Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Andai


__ADS_3

Setelah kembali ke rumah sakit....


"Kak, gue sama yang lain balik ya? Kita pada nginep di kosan Nunu ko. Jadi kalau ada apa-apa, lu bisa langsung telpon gue" kata Gian.


"Iya kak, gue juga disana gak akan bsia tidur cuma kasian si Nunu sama Arika" kata Nirwan.


"Ya better lu pada bawa cewek-cewek pulang lah, istirahat dulu. Lu juga dhik bawa pulang si Hanifa suruh tidur" kataku.


"Iya nanti kalau dia mau, gue ajak pulang" jawab Dhika.


Akupun masuk ke ruangan Raina, dan meminta Hanifa untuk pulang bersama Dhika.


"Aku gak bisa pulang kak, Raina belum sadar. Aku gak bisa tenang" katanya.


"Nanti kakak kabarin kalau Raina sadar, sekarang kamu mending pulang istirahat dan kasian tuh si Dhika ngantuk" kataku.


Hanifapun menurut dan pamit pulang padaku.


Tak lama, aku benar-benar hanya berdua saja dengan Raina.


Aku mendatangi suster, meminta Raina dipindahkan ke ruang VIP sekarang juga.


"Baik mas, saya lihat dulu apa ada ruangan yang kosong atau tidak" kata suster.


Sebenarnya, sejak siang tadi aku ingin sekali meminta Ayah memindahkan Raina ke ruang VIP dengan alasan agar Raina lebih aman dan anggota keluarga yang menungguinya juga lebih nyaman.


Tapi, Ayah mungkin memikirkan masalah biayanya. Seukuran kamar kelas 1 saja, biaya rawat inap perharinya 1 juta rupiah. Apalagi untuk VIP.


Setelah aku melihat rincian biayanya, ternyata tidak terlalu jauh perbedaannya dengan kelas 1. Kalau tahu begini, mungkin Ayah juga akan menyetujuinya.


Bukan maksudku mendahului keputusan Ayah saat itu, aku hanya ingin Raina mendapat pelayanan terbaik.


Dengan dia dipindahkan ke ruang VIP, maka akses dokter lebih terjamin dan ketika dia sadar nanti dia akan lebih nyaman menjalani perawatan.


............................................


.............................................


"Mas, ada satu kamar VIP yang masih tersedia. Pasien akan dipindahkan sekarang" kata suster.


"Ya silahkan sus" jawabku.


Saat hendak mengikuti suster yang membawa Raina pindah ke ruang VIP, aku mendengar suara tangisan seorang Bapak-bapak.


Kulihat, dia sedang menangis didepan ruang administrasi.


Spontan, aku mendatanginya.


"Permisi bapak, maaf boleh saya tahu bapak kenapa menangis disini?" tanyaku.


Bapak tersebut menengadahkan pandangannya. Melihatku dengan wajahnya yang sayu.


"Anak saya harus dioperasi, tapi saya belum punya biayanya. Padahal anak saya sudah harus mendapat penanganan" jelasnya.


"Memang anak bapak sakit apa?" tanyaku.


"Anak bapak ketabrak mobil, kakinya luka parah tapi penabraknya kabur dan tidak bertanggung jawab" jelas Bapak tersebut.


Seketika saja, aku mengingat kejadian yang menimpa Raina. Perasaanku sama hancurnya dengan yang dirasakan Bapak itu.


"Berapa biayanya pak?" tanyaku.


"7 juta rupiah, bapak hanya punya 2 juta itu juga hasil gadai motor dan Ibunya sedang mengusahakan pinjam sana-sini tapi belum dapat juga" jelas Bapak tersebut.


"Yasudah pak, biar saya bantu. Kalau 5 juta saya ada, Bapak ikut saya ke atm ya? Saya kasih uangnya ke bapak langsung" kataku.


Bapak tersebut menangis, memelukku dan nyaris bersimpuh dihadapanku.


Lagi-lagi, aku merasa iri. Mendapati seorang Ayah yang menangis saking mencintai anaknya.


Beberapa saat kemudian............


"Makasih den, bapak tidak tahu harus bicara apa" katanya.


"Tidak usah pak, saya hanya meminta doa bapak semoga pacar saya bisa segera sadar. Tadi siang juga dia mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil dan sampai sekarang belum sadarkan diri" jelasku.


Bapak itu memintaku mengajaknya ke kamar Raina, beliau meminta izinku untuk mendoakan Raina dari dekat.


Bapak tersebut melihat Raina dengan sangat dalam, kemudian mendoakan Raina di kursi sebelah ranjangnya.


"Pacar kamu cantik, dia pasti sadar sebentar lagi. Dia beruntung memiliki pacar sebaik kamu, kalian pasti bahagia memiliki satu sama lain" katanya.


"Saya yang beruntung punya dia pak, dia alasan saya untuk semangat menjalani hidup" kataku.


"Doakan dia, minta sama yang kuasa untuk panjangkan umurnya agar kalian bisa bersama. Mudah-mudahan dia akan segera sadar, katanya doa orang yang teraniaya itu dikabulkan oleh Tuhan, hari ini saya juga seorang Ayah yang didzolimi dan sama sedihnya dengan Ayah pacar kamu ini dan saya sudah mendoakannya sebisa saya. Semoga dia cepat sehat dan pulih seperti sedia kala" jelas Bapak tersebut.


Tak lama setelah itu, Bapak tersebutpun pamit.


Aku kembali duduk disamping Raina...


"Tuh kamu denger kan? Barusan bapak itu aja bilang kamu cantik, berarti kamu emang cantik kan?


Bapak itu juga udah doain kamu, dia bahkan gak kenal siapa kamu. Tapi, dia doain kamu sampe nangis loh......

__ADS_1


Jadi tolong sayang, kamu bangun...... Jangan diemin aku terlalu lama ya??"........


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah hampir jam 5 pagi, tapi aku belum juga mengantuk. Mataku masih fokus memandangi wajah Raina. Sesekali, rasa kantuk itu memang datang tapi hilang kemudian setelah aku mencoba berjalan berkeliling ruangan dan duduk di sofa sambil menonton acara televisi.


Aku teringat akan ponsel Raina, yang kata Ibu ada didalam tas yang dibawa Ayah saat pertama kali dia masuk ICU.


Aku mencarinya dan ternyata sudah dipindahkan suster ke lemari disamping ranjangnya.


Beruntungnya, aku sudah meminta teman-teman dekatnya untuk merahasiakan kejadian ini. Bukan apa-apa, teman Raina kan banyak. Aku hanya belum mengizinkan jika dia banyak dijenguk oleh orang lain selain keluarga dan sahabat terdekatnya.


Telpon yang terakhir masuk adalah dari nomorku...


Chat terakhirnya juga denganku....


Tanpa sengaja, aku melihat ada gambar alarm yang disenyapkan di layar.


⏰ officially sudah kita LDR!!!!!


Kubuka ternyata ada sebuah catatan yang disematkan pada alarm tersebut.


"Raina, gimana setelah beberapa jam kamu sama Andreas pisah dan kalian menghirup udara yang berbeda? Are u ok? Ini baru hari pertama tanpa Andreas di Bandung loh, kamu sabar ya!"


Catatan yang dibuat sendiri olehnya, semacam catatan yang dibuat untuk memperbaiki suasana hatinya setelah kepergianku.


"Bodoh, mana bisa kamu bikin alarm setiap 6 jam sekali cuma buat memperingati jam-jam baru kamu tanpa aku?" .....


Kali ini, aku tahu rasanya pura-pura kuat. Aku mencoba untuk tidak menangis didepannya, tapi rasanya sangat sulit.


....................................


....................................


Suster yang bertugas memeriksa keadaannya setiap 3 jam sekali itu, sudah datang lagi.


Dia memeriksa kondisi Raina...


"Tekanan darahnya sudah normal, detak jantung dan saturasinya juga membaik. Semoga beberapa jam kemudian, dia sudah bisa sadar ya?" kata suster.


"Ini udah berapa kali sejak suster dan dokter datang meriksa kamu, kenapa kamu belum bangun? Kamu masih marah ya sama aku?"...


Lagi-lagi aku hanya bisa melihat-lihat ponselnya, membaca chat-chat kami. Rasanya sangat aneh saat membacanya langsung, padahal aku sendirilah yang mengirim chat-chat manis itu pada Raina. Tapi, kenapa rasanya berbeda saat aku kembali membacanya.


Baru kusadari, hampir setiap malam Raina selalu menutup percakapan kami dengan kata "i miss you already" (aku sudah merindukanmu lagi) dan sekalipun aku tak pernah membalasnya.


Kebanyakan, aku hanya menjawab "tidur sana, good night atau nice dream" padahal saat itu harusnya balasanku "i miss u too"...


Aku jadi semakin merasa bersalah, bagaimana bisa aku mengabaikan hal-hal kecil yang mendasar seperti ini.


Apa ini balasan setelah sebelumnya aku mengabaikan Ibu?


Apa ini balasan setelah aku tidak bisa menemani Ibu di saat-saat beliau sakit?


Apa aku harus ditegur dengan cara seperti ini? Agar aku sadar bahwa menjaga lebih sulit dibanding memiliki?


Tapi kenapa, selalu orang terdekatku yang terluka?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Menjelang jam 7 pagi, Hanifa dan Dhika sudah datang. Sepertinya Hanifa tidak tidur karena wajahnya tidak nampak segar.


"Kak, cuci muka dulu gih. Gantian aku yang jagain Raina" katanya sambil memberikan handuk kecil kepadaku.


Kulihat Dhika sedang duduk sambil minum diluar, wajahnya masih terlihat mengantuk.


"Lu tidur gak semalem? Kenapa lu pindahin Raina ke ruang VIP?" tanyanya.


"Gue tidur, gue pindahin dia kesini supaya dia nyaman dan yang nungguin juga nyaman" jawabku.


Tak berapa lama, saat aku kembali ke kamar Raina. Kudengar suara Hanifa menangis.


"Coba aja kemarin aku gak ada acara jemput kak dhika, mungkin kamu pulang sama aku. Aku yang nganter kamu kerumah dan kamu gak akan sampe turun dijalan rame itu lagi. Semuanya salah aku rain, aku yang buat kamu kaya gini"


"Tolong, jangan hukum kak Iyas dan Ayah Ibu kamu dengan gak bangun-bangun kaya sekarang. Mereka butuh kamu".....


Aku keluar dari ruangan, membiarkan Hanifa berbicara dari hati ke hati dengan Raina. Meski Raina terpejam, aku yakin telinganya mendengar.


"Lu udah tau yang nabrak Raina?" tanya Dhika.


"Belum, belum ada rekaman cctvnya. Lagian daerah situ kan rame banget, gue udah laporin sih kemarin. Ayah juga udah gue minta nanya terus perkembangan kasusnya" jelasku.


"Gimanapun, si penabrak harus dihukum karena dia kabur dan gak bertanggung jawab" kata Dhika.


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.


........................


..............................


Beberapa jam kemudian....


Ayah sudah datang dan sedang didalam ruangan menemani Raina. Aku dan yang lainnya menunggu diluar, sembari membicarakan bagaimana caranya kami meminta izin pada dosen terkait ketidakhadiran Raina beberapa hari kedepan.

__ADS_1


"Lu mending telpon Pak Yana langsung, lu jelasin semuanya. Lagian kan tinggal 3 hari mereka kuliah, itu juga cuma buat cek nilai dan pengumpulan tugas yang telat-telat" kata Dhika.


"Iya kak, setuju sama kak dhika. Kalau kakak emang gak mau temen-temen di kampus pada tau soal kejadian ini ... ya solusinya cuman satu, Kakak telpon Pak Yana" sahut Arika.


Akupun pamit sebentar untuk menelpon Pak Yana.


Beliau sangat kaget mendengar ceritaku dan memberi semangat padaku untuk mencari keadilan dan menemukan pelaku penabrak Raina.


"Minta tolong Pak Rohmat, anak beliau kan di kepolisian" kata Pak Yana.


"Iya pak, nanti biar saya coba telpon Pak Rohmat" kataku.


"Tolong kirim alamat dan ruangannya ya yas, bagaimanapun Raina kan duta kampus yang sudah membanggakan prodi kita. Jadi, Bapak hanya ingin menjenguknya" kata beliau.


"Baik Pak, segera saya kirim alamatnya" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebenarnya, aku justru tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang hendak kumintai tolong untuk kasus ini. Bagiku, yang terpenting adalah kesehatan Raina.


Lagipula, aku punya firasat bahwa Raina tidak akan mau menuntut penabraknya meski dengan alasan apapun. Raina pasti akan memaafkan si penabrak bahkan tanpa mendengar cerita aslinya yang ditabrak lari itu.


Tak lama setelah aku menelpon Pak Yana, mereka berlimapun pergi ke kampus.


"Tugas-tugas kita udah beres ko kak. Raina juga udah, kita mau ngecekin nilai dia aja sama kalau ada tugas yang belum ada nilainya, kita mau proses" kata Nunu.


"Iya nu, titip ya urusin punya Raina. Kalau ada yang nanya Raina kemana, bilang aja dia sakit" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayah keluar dari ruangan...


"Yas, Ayah harus ke kantor sebentar untuk izin. Nanti Ayah akan segera kesini setelah selesai. Ibu juga dalam perjalanan kesini" kata Ayah.


"Iya yah, gak apa-apa biar Iyas aja yang jaga" jawabku.


Ayahpun pergi ke kantor, sementara Dhika kuminta pergi untuk membeli kopi keluar rumah sakit.


Saat aku masuk ruangan, kulihat infusan Raina bergerak.


Kudekati perlahan dan ternyata tangannya pun bergerak.


Jari-jarinya seperti merespon sesuatu. Bergerak perlahan namun pasti.


Aku memencet bel untuk memanggil suster.


Rasanya harapan mulai muncul di pikiranku...


Berharap dia akan segera membuka matanya dan melihatku.


Tersenyum kembali dan memintaku segera membawanya keluar dari rumah sakit.


Suster terlihat memeriksanya, tak lama dokter juga masuk dan mereka berbicara entah tentang apa.


"Gimana dok?" tanyaku.


"Tubuh pasien sudah merespon baik. Tolong jangan ditinggal ya mas" katanya.


"Apa hari ini dia akan sadar?" tanyaku.


"Pasien dengan luka di kepala, membutuhkan waktu untuk bisa sadar setelah cedera tertutup yang dialaminya dan setelah ada luka trauma yang timbul. Kita tunggu dan berdoa bersama-sama saja, semoga pasien bisa segera sadar" jelasnya.


"Terima kasih dok" kataku.


"Tolong jangan ditinggal ya, kalau sudah ada perkembangan lagi segera panggil dokter" katanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Melihat baru tangannya saja yang bergerak, aku sudah kegirangan.


Apalagi saat nanti dia tersenyum dan kembali bisa memelukku seperti yang dilakukannya sehari-hari.


Aku kembali duduk disampingnya, merapikan rambutnya yang belum disisir sejak kemarin itu.


"Kamu pasti nanti ngambek pas tahu rambut kamu berantakan, apalagi pas kamu tahu kalau kamu gak mandi dari kemarin. Kayanya kamu gak mau ketemu kaca" .....


"Habis ini, kalaupun kamu mau ke salon mau ke mall atau mau ngabisin waktu kemanapun. Aku akan ikut, aku akan nurutin semua mau kamu. Asal kamu jangan kaya gini lagi. Aku mau kamu sembuh".....


Saat mendengar perkataanku, kulihat kedua matanya berair. Dia menangis dan meresponku.


"Aku tahu kamu denger aku dek, makanya dari kemarin aku selalu ajak kamu ngobrol seperti biasanya. Kamu gak kasian apa sama aku, sama Hanifa, sama Ayah dan Ibu. Mereka ngobrol sama kamu tapi kamu malah diem terus".....


Aku mencoba memandanginya terus, berharap dia akan segera bangun kali ini.


Tapi, dia masih diam dan mengabaikanku.


"Yas, kopi yas!!" kata Dhika sambil mengetuk pintu ruangan.


"Ya bentar"

__ADS_1


Saat aku beranjak dan hendak keluar dari ruangan, aku mendengar suara lirih memanggil namaku.


"Kak......."


__ADS_2