Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Sensitif


__ADS_3

Keesokan Paginya....


Aku merasakan hawa dingin sangat menusuk, mataku seketika kubuka saat mendengar suara ayam berkokok saling bersahutan.


Andreas masih tidur dengan posisi duduk, sama sepertiku. Kepalanya bersandar ke belakang. Tangan kami.... Hahaha.... tangan kami saling terikat oleh sesuatu saat itu.


"Tali sepatu, yang bener aja dia beneran satuin tangan kita pake tali sepatu" gumamku.


Aku membuka ikatannya dan mengikatkannya pada siku-siku meja.


"Hahaha aku jailin ya kamu" kataku.


Pelan-pelan aku beranjak dan melihat keluar jendela.


Semerbak dedaunan yang basah oleh embun seketika menyeruak di hidungku. Aku melihat beberapa orang sudah pergi bekerja kearah kebun sawit.


"Sepertinya itu pegawainya kak Iyas, banyak juga ya?" gumamku.


Aku melihat sekitar 20 orang laki-laki dan perempuan sudah berjajar disamping rumah dan mengantri untuk mengambil sesuatu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku melompati jendela dan turun dari sana. Mencoba melepaskan rasa pegal yang sedari tadi menetap di tulang-tulang punggungku.


"Raina, ya ampun ngapain sih sayang lompat dari situ?" tanya Tante yang ada disamping.


"Iya tante, habis kak Iyas masih tidur jadi kalau aku lewat pintu depan takutnya dia bangun" kataku.


"Oh ya tan, aku gak ngapa-ngapain ko sama Kak iyas. Kita juga tidurnya di sofa gak di kasur" jelasku.


Tante dan beberapa pegawainya terlihat tertawa mendengar ceritaku.


"Sayang, kalian sudah besar dan Tante juga tahu ponakan tante itu anak seperti apa. Dia sangat menghormati perempuan, jadi tante percaya ko sama kalian" jawab Tante sambil mengelus bahuku.


Aku membujuk tante agar aku diizinkan ikut ke kebun sawit. Tante bersikeras tidak mengizinkan, karena takut dimarahi Andreas.


"Gak akan tante, nanti aku yang bilang kalau aku yang maksa pingin ikut" kataku.


Tante seperti berpikir dan akhirnya luluh..


"Yaudah kalau gitu, kamu mandi dulu sana. Nanti ikut mobil kedua aja" kata Tante pasrah.


Aku masuk lagi lewat jendela dibantu dengan tangga kecil yang dibawakan salah satu pegawai tante saat itu.


Andreas ternyata masih tidur, posisi tubuhnya sekarang terlentang dan terlihat lebih nyaman.


Aku mengirim sebuah pesan pada Andreas.


"Aku main ke kebun ya sebentar, jangan marahin tante karna izinin aku. Ini beneran aku yang mau ko, mumpung kesini jadi aku mau tau" ....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setibanya di perkebunan sawit...


"Raina disini aja ya ngeliatin dari sini" kataku pada Pak Budi ketua kelompok kerja saat itu.


"Iya, kalau jalan-jalan juga boleh tapi jangan jauh-jauh ya?" kata Pak Budi.


Akupun duduk-duduk disalah satu tempat istirahat berbentuk hampir seperti gubuk.


Untung saja, aku membawa ponselku dan langsung mengambil beberapa foto.


"Pantesan ya kak Iya skripsinya kelar cepet banget, orang dia penelitian di kebun sendiri" pikirku.


"Nanti skripsi disini aja Raina" teriak Pak Budi.


"Wah pak Budi bisa baca pikiran ya?" sahutku.


"Lah emang lagi beneran mikirin skripsi?" katanya.


"Iya pak, tapi judulnya apa ya kira-kira kalau skripsinya digarap disini" tanyaku.


"Ah tenang, ide judul mah banyak asal niatnya aja dulu bulet" sahut Pak Budi.


............


............


Benar juga kata Pak Budi, semua tergantung niat. Apapun tujuan hidup, kalau niatnya sudah bulat yah pasti akan selalu ada jalannya.


Aku jadi teringat niat alm.Ibunya kak Iyas, dia mengumpulkan perhiasan hanya untuk melamarku.


"Pak Budi, Ibu pernah cerita soal aku gak ke Pak Budi?" tanyaku.


"Huh bukan pernah lagi, waktu Ibu mau ke Bandung repotnya bukan main. Segala dipake, segala dibawa di tasnya katanya buat calon menantunya. Belum lagi pas Ibu pulang dari Bandung, segala tentang Raina diceritain" jelas Pak Budi.


"Pak Budi, saya bantuin ya? Ngapain kek... Saya bosen kalau duduk terus" kataku.


"Jangan, kamu duduk aja mending nanti Iyas marah kalau kamu diajak kerja" sahutnya.


Bukan aku kalau tidak ngeyel, aku malah semakin tertantang saat dilarang.


Aku berjalan kearah Pak Budi dan melihat secara langsung cara mengambil saripati kelapa untuk bahan dasar minyak goreng itu.


Aku membantu Pak Budi mendata hasil hari itu, dengan telaten aku melihat dan membaca grafiknya.


"Pak, selain sawit disini apa lagi sih yang jadi unggulan?" tanyaku.


"Ya banyak, tapi paling utama nya ya sawit" jawab Pak Budi.


Aku mengingat-ingat materi tentang karakteristik pohon sawit yang cenderung dikatakan 'rakus air' karena bisa membuat air di sekitarnya habis dan tanah di daerah yang ditumbuhinya perlahan akan mengering.

__ADS_1


"Tapi pak, bukannya sawit rakus air ya?" tanyaku.


"Itu masih harus diteliti, kayanya gak bisa kita menyimpulkan begitu saja tanpa ada penelitian lebih dulu" sahut seseorang.


"Nah tuh ahlinya dateng, tanya aja sama Iyas" ledek Pak Budi.


Kak Iyas datang dan duduk disebelahku.


"Akhirnya pancingan aku berhasil, dengan aku pergi kesini dia akhirnya nyusulin aku dan secara langsung bakalan bikin otak dia fresh" gumamku.


.........


..................


"Kenapa kakak nyusul?" tanyaku.


"Aku takut kamu ngerepotin Pak Budi" ledeknya.


Kulihat Andreas dan Pak Budi mengobrol di dalam dan wajah Andreas terlihat sangat serius.


Setelah keluar dari ruangan, Pak Budi malah meledekku.


"Tenang aja yas, nanti kamu bakal punya asisten handal ko. Ajarin aja raina sedikit pasti nanti langsung bisa turun di kebun"....


"Sekarang juga bisa ko turun, gak perlu nunggu nanti-nanti" kataku.


"Sekarang? Sekarang gimana ceritanya, kamu aja pake sandal doang. Pake baju lengan pendek dan celana begitu" gerutu Andreas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah matahari agak naik, Andreas mengajakku pulang.


"Pulang yu? Kamu belum sarapan kan?" ajaknya.


"Pak Budi, Raina pulang ya? mudah-mudahan nanti kita ketemu lagi" teriakku.


"Iya, nanti skripsi disini aja ya?" sahutnya.


Andreas ternyata tadi mengendarai motor, karena aku penasaran akhirnya aku meminta giliranku untuk mengendarai motornya.


"Boleh yah? Aku gak akan ngebut ko" bujukku.


"Gak boleh" katanya tanpa menoleh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah....


"Raina makan dulu ya? Nanti Tante anterin ke kamar" kata Tante.


"Gak usah tan, aku aja yang ngambil ke dapur" jawabku.


Sesampainya dikamar, dia malah rebahan dan memejamkan matanya diatas sofa.


Aku membangunkannya dan mengajaknya beres-beres.


Tapi, dia malah mengabaikanku.


"Ih kakak, ayo bangun beres-beresin tas" bujukku.


Dia terduduk di sampingku dan melamun.


"Mulai hari ini kita bikin janji yu?" katanya.


"Hmm janji apa?" tanyaku.


"Nanti pas anniversary kita yang kedua, kamu harus mau aku bawa kesini lagi" katanya.


"Gak usah janji juga aku mau ko, gak usah nunggu annive juga aku mau ko. Asal..... dibayarin" jawabku.


Dia tertawa dan menyadari betapa kerasnya aku berusaha meningkatkan sense of humorku hanya untuk menghiburnya.


Aku berusaha terlihat sebahagia dan seceria mungkin.


"Pasti susah ya buat kamu nahan air mata kamu? Pasti berat ya, untuk terus tegar depan aku" katanya.


Hatiku seperti tersentak saat itu juga, perasaanku hancur lebur mendengarnya berkata demikian. Bahkan dia lebih mengenal watakku daripada diriku sendiri.


Sama seperti aku yang lebih mengenal dirinya dari pada dia....


"Gak berat buat aku, yang terberat sejauh ini saat kakak minta aku nunggu tanpa kejelasan.


Saat kakak ninggalin aku di gate tanpa berbalik lagi kearahku sama sekali dan saat aku liat kakak nangis....


Dunia aku rasanya runtuh... Ya itu yang terberat sejauh ini...." jelasku.


Dia membuang wajahnya dan berpikir bahwa aku tidak tahu kalau dia sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Mulai hari ini, sekecil apapun luka yang kita rasain satu sama lain... Kita harus ceritain, kita harus saling berbagi" katanya.


Tak lama, Tante datang dan membawakan makanan serta buah-buahan.


"Tante, Iyas malam ini mau ke Bandung lagi. Mungkin Tante sama Om bisa kasih tugas ke Pak Budi dan sesekali bisa ngabarin Iyas. Maaf tante, kalau Iyas makin lama disini justru Iyas malah inget terus sama Ibu" katanya.


Tante Dewi menatap Andreas dengan mata yang sayu, seolah mengerti kegelisahan yang dirasakan keponakannya itu.


"Iya yas, tante sama om juga ngerti. Tapi mungkin kamu harus sering juga pulang untuk kontrol perkebunan. Tante sama Om kan cuma membantu aja" jawab Tante.


"Tante sama Om kan selama ini yang jagain dan rawat Ibu, Iyas yakin ko kalau kalian berdua bisa melanjutkan apa yang sudah Ibu dan Bapak bangun. Terkait aset dan semuanya yang atas nama aku, aku gak akan jual ke siapapun. Rumah ini juga, aku mau Tante dan Om sekeluarga pindah kesini. Kalian bisa tinggali disini, megang perkebunan dan sisanya aku yang handle" jelas Andreas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah serius mendengarkan percakapan Tante Dewi dan Andreas, aku segera mengambil buah-buahan segar dan memotongnya.


"Jangan anggap dengan kamu makan buah banyak begitu, aku gak akan nyuruh kamu makan nasi. Ambil nasi dulu" katanya.


"Huh padahal aku baru aja mau ngehindarin makan nasi karena dari kemarin makan nasi banyak terus" gumamku.


Setelah selesai makan....


Aku merapikan piring yang kotor dan hendak mencucinya langsung. Tapi Andreas malah melarangku.


"Taro aja disini, terus panggil Bi Lili" katanya.


"Ih, disini kayanya aku segala gak boleh deh. Mau nolongin gak boleh, mau cuci piring gak boleh, mau ke kebun gak boleh apa-apa gak boleh" gerutuku.


"Kamu disini bukan buat kerja, bukan buat cuci piring dan bukan juga buat penelitian" jawabnya.


Dia terlihat sedang dalam mood yang kurang bagus. Entah apa yang dialaminya tadi pagi, mungkin dia kesal karena saat bangun tidur aku sudah tidak ada didekatnya.


"Udah ah aku pokoknya mau cuci piring sendiri" gerutuku sambil keluar dari kamarnya.


Didapur, aku merasa seperti pengantin baru yang dipandangi oleh semua orang dan diberondong dengan banyak sekali pertanyaan.


"Iyas marah ya?" tanya Tante.


"Gak apa-apa ko tan, udah biasa dia kaya gitu mah" kataku.


"Ohya? Dia kaya gitu cuma ke kamu doang loh. Iyas mana pernah ngambek cuma karena bangun tidur di kamarnya gak ada orang." kata Tante.


"Oh jadi beneran dia marah karena aku udah pergi ke kebun pas dia masih tidur?" tanyaku.


"Iya, dia sampe ngomel ke tante. Kenapa diizinin sih? Di kebun kan begitu, kalau Raina ada apa-apa gimana. Ya gitu-gitulah. Baru kali ini tante rasa Iyas sebegitu khawatirnya" jelas Tante.


Sedikit banyak setelah mendengar penjelasan Tante, aku merasa bersalah. Padahal aku tahu persis bahwa Andreas pasti akan marah saat aku pergi ke kebun tanpa dia.


Belum lagi, barusan aku malah kembali menentangnya dengan tetap cuci piring sendiri.


"Yaudah deh tan, ini biar jadi urusan aku. Nanti aku yang bujuk dia ya supaya gak badmood?" kataku.


"Iya tante percaya ko sama kamu" jawabnya.


Akupun kembali ke kamar....


Kak Iyas sedang tidur sepertinya, kulihat badannya membelakangiku.


Karena tidak mau mengganggu, aku langsung saja membereskan tasku dan menyiapkan baju untuk pulang nanti.


Setelah itu juga membereskan tas Andreas.


Sepertinya dia tidak tidur, kelihatan sekali tubuhnya bergerak-gerak. Apa dia pura-pura tidur ya?


"Kak, ayo beresin tas bukannya tadi ngajakin?" kataku.


"Beresin aja sendiri, bukannya kamu selalu mau ngerjain semuanya sesuka kamu" sahutnya.


Aku tertawa mendengar jawabannya, Kak Iyas sekarang lebih mirip seorang perempuan yang sedang datang bulan. "super sensitif"...


Seperti biasa selain dari pura-pura sakit dihadapannya, aku tidak punya ide lain.


Aku pura-pura pusing...


Saat aku beranjak dan hendak berjalan kearahnya, aku terduduk langsung dan berkata pelan.


"Duh ko pusing ya?" .....


Benarkan ideku, Kak Iyas langsung bangun seketika dan mendatangiku.


"Kamu pusing lagi? Kayanya kamu ada salah makanan deh, atau kenapa sih?" tanyanya dengan wajah khawatir.


"Aku pusing kalau kakak diemin aku" jawabku.


Kak Iyas terlihat diam lalu kembali ke ranjangnya.


Aku mendatanginya dan berusaha membujuknya.


"Udah dong bete sama akunya, maafin deh kalau aku keras kepala atau sesukanya sendiri" kataku.


Tanpa segan, aku berjongkok dihadapannya sambil melihat wajahnya.


Dia juga memandangiku dan sepertinya kali ini aku berhasil.


"Mulai dari sekarang, kamu harus lebih bisa jaga diri kamu saat kita jauh..karena aku gak bisa bayangin kalau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu" katanya.


"Iya, maaf... Tapi kan tadi aku cuma ikut Pak Budi ke kebun terus barusan cuma mau cuci piring" gerutuku.


"Iyasih, tapi aku gak suka aja liat kamu kotor-kotoran dan kerja disini. Kamu kan tamu" katanya.


Dia mengelus rambutku dan juga mencubit pipi kiriku.


"Iya pokoknya nanti aku bakal take care deh! Udah yah betenya?" kataku.


"Aku cuma punya feeling gak enak aja semenjak Ibu meninggal. Cuma kamu satu-satunya yang bisa aku lindungin, jadi aku gak mau ada apa-apa sama kamu. Bahkan kalau kamu di Bandung nanti mulai masuk kuliah lagi, pulang sama perginya aku yang jemput" jelasnya.


"Iya sayang" jawabku.


Dia tersipu malu saat mendengarku memanggilnya sayang.


"Ulang lagi" katanya.


"Gak ada siaran ulang" kataku.


"Soal temen-temennya Fasya itu, kamu beneran gak sakit hati dibentak dan dituduh gak bener" tanyanya tiba-tiba.


Aku memeluknya, untuk menyembunyikan wajahku yang sebenarnya.


"Aku sakit hati, aku mau mereka rasain akibatnya" gumamku.

__ADS_1


"Ditanya malah meluk" gerutunya.


"Untuk kali ini aja, izinin aku yang khawatirin kakak bukan sebaliknya. Kakak jangan mikirin hal-hal yang gak penting tentang aku" kataku.


__ADS_2