Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Catatan


__ADS_3

Setelah mengatakan permintaan terdalamku, mataku langsung berkaca-kaca. Seketika aku memalingkan wajah dari Andreas, dan berusaha untuk tidak menangis.


"Kenapa aku jadi seemosional ini ya?" pikirku.


Dia juga hanya diam dan tidak mengiyakan ataupun menolak permintaanku, selama beberapa detik bahkan dia seperti mematung.


Andreas sepertinya kesulitan memenuhi keinginanku, apa masih ada yang dia sembunyikan?


"Oke! aku jaga diri aku baik-baik mulai sekarang. Aku bakal ikut terapi kaya yang kamu minta, aku bakal lebih sering nelpon dan perhatian sama kamu. Aku bakal....


"Kakak gak usah kebanyakan janji, nanti aku ngarep. Mending kalau kakak beneran bisa wujudin janji-janji kakak itu, kalau ngga? nanti aku sedih sendirian lagi" kataku memotong perkataannya.


Dia lagi-lagi memelukku, kali ini pelukannya lebih longgar.


"Udah kakak istirahat sana! aku mau beresin kosan kakak, aku mau nyapu, ngepel lantai, beresin rak buku, lap jendela, ganti gorden banyaklah job aku. Kakak tidur gih! nanti malem aku izin keluar ya sebentar mau jenguk neneknya Hanifa terus mau makan bareng sama mereka sambil ke pantai" kataku.


"Kamu ko jadi kaya jasa go clean gini sih? udahlah gak usah bersih-bersih ntar aku aja yang bersihin. Mending kamu yang tidur, semaleman kan kamu katanya riset penyakit aku tuh. Nah silahkan sekarang tuan puteri tidur saja" ledeknya.


"Gak mau! kakak nurut sama aku? atau aku pulang sekarang?" kataku mengancam.


Dia pasti tahu ancamanku hanya sekedar candaan, tapi karena situasinya dia sedang punya kesalahan saat itu bisa saja dia takut aku benar-benar meninggalkannya.


.


.


.


Akupun mulai membersihkan kamar kosan Andreas. Pertama-tama aku menurunkan semua buku-buku yang nampak tak teratur dalam pajangannya. Mungkin Andreas disini benar-benar super sibuk, jauh sekali kondisi kosannya sekarang dengan saat dia masih mahasiswa dulu.


"Kak, buku planologi ini boleh aku pinjem gak? aku mau buat PKM soal planologi kayanya" kataku saat melihat buku planologi di rak buku Andreas.


"Ambil aja, kalau ada yang butuh lagi pake aja" jawabnya.


"Ada sih yang butuh, buku ini boleh?" tanyaku sambil memperlihatkan buku Antariksa yang tebalnya hampir menyerupai kamus itu.


"Boleh, ambil aja" jawabnya.


Setelah selesai merapikan buku, aku kemudian menyapu lantai dan menemukan banyak sekali uang koin tercecer berserakan.


"Uang koin itu juga boleh buat kamu" ledeknya.


"Aku kasih saran ya kalau didenger syukur, enggak juga gak apa-apa" kataku.


"Ngomong lah" jawabnya dingin.


"Uang koin sebanyak gini, mending kakak tabung nanti kalau udah banyak nih misal ada lima ratus ribu atau sejuta mungkin hmm baru kakak kasih ke aku. Dengan senang hati, aku gak akan nolak" balikku meledeknya.


Andreas bukannya tidur malah terus saja melihat gerak-gerikku. Kemanapun aku bergerak, matanya selalu mengikutiku. Aku bisa melihatnya dari ujung mataku.


"Ngapain sih ngeliatin kaya gitu? aku jadi risih tau gak?" gerutuku.


"Kamu selama aku gak ada disana, ada yang pernah meluk kamu gak?" tanyanya tiba-tiba.


Aku menghentikan pekerjaanku sejenak, lalu berbalik melihatnya.


"Meluk? ngaco siapa yang meluk aku? cowok maksudnya? gak ada lah" jawabku ketus.


"Awas aja kalau sampe ada laporan ke telinga aku, kamu jalan sama cowok berdua" katanya menggerutu.


Entah kenapa saat Andreas berkata demikian, aku langsung kepikiran Fasya.


Aku dan Fasya kan beberapa kali berboncengan di motor. Malah, kami sempat ke toko buku berdua. Ah, tapi kan Andreas tau? pikirku.


"Hayo ngelamunin apa?" tanyanya mengagetkanku.


Aku duduk di sebelahnya, dan menceritakan semua kejadian yang terjadi sebenarnya saat aku terserempet motor dan pandangan ketiga sahabatku soal Fasya.


"Kakak harus percaya, aku gak ada perasaan lebih ke Fasya dan aku juga yakin ko kalau Fasya cuma nganggap aku sahabat doang" jelasku.


"Fasya yang ada di daftar panggilan masuk kamu? mana sini aku liat chatnya dia" katanya sambil mengambil ponselku.


Dia langsung fokus membaca chatku dengan Fasya. Akupun kembali melakukan pekerjaanku sambi sesekali melihatnya.


Saat aku hendak mengepel lantai, Andreas tiba-tiba seperti menelpon seseorang.


"Iya tante, Raina sama Andreas sekarang. Maaf ya karna saya sakit jadi Raina harus kesini" katanya.


"Aaah Ibu ternyata" gumamku.


"Iya, salam juga ya buat Om, Recca sama Randy" pungkasnya.


Aku mendatanginya lagi, kali ini aku melihat ponselku juga.


"Kenapa? ada yang aneh di story chat aku?" tanyaku.


"Kamu sih gak aneh, tapi si Fasya itu aneh. Aku gak bisa narik kesimpulan sebelum aku lihat pake mata kepala aku sendiri, gimana cara dia natap kamu atau cara dia bicara sama kamu. Setelah aku baca semua chat kalian, kayanya dia ada arah pdkt ke kamu" jelasnya.


"Nah Hanifa juga ngomong gitu, katanya Fasya gaya pdktnya mode lama ke aku" jawabku.


"Yaudah, kamu bersikap kaya biasa aja. Gapapa, toh kamu juga belum tau kan dia suka sama kamu atau ngganya? atau jangan-jangan dugaan kamu soal dia ngeceng anak fakultas IPS bisa aja bener kan? jatohnya terlalu dinilah kalau aku larang kamu main sama dia. Lagian mau gimanapun, dia baik sama kamu" jelasnya.


Mendengar Andreas berpikiran begitu, rasanya aku lega. Meskipun aku sempat khawatir, takut Andreas langsung marah dan melarangku bertemu Fasya lagi.


Pacarku memang yang terbaik! dia mampu melihat dari banyak sudut pandang dan tidak buru-buru menyimpulkan.


"Yaudah, aku mau ngepel dulu" kataku sambil beranjak.


"Udahlah gak usah ngepel, kamu gak kangen apa sama aku? gak bisa ya diem aja sebelah aku. Jangan jauh-jauh gitu" gerutunya.


"Hah gak salah kak? sejak kapan kakak manja begini?" ledekku.


Dia hanya menatapku sambil tertawa.

__ADS_1


Setelah pekerjaanku selesai, aku melihatnya sudah tertidur diatas kasurnya.


"Cape juga ya beresin kamar cowok, padahal kamar sendiri aja jarang aku beresin" pikirku.


Aku melihat-lihat fotoku yang terpajang didinding dekat tempat tidurnya.


Hingga tak sengaja aku menjatuhkan salah satu fotoku ketika rambutku masih belum sependek sekarang.


"Aah ini pasti foto buat iklanin aksesorisnya Hanifa di stagram" kataku.



Saat kuambil dan hendak kutempelkan lagi, aku membaca sebuah tulisan dibalik fotonya.


"My First and Forever Love Rainađź–¤"


Aku tersenyum saat membacanya, ternyata aku ini benar cinta pertamanya. Tapi apa aku juga akan menjadi cinta terakhirnya? Dia dengan banyak daya tarik, bisa saja merasa bosan denganku suatu hari nanti.


Dia dengan mudahnya pasti akan menemukan perempuan yang lebih cantik dan lebih baik dari aku...


Saat sudah beres semua, aku menemukan sebuah kertas dibawah lampu tidurnya.


***Kak, hari ini kita ketemu lagi....


Ditempat yang sama...


Dikampus yang sama...


Tapi kenapa rasanya berbeda?


Kenapa kakak terasa jauh?


Kenapa kakak terasa asing?


Kenapa ada jarak semenjulang ini diantara kita?


Aku bahkan lupa tatapan mata Kakak...


Aku lupa cara Kakak nyapa aku pertama kali...


Kak, sehat-sehat ya! Sepertinya hari ini kakak sakit..


Kantung mata kakak keliatan jelas...


Senyum kakak juga ilang gatau kemana...


Kak... Semangat***!!!!


"Hah? ini kan catetan aku waktu mau praktikum di kaki gunung puntang. Catetan ini yang sempet ilang terus ketemu terus ilang lagi itu. Hmm jadi dia yang ambil?" gumamku.


Tanpa kusadari, aku membangunkan Andreas dan dia menangkap basah diriku yang sedang membaca kertas itu.


"Balikin dan taro lagi ditempatnya" katanya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Itu catatan keramat, kamu gak tahu seberapa berharganya tulisan itu buat aku?" tanyanya.


"Emang seberharga apa?" tanyaku.


Sekarang dia beranjak dan duduk disampingku.


"Kalau aku capek banget, aku ngerasa diri aku jadi orang lain, aku mumet, aku pusing dan marah. Aku tinggal baca tulisan kamu itu, setelahnya aku jadi semangat lagi" jawabnya.


"Udah ah, aku mau mandi gak enak badannya kalau belum kena air" katanya sambil berjalan menuju kamar mandinya.


"Pake air anget mandinya!" teriakku.


"Iya bawel" jawabnya.


Aku tidak menyangka, catatan isengku justru menjadi pelecut semangat buatnya. Rasanya hatiku tersentuh saja, saat Andreas begitu menghargai catatan kecil ini.


"Kayanya dia hampir buka tutup kertas ini tiap hari deh, sampe lecek begini kertasnya" pikirku.


Sementara menunggu dia mandi, aku menulis catatan baru untuknya. Masih catatan kecil hanya saja ini akan jadi catatam favoritnya yang selanjutnya.


"***Jika kamu lelah karena terus menerus berlari maka beristirahatlah....


Jika kamu haus karena terlalu banyak bergerak dan lupa minum maka beristirahatlah...


Jika kamu salah, tidak sempurna bahkan kalah maka tetap jangan lupa beristirahatlah...


Bukan untuk mengakui bahwa kamu lemah...


Tapi untuk memacu dirimu berlari lebih cepat lagi***...


Tidak apa jika nafasmu sesak...


Tidak apa jika bebanmu terasa berat di pundak...


Tidak apa jika kamu menahan pilu...


Tidak apa jika itu juga menahan rindu...


Setidaknya berbalik arahlah sejenak...


Tengok diriku yang selalu ada ditempat yang sama...


Ditempat dimana kamu bisa kembali dari pencarianmu..


Semalam apapun, pintuku takan pernah terkunci...


Sejauh apapun kamu meninggalkanku, aku tidak akan pergi...


Kamu tau jalan menuju tempatku... Jalan itu lah yang selalu menuntunmu pulang....

__ADS_1


Teruntuk kamu sebagai alasan kebahagiaanku******..


.


.


.


Kuletakan catatan baru itu dibawah lampu tidurnya, sementara catatan lamanya kutaruh di laci.


"Aku mau ikut ke pantai, kita pergi berdua kesana" ajaknya.


"Eitss jangan aneh-aneh ya? kakak itu statusnya masih pasien jadi diem dirumah!" kataku menolak nya.


"Aku gak enak, aku kan udah janji mau traktir sahabat-sahabat kamu itu" jawabnya.


"Duitnya aja siniin, nanti aku yang bayarin terus aku bilang itu dari kakak gampang kan hahaha?" kataku meledeknya.


"Nakal ya udah tau masalah duit sekarang kamu ya?" katanya sambil menggelitik pinggangku.


Tanpa sengaja, tubuhku terdorong keatas tempat tidur dan Andreas berada tepat diatasku sekarang.


Beberapa detik mata kami saling bertatapan, lalu aku buru-buru bangkit dan mencoba mengalihkan topik.


"Aku laper , iya laper tadi pagi kan cuma makan bubur. Ini udah mau jam 11 loh, kakak delivery dong" kataku.


"Oh iya iya, bentar ya aku orderin" jawabnya.


Dua jam kemudian....


"Iya fa, aku sama kak Andreas udah mau otw kesana. Dia maksa pingin ikut, katanya gak enak udah janji mau traktir kalian" kataku.


"Iya bye" pungkasku.


Aku mencoba terus memegang tangannya, karena aku takut kakinya sakit atau mungkin kepalanya masih pusing.


"Udah gapapa ko, gak usah diginiin juga kali. Aku kan bukan anak kecil" ledeknya.


"Abis aku ngeri aja ngebayanginnya, baru keluar dari rumah sakit udah mau jalan-jalan aja" gerutuku.


"Gapapa ajaib" jawabnya.


Sesampainya dirumah Nenek Hanifa....


Aku dan Andreas berkenalan dengan Nenek Hanifa yang tinggal berdua dengan anak semata wayangnya yang tidak lain adalah adik dari Mamanya Hanifa.


"Lu udah mendingan yas?" tanya kak Dhika.


"Udah bro, dirawat Raina jadi cepet banget sembuhnya" jawab Andreas sambil tersenyum kearahku.


Menjelang sore, kamipun pamit untuk pergi ke Pantai.


"Fa, ko barang-barangnya kalian dibawa semua sih? emang kita mau langsung pulang?" tanyaku.


"Gak rain, cuma kan kita mau nginep semalem di resort pinggir pantai. Jadi sekalian aja pamit pulang dan bawa semua barang" jawab Nunu.


"Resort pinggir pantai? mahal kali Nu" jawabku.


"Emang mahal na, semalemnya aja sewanya 2,5 juta" jawab Arika.


"Lah uang darimana segitu?" tanyaku.


"Tuh dibayarin mereka berdua" jawab Hanifa sambil menunjuk kearah kak Dhika dan Andreas yang sedang mengobrol.


"Hmm pantes aja tadi Andreas nyuruh aku bawa tas aku ternyata dia udah sewain kamar buat kita berempat" gumamku.


Kamipun berangkat menggunakan mobil Hanifa menuju ke Pantai.


"Kutil, kamu yang sabar ya? sekarang yang naikin kamu banyak" kata Kak Dhika sambil menepuk-nepuk setirnya.


Hanifa dan kak Dhika duduk didepan, aku dan Andreas di kursi tengah sementara Nunu dan Arika dibelakang.


"Rame ya rasanya si kutil penuh gini" kataku.


"Iya na, tapi kayanya kalau tuh anak dua udah pada punya cowok terus kita mau liburan bareng pake si kutil gak akan muat deh" ledek Hanifa.


"Emang si Nunu sama Arika udah pada punya pacar yang?" tanya Kak Dhika.


"Belum kak, tapi kayanya bentar lagi deh. Nunu kan udah deket banget sama Gian, si Arika juga deket banget sama Nirwan. Yah tinggal tunggu tanggal maennya aja" jawab Hanifa.


Aku melirik Andreas yang asyik dengan ponselnya.


"Lagi apa sih kak? autis sendiri sama hape" gerutuku.


"Gak, gak kenapa-napa ko cuma lagi balesin chat temen kantor yang doain aku cepet sembuh" jawabnya.


"Yas lu kapan mau masuk kerja lagi?" tanya Kak Dhika.


"Gue dikasih libur seminggu sih dhik, lu kapan?" tanya Andreas.


"Senin bro, besok pagi sambil nganterin cewek-cewek pulang gue juga balik ke Jakarta" jawab kak Dhika.


"Yah kita berpisah lagi deh rain sama mereka" keluh Hanifa sambil memegang tanganku kebelakang.


"Iya haha LDRan lagi deh" sahutku.


"Hmm Nu lagi-lagi kita berdua jadi obat nyamuk" ledek Arika.


"Makanya lu cepetan punya pacar dong!" jawab Nunu.


"Dih ngaca lo!" kata Arika


Mereka berduapun lagi-lagi berdebat tentang status sehingga memaksa Hanifa untuk berteriak dan memarahi mereka lagi.

__ADS_1


"Weeey udah ya, gue bosen tau gak denger lu pada ngehebohin status. Gue turunin nih lu pada mau gak?" kata Hanifa mengancam mereka sambil tertawa.


__ADS_2