
"Bagus sih rencana kamu rekomendasiin dia buat dapet bantuan, tapi kamu harus minta izin dulu sama Kayi lah. Takutnya kamu disangka merendahkan atau gimana kan" kata Andreas menasehatiku.
"Iya, aku juga udah minta tolong Nunu sama Gian buat ngomongin hal itu ke Kayi secara baik-baik" jawabku.
Andreas mengajakku pergi ke kosannya, katanya di kulkas banyak bahan makanan yang tidak terpakai dan harus segera dimasak.
"Kamu gak cape kan? Masih bisa kan masak dan buatin aku makanan?" tanyanya.
"Bisalah, oya masak yang banyak aja terus nanti bagi-bagiin ke temen di kosan kakak" kataku.
"Iya boleh" jawabnya...
......
...............
Sesampainya di kosan..
"Aku mau mandi dulu ya? Kamu istirahat atau mau langsung masak juga silahkan" katanya.
"Aku masak nasi dulu aja kali ya" kataku.
"Masak nasi doang mah sama aku aja" katanya.
Akupun mengambil semua bahan yang ada di kulkas dan melihat video-video tutorial masak di youtube.
Sambil memotong sayuran dan daging, memotong bawang bombay dan menyiapkan bumbu sederhana, aku mendengarkan lagu dari speaker bluetooth Andreas.
Masih ada memorycard yang tertempel disana, sepertinya semalam dia habis mendengarkan musik juga sampai lupa mencabutnya.
"Kak aku nyalain speaker ya?" teriakku.
"Ya nyalain aja" jawabnya.
Ada rekaman suara yang terputar, suara alm. Ibunya. Mungkin itu rekaman dari percakapan mereka dalam telepon.
"Yas, Ibu sehat ko gak usah khawatir. Kamu kerja aja disana fokus, jaga kesehatan dan jagain Raina juga. Ibu udah minta Tante Dewi ngurus semuanya di kebun, dia baik ko yas keluarga mereka selalu jaga Ibu dan perhatian sama Ibu. Pak Budi juga selalu nganter Ibu kemana-mana. Ibu selalu doain yang terbaik buat Iyas, buat Raina"....
Rekaman yang membuatku menangis dan merindukan Ibu seketika.
Aku buru-buru menggantinya dengan sambungan dari handphoneku.
"Mungkin kak Iyas suka dengerin rekaman ini kalau mau tidur" pikirku.
Setelah dia selesai mandi, aku sudah mulai memasak di dapurnya.
Dia malah terlihat merebahkan tubuhnya diatas sofa diluar kamarnya, sambil membaca buku-buku catatan kuliahku.
"Kayanya kamu ngantuk pas nyatet mata kuliah perkotaan, dua hari yang lalu" katanya.
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Catetan kamu gak nyambung" jawabnya.
Setelah selesai memasak.....
Andreas memanggil beberapa teman kosannya yang lain yang juga sudah pulang dan sedang istirahat di kamarnya masing-masing.
Akupun membawakan masakanku ke rooftop dimana semua orang sudah berkumpul.
"Kak, ajakin ibu kos sekalian" kataku.
"Iya boleh dek, kamu yang ajakin gih" katanya.
Akupun turun dan mendatangi rumah ibu kos dibawah, untuk mengajak beliau makan bersama.
Masakan sederhana, cuma spagetti dan beberapa tumis sayuran dan daging serta kue-kue yang dipesan Andreas lewat online.
"Wah, baru kali ini ada anak kos ngajak makan bareng dan dia yang siapin makanannya" kata Bu kos.
"Iya bu sekalian perpisahan juga, soalnya dua mingguan lagi mungkin saya pamit pindah ke Palembang" jawab Andreas.
Entah kenapa suasana hatiku langsung berubah setelah mendengar jawaban Andreas barusan.
Aku merasa belum siap saja kalau dia bilang perpisahan, rasanya banyak hal yang harus aku tuntut padanya sebelum kepindahannya itu.
...........................
....................................
.............................................
Setelah makan, aku kembali ke kamar Andreas untuk mencuci peralatan yang kotor.
"Dek, peralatan dapur sama lemari sama semuanya kayanya nanti gak akan aku bawa deh ke Palembang" katanya.
"Lah terus? Hmmm buat si Randy boleh gak? Kebetulan dia lagi perlu rak buku sama lemari kecil gitu" kataku.
__ADS_1
"Nah yaudah bawa aja nanti, terus peralatan dapurnya buat kamu" katanya.
"Buat di kosan Nunu aja deh, biar dia bisa masak dan aku kalau nginep di dia juga bisa masak-masak bareng gitu" jelasku.
Akupun sekalian merapikan kamar kosannya dan membantunya menyetrika baju.
Baju-baju Andreas monoton, warnanya hanya itu-itu saja. Hitam, biru tua, biru langit, abu tua, abu muda dan coklat. Warna-warna aman yang tidak menggairahkan.
Aku memisahkan bajunya berdasarkan jenisnya. Kaos berkerah, kaus oblong, kemeja dan sweater.
Tiba-tiba, aku menemukan jaket pertama yang sempat aku belikan untuk Andreas saat ulang tahunnya. Jaket berwarna navy yang aku pesan dari layanan ekspress itu.
Pertama kalinya, aku menyadari bahwa rasa sukaku pada Andreas bukan sekedar suka biasa. Aku benar-benar menyukainya sebagai seorang perempuan yang mengharapkan laki-laki.
Jaket yang dipakai Andreas saat kami berangkat ke Bosscha, saat itu aku mengantarnya survei sebelum penelitian angkatannya.
"Kamu inget gak jaket itu siapa yang kasih?" ledeknya.
"Aku, aku juga tau ini dari aku" jawabku.
"Dulu pas awal-awal, temen-temen yang mampir ke kosan pada mau jaket itu ya pada mau minjem gitu awalnya" jelasnya.
"Hmm terus dikasih?" tanyaku.
"Aku bilang aja itu jaket pembawa sial, tiap aku pake jaket itu sial mulu" jawabnya.
Aku langsung berbalik menghadapnya, dengan tatapan tajam melihat wajahnya.
"Jaket pembawa sial? Yaudah aku ambil lagi jaketnya" gerutuku.
"Iya, jaket pembawa sial abis tiap pake jaket itu aku selalu sial terus aja ngerasain rindu sama orang yang ngasihnya" jelasnya sambil tertawa.
"Ihhhhh jail" jawabku.
Tiba-tiba saja, saat itu aku ingin sekali meminta satu saja kaosnya. Setelah kami LDR nanti, mungkin saja kaosnya bisa selalu menemaniku saat aku sedang rindu.
"Boleh, ambil aja!" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari-haripun berlalu, aku sudah hampir memasuki Ujian akhir semester 5 minggu depan. Jadi, aku dan Hanuka mengurangi jadwal kami untuk berjualan. Malah kami sudah seminggu ini tidak membawa barang jualan kami ke kampus, hanya orderan online saja yang masih kami terima.
Alasannya, karena kami sibuk belajar kelompok setiap pulang kuliah di kosan Nunu.
Disela-sela belajar, kami selalu menyempatkan menghibur diri masing-masing dengan memainkan gitar atau bernyanyi bersama-sama. Kebanyakan sih, masak-masak dan makan-makan.
Kami juga masih membicarakan tentang Kayi, dia sudah kudaftarkan ke yayasan pemberi beasiswa untuk direkomendasikan mendapat bantuan.
Awalnya, kayi sempat menolak tapi setelah Gian dan Nunu membantu memberikan penjelasan padanya, akhirnya Kayi mau menerima tawaran kami.
Kayi mendapat bantuan untuk membayar uang kosannya, uang makan selama sebulan dan bekalnya sehari-hari. Jumlahnya cukup lumayan.
Kayi mengajak kami berenam untuk makan-makan dan dia yang akan mentraktirnya sore ini, tapi kami menolak dengan alasan lebih baik uangnya digunakan untuk kepentingan yang mendesak saja.
Kami mengajak Kayi mampir ke kosan Nunu, untuk belajar bersama dan makan-makan. Saat kumpulan, kami tidak bisa menghindar dari obrolan paling seru tentang gosip di angkatan kami.
Siapa lagi kalau bukan tentang Rani...
"si Rani katanya juga belum bisa bayar cicilan kuliah lapangan tahap 3, padahal akhir semester ini kan udah harus beres" kata Nirwan.
"Iya emang belum, aku nanya ke bendahara jurusan juga dia doang yang belum. Kayi kan udah bayar banget kemarin dari uang bantuan, terus Kayi diminta ngingetin Rani bayar" jelasku.
"Lah terus gimana? Si Rani gak bayar?" tanya Nunu.
"Belum nu, katanya sih segera" jawab Hanifa yang juga kebetulan adalah bendahara angkatan.
"Oya gimana nih, udah ada planning mau kuliah lapangan terakhir kemana?" tanya Arika.
"Belum ada sih ka, soalnya masih samar-samar juga temanya. Nanti kalau dosen udah ngasih tema besar buat kuliah lapangan tahap 3, baru deh kita bisa nentuin mau kemana-mananya" jawab Gian.
"Kak Dhika sih pernah bilang kalau tema tahap 3 itu pasti seputar komprehensi, ya kaya gabungan dari semua kuliah lapangan sebelumnya" jelas Hanifa.
"Seru dong, kuliah lapangan 1 kan kita ke pantai dan daerah pesisir. Kuliah lapangan kedua, kita di taman nasional dan wilayah konservasi berarti kuliah lapangan terakhir kita harus ke tempat yang ada keduanya dong?" kataku antusias.
"Kayanya sih ke Bali cocok tuh, kan di Bali pulaunya gak terlalu besar dan jarak dari satu tempat ke tempat lain juga bisa ditempuh jalur darat. Pantai? ada... Hutan, danau, sungai? ada... Wilayah konservasi juga ada" jelas Arika.
"Iya bener Bali deh kayanya cocok, atau Lombok" sahut Nunu.
"Coba deh fa, kamu tanyain kak Dhika itu sistem penentuan tempatnya gimana. Apa lewat voting lagi atau disesuaikan dengan budget tabungan kita yang nyicil itu" kata Nirwan.
"Iya deh nanti aku tanyain, kalau dia udah pindahan" jawab Hanifa.
Ternyata, Hanifa yang sedang beruntung sekarang. Dia dan kak Dhika tidak akan menjalani hubungan jarak jauh lagi, karena kak Dhika akan segera pindah kerja sebagai asisten dosen sekaligus melanjutkan s2nya di kampus kami.
__ADS_1
"Padahal, Andreas yang duluan daftar S2 tapi malah kak Dhika yang jadi kuliahnya" gumamku.
"Kak Dhika jadi pindah ke Bandung fa?" tanya Nunu.
"Jadi, dia diminta langsung sama Pak Rohmat buat gantiin beliau selama beliau di Jepang. Sebenarnya sih, tawarannya pertama ke Kak Iyas tapi kak Iyas nolak karena mau pindah ke Palembang. Ya kan rain?" jelas Hanifa.
"Iya, kak Iyas udah cerita ko beberapa hari lalu. Katanya Pak Rohmat mau beresin tesisnya di Jepang ya butuh waktu sekitar 6 bulanan." jawabku.
Aku merasa senang melihat Hanifa sumringah saat kak Dhika menerima tawaran Pak Rohmat untuk menjadi dosen pengganti beliau, setidaknya Hanifa tidak akan kesepian saat berada dirumah.
Meski mungkin, nantinya aku yang kesepian...
................................
........................................
Tidak terasa, hanya tinggal tersisa 4 hari lagi sebelum kepindahan Andreas ke Palembang......
Hari ini karena jadwal Uasku padat, aku tidak membuat janji untuk bertemu dengannya. Dia mengerti dan hanya bilang bahwa dia akan menjemputku saja, kemudian mengantarkanku segera ke rumah agar aku bisa belajar untuk besok.
"Gapapa, aku pulang sendiri aja kak" kataku.
"Jangan, beneran deh aku sebentar lagi juga beres. Kamu tungguin ya?" katanya yang bersikeras memintaku menunggunya sampai selesai perpisahan di kantor.
Aku menceritakan pada Hanifa bahwa hari ini, kak Iyas sedang mengadakan acara perpisahan di kantornya. Lalu, tak lama Hanifa melihat ada postingan yang menandai kak Iyas di stagram.
"Ini Dinda itu bukan sih Rain?" tanya Hanifa sambil memperlihatkan postingan itu padaku.
Aku melihat Dinda memposting foto berdua dengan Andreas, bertuliskan "you gone too soon my inspiration".
Di foto itu, Andreas tersenyum melihat kamera dan Dinda terlihat menunjukan ekspresi sedihnya.
"Hahaha iya, dia lagi farewell kali" jawabku.
Aku tidak kesal apalagi cemburu, hanya saja aku khawatir. Bagaimana nanti kalau kami berjauhan ya? Dekat begini saja aku suka cemburu kalau melihatnya terlalu akrab dengan perempuan lain.
Apalagi saat berjauhan nanti, kudengar juga mayoritas temannya di Kayu Agung adalah perempuan yang berkuliah disana dan membantu usaha keluarga mereka.
"Gimana kalau kita samperin ke tempat kerjanya, di deketnya kan ada mall tuh kita kesana sekalian beli bubble tea. Gimana?" ajak Hanifa yang terlihat mencoba menghiburku.
"Boleh deh, yuk!" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di mall yang dekat dari kantor Andreas, aku diajak Hanifa berkeliling sambil menunggu antrian di bubble tea berkurang.
"Ke brayberry yu? beli anting-anting lucu" ajaknya.
"Boleh" jawabku pasrah.
Didalam brayberry, aku melihat banyak sekali aksesoris lucu. Hingga mataku tertarik membelu sebuah bandana.
"Fa bagus gak?" tanyaku sambil mencoba bandananya .
"Bagus haha, buat foto ya?" tanyanya.
"Iya buat foto, soalnya setelah UAS ada pemotretan buat promosi radio kampus dan temanya garden" jelasku.
"Beli aja beli, nanti kamu bisa pinjem dress floral aku" katanya.
Sambil melihat-lihat yang lain, tanpa sengaja Hanifa melihat rombongan karyawan yang baru saja datang dan hendak masuk ke sebuah studio foto.
"Itu bukannya kak Iyas kan Rain? sama temen-temen kantornya" kata Hanifa sambil menunjuk mereka.
Aku melihatnya dan memperhatikan mereka satu persatu. Hingga benar saja, ada Andreas disana.
"Iya itu kak Iyas" jawabku.
"Lah bukannya dia bilang dia minta kamu nungguin dia ya? karena dia sebentar lagi selesai" kata Hanifa.
"Iyasih, tapi aku udah bilang kalau kita disini dan mau keliling-keliling dulu. Jadi, dia bisa agak santai" jawabku.
"Hmmm pantes, soalnya kalau dia bilang sebentar lagi dia beres kayanya gak mungkin deh. Orang mereka mau foto studio kayanya, liat aja tuh salah satu dari mereka ngantri disitu" jelas Hanifa.
"Iya fa, biarin ajalah. Kita liat coba, dia bakal bohong sama aku atau enggak. Aku coba chat dia sekarang ya" kataku.
Akupun mengirimkan pesan padanya, menanyakan dia sedang dimana sekarang. Dia jujur dan bilang padaku, bahwa dia sedang antri untuk foto studio bersama sebagai kenang-kenangan mereka.
Dia juga menanyakan keberadaanku, aku jawab saja kalau aku sedang di lantai 1 untuk antri beli bubble tea.
"Ko aku gak liat kamu ya tadi pas masuk?" katanya.
"Ya kan banyak orang jadi aku gak keliatan kali" jawabku.
Padahal saat itu, aku sedang berada disebrang studio foto tempat dia antri bersama teman-teman kantornya.
Tanpa disengaja, aku melihat Dinda berjalan masuk ke brayberry dan membuatku spontan menutup wajahku menggunakan masker.
__ADS_1
"Fa, ikutin si Dinda tuh dan liat dia mau ngapain kesini" bisikku.
"Iya rain, aku ikutin dia deh. Kamu sembunyi aja disini" jawabnya.