Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Sebel


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit.....


Aku, Nunu dan Arika saling berebut untuk menceritakan setiap kejadian di kampus yang dilewatkan Hanifa.


Hanifa sangat antusias mendengarnya. Sampai-sampai matanya tak beralih dari kami yang secara bergantian bercerita kepadanya.


"Wah? Terus gimana? Yang gantiin aku siapa?" tanya Hanifa sesaat setelah Arika bilang bahwa pak Rahmat meminta posisi bendahara diganti.


"Raina yang double posisi, soalnya pak Rohmat langsung yang minta sendiri" jelas Nunu.


"Maaf ya rain, gara-gara aku jadi double job gini kamu" kata Hanifa penuh penyesalan.


"Gak apa-apa, yang penting kamu jangan mikirin dulu lah yang begituan mah mending kamu fokus buat sembuh" pintaku.


Setelah Hanifa mendengar kejadian-kejadian yang terjadi di jurusan, tanpa sengaja Arika menanyakan tentang coklat itu padaku.


"Eh iya, beneran tadi coklat yang dikasih ke aku itu dari si Fasya?" tanya Arika.


"Iya" jawabku.


"Kok bisa dikasih coklat, valentine udah lewat dan kamu belum ulang tahun juga kan?" tanya Hanifa.


"Gatau deh" jawabku singkat.


Akupun menceritakan tentang Fasya kepada mereka bertiga.


"Tuh kan bener feeling aku sih, dia ngincer kamu" jawab Nunu.


"Serem juga ya sampe punya dua pacar begitu?" sahut Arika.


"Awas ya rain, jangan berduaan sama dia" kata Hanifa.


"Iya, nggak akan" jawabku


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


Sepulang menjenguk Hanifa, aku mendapatkan pesan dari Fasya.


"Rain, sabtu ini ada acara gak? Aku ada kondangan saudara tapi gak punya temen"


Kujawab saja langsung "Maaf sya, aku ada praktikum"..


Beberapa hari kemudian .....


Fasya mulai menggangguku di hari-hari kemudian, dia malah lebih sering menelponku daripada Andreas.


"Maaf gak sengaja kepencet"


"Maaf aku lagi gak ada kerjaan"


"Maaf pulsa aku lagi banyak"


"Maaf aku mau ngabisin gratisan"


Alasan-alasan seperti itu sudah sering kudengar dari mulut Fasya. Setiap hari semenjak hari itu, aku selalu mengirimkan pada Andreas bukti tangkapan layar dari semua chat yang pernah dikirimkan oleh Fasya kepadaku.


Dia sangat marah sekarang, bahkan kemarin dia sempat akan meminta nomor Fasya untuk menelponnya secara langsung.


"Aneh deh, Fasya masih deketin aku? padahal aku kan udah pajang foto berdua sama kakak di stagram" kataku.


"Ya bisa aja dia udah biasa macarin cewek yang punya pacar juga, ya orang suka selingkuh kaya gitu ya pasti dia diselingkuhin juga"


"Yaudah kak, sekarang kan aku udah cerita semuanya seenggaknya kakak jangan khawatir lagi ya. Lagian mulai besok aku bakalan sibuk banget siapin buat praktikum" jelasku.


"Ya gapapa, tapi nanti kalau lagi senggang terus bisa nelpon aku telpon ya? Jangan sampe gak ngabarin sama sekali!"


------------------------------------------


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


------------------------------------------


Hanifa sudah bisa pulang dari rumah sakit, karena tidak ada yang menjemputnya selain adiknya maka kami bertiga memutuskan untuk ikut menjemput Hanifa.


"Fa, kamu udah fit buat berangkat besok?" tanyaku.


"Udah rain, aku bisa maksain lah dari pada susulan atau tugas mandiri belum tentu aku bisa kan?" jawabnya.

__ADS_1


"Iya sih, kasihan juga kalau si Hanifa susulan atau tugas mandiri mah. Gapapa lah gue jagain lu besok tenang fa" jawab Nunu.


"Untung si Raina yang bikin kelompok jadi dia bisa nyelipin Hanifa sama Nunu dalam satu kelompok. Kalau sekertarisnya si Rani pasti kita berempat udah dipecah belah" sahut Arika.


"Thanks ya rain, lagi-lagi aku ngerepotin kamu" kata Hanifa sungkan.


"Udah ah, kaya ke siapa aja. Oya buat peralatan pribadi udah aku siapin di kamar kamu. Soalnya tadi aku ikut sama Adek kamu kerumah sambil rapihin kamar kamu supaya pas nanti kamu pulang lebih nyaman" jelasku.


"Beneran? Kamu sampe rapihin kamar aku? Rain aku makin gak enak tau gak?" teriak Hanifa dengan manjanya.


"Euh lu, tuh Raina kurang sayang apa sama elu sampe dia bersihin kamar lu terus nyiapin perlengkapan lu buat besok praktikum segala. Lu harus traktir kita pokoknya!" sahut Nunu.


Hanifa tertawa dan mengangguk seolah mengiyakan permintaan Nunu. Aku senang melihat Hanifa bisa tersenyum, adiknya yang tadi pagi baru saja meminta bantuanku untuk merapikan kamar Hanifapun tak kusangka malah lebih tertutup dari Hanifa. Aku jadi semakin merasa Hanifa hanyalah anak yang mencoba untuk tetap terlihat kuat dan tegar dihadapan adik dan teman-temannya, padahal jelas-jelas dia yang paling merasakan kesepian.


"Gimana rain si Fasya? Masih sering chat atau telpon kamu gak?" tanya Arika.


"Masih ka, sekarang jadi lebih sering padahal kalau aku bales paling cuma ya,nggak,belum,hahaha hihihi doang tapi dia kaya gak pernah kehabisan akal buat chat aku" jelasku.


"Hmmm, kayanya kita bertiga harus turun tangan deh. Pulang praktikum ini, kita kerjain si Fasya dan kita juga harus bantuin Yasmin lah. Kasihan kan dia diduain begitu!" kata Hanifa.


"Setuju fa, eh tapi kalau diliat-liat ya? Si Yasmin tuh tipikal cewek kaya Raina gak sih? Dewasa, santai, keibuan terus feminin kayanya tipenya si Fasya begitu semua" jelas Nunu.


"Satu lagi ketinggalan nu, tipenya Fasya pasti harus cantik" tambah Arika.


"Yaudahlah, kita pikirin nanti aja cara bongkar sifat asli Fasya depan Yasmin gimana hahaha yang penting kita sekarang anterin dulu Hanifa yuk kasian dia biar bisa istirahat" ajakku.


Beruntungnya saat itu, adiknya Hanifa berinisiatif meminta Arika membawakan mobilnya Hanifa untuk menjemputnya ke rumah sakit. Jadi, kami tidak perlu naik taksi online.


------------------------------------------


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


-----------------------------------------


Keesokan paginya....


"Rain, beneran kamu udah biasa bawa motor lagi?" tanya Hanifa yang kujemput langsung kerumahnya untuk berangkat bersama ke kampus.


"Tenang fa, mobil boleh aja kamu mahir tapi kalau motor aku lebih pengalaman dari kalian bertiga" jawabku.


"Haha iya deh iya, tapi kita gak akan pergi ke tempat praktikum pake motor kan?" tanya Hanifa.


"Nggalah, motor aku yang pake Agung nanti sama tim mobile kalau kita sih pake kendaraan lain" jawabku.


"Gapapalah lebih enak bareng kan sama yang lain? Rame dijalan" jawabku.


Sesampainya di kampus....


Aku menitipkan Hanifa pada Rima dan yang lainnya, karena aku Nunu dan Arika harus ikut briefing panitia sebentar sebelum berangkat.


"Oke, sudah siap ya semuanya? Bapak percaya sama kalian ko! Nanti disana kalian juga tidak akan bersama bapak, karena bapak ada tugas lain di kampus jadi hanya sebentar menemani kalian. Selebihnya ada asissten bapak dari angkatan 2009 yang sudah sering membantu Bapak selama proses praktikum hidrologi yaitu Doni dan Lingga. Kalian koordinasikan diri dengan mereka" jelas Pak Rohmat.


Aku agak tenang karena ternyata aka dibantu oleh kak Doni dan kak Lingga yang tidak lain adalah sahabat Andreas dan kak Dhika.


Aku dan Arikapun terpaksa harus ikut ke mobil Pak Rohmat karena harus mendengarkan arahan selama perjalanan, sementara Hanifa dan Nunu ikut bersama rombongan.


"Kak, aku udah otw nih tapi pake mobil pak Rohmat sama Arika karena aku bendahara dan Arika yang assdosin" kataku dalam chat.


"Iya, kamu nanti dibantuin Doni sama Lingga ko disana. Kalau ada yang nggak ngerti atau kesulitan, tanyain sama mereka. Hati-hati ya pas ngukur debit air sama kedalaman. Suruh anak cowok yang turun! Semangat sayang"


-----------------------------------------


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


-----------------------------------------


Sesampainya di lokasi Praktikum...


"Gila udah jam 10 pagi tapi dinginnya masih kerasa banget" kata Arika.


"Iya haha apalagi malem ya ka?" tanyaku.


Akupun segera membagi kamar untuk semua teman-temanku, sambil membacakan nama-namanya aku juga memperhatikan Hanifa yang wajahnya belum sefit biasanya. Hanifa masih pucat dan tak bergairah. Sesekali dia harus duduk dan istirahat.


Setelah selesai membagi kamar, aku bisa sedikit beristirahat dan minum sebotol air penuh sekaligus.


"Haus dek?" tanya seseorang.


"Kak Lingga!" teriakku.


"Pakabar de?" tanyanya.

__ADS_1


"Baik, kakak kerja dimana? Jarang liat banget" kataku.


"Iya kerja di BIG tapi sambil s2 gitu dan sambilan asdos juga" jawabnya.


"Keren, pada berhasil ya kalian semua?" kataku kagum.


"Andreas di BMKG ya? Udah ada rencana kuliah lagi belum dia?" tanya kak Lingga.


"Iya, udah sih tapi belum tau dia mulainya kapan" jawabku.


"Suruh lanjutlah, sayang ilmunya tau sendiri dia pinternya kaya apa bisa jadi profesur dia tuh" jelas kak Lingga


"Iya, dia pasti lanjut ko kak. Tapi dia mau nya di Bandung katanya biar tinggal lanjutin gampang" jelasku.


"Alah bohong, bukan biar gampang ngelanjutin tapi biar bisa deket kamu" ledek kak Lingga.


"Hahaha bisa jadi" jawabku.


Sambil menunggu beberapa menit, sebelum kami ke lapangan...


"Ka, kamu bisa tanya kak Lingga atau kak Doni kalau kurang paham sebelum jelasin ke anak-anak soal praktik nanti" kataku pada Arika yang sibuk membagikan lembar tugas pada teman-teman yang lain.


"Iya rain, paling nanti pas ngukur kedalaman sama debit air aku harus minta tolong mereka soalnya gak paham cara ngukur pake benang dan bola hanyut" jelasnya.


Tak lama kamipun secara berkelompok mulai pergi ke wilayah kajian masing-masing.


Beruntungnya cuaca siang itu mendukung, masih ada terik matahari meski hawa dingin khas dataran tinggi seringkali membuat kami merasa kedingininan.


Aku berkelompok dengan Kayi, Aji, Joko, Risa dan Setya saat itu.


Aku dan Setkebagian tugas mencatat dan mengerjakan analisis tentang keadaan sekitar sungai dan situ tempat kami melakukan penelitian sekarang.


Aji ketua kelompokku dan Joko bertugas mengukur kedalaman dan hal-hal yang berkaitan dengan praktik.


Mereka berdualah yang langsung turun ke sungai dan situ untuk melakukan pengukuran. Sementara Risa dan Aji bertugas untuk menyiapkan peralatan dan mengukur jarak-jarak dari lingkungan sekitar ke situ dan sungai. Hal ini diperlukan untuk tahu, seberapa efektifnya sungai dan situ untuk menunjang kehidupan masyarakat di sekitar sungai dan situ tersebut.


Kayi adalah satu-satunya yang belum diberi tugas. Aji bersikeras membiarkan Kayi melakukan apapun yang dia inginkan, kata Aji "udahlah terserah dia aja mau kerja atau nggak, lagian kalau gue kasih tugas juga belum tentu dia mau terima. Dia kan maunya jadi ketua terus apa-apa mau paling super"....


Aku mencoba menetralkan suasana, meminta mereka setidaknya memberikan tugas kepada Kayi agar dia merasa dihargai ada dikelompok ini. Tapi, belum sempat aku memberinya pembelaan dia bahkan sudah mengatakan hal-hal yang bukan-bukan.


"Udahlah, kalian emang gak niat kan kasih aku tugas? Yaudah gapapa. Aku gak akan kerja apa-apa. Asal kalian masukin nama aku di laporan kelompok. Cuma ya kalau kalian nemu kesulitan, aku gak mau ikutan" katanya.


"Yaudah kamu ambil aja foto-foto vegetasi, foto pas kita pengukuran dan lain-lain. Itu jobdesk buat kamu dari saya" kata Aji.


Aji dan yang lain semakin kesal mendengar Kayi yang berkata demikian.


"Dulu dia tuh baik banget loh, care sama semua orang dan bisa berbaur. Sekarang ko jadi kaya gitu ya? Pengaruh si Rani kayanya" kata Aji.


"Iya loh dulu, gue suka iri sama Kayi dia tuh public speakingnya bagus dan cerdas. Gak pernah grogi kalau presentasi, entah kenapa sekarang gue ilang respect sama dia" jawab Risa.


Teman-teman kelompokku yang lain juga sepemikiran dengan Aji dan Rima. Mereka secara bergantian, mengutarakan pendapat mereka tentang perubahan sikap Kayi dari semester ke semester lainnya.


Hingga Setya, menanyakan hal lain kepadaku secara tiba-tiba.


"Dulu, kamu sakit hati gak sih pas si Kayi ngerundung kamu? Dia secara gak langsung kan udah buat kita jadi gak suka juga ke kamu. Tapi dulu perasaan kamu gak sampe kaya Kayi gini kan?" tanya Setya.


"Ya, sakit hati sih apalagi pas kalian ngeliat aku dengan tatapan gak suka. Cuma ya gimana lagi, aku kan gak bisa buat semua orang jadi suka sama aku. Daripada aku kerja keras buat buktiin diri aku ke satu demi satu orang, mending aku perbaikin diri aku sendiri jadi lebih baik dengan harapan kalian jadi tau seperti apa aku yang sebenernya" kataku.


Kamipun mencoba tetap fokus mengerjakan tugas kami masing-masing sambil sesekali mencairkan suasana dengan bermain air di sungai.


Kayi hanya duduk-duduk saja sambil mengambil beberapa foto untuk dilampirkan dalam laporan kami nantinya.


Hingga tak disadari, karena licin Kayi terpeleset dan seluruh badannya jatuh ke sungai hingga membuat pakaiannya basah kuyup.


Aku berlari kearahnya dengan maksud menolongnya, meski aliran sungai tidak deras tapi bisa saja dia kesakitan saat jatuh.


"Sini kay aku bantu bangun" kataku sambil mengulurkan tangan.


"Gak usah, aku bisa sendiri. Lagian kenapa kamu gak ketawain aku aja kaya mereka? Malah repot-repot lari kesini bantuin aku. Aneh" jawabnya.


Aku mengernyitkan dahi, seolah tidak mengerti kenapa Kayi bisa begitu membenciku.


Kenapa sekuat apapun aku mencoba mencairkan ketegangan diantara kami, tapi Kayi belum juga bisa menerimaku.


Kenapa rasanya Kayi lebih memperhatikanku saat aku menjadi orang jahat.


Apa aku harus memakai cara yang waktu itu untuk melawan Kayi?


Aku hanya memikirkan perkataan kak Dhika, tentang aku yang harus memperbaiki hubunganku dengan Kayi dan Rani.


"Gimana kalau nanti kuliah lapangan tahap 3, salah satu dari kalian sekelompok sama mereka? sebis? sekamar dan harus menghabiskan waktu bersama sama mereka? kalian gak bisa terus kaya gini" .....

__ADS_1


((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))


((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))


__ADS_2