
"Nih buat kamu, anggap ini hadiah pertemanan dari aku. Gak boleh ilang!!!" kataku sambil memberikan kotak kecil berwarna lilac pada Gian.
"Wah, buka ya?" tanyanya.
"Buka aja!" jawabku.
"Ah gantungan kunci, tau aja kunci kosan aku sering ilang" candanya.
"Aku custom itu loh, jangan sampe ilang makanya atau kita musuhan" balasku.
"Ini juga buat kamu, mungkin abis dari sini aku harus jaga jarak sama kamu... Jangan anggap aku sakit hati sama omongan kamu barusan, bukan sama sekali... Aku cuma butuh waktu aja... buat yaaa lupain kamu" katanya.
"Aku paham ko, giaaan aku minta maaf" kataku.
"Bisa gak maafnya diganti sama makasih?" tanyanya.
"Loh?" jawabku keheranan.
"Ya makasih, karena aku udah mau lepasin kamu buat Andreas" jawabnya.
"Gian jangan bahas itu-itu lagi dong" keluhku.
Aku menerima hadiah dari Gian, hanya selembar kertas yang dilipat tapi aku yakin itu adalah ungkapan terdalam yang ditulis Gian untukku.
Aku hanya ingin segera membacanya dan lagi-lagi mungkin merasa bersalah setelahnya...
"Yaudah yu, kita ke minimarket. Aku traktir kamu deh beli cemilan hahw anggap aja ini ungkapan terimakasih sekaligus maaf buat kamu" katanya.
"Gak mau ah, kita bayar masing-masing pokoknya" jawabku.
__ADS_1
"Ih" gerutuku.
Sesampainya di homestay...
Hanuka sudah tertidur dan maru yang lain sedang asyik bermain catur didepan teras rumah.
"Kak, habis dari mana?" tanya Anit.
"Habis nemenin Gian beli barang" jawabku.
"Kak, si kak Gian pacarnya kakak ya?" tanya Fadlan.
"Ngaco lu, pacarnya kak Raina kan kak Andreas yang angkatan 2009 itu" jawab Fadli.
"Cocokkan sama kak Gian ah, lebih enak diliatnya" sahut Fadlan.
"Ssst mana boleh gosipin kakak tingkat disini? Maaf ya kak jangan didengerin" kata Anit sungkan.
Andreas sudah menelponku dari tadi, mungkin dia mau menanyakan bagaimana hasil obrolanku dengan Gian.
"Aku udah pulang, ini mau tidur hehe. Akhirnya aku clear sama dia" kataku dalam chat.
"Good to hear that, tidur gih udah malem! Besok kegiatan lagi kan?" jawabnya tak sampai 5 menit.
"Iyaa, kakak juga tidur ya?" kataku.
"Kenapa? Suara kamu kaya mau nangis?" tanyanya.
Aku cukup kaget, Andreas ternyata peka sekali mendengar perbedaan di suaraku.
__ADS_1
"Gapapa" jawabku.
"Matiin dulu telponnya, aku aja yang telpon balik" katanya dengan nada yang tegas.
Aku agak tenang setelah menceritakan kegelisahanku pada Andreas, aku tadinya merasa banyak sekali yang harus kusembunyikan pada Andreas karena tidak mungkin aku ceritakan secara detail tentang apa yang aku dan Gian bicarakan tadi.
"Gian ngasih aku surat gitu, gapapa kan?" tanyaku.
"Gapapa lah, udah dibuka?" tanyanya.
"Belum berani, nanti aja aku buka pas sama Kakak" jawabku.
"Kamu pikir aku bakal marah? Gak lah dek, buka aja. Kamu juga penasaran kan?" katanya.
"Iya nanti aku buka, aku kirim ke kakak juga ya?" kataku.
"Iya boleh, gimana udah tenang?" tanyanya.
"Lumayan" jawabku.
Setelah Andreas menutup teleponnya, aku masih tidak bisa tidur.
Aku bukannya tidak mau tidur saat itu, mataku memang sudah terlalu merindukan bantal tapi aku masih saja dihantui rasa penasaran dengan surat yang Gian berikan padaku.
Akupun membuka lipatannya...
Tulisannya sangat singkat ternyata... Tidak sepanjang yang kukira....
__ADS_1
katanya "Aku menyukaimu tanpa alasan, bahkan jika kamu tidak menyukaiku... Aku ingin memilikimu, bahkan jika itu hanya menjadi harapanku saja.. Biarkan aku menyukaimu sedikit lebih lama, nanti jika aku sudah lupapun.. aku akan pergi".....