
Hari terakhir kurlap...
Perasaanku saat itu mulai tidak enak, entah kenapa pagi-pagi sekali sebelum sarapan dan berangkat ke lokasi kajian terakhir, Ayah dan Ibu menelponku memintaku untuk berhati-hati di perjalanan dan jangan lupa berdoa.
Maklumlah, lokasi terakhir yang kami datangi adalah sebuah wilayah yang terkenal sebagai daerah yang sepi dan penuh dengan mitos. Kedengarannya agak aneh memang, bagaimana mahasiswa yang dikenal terbuka dan modern masih mengunjungi tempat begituan. Tapi, alasan kami sangat logis yakni karena daerah tersebut memiliki tempat yang luas dan ada cagar alamnya.
Nama daerahnya yaitu Leuweung Sancang. Disana terdapat salah satu cagar alam dan hutan konservasi yang bertaraf Internasional namun belum tersentuh oleh fasilitas pariwisata secara baik. Cagar alam seluas sekitar 2913 ha dan memiliki sekitar 9 polisi hutan itu terdengar menarik untuk diteliti.
Dihutan ini juga terkenal dengan sebuah cerita mitos dan legenda tentang kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Di Sancanglah Prabu dikabarkan menghilang bak ditelan bumi.
Kami berjalan menuruni anak demi anak tangga, sesaat setelah memasuki kawasan cagar alam tersebut. Di akhir anak tangga, terdapat sebuah makam ziarah dan bunga Rafflesia Patma, meranti merah dan yang terakhir yang paling menarik perhatian adalah owa jawa yang merupakan salah satu primata yang terdapat di Leuweung Sancang ini.
Disana juga terdapat sebuah curug/air terjun yang dimana untuk menuju kesana kami harus menyebrangi sungai yang cukup lebar dengan menggunakan getek.
Dosen kami tidak mengizinkan kami kesana, beliau hanya meminta kami fokus di sekitaran cagar alam dan menuliskan tumbuhan serta hewan yang muncul di hutan.
Hutan tersebut dibagi menjadi 3 jenis, yaitu hutan dataran rendah, hutan mangrove, dan cagar alam pantai atau hutan pantai. Leuweung sancang sebenarnya hutan yang masih alami, dengan kualitas air dari hutan pantai yang masih bersih disertai pepohonan yang cukup lebat.
Ini hal baru yang kutemui dan sangat menarik untuk kusimpan dalam kenangan bahkan bisa kuceritakan pada anak cucuku kelak.
"Rain, udah beres?" tanya Hanifa.
"Udah nih, boleh ambil sampel gak sih?" sahutku.
"Gaboleh rain, jangan ngambil sampel ya?" sahut Gian menghentikanku.
"Hahaha enggak ko, bercanda hahaha" kataku.
Setelah selesai melakukan tugas, kamipun kembali kedalam bis masing-masing.
"Nanti kita mampir ke toko oleh-oleh dulu ya kalian bisa belanja disana dalam waktu 1 jam gak kurang gak lebih setelah itu kita pulang karena ngejar waktu sampe di kampus sebelum jam 9 malam" teriak Gian memberitahu kami.
"Toko oleh-olehnya jauh kan dari sini?" teriak temanku yang lain.
"Iya masih sejam dari sini" jawab Gian.
Aku cukup kelelahan karena tracking lumayan jauh di cagar alam tadi, akhirnya tanpa sadar aku terlelap tidur.
Selang beberapa lama, kemudian aku terbangun dan ingin sekali buang air kecil. Aku melirik Hanifa yang sedang asyik baca komik disebelahku.
"Ko gak tidur sih fa?" tanyaku.
"Gak tau gak bisa tidur haha, gak enak hati pingin cepet sampe rumah" jawabnya sambil tersenyum.
"Lah kamu kenapa bangun?" tanyanya.
"Pingin pipis" jawabku.
"Lah barusan aja kita berhenti di pom, kirain aku kamu gak akan pipis haha jadi aku gak bangunin kamu" jelasnya.
"Yaah, berarti masih lama lagi dong berhentinya?" kataku.
"Iya haha lagian kamu tadi tidurnya enak banget padahal baru setengah jam juga kagak, maaf ya aku gak bangunin" kata Hanifa.
"Gak papa fa, Gian mana? Aku mau minta dia berhentiin bis sebentar kalau ada pom bensin didepan bisa kali ya?" tanyaku
"Cobain aja ngomong, tuh si Gian belakang supir soalnya dosen mau tidur jadi pindah ke belakang" jawab Hanifa.
Akupun mencari keberadaan Gian, dan benar saja dia duduk sendirian tepat dibelakang supir. Sementara dosen pembimbing duduk di kursi Gian yang semula.
"Gian, ko gak tidur?" tanyaku.
"Loh ko bangun?" tanya Gian.
"Pingin pipis, tadi aku gak bangun pas di pom eh sekarang malah kebelet" jawabku.
__ADS_1
"Yaudah duduk dulu sini, nanti kalau ada pom bensin didepan aku minta supirnya berhenti dulu" kata Gian sambil memintaku duduk di sebelahnya.
Akupun duduk disebelah Gian sambil berharap akan segera ada pom bensin di sebelah kiri jalanan yang kami lewati saat itu.
"Pak nanti ada pom berhenti sebentar ya, temen saya kebelet" kata Gian pada supir yang sedang mengemudi.
"Iya" jawab Pak Supir.
Tak lama doaku ternyata dikabulkan, kulihat dari kejauhan plang pom bensin terlihat dengan jelas.
"Tuh pom bensinnya, siap-siap gih emang kamu gak mau sekalian cuci muka?" tanya Gian.
"Iya aku mau ambil pouch ku dulu sekalian ajakin Hanifa" kataku sambil kembali ke tempat dudukku.
"Fa, temenin yu? Sekalian kita touch up dikit haha kan mau mampir ke tempat oleh-oleh" ajakku.
"Hahaha males rain, bareng yang lain aja ya?" tolaknya.
"Gak mau, kalau sama yang lain gak bisa masuk kamar mandi barengan" gerutuku.
"Yaudah ayok" katanya pasrah.
Beberapa temanku yang lain juga ikut turun untuk sekedar buang air dan cuci muka sehabis tertidur di perjalanan tadi.
Antriannya ternyata cukup panjang, dan aku mengajak Gian dan Hanifa untuk membeli cilok di pedagang yang kebetulan sedang ada di sekitaran pom bensin tempat kami berhenti.
Akhirnya setelah antriannya kosong, aku dan Hanifa masuk ke kamar mandi.
"Na, si Gian ko baik banget ya sampe nungguin kita sampe jajanin kita juga hahaha" kata Hanifa keheranan.
"Ya, dia lagi nyari temen cewek kali kan kamu tau sendiri dia udah gak begitu akur sama Rani cs" jawabku.
"Ya baguslah, lagian Gian jadi turun pamor kalau maen sama mereka kasian haha" katanya.
"Rain, Hannn... Ayo cepet yang lain nungguin bisnya udah mau berangkat" teriak Gian.
"Iya sabar, udah ko lagian kan kita lama karena ngeduluin yang lain masuk tadi" gerutu Hanifa.
Saat kami keluar dari kamar mandi, wajah Gian terlihat lesu dan lemas.
"Kenapa kamu?" tanyaku.
"Supirnya lupa sama kita, tuh bisnya udah maju duluan" kata Gian sambil menunjuk bis yang meninggalkan kami.
"Kok bisa? Dia gak ngitung apa ... anak udah ada semua atau belum didalem?" tanya Hanifa.
"Gak tau, supirnya ngantuk kali... Palingan kita nunggu bis di belakang tadi aku udah telpon anak di bis 1 sih" jelas Gian.
"Yaudah, tunggu bis 1 aja sambil didepan yu biar keliatan" ajakku.
Kami bertigapun berjalan kedepan dan berharap bis selanjutnya akan datang.
"Emangnya ada kursi kosong di bis 1?" tanya Hanifa.
"Ada fa, kan sebelah dosen kosong 2 seat" jawab Gian.
"Kalian duduk disitu aja sampe nyampe tempat oleh-oleh" tambahnya.
"Lah kamu?" tanyaku.
"Ngemper juga jadilah dibawah" jawabnya sambil tertawa.
Saat bis 1 datang, kami bertiga melambaikan tangan dan lalu kemudian bergegas naik saat bis sudah berhenti.
"Na, fa...." teriak Nunu dan Arika yang ada didalam bis tersebut.
__ADS_1
"Kalian ko bisa ketinggalan bis sih?" tanya Fariz.
"Iya haha supirnya gak ngeuh, ngantuk kali pingin cepet sampe tempat oleh-oleh" jawab Gian.
Aku dan Hanifapun duduk di kursi yang kosong, sementara Gian sesuai perkataannya ngemper bawah didekat pintu bis.
Aku merasa bersalah pada Hanifa karena kami harus nebeng di bis lain dan dia tidak bisa melanjutkan bacaan komiknya yang tertinggal di bis kami.
Aku dan Hanifa hanya membawa pouch make up dan uang dua ribu untuk ke WC tadi.
Saat kami mulai memasuki jalan tol, kulihat ada kemacetan yang mengular cukup parah.
"Lah ko di tol macet?" tanya Hanifa.
"Ada kecelakaan kali fa" jawabku.
Gianpun bertanya pada pengendara mobil yang berhenti tepat disebelah bis kami.
"Pak ada kecelakaan apa emang macet beneran didepan?" tanyanya.
"Oh itu dek, ada bis yang remnya blong dan nabrak minibus didepan" jawabnya.
"Bis? Bis pariwisata?" tanya Gian lagi.
"Iya, bis kaya adek gini kayanya" sahut seorang petugas jalan tol yang membantu mengatur lalu lintas di sekitar pintu masuk tol.
Gian terlihat cemas dan menelpon seseorang. Lalu kemudian dia meminta supir bis yang kami tumpangi untuk menelpon supir bis sebelumnya.
"Pak coba telpon supir bis depan, siapa tau kena dampak" kata Gian.
"Iya dek" jawab pak sopir.
"Gian kenapa sih?" tanyaku sambil beranjak dari kursinya.
"Gak apa-apa aku takutnya bis kita yang dimaksud si bapa petugas barusan" jawabnya.
Aku dan teman-teman di bis pun ikut kaget mendengar dugaan Gian barusan, kami takut dan mencemaskan teman-teman kami di bis 3.
Kudengar ponsel Gian berbunyi bersamaan dengan bunyi ponsel supir bis kami, dan Gian buru-buru mengangkat telponnya.
"Hah? Terus anak-anak gimana? Lu di kilometer berapa?" kudengar suara Gian menaik tensinya.
"Yaudah, gue sama anak-anak cowok kesana pake mobil jasa marga. Lu tolong tenangin yang lain ya, udah telpon ambulans kan?" kata Gian lagi.
Aku mendekati Gian saat itu, kulihat keringat menetes dari dahinya dan tangannya gemetar.
"Giii.... Apa bis yang kecelakaan itu bis kita?" tanyaku sambil ikut gemetaran.
"Kamu tenang ya, itu bener bis kita" jawab Gian dengan sangat pelan.
"Aku bakal ngejelasin dulu ke yang lain, setelah ini bis sisanya tetep lanjut ke Bandung dan bis yang kecelakaan serta korban harus diurus segera" jelasnya.
"Gian, temen-temen yang lain gimana?" tanyaku lagi.
Hanifa ikut beranjak dan menyadari obrolanku dan Gian yang memelan dan janggal.
Aku tak kuasa menahan air mataku, disatu sisi aku takut kondisi teman-temanku yang berada di bis itu tapi disisi lain aku membayangkan bagaimana jadinya kalau tadi aku tidak ketinggalan bis dan masih ada didalam bis itu...
Gian mencoba menjelaskan kepada dosen situasi yang terjadi dan dosen yang diminta menjelaskan kepada mahasiswa yang ada bis lain supaya tidak ada kepanikan dan kesalah pahaman.
"Aku harus kesana, aku harus tau kondisinya" kata Gian.
"Tadi siapa yang nelpon kamu?" tanyaku.
"Nirwan"....
__ADS_1