
"Huah cape juga ya kerja bakti sambil nanem bibit pohon" keluh Nunu
"Iya nu, kita mandi bareng yu gerah nih?" ajak Arika.
"Bentar sih, suruh maru aja dulu pada mandi. Kita mah mending minum ngemil atau apa dulu gitu" jawabnya.
"De, mandi duluan gih? Gantian nanti" kataku pada maru perempuan bernama Anit itu.
"Gapapa ka aku duluan?" tanyanya sungkan.
"Gak papa, sana duluan" jawab Hanifa.
Dua maru laki-laki bernama Fadlan dan Fadli masih didesa dengan Nirwan, mereka harus mengangkat sampah-sampah kaleng bekas yang terkumpul untuk dijual ke pengepul dan hasilnya nanti akan digunakan untuk menambah biaya renovasi mushola desa.
"Jadi, malam ini sama Gian?" tanya Hanifa.
"Jadi ko, tapi aku bingung ngomongnya mulai dari mana" jawabku.
"Baguslah, jangan diundur-undur lagi soalnya mumpung Kayi sama Rani gak ada hahaha" sahut Arika.
Setelah selesai mandi dan makan malam, aku menelpon Gian.
"Ya jadi, aku kesana habis makan ya soalnya ini baru selesai mandi dan belum makan" jawabnya.
Sambil menunggu Gian, aku mengabari kak Andreas. Aku bilang sebentar lagi aku mau pergi sama Gian.
"Yaudah hati-hati dan jangan lama-lama ya" katanya.
Tak lama Gian datang, dia sedikit lebih rapi mungkin karena habis mandi.
"Kita mau pake motor apa mobil?" tanyanya.
"Emang dua-duanya ada?" ledekku.
"Pinjem pak kadeslah, sekalian temenin aku beli obat nyamuk" katanya.
"Motor kayanya enak" jawabku.
"Eh jalan kaki aja deh, badan aku biar gerak soalnya dingin banget disini" tambahku.
"Hmmm oke" jawabnya.
Aku dan Gianpun berjalan kaki menuju minimarket yang katanya paling dekat jaraknya itu, sekitar 1 km lebih.
"Tumben kamu ngajak aku keluar" katanya.
"Aku mau aja ngomong sama kamu" jawabku.
"Ngomong apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Banyak hal, kamu mau denger gak?" tanyaku.
"Maulah, kita cari tempat makan pinggir jalan deh" ajaknya.
"Bukannya kamu udah makan?" kataku.
"Ngemil belum" jawabnya sambil ketawa.
Kamipun duduk didepan sebuah warteg, aku memesan segelas susu jahe sementara Gian yang katanya mau ngemil malah memesan mie instan.
Aku meminta Gian memilih tempat duduk diluar, agar aku bisa mengobrol dengannya tanpa ragu dan malu.
"Mau ngomong apa sih?" tanyanya.
"Aku cuma mau berterimakasih sama kamu, kamu selalu bantuin aku dan.... sekaligus aku mau kamu jujur sama aku, sebenernya kamu punya perasaan lebih gak sih ke aku?" kataku.
"Soal itu lagi, bukannya hak aku ya untuk suka sama orang siapapun itu?" katanya.
Aku mengubah posisi dudukku, yang tadinya tidak berhadapan menjadi berhadapan dengan Gian.
"Bukan gitu, aku tuh bener-bener gak mau kehilangan kamu sebagai sahabat aku" jawabku.
"Sahabat... Sahabat.... Kenapa aku bosen ya dengernya?" tanyanya.
"Maksud kamu?" tanyaku.
"Tapi gi, kamu kan tau aku udah sama siapa sekarang" jawabku.
"Andreas? Tau... Bahkan aku udah disadarin berapa kali sama orang-orang disekitar aku, mereka bilang 'move on gian liat raina udah sama orang lain' tapi gak bisa"
"Kamu tau berapa kali aku coba jauhin kamu, tiap kamu ada didepan aku lewat depan aku atau bahkan aku denger nama kamu disebut sama orang lain aja aku selalu coba menghindar"
"Tapi ujungnya itu cuma nyakitin diri aku sendiri dan bohongin diri aku juga....
Gian tidak menatapku, dia hanya menunduk dan seperti sangat terpukul dengan apa yang dia katakan barusan.
Aku mengangkat dagunya, memintanya tegar melihat wajahku.
Dia tersenyum dan memegang kedua bahuku.
"Jangan minta aku lupain kamu, karena tanpa kamu mintapun aku akan berusaha" katanya pelan.
Aku ikut tersenyum sebagai sinyal pengirim kekuatan juga untuk Gian.
"Maaf, kamu emang beneran gak bisa buka hati kamu buat Kayi?" tanyaku.
"Pertanyaannya aku balikin ke kamu sekarang, apa kamu emang beneran gak bisa buka hati kamu buat aku?" katanya.
Aku terdiam tanpa bisa menjawab sepatah katapun...
__ADS_1
"Kamu bisa jawab sendiri pertanyaan kamu kan rain?" katanya.
"Maafin aku, kalau aku bisa milih aku juga gak mau nyakitin hati orang. Tapi cinta tuh gak bisa dipaksain, hati itu milih tuannya sendiri" jawabku.
Entah kenapa air mataku mengalir saat harus mengatakan kalimat yang menurutku lembut tapi terasa paling menyakitkan itu.
"Kamu gak perlu repot-repot mikirin perasaan aku, ini jelas hak aku buat punya perasaan sama siapapun di dunia ini" katanya.
Makanan kamipun datang...
"Udah yah, aku laper nih setelah jujur-jujuran sama kamu. Mending kita makan dulu gimana?" katanya.
"Hmmm iya" jawabku.
Selama dia makan, aku melihat wajahnya terus menerus. Membayangkan jika aku tidak jatuh cinta pada Andreas, mungkin aku akan jatuh ke pelukan Gian.
Bagaimana tidak?
Dia jelas membantuku dan memperlihatkan perasaannya padaku secara terang-terangan. Dia juga gentle dan jujur.
Bagaimanapun, Gian adalah sosok pria yang baik. Aku jelas tidak mau kehilangan sahabat sepertinya.
Tapi, rasanya egois kalau sekarang aku takut berjarak dengan Gian saat seharusnya Gian memang menjauhiku. Minimal untuk menghapus perasaannya sedikit demi sedikit padaku.
"Aku boleh minta 1 hal gak sama kamu?" kataku.
"Asal jangan minta aku jauhin kamu aja" jawabnya.
"Bukan ko, aku minta kamu ceritain first love kamu yang katanya mirip aku" jawabku.
"Kamu tau soal itu? Kalau gitu kamu gak usah pingin tahulah, nanti kamu semakin ngerasa bersalah ke aku" jawabnya.
"Kenapa emangnya?" tanyaku...
"Karena semua yang ada di diri kamu, sama kaya dia... Gak ada yang beda dari kalian selain postur tubuh... Bentuk wajah, kesukaan, tutur bicara, gesture bahkan bakat kalian sama" jelasnya.
"Yaudah, cukup kalo gitu. Kamu gak usah cerita apa-apa lagi" kataku.
Membayangkan bagaimana sulitnya menjadi Gian saat harus berhadapan dengan orang yang secara fisik dan sifatnya hampir menyerupai mantan pacarnya yang sudah tidak ada saja, membuatku ikut sakit hati.
Lantas kenapa aku masih saja melukainya dengan cara memintanya bercerita kisah paling menyedihkan itu lagi?
"Aku mau beli minum haha kayanya aku harus mabok deh" katanya sambil tertawa.
"Eh gaboleh!" teriakku.
"Bercanda, asal kamu bayarin makan aku barusan" katanya.
"Oke" jawabku.
__ADS_1