
Kupikir Andreas akan melukai perasaanku dengan mengganti uang tabunganku, secara dia sebenarnya mampu membayar biaya rawat rumah sakit tanpa harus mengorbankan uang tabungannya seperti yang terjadi pada kasusku.
Ternyata Andreas hanya meminta aku untuk ikut dengannya membantu penelitian dosen kami.
"Lusa mau liburan sambil kerja gak?" tanyanya.
"Maksudnya?" tanyaku.
"Dhika masih di jakarta, jadi aku gak ada temen buat penelitian bareng dosen. Kamu kan pinter tuh, pasti dosen setuju aku ajak kamu" jelasnya.
"Kemana emangnya? kakak yakin anak baru boleh ikut?" tanyaku.
"Deket ko jogja... hmmm ya bolehlah, tinggal kamunya gimana?" tanyanya lagi.
"Mau mau mau mauuuuuu" jawabku antusias.
"Oke, nanti aku jelasin sama Ibu dan Ayah kamu ya biar kamu diizinin" katanya.
Sesampainya dirumah sakit....
Aku membiarkan Andreas mengobrol bertiga dengan Ayah dan Ibu, sementara aku menunggu diluar sambil jalan-jalan.
Lalu Ayah menelpon dan memintaku masuk keruangannya.
"Lusa kamu mau ke jogja?" tanya Ayah secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya yah, kalau ayah izinin sih... Kalau ngga ya aku gak akan pergi" jawabku.
"Ayah izinin ko, Andreas tadi udah jelasin ke Ayah kalau kamu kesana buat penelitian dan lagi dia janji mau jaga kamu jadi Ayah pasti izinin. Sekalian kamu rileks juga lah" jelas Ayah.
"Beneran boleh? Ibu ngizinin juga kan?" tanyaku.
"Boleh lah" jawab Ibu.
Saking senangnya aku memeluk Ayah yang masih terbaring dan mencium pipinya. Ayah tersenyum saat itu tapi matanya juga berbicara seolah mendeskripsikan bagaimana dia merasa lega setelah anaknya bertemu dengan orang yang bisa menjaganya lagi.
"Yaudah, mending sekarang kamu pulang sekalian ajak Ibu kamu.. Ayah biar ditemenin Randy aja, Ibu juga belum istirahat dan kasihan juga Recca kalau kelamaan dititipin Tante Irma" pinta Ayah.
"Yaudah, saya aja yang anter tante sama Raina kerumah kebetulan saya minjem mobil temen saya tadi om" kata Andreas.
"Iya om, gapapa lagian saya juga perlu diskusi sama Raina buat penelitian nanti" jawab Andreas.
"Yasudah kalau gitu, om titip ya! Maaf loh ngerepotin kamu terus?" jelas Papa.
"Om gak perlu sungkan" jawab Andreas.
Aku dan Ibupun diantar kembali kerumah oleh Andreas dan dia sempat masuk untuk menjelaskan secara umum tentang penelitian nanti.
"Nanti ada dua anak cewek ko, kamu sama Maria dari angkatan aku. Jadi kamu bakal punya temen sekamar... Disana kita nginep dua sampe tigaharian, kalau selesai lebih cepet sisanya ya liburan" jelasnya sambil menatapku.
"Aku bawa apa aja nanti? Oya kakak udah jelasin dengan rinci kan ke Ayah soal ini?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah, Ayah kamu kan bijaksana jadi beliau malah minta aku sering-sering ajakin kamu penelitian biar kamu gak diem dirumah terus katanya kasihan" jawabnya.
Setelah selesai mengobrol, Andreas pamit pada Ibu untuk kembali ke kosannya.
"Aku balik ya? Kalau ada apa-apa telpon aja" katanya sambil mengelus pipiku.
"Iya nanti aku telepon tiap 10 menit hahaha" candaku.
"Bener ya? aku beneran tungguin loh" ledeknya
Malam harinya....
Aku baru ingat bahwa Andreas tadi memberiku dua buah totebag berisi oleh-oleh dari Palembang. Akhirnya akupun membuka satu demi satu totebagnya.
Totebag pertama berisi makanan seperti kerupuk ikan, pempek kemasan dan lainnya. Sementara totebag kedua sepertinya pemberian dari Ibunya.
Isinya adalah sebuah kardigan rajut hasil tangan... Baju rajut yang sangat indah dan khas.... Benar-benar hasil rajut manual.. Pola dan designnya pun personal dan sangat pas dengan ukuran badanku..
Aku mencobanya, memakainya dan bergaya lenggak lenggok didepan cermin.
"Bagus banget!!! Warnanya coral agak tua gitu lagi.. pas banget sama kesukaan aku"....
Saat aku hendak melipat totebag bekasnya, ada kotak kecil yang jatuh dan ternyata berisi surat...
__ADS_1