
Hari dimana Nunu merencanakan sesuatu untuk Selvy...
Aku dan Arika sudah menunggu Nunu di pertigaan jalan menuju Outlet. Hanifa tidak bisa ikut karena Papa dan Mamanya sedang ada di Bandung. Jadi, kami hanya bertiga saja hari ini.
"Tuh si Nunu, gila setelannya kek mau photoshoot" ledek Arika.
"Maklum, anak hits" jawabku.
Nunu dan Gian tiba didepan kami, mereka meminta maaf karena datang agak terlambat.
"Sorry ya, macet banget parah di atas" kata Gian.
"Iyalah liburan panjang begini" jawabku.
Tanpa berlama-lama, kamipun pergi ke Rainfa. Sesuai rencana, kami berempat akan mengawasi dan mencari fakta tentang Selvy. Karyawan Rainfa yang sedang dicurigai mencuri itu.
"Inget ya rencana kita, lu nanti ka bagian nanya-nanya terus gue bagian manas-manasin" kata Nunu.
Setibanya di Rainfa....
Kak Iyas belum datang, mungkin dia sedang ada keperluan di luar.
"Mbak, Bos lagi gak ada" kata Liani.
"Iya udah tahu ko, lagi ada perlu di bank" jawabku.
Liani memang kebagian tugas menjaga didepan, dia lebih banyak berdiam diri di kursi tinggi dekat pintu masuk. Sementara Lis mobile, dia akan berkeliling untuk melayani dan mengecek stok yang dipajang.
Selvy sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di meja kasir. Menurut kak Iyas, Selvy lebih pintar dari kedua karyawannya yang lain.
"Lis, kalau stok dicek tiap hari kan?" tanyaku.
"Iya mbak, tiap hari pas closing langsung dicek di komputer dan di nota penjualan" jawabnya.
"Selalu balance hasilnya?" tanyaku.
"Pernah gak balance sih kak, dua hari tapi katanya sudah diperbaiki datanya sama Selvy" jawabnya.
Aku heran, bagaimana bisa Selvy memperbaiki datanya? Bukankah saat hasilnya tidak balance, yang harus ditemukan adalah barang ataupun uangnya?
Nunu dan Arika mulai berjalan ke posisinya masing-masing. Sementara Gian yang bertugas mengalihkan perhatian Lis dan Liani sudah bersiap juga di dekat tempat coffeshop.
Aku berjalan mendekati Selvy dan berusaha bersikap senormal mungkin. Kulihat dia sedang menatap layar komputer dengan sangat serius.
"Hey, lagi apa?" tanyaku.
"Eh mbak, ini lagi iseng cek instagram siapa tahu ada orderan masuk" jawabnya.
"Hm rajin" jawabku.
Aku pura-pura tidak tahu, sebenarnya yang dilakukan Selvy saat itu bukan mengecek instagram. Dari refleksi kaca lemari dibelakang meja komputer, terlihat sekilas bahwa dia sedang membuka program untuk penjualan.
"Gimana penjualan naik terus?" tanyaku.
"Lumayan sih mbak kan mau tahun ajaran baru juga, mahasiswa baru banyak yang belanja kebutuhan kuliah" jelasnya.
"Bagus dong! Semangat ya?" kataku.
Akupun berlalu menuju Nunu yang sedang fokus menghitung stok jaket dan jumlah seri warna yang dipajangnya. Nunu sudah menanyakan banyak hal pada kak Iyas sehingga dia bisa menyimpulkan kalau ada kejanggalan.
"Semua barang disini pake barcode dan edisi kan?" tanya Nunu.
"Iyalah, semua ada nomornya jadi kita tahu barang yang stok lama atau stok baru" jawabku.
Nunu terlihat mengernyitkan dahinya, seolah berpikir keras pada sesuatu.
"Kenapa nu?" tanyaku.
"Ada yang aneh deh, masa di satu jajaran ini aja aku nemu jaket yang nomor edisinya gak berurutan" jelasnya.
"Berapa item?" tanyaku.
"6-7 item kayanya dan pricenya diatas 300rb semua" jawabnya.
Mendengar jawaban Nunu, aku sedikit emosi dan ingin segera menegur Selvy serta membuktikan kesalahannya.
Tapi, Arika mengirimkan kode untuk bersabar sampai kak Iyas datang. Gian mencoba menelpon Kak Iyas diluar outlet.
Hingga tak lama kemudian, suara mobil kak Iyas terdengar.
"Tuh dateng, ayo lanjut" kata Nunu memberi aba-aba.
Aku mencoba memegang barang yang menurut Nunu diisi oleh barcode dan nomor seri yang salah itu. Lalu kemudian aku berakting seolah-olah aku ingin sekali membeli barang itu.
"Kak, ini warnanya sama kaya jaket yang aku pingin itu loh" kataku sambil memegang tangannya.
"Ah iya, itu barang baru aku lupa gak ngabarin kamu. Ambil aja, bilang ke Selvy gih nanti aku yang bayar" katanya tanpa berpikir panjang.
"Barang baru? Ko disimpennya bukan di new arrival sih? Malah diselip-selipin di tengah situ" tanyaku.
Mata kak Iyas langsung terbelalak dan menuju ke arah tempat yang kutunjuk barusan. Nunu yang sudah bersiap dengan ultimatum selanjutnya terlihat menatap bersamaan denganku kearah Gian. Beruntungnya Gian sadar dan segera mengalihkan fokus Selvy.
"Kak bukannya tiap barang ada seriannya ya? Pasti berurutan kan? Biar tahu dari satu seri itu udah kejual berapa pieces? Bener gak sih?" tanya Nunu.
"Iya bener ko, emang kenapa Nu?" tanyanya.
Nunu memberikan satu persatu barang yang menurutnya memiliki nomor seri tidak berurutan itu. Aku hanya pura-pura tidak tahu sambil melihat-lihat. Sementara itu, Arika sedang membantu Listiana meladeni pembeli dan Liani sedang merapikan display.
Beberapa menit kemudian....
Kak Iyas sudah menyadari banyak kejanggalan yang terjadi. Anehnya wajahnya tidak seperti orang yang marah. Masih terlihat santai dan biasa saja. Malah dia tersenyum sesekali ke arahku.
__ADS_1
"Kamu tetep mau beli yang ini?" tanyanya.
"Hmmm, aku suka warnanya sih. Tapi jangan ah nanti aja kalau aku udah punya uang sendiri" jawabku.
Dia lalu menemui Selvy dan keduanya terlihat membicarakan sesuatu. Selvy terlihat gelagapan dan serba salah. Wajahnya merah dan gerak-geriknya seperti tidak normal.
Gian yang berada didekat mereka sepertinya juga memperhatikan dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Nunu dengan santainya ikut nimbrung. Mungkin dia sangat penasaran dan menanti-nantikan momen dimana Selvy dimarahi oleh kak Iyas.
Aku dan Arika tidak mau ikut campur dan hanya duduk-duduk di coffeshop. Hingga tak lama, Nunu mengirimkan pesan.
"Dipecat langsung loh rain, gila uang yang dilipet jumlahnya hampir 7 pcs jaket yang harganya diatas 400ribu"...
Kak Iyas lalu memanggil Listiana dan Liani. Sementara itu aku dan Arika diminta membantu melayani customer yang sedang memilih-milih barang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kak, Selvy kakak pecat?" tanyaku sesaat setelah dia duduk disebelahku.
"Iyalah, ngapain dipertahanin. Udah sekali ngutil kesananya pasti ketagihan" jawabnya.
Aku merasa lega, setidaknya dia tidak akan mengalami kerugian setelah karyawan parasitnya dipecat. Sementara itu, Nunu dan Gian terlihat sangat puas karena rencana mereka berhasil.
"Yaudah gini aja deh, gimana kalau kakak buka lowongan aja lagi" saranku.
"Iya, tolongin ya kamu juga bantu cariin karyawan" jawabnya.
Selvy terlihat mengemasi barangnya. Disambut ekspresi keheranan dari Lis dan Liani. Mereka tidak percaya bahwa Selvy sudah melakukan kecurangan selama bekerja bersama mereka.
Anehnya, Selvy masih bisa memperlihatkan wajah seolah tak merasa bersalah dan berjalan santai keluar dari outlet. Lis dan Liani hanya bisa terdiam dan tak berkutik.
Kak Iyaspun memanggil keduanya, mereka bertiga berdiskusi dan terlihat menyepakati sesuatu.
"Nanti selama belum ada yang kerja disini, pacar saya yang bantu jadi kasir. Lagian dia juga kuliahnya udah cukup santai" kata kak Iyas secara tiba-tiba.
Aku kaget sekaligus heran, bagaimana bisa dia memberikan tanggung jawab itu kepadaku.
"Ih ko aku yang kena?" tanyaku.
"Kamu kan libur cukup lama, sambil kita pikirin judul buat seminar proposal kamu sambil kamu kerja juga disini. Gimana?" tanyanya.
Aku hanya pasrah dan mengangguk. Bagaimanapun setidaknya aku bisa mengurangi bebannya. Lagipula menjadi kasir di outlet kepunyaannya bukanlah hal yang sulit. Sebagai pacar, tentu aku akan sangat teliti dan berhati-hati.
Tak lama, Gian Nunu dan Arika pamit katanya mereka ada acara masing-masing.
Aku dan Kak Iyas melanjutkan obrolan kami di coffeshop.
"Kak, berarti semua barang harus di cek buat di stock ulang dong?" tanyaku.
"Iyalah, tapi gak hari ini. Palingan besok" jawabnya.
"Kak, kenapa sih? Lagi mikirin apa?" tanyaku.
Bola matanya berputar dan terlihat berusaha untuk mengalihkan fokus pikirannya pada pertanyaanku. Kukira dia akan menjawabku, ternyata dia malah kembali terdiam.
"Ih mikirin apa sih? Kalau dicuekin gini, aku mending pulang aja" kataku.
Belum sempat berdiri, dia sudah menahan tanganku.
"Galak banget, aku lagi kepikiran beli rumah" jawabnya.
Dia lalu menceritakan semua kegelisahan yang sedang dia rasakan. Mulai dari telepon yang dia terima dari Omnya di Palembang yang memintanya pulang untuk banyak urusan. Kebunnya yang ditawar oleh salah satu perusahaan yang memproduksi minyak sawit. Lalu angannya yang ingin segera membeli rumah di Bandung.
"Rumahnya yang sederhana aja dulu, toh nanti aku cuma tinggal sendiri. Paling kalau butuh banget, aku cari asisten rumah tangga nanti" jelasnya.
Mendengar penjelasannya, sebenarnya aku dilema. Pertama, aku senang karena dia semakin mapan. Kedua, aku sedih karena dia akan pindah dari kosan Bu Mirna yang secara otomatis akan menjauhkan kembali jarak diantara kami.
Dia memang sudah punya rencana membeli rumah sejak beberapa hari yang lalu, semuanya tergambar saat aku menemukan banyak sekali selebaran promosi perumahan-perumahan cluster.
"Hmm, yaudah cari aja yang deket ke rainfa" kataku.
Dia melirik ke arahku dan sebelah alisnya terangkat.
"Deket kerumah kamu juga dong" katanya.
Beberapa saat kemudian...
Kami berdua disibukkan dengan browsing untuk mencari perumahan yang sesuai dengan budget dan keinginan kak Iyas. Hingga tak terasa, Rainfa sudah cukup ramai didatangi pembeli saat itu.
"Udah aku aja yang bantuin di kasir" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya, aku memintanya mengantarkanku pulang ke rumah karena Ibu sudah menelpon bahwa seluruh anggota keluargaku kecuali Randy akan pergi ke rumah kolega dekatnya Ayah di Solo. Dimana Ibu baru mendapat kabar bahwa istri dari temannya Ayah itu meninggal dunia tadi sore.
"Iya bu, aku pulang sekarang. Maaf ya bu aku gak bisa ikut" kataku.
"Ah kamu ikut malah kasihan nanti capek, terus Randy gak ada temen nanti" jawab Ibu.
Di perjalanan menuju kerumah...
Kak Iyas terlihat seperti kelelahan, kakinya berkali-kali diregangkan seperti kram atau pegal. Aku memintanya berganti posisi.
"Aku aja yang nyetir, minggir dulu didepan" kataku.
"Emangnya kamu udah lancar?" tanyanya.
__ADS_1
"Makanya itu kakak lihat terus nilai sendiri" jawabku.
Melihatku yang merengek meminta kesempatan untuk mengemudikan mobilnya itu, dia akhirnya luluh dan mau menuruti kemauanku.
"Aku kasih nama mobilnya ma cherie ya mulai hari ini" kataku.
"Kenapa ma cherie itu bahasa perancis kan?" tanyanya keheranan.
"Betul, artinya sayangku" jawabku.
"Mobil aja dikasih nama panggilan yang bagus, aku mana pernah dapet nama panggilan bagus begitu" gerutunya.
Mendengar ocehannya yang terkesan cemburu hanya pada mobilnya itu, seketika aku tertawa. Lalu akupun memikirkan kembali satu nama panggilan yang bisa membuatnya senang.
"Nampyon" bisikku.
"Apa nampan? Apaan nampan?" sahutnya.
"Nampyon, ihhhh" gerutuku.
"Apa artinya nampyon?" tanyanya.
"Cari sendiri lah" jawabku.
Nampyon dalam bahasa korea berarti suami. Aku sering menonton candaan manis pasangan dalam drama korea, dimana si pemeran perempuan akan menggoda pemeran laki-laki dengan panggilan nampyon.
Panggilan itu tiba-tiba saja terpikir olehku, sesaat setelah dia melepaskan genggaman tangannya. Rasanya, tangan itu kini telah menjadi tangan yang paling sering menyentuhku dibanding tangan-tangan yang lain.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah...
"Iyas nginep aja disini, di kamar Randy nanti biar Randy tidur dikamar Ibu. Kasihan mereka gak ada temen" kata Ayah.
"Iya, nanti biar Iyas nginep deh nemenin mereka berdua" jawabnya.
Recca yang saat itu manja, tumben-tumbennya ingin sekali digendong oleh kak Iyas. Dia bahkan merengek meminta ditinggal dirumah dan tidak mau ikut pada Ayah dan Ibu.
Aku bukannya tidak mau dititipi Recca, hanya saja aku banyak kegiatan besok. Lagipula Randy juga belum libur sepenuhnya, dia masih harus ke sekolah untuk Porseni. Aku hanya takut, nanti Recca tidak ada teman bermain dirumah.
"Yaudah, Ayah sama Ibu berangkat ya. Gapapa Recca paling nanti nangis bentar di mobil terus biasa lagi" kata Ibu.
"Hati-hati dirumah ya teh!" kata Ayah.
"Iya yah, Ayah hati-hati juga ya nyetirnya" jawabku.
Setelah Ayah, Ibu dan Recca pergi, aku dan Randy membereskan grosir dan segera menutup gerbang. Kak Iyas yang juga sudah selesai memarkirkan mobilnya di garasi, terlihat duduk di teras depan.
"Teh, aku laper belum makan dari sore" kata Randy.
"Yaudah aku masak, kamu temenin kak Iyas ngobrol ya?" sahutku sambil menutup gerbang.
Tiba-tiba saja saat aku hendak menarik penuh gerbang depan rumahku, ada tangan yang menahanku dari luar. Tangan itu mencengkram erat tanganku dengan sangat kasar.
"Aw" teriakku.
"Om sama Tante gak ada ya? Boleh dong aku mampir kerumah" kata orang tersebut.
Aku melirik kebelakang setelah menyadari betapa tidak asingnya suara itu.
"Fasya!!!" teriakku.
"Masih inget juga sama aku? Gimana aku boleh mampir gak?" tanyanya.
"Sorry tapi aku gak boleh nerima tamu kalau gak ada Ayah sama Ibu" jawabku berbohong.
Aku tidak pernah mau membuka hubungan lagi dengan Fasya. Semua yang telah dilakukannya padaku dulu, sudah membuatku kehilangan kepercayaanku sepenuhnya. Apalagi, didalam ada kak Iyas. Dia pasti akan sangat tidak nyaman kalau Fasya bertamu malam itu.
"Sombongnya masih aja gak hilang ya?" kata Fasya ketus.
"Sorry sya ini udah malem" kataku sambil menarik kembali gerbang.
Fasya lagi-lagi menahan tanganku dan membuatku kaget serta melukai tanganku sendiri karena tertekan gerbang besi.
"Kakak!!!!" teriakku.
Maksudku saat itu, aku ingin memanggil kak Iyas yang tadi sudah masuk kerumah dengan Randy.
Kak Iyas yang kaget mendengar teriakanku, bergegas berlari kearahku. Dia terlihat sangat panik ketika melihat ada Fasya didepan gerbang rumahku dan posisi tangan Fasya yang menggenggam tanganku saat itu.
Dia menarik paksa tangan Fasya dan mengebaskannya hingga terlepas dari tanganku. Lalu dia juga menarik tubuhnya ke belakang punggungnya.
"Mau apalagi sih lu sya?" teriaknya.
"Santai bang, gue cuma mau mampir karena tadi gue liat orang tuanya Raina pergi pake mobil. Eh dia ngelarang gue masuk, yaudah gue isengin dikit" jawab Fasya.
"Lu pergi dari sini sebelum kesabaran gue habis" balasnya.
Fasya mengangkat kedua tangannya sambil tertawa sombong dan pergi dari halaman rumahku.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya.
"Gak apa-apa, aku cuma kaget aja pas mau nutup gerbang ada orang nahan tangan aku" jawabku.
Dia lalu melihat kedua telapak tanganku yang memerah karena genggaman tangan Fasya yang kencang tadi.
"Ayo, kita cuci bersih tangan kamu pakai sabun" ajaknya.
Aku tertawa mendengar ajakannya, bagaimana mungkin dia bisa menyamakan Fasya dengan sesuatu yang kotor sehingga membuatnya memintaku mencuci tangan dengan sabun segala.
"Ih ko malah ketawa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ini namanya cemburu apa khawatir?" ledekku.
"Dua-duanya, tapi aku lebih takut kalau kamu kenapa-napa. Kamu tahu sendiri dia nekad sama kamu" jawabnya.