
Andreas menghentikan mobilnya...
"Kamu mau aku gimanain mereka?" tanyanya.
"Aku mau mereka tau, cara ngehargain perempuan" jawabku.
"Yaudah, sekarang aku anterin kamu kerumah ya? Terus aku bakal urus semuanya" katanya.
"Aku gak mau pisah sama kakak, aku mau sama kakak dulu" kataku.
"Iya, aku gak ninggalin kamu ko" katanya.
Akhirnya Andreas mengantarku hingga ke rumah, malah dia masuk ke kamarku bersama Ibu.
"Kenapa lagi kamu? Sakit?" tanya Ibu.
"Iya tante, kayanya Raina pusing" jawab Andreas.
Saat ibu mengambilkan air, Andreas hendak keluar dari kamarku. Tapi, aku menahan tangannya.
"Kakak jangan kemana-mana" kataku.
"Iya, aku disini ko" jawabnya.
Saat itu mungkin dia tahu aku dalam keadaan yang labil, apalagi Ibu sempat menceritakan kepada Andreas bahwa aku memiliki sedikit trauma tentang kekerasan. Dulu, aku sempat diculik saat kelas 2 SD dan proses trauma healingku membutuhkan waktu yang cukup lama.
Ibu sempat bilang bahwa Andreas sampai-sampai minta diceritakan kisahnya secara detail sebanyak 3 kali, saking dia penasarannya tentang masa laluku itu.
Pada akhirnya, aku tau kalau Andreas sudah mendengar cerita tersebut sejak dia menginap semalam dirumahku saat itu.
Andreas terlihat mengetik pesan pada seseorang. Entah kepada siapa, yang jelas ekspresinya begitu marah saat itu.
"Kak, jangan bilang sama Hanifa ya soal ini. Takutnya dia khawatir dan kepikiran aku disana" kataku.
"Kalian ini, emang udah terhubung satu sama lain. Baru aja Hanifa nelpon tapi aku tolak karena aku bilang, aku lagi jagain kamu. Kayanya Kayi udah cerita sama Hanifa soal kejadian tadi" jelasnya.
Andreas mengelus-elus rambutku dan pamit keluar sebentar untuk membelikanku makanan manis.
"Bukannya kalau kamu lagi sedih, kamu suka mau makanan manis kan? Aku beliin ya sebentar?" katanya.
"Tapi jangan lama-lama, kakak jangan urusin cowok cowok stress itu sekarang" kataku.
"Engga ko, tenang aja. Aku cuma mau beliin kamu cake. Aku mau ajak Recca sekalian" katanya.
Andreas, Recca dan Randypun terdengar pergi bersama. Sementara itu, Ibu masuk ke kamarku dan menanyakan keadaanku.
"Kamu kenapa bisa kaya gini? Ada yang ganggu kamu? Ibu tau loh kalau kamu habis digangguin orang pasti kamu kaya gini" kata Ibu.
"Gak apa-apa ko bu, aku cuma kepikiran sesuatu aja tapi gak penting ko. Nanti juga udah lupa, aku bakal baikan lagi" jawabku.
Ibu memang yang terbaik, serapat apapun aku menyimpan rahasia pasti Ibu akan tahu juga dengan sendirinya.
Begitulah insting murni seorang Ibu. Mengerti meski tak mendapat penjelasan dan memahami meski kita tak pernah bercerita langsung.
"Dulu, kamu belajar ngomong Ibu yang ajarin loh" kata Ibu.
"Terus, masa sekarang kamu udah pinter ngomong malah kamu gak mau ngomong sama Ibu?" tambahnya.
Aku hanya memeluk Ibu saat itu dan menangis sejadinya, lega sekali rasanya saat bisa mengeluarkan beban didalam pelukan ternyaman di seluruh dunia itu.
Andreas kembali dan melihatku menangis sambil memeluk Ibu. Tangannya mengepal seperti sangat marah. Mungkin dia tidak tega saat orang yang dia sayangi dilukai oleh seseorang hingga menangis didepannya.
"Mana kuenya?" tanyaku sambil berusaha tersenyum.
"Ini... Oya tante tadi Recca bawa tart buah gitu soalnya katanya dia besok ulang tahun" kata Andreas.
"Aduh anak itu, maaf ya yas jadi kamu yang beliin kuenya padahal Ibu udah bilang kalau nanti malem Ibu yang bakal beliin kue" kata Ibu.
"Iya gapapa bu, besok kita jadi ya maen sekeluarga? Waktu itu kan gak jadi karena Raina sakit. Besok kebetulan tanggal merah jadi kita semua pada bisa kan?" tanya Andreas.
"Wah, Raina pasti seneng tuh kalau diajak maen" ledek Ibu.
Ibupun meninggalkan kami dalam keadaan pintu kamar yang terbuka.
"Kak Iyas, teh, Randy berangkat dulu ya mau latihan futsal" teriak Randy sambil melewati kamarku.
"Ya hati-hati Ran" jawab kami kompak.
Aku mencoba beranjak dan duduk di kursi belajarku, sementara Andreas sedang membuka kotak cupcake yang baru saja dibawanya.
Saat dia sedang asyik mencicipi kuenya, aku memeluknya dari belakang.
"Maaf ya kak, aku pasti udah buat kakak khawatir. Maaf juga karena aku sempet berpikiran untuk minta kakak balas perbuatan mereka. Kakak jangan dengerin omongan aku yang tadi ya?" kataku.
Dia menyambut tanganku, mencium rambutku dan berkata "Aku tahu yang tadi itu bukan benar-benar keluar dari hati kamu, aku tahu kamu cuma lagi marah. Aku paling ngerti kalau pacar aku adalah yang paling baik dan gak pernah dendam sama orang"....
......
.....
.....
.......Ada banyak hal di dunia ini yang dapat berubah setiap detiknya....
....Muda jadi tua....
....Sehat jadi sakit....
....Benci jadi rindu....
....Bahkan rindu jadi benci....
....Tapi kebaikan tidak bisa berubah menjadi kejahatan.....
....Ketulusan tidak bisa berubah jadi ketamakan....
....Begitupun rasa ikhlas yang berubah menjadi dendam....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya, Andreas pulang setelah meminta izin pada Ayah untuk membawaku jalan-jalan besok.
Beruntungnya, Ayah juga menerima tawaran Andreas untuk pergi bersama-sama.
Aku melihat mereka mengobrol dari lantai 2...
"Besok ke Bogor aja yu? Perginya dari shubuh, paling 2 atau 3 jam perjalanan. Gimana?" ajak Ayah.
"Boleh om, nanti Andreas jemput ya pagi-pagi?" katanya.
Dia pamit ke kamarku dan memintaku untuk tidak memikirkan apa-apa lagi.
"Tidur ya sayang, besok pagi kan kita mau jalan-jalan" katanya.
"Kakak hati-hati ya? Jangan ngebut!" kataku.
Bukannya segera pergi, dia malah menggodaku dengan mengarahkan tangannya ke wajahku.
"Gak akan cium tangan?" ledeknya.
Aku menarik tangannya dan malah mencium pipinya.
Saat itu sebenarnya, aku ingin mengatakan banyak sekali terimakasih padanya. Dia yang berusaha untuk selalu menjagaku, menemaniku bahkan saat dia pulang kerja dengan rasa lelahnya aku malah memintanya untuk tetap berada disisiku.
Dia tidak pernah protes, hanya menerima setiap permintaanku dengan sabar.
Tiba-tiba saja dia malah balik mencium pipiku dan Ibu masuk ke kamarku.
"Iyas, mandi dulu gih sebelum pulang. Ada baju Ayah ko yang kecil nih...jadi nanti pas nyampe kosan bisa langsung tidur" kata Ibu.
"Engga usah tante, Iyas mandi dikosan aja" jawabnya.
Aku mencubit kulit perutnya dan membuat dia kesakitan hingga memasang ekspresi aneh.
"Ko aku dicubit sih?" bisiknya.
"Mandi disini, di kamar aku gih bener kata Ibu biar pas kakak nyampe kosan tinggal tidur" bisikku.
"Iya tante, Iyas mandi disini aja" katanya sambil menuju kearah Ibu untuk mengambil baju Ayah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan Harinya....
Andreas datang pagi-pagi sekali, dia langsung mengobrol dengan Ayah di teras sambil minum kopi.
"Kak, aku belum mandi" teriakku dari dalam.
Dia menengok ke arahku dan menjulurkan lidahnya seolah meledek.
"Mandi dulu dong, aku udah siap masa kamu belum?" sahutnya.
"Yas, masuk sini sama Ayah kita sarapan dulu" ajak Ibu.
Recca dengan manjanya meminta duduk disebelah Andreas saat itu.
"Kak, mana kado buat aku?" tanya Recca.
"Dek, apa sih masa minta kado segala? Kemarin kan udah dibeliin tart" kata Randy.
"Ada ko di mobil, nanti Recca buka ya didalem?" jawab Andreas.
Aku hanya tersenyum melihat betapa akrabnya Andreas dengan seluruh anggota keluargaku.
"Yas, mau kamu yang nyetir atau Ayah?" tanya Ayah.
Andreas terlihat kaget saat mendengar Ayah secara tidak langsung meminta dia untuk memanggilnya Ayah bukan Om lagi.
"Kenapa yas? Kaget? Gak apa-apa mulai hari ini kamu panggil Ayah aja ya jangan Om" kata Ayah.
"Iya yah, biar Andreas aja yang nyetir nanti bisa gantian lah" katanya.
Kamipun masuk kedalam mobil Andreas, Ayah dan Andreas duduk didepan. Aku, Randy, Ibu dan Recca duduk dibelakang.
"Teh, aku di pojok ah biar bisa tidur" rengek Randy.
"Gak mau, teteh juga mau tidur mau di pojok" kataku.
"Aduh, mulai deh kalian berdua gak dirumah gak dimobil kerjaannya berantem terus" kata Ayah sambil melirik ke belakang.
Andreas terlihat menahan tawanya saat melihatku dan Randy dimarahi oleh Ayah.
"Andreas, nama kamu itu artinya dalam bahasa yunani kan laki-laki, kuat, jantan. Betul kan?" tanya Ayah.
"Wah om... Eh ayah, jago juga sastra nya" jawab Andreas.
"Gini-gini Ayah sama Ibu tuh pemikir keras loh kalau bikin nama anak, kaya namanya Raina dari bahasa jerman, bahasa cekoslovakia dan bahasa arab artinya sama yaitu Ratu" jelas Ayah.
"Kalau Pramadini artinya apa yah?" tanya Andreas dengan antusiasnya.
"Pramadini itu dari bahasa hindustan artinya pemberi kebahagiaan" jawab Ayah.
Andreas menunjukan ekspresi terkejutnya, mungkin dia tidak menyangka arti namaku akan sebagus itu. Hahahaha...
"Makanya kamu bahagia kan selama sama Raina?" tanya Ayah.
"Bahagia yah" jawabnya sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari itu jadi hari yang paling indah buatku dan keluargaku. Hari dimana untuk pertama kalinya, kami pergi liburan singkat bersama dengan Andreas.
__ADS_1
"Kakak bahagia gak?" tanyaku saat dia hendak pulang ke kosannya.
"Bahagia dong, Ayah sama Ibu kamu nerima aku dengan sangat baik" jawabnya.
"Iya dong, kesannya malah anak kandung mereka itu kakak bukan aku. Mau makan yang dicariin kakak duluan, mau foto bareng yang diajak juga kakak duluan kan?" gerutuku.
"Haha iya, pokoknya aku seneng banget hari ini. Kalau aku cerita sama Ibu, pasti dia juga seneng dan gak nyangka" jawabnya.
"Nanti berarti giliran aku yang ke Palembang ya?" kataku.
"Iya, kamu harus kesana lah tapi nanti setelah pemilihan duta kampus jadi kamu bisa sekalian liburan disana" katanya.
"Aku anggap ini janji loh?" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari kemudian....
Andreas mulai lebih sibuk dari biasanya, setelah dia terpilih untuk ikut dalam tim survey lapangan. Entah untuk penelitian apa, mungkin untuk pemetaan iklim terbaru.
Hari ini, aku juga ada audisi untuk 50 besar duta kampus. Setelah sebelumnya aku lulus 100 besar hanya dengan mengirimkan foto close up dan daftar sertifikat yang sudah pernah aku terima.
"Kamu semangat ya? aku sebentar lagi mau jemput dulu Dinda" kata Andreas dalam chatnya.
"Dinda? dia kenapa? minta jemput kakak lagi?" tanyaku.
"Engga, dia cuma bilang kalau aku kebetulan lewat depan kosannya dia mau nebeng. Nah aku kan kebetulan lewat sana" jelasnya.
"Kemarin juga kebetulan, hari ini kebetulan lagi?" tanyaku.
"Sayang, cemburu ya? hahaha tenang aku gak ngelirik yang lain ko" balasnya.
Aku hanya membaca pesan yang terakhir itu tanpa membacanya.
"Ih si Dinda itu siapa sih?" gerutuku.
"Dinda yang mana rain? emang kamu punya temen namanya Dinda?" sahut Nunu.
"Bukan nu, ini Kak Iyas masa dia udah dua hari ini katanya dimintain jemputa sama cewek namanya Dinda. Temen kantor barunya" jawabku.
"yah namanya juga kebetulan rain, gapapa lah baru dua kali ini" sahut Nirwan.
"Hahaha, si Raina sama kaya gue saking gak pernahnya gue denger cewek deket-deket sama Kak Dhika sekalinya ada kabar begitu gue bisa ngambek banget dan kepikiran" kata Hanifa membelaku.
"Nah itu fa bener" jawabku.
"Eh fa, kak Dhika gak ada kemungkinan pindah kerja kaya Andreas?" tanya Arika.
"Belum tau ka, katanya dia mau daftar s2 juga sih. Samaan kaya bayangannya tuh si kak Andreas" jelas Hanifa.
"Andreas sih udah mulai kuliah pas kita masuk semester 6 nanti" jawabku.
..............................................................................................
Sepulang kuliah....
"Rain, aku tunggu kamu di kosan Nunu ya? sekalian aku mau packing pesenan disana. Nanti kalau kamu udah mau pulang, kamu kabarin aku ntar aku jemput" kata Hanifa.
"Kayanya aku bakal lama deh, soalnya seleksi hari ini kan harus antri sesuai nomor urut" jawabku.
"Gak apa-apa, aku tungguin ko. Semangat ya!!!" pungkasnya.
Aku berpisah dengan Hanuka tepat didepan fakultas, karena aku harus mengikuti seleksi tahap 2 untuk pemilihan duta kampus.
Hari ini, aku berniat menampilkan keterampilan bernyanyiku yang tidak seberapa itu. Selain itu, aku juga ingin bermain gitar akustik untuk menunjang penampilanku.
Rasanya tegang sekali, saat melihat wajah-wajah peserta yang sudah menunggu di ruangan seleksi
"Pada cantik dan ganteng banget semuanya" gumamku.
Akupun mendaftarkan namaku untuk absensi dan kembali duduk di kursi yang telah disediakan untuk para peserta.
Sambil memeluk gitar kesayangan adikku, aku menghafal lirik demi lirik lagu yang nantinya akan kunyanyikan di hadapan juri. Biasanya kalau dalam situasi menegangkan seperti sekarang, lagu yang paling aku sukaipun liriknya akan terdengar sangat sulit dihafal meski aku sudah mendengarkan lagunya beratus-ratus kalipun.
"Ini nomor urut kamu yang baru, 18" kata salah seorang panitia sambil menempelkan nomor urutku di pinggang sebelah kanan.
"Terimakasih bu" kataku.
Sesaat sebelum dipanggil, aku menyaksikan penampilan membaca puisi yang sangat menakjubkan. Penampilnya adalah seorang perempuan dari jurusan Sejarah. Puisinya berjudul "cemburu"...
.........
Aku cemburu pada langit..
*Dia selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi...
Aku cemburu pada angin....
Dia selalu menghirup wangi tubuhmu sesukanya...
Aku juga cemburu pada hujan....
Yang mampu memberikanmu ketenangan...
Kadang aku takut tersaingi...
Takut tersisih dan lalu terlupakan...
Saat kulihat senyummu kau ukir bukan karena aku...
Saat kudengar tawamu menggelegar bukan karena aku yang bersinar....
Aku cemburu... bahkan pada lembaran buku-bukumu..
Yang setiap hari kau sentuh dan bahkan kau peluk....
Apa aku bisa mengatakannya padamu?
__ADS_1
Ya mengatakan bahwa aku cemburu*.....