
Selama perjalanan....
"Karena terlalu gak karuan kemarin, aku jadi lupa mau cerita ke kalian. Kemarin pas aku nunggu kalian dagang kan aku diem dikelas tuh sendirian, aku sempet denger Rani sama Kayi berantem gak tau masalahin apa cuma kayanya sih selisih paham gara-gara proposal" jelasku..
"Berantem? mereka yang kaya ulet bulu sama daun pisang bisa berantem?" tanya Nunu.
"Serius, berantem gedelah sampe si Rani bantingin pintu terus si masuk ke kelas dengan muka berantakan. Eh yah si Kayi nuduh aku nguping? terus nanya gini "kenapa Rain, kamu bukannya seneng ya liat aku berantem sama Rani?" terus aku jawab aja kenapa aku harus seneng" jelasku.
"Wah, terus dia nanya apalagi?" tanya Hanifa.
Dia nanya "kenapa sih aku gak nunjukin diri aku yang sebenarnya dihadapan semua orang? kenapa aku masih sok baik? terus aku jawab kenapa kamu nanyain itu ke aku? bukannya kamu lebih jago nilai diri aku dari orang lain harusnya sih kamu bisa jawab sendiri"...
"Asli keren jawaban kamu rain, terus-terus?" tanya Hanifa.
"Yaudah aku pergi aja sambil aku kerasin pas nutup pintunya" jelasku.
"Keren!!! Raina banyak kemajuan ya semenjak main sama kita" ledek Arika.
"Belajar dari mana Rain? ko jago banget sekarang balikin omongan Kayi sama Rani" tanya Hanifa.
"Belajar dari kalian, soalnya aku gak mau dibilang sembunyi di ketiak kalian terus" jawabku.
"Hmmmm, sweet banget sih Rain hahaha padahal ya justru aku kadang syirik sama kamu. Kenapa bisa kamu selalu santai dan bisa kontrol emosi setiap diomongin gak bener. Kenapa kamu selalu bisa tenang? dan tetep peduli sama orang yang jelas-jelas jahat sama kamu?" kata Nunu dengan nada serius.
"Betul tuh Nu, gue juga kadang mikir ini anak makannya apa bisa sabar dan positif thinking terus sama orang? makanya gue banyak belajar dan makin sering ngaca dari Raina" jelas Arika.
"Kita sepemikiran, gue nih yah awal deket sama Raina berasa dia tuh kebalikan gue banget. Dia kalem, tenang, gak grasak grusuk, dari sisi manapun gue berasa dia tuh gak ada cacatnya" tambah Hanifa.
"Apaan sih kalian berlebihan" jawabku.
"Beneran Rain, kadang ya aku mikir emang kamu cocoknya cuma sama kak Andreas karena ya kalian emang melengkapi satu sama lain. Andreas yang sebegitu dinginnya cuma luluh sama kamu ya karena emang kalian cocok" jelas Nunu.
"Iya nu, hahaha mereka tuh ibarat air sama api yang katanya gak bisa nyatu tapi ternyata bisa nyatu ya?" tambah Arika.
"Pokoknya Rain, kamu jangan berubah ya? kamu tuh ibarat penyejuk diantara kita" kata Hanifa.
"Udah ah sedih tau gak sih kita ngomong kaya gini" kata Nunu sambil menangis.
"Euh cengeng lu, kita kaya gini tuh biar persahabatan kita makin kuat dan makin kenal satu sama lainnya" ledek Arika.
Setelah membeli oleh-oleh ....
.
.
.
"Rain tadi hape kamu bunyi, ada yang nelpon namanya Fasya" kata Nunu.
"Hah? Fasya? kenapa gak kamu angkat nu? haha padahal angkat aja Fasya ini" jawabku.
Akupun mencoba menelpon Fasya, karena takut ada hal penting.
"Raina, dimana? aku di fakultas kamu nih. Pulang bareng yu? kaki kamu masih sakit kan?" kata Fasya.
"Duh maaf sya, aku udah bubaran dari jam 1. Ini udah dijalan mau ke Tangerang" jawabku.
"Ke Tangerang? mau ke siapa?" tanya Fasya.
"Mau jenguk..... tututtttttttutttt
"Halo Sya... sya... dih malah ditutup" gerutuku.
Fasya menutup teleponnya padahal aku belum selesai menjawab pertanyaannya.
"si Fasya mau nganterin kamu pulang?" tanya Hanifa.
"Iya haha dia udah nunggu depan fakultas kita malah, baik ya?" jawabku.
"Itu sih, patut dicurigai" kata Nunu.
"Dicurigai? maksudnya?" tanyaku keheranan.
"Ya emang kamu gak aneh, dia sampe mau jemputin kamu tiap hari. Belum lagi dia ngajakin kamu ke toko buku, beliin kamu novel lah apalah. Aneh kan?" jelas Nunu.
"Baru gue mau bilang Nu sama Raina, gue juga aneh loh waktu Raina diajakin ke toko buku katanya kan dia dapet voucher tuh nah karena gue kebetulan punya temen yang kerja disana gue tanyain tuh emangnya ada voucher awal bulan? terus temen gue bilang gak ada" jelas Arika.
"Nah sekarang aku tanya sama kamu Rain, waktu dia bayar novel kalian dia emang bawa voucher?" tanya Hanifa.
"Gak tau tapi seingat aku, dia bayar pake debit ko" jawabku.
"Tuhkan, kalau dia dapet voucher diskon pasti dia liatin smsnya kan ke kasir? atau dia liatin potongan vouchernya gitu. Ini malah bayar pake debit" jelas Hanifa.
"Iya fa, bener aneh tuh. Fasya pernah tiba-tiba depan rumah kamu gak? terus dia bilang alasannya gak sengaja lewat terus tiba-tiba dia ngajak makan atau apa gitu?" tanya Nunu.
"Pernah, dua kalian lah aku papasan sama dia depan rumah terus abis itu dia ngajak beli baso dan.....
"Ah udahlah itu pdkt gaya lama intinya, ketebak banget sih kalau dia deketin kamu Rain" kata Hanifa.
__ADS_1
"Masa sih? dia kan cuma kebetulan sekomplek sama aku terus dia mau nganter jemput aku kerumah karena biar punya temen ngobrol dijalan doang secara kan rumah kita jauh jaraknya ke kampus" jelasku.
"Udahlah, kalian kaya gak tau Raina aja. Dia mana mau percaya sama hal yang belum dia rasain dan dia liat langsung. Dulu aja sama Andreas kalau bukan kita yang mancing, dia mana sadar?" kata Nunu.
"Iyahaha, udahlah jangan ngomongin Fasya dulu hahaha ntar ketahuan kak Andreas sama kak Dhika berabe lagi" kata Hanifa.
Aku mencoba menjelaskan pada mereka, bahwa aku benar-benar hanya menganggap Fasya sebagai temanku. Tapi ketiga sahabatku tetap yakin kalau Fasya punya perasaan terhadapku.
Padahal sudah jelas, Fasya sempat bilang kalau dia punya kecengan seseorang yang sefakultas denganku.
Selama perjalanan, kami hanya bercerita pengalaman satu sama lain sambil bergantian tidur karena kelelahan dan terjebak macet.
.
.
.
Beberapa jam kemudian....
"Udah mau sampe nih, Rain touch up dulu lu juga fa" kata Nunu.
"Touch up? kita kan cuma mau kerumah sakit. Lu gila kali kerumah sakit tuh maskeran bukan dandan" jawab Hanifa.
"Iya nih nu, aneh kamu" jawabku ikut-ikutan Hanifa.
"Tapi lu pada kan mau ketemu ceum-ceuman, ya lu harus menarik dikit lah. Ga buluk kaya sekarang tuh, muka udah kaya kertas bekas gorengan" ledek Nunu.
"Parah lu Nu, bilang kulit muka Hanifa sama Raina kaya bekas gorengan. Mentang-mentang kulit lu flawless huuu" balik Arika meledek.
Aku dan Hanifapun langsung melirik satu sama lain dan menyadari betapa berantakannya kami berdua saat itu.
"Oke rain, kita touch up!" teriak Hanifa sambil memberikan tissue basah kepadaku.
Setelah sampai didepan rumah sakit, aku menelpon kak Dhika dan memintanya memberi tahu kami ruangan tempat Andreas dirawat.
"Udah nyampe mana kalian?" tanya kak Dhika.
"Di parkiran rumah sakit" jawabku.
"Cepet banget? si Hanifa ngebut ya?" tanya Kak Dhika.
Hanifa mengirimkan sinyal padaku, supaya aku tidak bilang bahwa dia ngebut.
"Hmm enggak enggak, Arika yang ngebut hahaha. Udah ih kasih tau ruangannya, awas ya kakak jangan berisik ke kak Andreas" kataku.
"Iya, di ruangan Anggrek nomor 2" jawabnya.
"Udah yu masuk katanya dia ada di Anggrek nomor 2" ajakku.
Nunu beberapa kali menyemprotkan minyak wanginya ke bajuku, katanya biar aku wangi dan segar saat bertemu Andreas.
"Ih nu kalau banyak banget begini ntar kak Andreas malah illfeel" kata Hanifa.
"Enak aja minyak wangi gue kan wanginya kalem, kak Andreas pasti suka" jawab Nunu dengan percaya dirinya.
Sesampainya di depan ruangan kak Andreas...
"Aduh bentar deh, ko aku degdegan ya?" kataku.
"Tenang Rain, kamu cukup bersikap senormal mungkin" kata Hanifa.
Akhirnya, pintu ruanganpun terbuka dan aku mencoba memberanikan diri untuk masuk keruangan tempat Andreas dirawat.
"Tuh yas, putri tidur lu dateng tuh" ledek kak Dhika.
Aku langsung melihat-lihat sekujur badan Andreas. Aku membuka selimut yang menutupi badannya untuk memastikan tidak ada luka lagi yang dia sembunyikan.
"Udah dek, aku beneran cuma sakit disini doang" katanya sambil menahan tanganku.
"Dimana dimana sakitnya?" tanyaku panik.
"Disini" jawabnya sambil menunjuk dadanya.
"Emangnya dada kakak kebentur juga? sakit banget ya?" tanyaku.
"Bukan kebentur, dia sakit didada karna terlalu nahan kangen ke kamu" ledek kak Dhika.
Aku memukul kak Dhika dan meminta Hanifa memukulnya juga karena ledekannya yang menyebalkan itu.
"Kak gimana keadaannya? Raina nangis tau kak, pas ditelpon sama temen kantor kakak" tanya Nunu.
"Iya kak, sampe gak mau diajak makan. Padahal dia juga sakit abis keserempet motor dan sakit perut karena masih bandel makan mie" kata Hanifa.
"Ihhh pada gak bisa jaga rahasia banget sih?" gerutuku.
"Abis bandel sih, makan ramen terus dikira kita gak tau kali ya? tiap hari ngeluhnya sakit perutlah susah makanlah" tambah Arika memperjelas.
"Bener-bener kamu ya? udah sempet dikasih obat dibawa ke dokter juga masih aja bandel makan ramen. Mana liat sikut kamu sama kaki kamu yang luka?" tanya Andreas yang langsung bangun dari posisi tidurnya.
__ADS_1
"Ih Kakak, gak apa-apa udah agak kering ko lukanya. Cuma ya masih kaku jalannya" jawabnya.
"Terus yang bantuin kamu pas kamu keserempet siapa? kamu dianterin ke kampus sama siapa?" tanya Andreas.
"Sama Fas.....
"Sama aku kak, iya sama aku. Aku langsung jemput ke TKP pas Raina telpon aku. Beneran deh, aku yang jemput dia" kata Hanifa memotong jawabanku.
"Oh, makasih ya Fa, Nu, Ka kalian jagain terus Raina. Kalian bener-bener sahabat yang baik" kata Andreas yang disambut oleh senyuman ketiga sahabatku.
Saat itu, aku heran kenapa Hanifa menyela omonganku dan malah harus berbohong segala ke Andreas.
"Yah kak, kalau makasih doang mah gak cukup. Bisa kali kita ditraktir sama staff BMKG hahaha" kata Nunu.
"Iya-iya, besok pas kakak keluar dari rumah sakit kakak traktir kalian deh kalian mau nginep di hotel? apa gimana?" tanya Andreas.
"Bukannya kamu mau jenguk Nenek kamu yang?" tanya kak Dhika sambil menatap Hanifa.
"Iya kak, mau nginep dirumah Nenek juga rencananya sama mereka. Tapi gatau deh, mereka mau apa enggak" jawab Hanifa.
"Mau ko fa, aku ikut nginep di rumah Nenek kamu ko. Gapapa kan kak?" kataku meminta izin pada Andreas.
"Yey jangan lah, kamu harus nemenin pacar kamu disini. Sekarang biar kakak yang nginep dirumah Nenek Hanifa. Boleh kan yang?" tanya kak Dhika.
"Yah nu, alamat kita jadi obat nyamuk nih disana" keluh Arika.
"Sabar ya rik, ada gue ko disisi lu" jawab Nunu pasrah.
Tak lama, ka Dhika dan ketiga sahabatkupun pamit untuk pergi kerumah Nenek Hanifa yang letaknya sekitar 7km menurut maps dari rumah sakit tempat Andreas dirawat.
Akhirnya, hanya tinggal kami berdua diruangan sekarang.
Setelah ruangan sepi dan sunyi, aku jadi agak canggung. Rasanya seperti salah tingkah. Mau menatap ke arah manapun, rasanya salah.
"Dek, gapapa malem ini kamu tidur dirumah sakit?" tanya Andreas.
"Gapapa kak, aku juga emang udah niat mau nginep jagain kakak disini" jawabku.
"Deketan dong sini duduknya, kangen tau" katanya sambil menarik kursiku.
Aku mendekatkan diriku kearahnya, hingga akhirnya dia beranjak dan memelukku dengan eratnya.
"Aku khawatir banget sama kamu, rasanya pas denger kamu keserempet jadi gak karuan. Kalau aku gak lagi dirawat, mungkin aku udah nyusulin kamu ke Bandung" katanya sambil mengelus rambutku.
"Aku lebih khawatir sama kakak, aku bener-bener gak tau harus gimana pas denger kakak sampe masuk rumah sakit" jawabku.
"Makasih ya udah jauh-jauh kesini, oya kamu udah makan belum? kita delivery ya?" tanyanya.
"Aku belum laper, terus aku bawa tiramisu kesukaan kakak. Mau dimakan sekarang?" tanyaku.
"Boleh, potongin dan suapin sekalian ya?" pintanya sambil tersenyum.
Saat sedang makan kue, Dokter yang menangani Andreas masuk ke ruangan.
"Gimana udah gak pusing?" tanya Dokter.
"Udah gak dok, udah sehat besok jadi siap deh pulang" jawabnya.
"Loh ko, jadi perempuan yang nungguin perasaan tadi cowok ganteng?" tanya Dokter.
"Hmm ini pacar saya dok, baru datang dari Bandung" jelasnya.
"Oh lebih cepet dong ya sembuhnya?" kata Dokter sambil memeriksa Andreas.
"Dok, gak ada cedera serius kan? kepalanya gimana?" tanyaku.
"Gak ada yang serius ko cantik, semuanya memar biasa. Cuma perban di kepalanya tetep harus diganti sehari dua atau tiga kali ya" jelas Dokter..
.
.
.
.
Malam pun tiba...
"Iya kak, aku aja gak nyangka loh masih bisa dapet 16 surat cinta haha padahal aku kan jarang masuk kelas maru. Palingan beberapa kali gantiin Hasan atau Roby kalau mereka berhalangan buat cek maru tiap kamis" jelasku.
"Hahaha itu berarti mereka bener-bener ngincer kamu buktinya sampe ada yang tau stagram dan twitter kamu kan?"
"Iya banyak sih kalo yang add terus ujung-ujungnya minta follback haha, sampe pernah loh ada yang nyapa aku terus pas aku balik nyapa dia jingkrak-jingkrakan gitu lucu deh ka maru tahun ini" ceritaku.
Andreas tertawa dan sesekali memperlihatkan ekspresi cemburunya pada ceritaku.
"Sini tidur sebelah aku" katanya sambil menunjuk ke tempat sempit di ranjangnya.
"Gak mau, ntar kalau ada suster atau dokter masuk gimana?" kataku.
__ADS_1
"Ya gapapa, orang kamu cuma tidur juga. Lagian ini kan VIP bebaslah mau ngapain aja" jawabnya.
"Gak mau ah, aku tidur di sofa pokoknya" jawabku.