
Pos 2007 memang berisi kakak-kakak dengan karakter yang kocak. Salah satunya Kak Jeje, dia humoris dan terkenal jahil.
Kak Jeje meminta anak-anak maru menemukan solusi jika salah satu dari anggota kelompok mereka tidak bisa diajak serius dan selalu bercanda. "Bagaimana cara memecahkannya? Apa kalian akan marah sama dia? Atau dibiarin aja tapi dia tetap ganggu kalian?" tanyanya.
Entah apa yang dikatakannya pada Maru, mereka tertawa mendengar penjelasan Kak Jeje.
"Liat deh di 2007 mereka bisa ketawa-ketawa kaya gini, di 2008 mungkin mereka masih santai juga tapi di 2009 mereka pasti kaget" bisik Hasan.
"Yaudah yu san, kita ke pos 2 lanjut! Kayanya mereka udah mau selesai" ajakku.
Setelah selesai di Pos 1, aku dan Hasan bergerak ke pos 2 angkatan 2008. Sementara Roby dan Ega baru saja sampai di pos 2 untuk memberikan deskripsi kelompok selanjutnya.
Pos 2 angkatan 2008 ini merupakan pos favoritku saat dulu masih menjadi maru. Pos ini erat dengan kekerabatannya, mereka meminta maru memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan mereka masuk geografi lalu setelah itu mereka akan menceritakan banyak kisah tentang pengalaman mereka selama praktikum dan kuliah lapangan. Tidak ada satupun yang tidak memperhatikan cerita mereka, Kak Desi adalah pencerita yang bagus. Dia ekspresif dan bisa membangun suasana. Tahun ini, kak Desi juga masih menjadi pencerita.
Setelah selesai bercerita, mereka akan meminta maru memecahkan teka-teki tentang peta sederhana dan harus menemukan jawaban hanya dari petunjuk-petunjuk sederhana. Setelah berhasil, kami akan diberi hadiah berupa kalung yang dibuat dari snack, permen, dan coklat.
"Aku dulu suka banget loh sama pos 2008" bisik Hasan.
"Sama haha, baik-baik ya? Gak kerasa waktu 20 menit tuh" jawabku.
"Oke rain, kamu harus siap liat pacar kamu berubah jadi serigala sebentar lagi. Ayo lanjut" ajak Hasan sambil meledekku.
"Hahaha serigala, aw takut"....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di pos 2009...
Hasan memberikan lembar deskripsi kepada Andreas yang sudah berubah menjadi serigala itu.
Matanya menatap tajam pada Hasan bahkan juga kepadaku.
"Kamu kenal gak cowok itu?" bisik Hasan.
"Gak kenal, siapa sih" jawabku.
"Bisa gitu ya dia, berubah seketika" bisik Hasan lagi.
"Serem banget ya" kataku.
Sembari menunggu kelompok 1 sampai di pos 3, aku dan Hasan duduk-duduk di semak belukar. Tepat didepan kumpulan angkatan 2009 yang juga sedang duduk beralaskan terpal dan disinari 3 buah senter dari berbagai sudut.
Hasan mengajakku bercanda dengan mengatakan bahwa dibelakangku ada ular, aku sesekali berteriak tapi dengan suara pelan karena takut.
Candaan seperti ini, selalu jadi penyemangat bagi kami saat mulai kelelahan atau sedang kedinginan karena bisa menghangatkan suasana dan melepaskan ketegangan.
Aku memang meminta timku, untuk bekerja dengan santai tapi disiplin dan agar saling menjaga satu sama lainnya.
Saat sedang bercanda dengan Hasan, Andreas melihatku dan sepertinya khawatir karena tempat ku duduk sekarang berbatasan dengan turunan.
"Hati-hati dek" teriaknya sambil mengarahkan senter kearahku.
"Ciyeeee lagi begini aja dia masih merhatiin kamu loh Rain" ledek Hasan.
Tak lama kemudian, kelompok 1 datang dan langsung disambut dengan teriakan dari kakak-kakak 2009.
"Masih semangat?" tanya kak Doni.
.......................................
.........................................................
............................................................................
Setelah pos malam selesai, semua tim sudah berkumpul kembali di tenda panitia dan diizinkan beristirahat sampai pukul 2.
"Rain, aku sama Hasan tidur bentar ya? Soalnya shubuh nanti kita ikut pimpin olahraga pagi" kata Roby.
"Iya bi, pada tidur aja gih nanti aku bangunin kalau udah jam 1" kataku.
"Kamu juga tidur dong rain, bareng yu?" ajak Ega dan Rima.
"Aku nunggu komdis, soalnya kasihan Nunu gak bawa sleeping bag. Jadi mau kasihin dulu sleeping bag ke Nunu" jawabku.
"Yaudah kita duluan ke tenda ya?"....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku mendekatkan diriku pada api unggun sambil menggosok-gosok kedua tanganku yang sudah kedinginan.
Sesekali aku melihat semua teman-temanku seperti mulai kelelahan dan tertidur di sembarang tempat.
Ada yang tidur di saung sambil memakai sleeping bag, ada yang tidur langsung diatas terpal dibawah langit malam itu, juga ada yang masih meminum gelas demi gelas berisi kopi panas.
"Rain, ko belum tidur?" teriak Nunu.
"Nungguin kamu, katanya kamu kan gak bawa sleeping bag. Nih ambil" kataku sambil memberikan sleeping bag padanya.
"Hanifa sama Arika mana?" tanyaku.
"Lagi pipis, kamu tidur gih" katanya.
"Engga ngantuk, tadi habis ngopi malah seger gini" jawabku.
__ADS_1
"Mau dong, bikin kopi dimana?" tanyanya.
"Tuh di saung, ada termosnya ko masih banyak air panasnya" jawabku.
Gian, Nirwan, Agung yang baru saja datang ikut bergabung bersamaku di depan api unggun.
"Nu buatin sekalian lah" teriak Nirwan yang langsung minta dibuatkan kopi saat sampai.
"Okeeee 3 ya?" sahut Nunu.
"Rain, gak tidur?" tanya Agung.
"Aku sebenernya mau tidur tapi tadi malah ngopi eh jadi melek begini" kataku.
"Mending gak usah tidur tau, cuma sejam doang nanti malah pusing" sahut Nunu.
"Iya bener, mending tidurnya nanti aja pas Maru olahraga pagi lumayan kan tiga jam yang megang tim lapangan sama konsumsi aja" kata Gian.
Tak lama, Hanifa dan Arika kembali lalu ikut membuat kopi dan duduk bersama kami.
Saat kami semua sedang asyik bercerita satu sama lain tentang pos-posan malam tadi, kulihat Rani sedang kebingungan seperti mencari sesuatu.
"Nyari apa ran?" tanyaku.
"Nyari toa, ilang" jawabnya.
"Di tenda logistik kali" kata Nirwan.
"Udah dicari tapi gak ada, mana itu buat bangunin maru jam 4 lagi" katanya.
"Yaudah kita bantu cari yu? Mungkin karena gelap jadi susah ketemu. Kalau banyakan yang nyari pasti cepet nemuinnya" ajakku.
"Apaan sih rain, itu kan tugas dia biarin aja. Lagian kita capek kali mendingan duduk disini" keluh Nunu.
"Yaudah ayo bantuin carilah" kata Hanifa.
Kamipun membantu Rani mencari toanya, entah dimana toa sebesar itu saja bisa hilang segala.
"Padahal warna toa kan putih, harusnya gampang dong ketemunya" gumamku.
Saat kami menyebar kebeberapa tempat untuk mencari toa, Arika berteriak dan menemukannya di tenda medis.
"Ada nih ketemu!!"....
Aku dan Ranipun segera kembali ke atas sampai hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras.
"Aduh" teriak Rani yang tergelincir dan jatuh.
Rani ternyata tergelincir dan jatuh ke tanah yang menurun. Dia berpegangan pada batang pohon.
"Sini pegang tangan aku Ran" kataku sambil berusaha menjangkau tangannya.
"Aku berat Rain, kamu gak akan bisa narik aku sendirian" teriaknya.
"Gian, Nirwan tolongin ada yang jatoh" teriakku sambil mengarahkan headlamp ke arah tenda panitia.
Mereka berlarian mencari arah suaraku.
Saat aku hendak membantu Rani untuk menahan tangannya agar tidak terlepas, aku malah tergelincir dan ikut jatuh hingga kepalaku terbentur batu berukuran cukup besar.
"Raina!!!" teriak Rani yang kaget.
"Udah gapapa, aku gak apa-apa ko. Ayo aku dorong kamu dari sini. Kamu naik ya?" kataku sambil mendorong tubuh Rani.
"Rain kepala kamu berdarah" teriaknya.
"Iya pantes perih, teriak lagi panggil yang lain" kataku.
Tak lama Gian dan Nirwan datang dan kaget melihatku jatuh tersungkur.
"Rain, ayo aku tarik" kata Gian sambil memberikan tangannya.
"Tolong dulu Rani" kataku.
"Wan, lu tolong Rani gue mau ngangkat Raina" jawab Gian.
Beruntungnya tanah turunan itu tidak terlalu curam. Masih ada pepohonan dan tanah datar yang bisa kupijaki.
"Rain, kepala kamu berdarah" kata Gian sambil menggendongku.
"Iya, kebentur batu tadi. Perih deh" kataku.
"Weeey medis kesini" teriak Gian.
Sementara aku mulai merasa pusing, Gian masih menggendongku di belakang tubuhnya. Nirwan sedang membantu Rani dan membersihkan kotoran yang menempel di bajunya.
Hanifa, Nunu dan Arika terlihat datang dan langsung mengkhawatirkanku.
"Rain, ko bisa kaya gini?" tanya Arika.
"Tadi Rani jatuh kepeleset soalnya licin, terus aku mau nolongin dia eh malah aku ikutan jatuh" jelasku.
"Euh palingan si Rani yang jebak Raina biar jatuh" gerutu Nunu.
"Engga ko nu, aku jatoh sendiri" kataku.
Akhirnya karena pusing, aku sepertinya pingsan sebentar.
__ADS_1
Saat aku bangun, sudah ada Andreas disampingku.
"Udah aku bilang, kamu jangan lari-lari masih aja bandel. Lagian kamu abis ngapain sih dari bawah?" tanyanya.
"Bantuin Rani nyari toa, tapi Rani kepeleset terus dia jatoh ya udah aku tolongin. Eh karena buru-buru aku juga jatoh" jelasku.
Andreas terlihat menahan marahnya, dia sepertinya kesal karena aku masih menolong Rani.
"Udah aku bilang sih ka, jangan terlalu baik sama orang tapi dia masih aja bantuin Rani. Palingan si Rani sengaja pura-pura jatoh terus dia ngakalin biar Raina ikutan jatoh" gerutu Nunu.
"Iya Rain, palingan kamu dijailin sama dia" tambah Arika.
"Udah ah, jangan malah mojokin Raina. Mendingan kita selidikin tuh si Rani kalau beneran dia cuma ngakal-ngakalin kita doang biar dia bisa celakain Raina baru kita buat perhitungan" kata Hanifa.
Aku tidak mau menambah panjang urusan dan berdebat dengan mereka, hingga akhirnya aku hanya bisa diam dan mendengar ketiganya merencanakan sesuatu.
"Yaudah, kamu istirahat deh! Biar nanti yang handle sementara si Roby aja ya?" kata Nirwan.
"Yah, salah lu wan nasehatin Raina kaya gitu gak akan mempan buat dia mah. Raina kalau belum pingsan dan masih bisa berdiri dia mah pasti tetep kerja" sahut Hanifa.
Andreas hanya diam dan terus-terusan memegang luka di kepalaku.
Sesekali dia akan melihat luka-luka kecil di telapak tanganku dan mengobatinya
dengan kapas yang sudah diberi obat merah.
"Kakak jangan diem aja dong" bisikku.
Dia melihatku dan seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Harusnya tadi aku yang ada disana dan nolongin kamu pas Rani nyelakain kamu. Tapi lagi-lagi aku kalah cepet" katanya.
"Sorry ka, tadi gue juga gak sengaja gendong Raina abis gue panik soalnya kepala dia berdarah. Gue mau manggil kakak dulu juga kan jauh karena kakak masih di pos atas" jelas Gian.
Dia langsung menatap Gian dan beranjak.
Aku menahan tangannya karena takut dia malah marah pada Gian.
"Gapapa bro, gue justru mau ngomong makasih karena lu udah bantu Raina" katanya sambil menepuk bahu Gian.
"Yaudah kalian tidur gih sebentar, karena hujan kita perpanjang waktu istirahatnya sejam. Jadi maru mulai kita bangunin jam 5 kurang 15 aja" jelas Nirwan.
"Iya pada bubar gih, Raina biar gue yang jaga!" katanya.
Merekapun keluar dari tenda darurat medis dan masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
Aku melihat sekeliling tenda medis dan tidak menemukan Rani.
"Kak, Rani mana? Bukannya dia juga luka ya?" tanyaku.
"Dia gak mau dirawat di tenda medis, kamu tau gak? Pas dia bangun dari jatohnya itu kata Nirwan dia langsung lari ke tendanya dan gak balik-balik lagi" jelasnya.
Aku terdiam mendengar jawaban Andreas, bagaimana bisa Rani bahkan tidak minta diobati dan malah lari begitu saja tanpa melihat kondisiku. Bagaimanapun, aku jatuh kan karena hendak menolong dia.
"Apa bener ya kak? Rani masih gak suka sama aku dan niat jahat?" tanyaku.
"Udah, gak usah mikir apa-apa dulu. Kamu istirahat aja dulu ya? Kalau dia sampe beneran berpikiran jahat sama kamu, aku juga gak akan tinggal diem" jawabnya.
"Tapi tadi Rani beneran jatoh ko kak dan jalanan beneran licin juga karena ujan tiba-tiba deres banget" kataku.
"Iya sayang, aku percaya ko" katanya.
"Kak, jangan ngelarang aku ikut acara besok pagi ya? Aku mau ikut soalnya kan ada awarding sama tinggal penutupan doang" pintaku.
Dia mengernyitkan dahi dan terlihat berpikir.
"Iya, tapi jangan maksain ya kalau sakit ya bilang sakit. Kalau gak kuat minta bantuan aja dari yang lain. Aku kan khawatir" katanya.
"Iya sayang" jawabku sambil meledek wajahnya yang terlihat khawatir sekaligus lucu itu.
Aku melihatnya terus saja memperhatikan lukaku, sepertinya dia benar-benar menyesal tidak bisa menolongku saat itu.
Dia bahkan tidak melepaskan tangannya dari tanganku, aku takut dia benar-benar membuat perhitungan dengan Rani.
"Kak, jangan apa-apain Rani ya?" kataku.
"Kamu mikir apa sih? Aku gak mikirin Rani ko, ya urusan sahabat-sahabat kamu lah itu. Kalian lebih tahu caranya ngadepin sesama cewek gimana" katanya.
"Terus kakak mikirin apa?" tanyaku.
"Pas waktu kamu jatuh, aku ngeliat Praya disana dia ngacungin jempol ke Rani" jawabnya.
Setelah mendengar jawabannya, Andreas terlihat kaget karena mungkin tadinya dia ingin menyembunyikan hal itu kepadaku. Tapi, dia malah keceplosan barusan.
"Praya? jadi maksud kakak dia ada dibalik kejadian yang tadi aku alami?" tanyaku.
"Belum tau sih, nanti urusan Praya biar aku yang cari tau. Kamu jangan mikirin dulu hal-hal lain ya, biar aku yang cari tau dulu" katanya.
"Hmm, iya" jawabku.
Andreas menemaniku hingga dini hari, sebelum akhirnya dia harus kembali ke pos nya untuk kegiatan lain. Selama diam di tenda medis, aku masih tidak bisa tidur. Aku hanya akan pura-pura terpejam saat Andreas terbangun dan melihatku. Sementara setelah dia tertidur kembali, aku akan bangun kembali dan memainkan ponselku.
"Fa, tadi kata Andreas dia lihat Praya ada ditempat aku jatuh dan ngacungin jempol ke Rani. Katanya sih dia bakal selidikin Praya, tapi aku belum yakin kalau gak tau secara langsung. Tolong ya? kamu ngerti kan maksud aku?" ....
"Iya, gak usah khawatir! serahin sama kita bertiga!" balasnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1