lapar banget" kata Gian meyakinkan.
Aku, Dhika dan Raina pun menyebrangi jalan setapak yang membentangi sawah-sawah penduduk didekat pos pengamatan. Dhika berjalan paling depan diikuti oleh Raina, sementara aku berjalan paling belakang.
Tiba-tiba Raina kehilangan keseimbangannya saat berjalan. Aku lalu menarik tangan Raina supaya kakinya tidak terperosok ke genangan air sawah.
"Hati hati de!" kataku.
Tangan kami sekarang berpegangan cukup erat, aku sengaja tidak melepaskan tangan Raina karena khawatir Raina akan jatuh lagi ke genangan air.
"Kakak boleh lepasin tangan Kakak ko" katanya dengan ekspresi malu-malu.
"Nanti aku lepas kalo kita udah sampe diujung" kataku.
Entah kejadian macam apa itu, entah keberanian darimana yang aku dapat hingga aku berani memegang tangan Raina untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama.
"Duh bentar kram" teriakku.
Baru saja aku memuji kondisi kakiku, nyatanya dia malah kambuh disaat yang tidak tepat. Dhika buru-buru berbalik dan menanyakan kondisiku.
"Kenapa kaki lu kambuh?" tanyanya.
"Iya nih kramnya ternyata masih ada" jawabku sambil mencoba mengambil posisi duduk.
"Sini-sini tasnya aku yang gendong, kakak duduk aja" kata Raina sambil mengambil tas gendongku.
__ADS_1
Akupun duduk dan meluruskan kakiku diantara jalanan setapak yang agak basah.
"Kak, kita ke saung aja yu? Kakak jadi enak selonjorannya" kata Raina.
"Susah dede gemesh, dia kan lagi kram" jawab Dhika keheranan.
"Ka Dhika gendong dong lagian dikit lagi ini" jawab Raina lagi.
Dhika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Raina barusan.
"Ayo kak, aku papah kesana" tiba-tiba Raina mengambil posisi seolah mengizinkan tanganku bergantung pada bahunya.
"Kak Dhika bantuin dong" teriak Raina sambil membentak Dhika yang asyik makan jeruk dari box nasi konsumsi.
"Iya iya galak bener mentang-mentang cantik" gerutu Dhika.
Saat aku sudah berhasil duduk di warung, Raina memintaku untuk membuka sepatu.
"Kak, buka sepatunya! Aku mau pijit kaki kakak" katanya sambil berekspresi sangat menarik.
"Mau ngapain? Emang kamu bisa nyembuhin kaki yang kram? Udah gapapa nanti juga aku sembuh ko" kataku sambil merasakan sedikit penyesalan karena malah menolak tawaran Raina.
"Ih kakak, aku pernah diajarin Pandu tau pas di gunung. Bahkan aku lebih paham penanganan pada kaki kram, tangan keseleo atau keram otot dan lainnya.
Raina pun secara paksa membuka sepatu yang masih menempel di kakiku.
"Susah amat sih, kalo takut diurut bilang dong" gerutuku dalam hati.
Perlahan Rainapun meletakan tangannya diatas kakiku yang kram. Raina juga mengeluarkan minyak aromatherapy yang ada di saku celananya.
"Kalo sakit bilang ya?" tanyanya.
"Awas ya jangan ngasal!" teriakku.
Rainapun memijit-mijit tumit kakiku, mengurutnya pelan-pelan dengan tujuan menghilangkan rasa kramnya.
"Ototnya tegang nih wah, kakak pernah dijahit juga ya?" teriak Raina.
"Hmmm iya" jawabku singkat.
__ADS_1