
Sudut pandang Andreas....
Ini ceritaku saat bertemu pertama kali dengan dia..
Raina... Aku cuma lihat nama depannya.. Dia cukup tinggi, kulitnya lumayan putih, rambutnya sebahu berwarna kecoklatan dan kelopak matanya berwarna coklat besar.
Saat aku berpapasan dengan Raina, matanya terlihat ketakutan melihatku. Entah karena dia tahu bahwa aku komdis atau karena dia memang introvert dan mempunyai sikap tertutup.
Sejak hari pertama angkatannya mulai aktif kuliah, namanya dan kedua temannya sudah tidak asing di telingaku. Menurut Dhika dan sahabat-sahabatku yang lain, dia dan kedua temannya termasuk maru yang cukup cantik dan menarik.
Mereka bertiga sering menjadi sasaran kejahilan teman-teman angkatanku yang perempuan untuk sekedar membuat mereka kesusahan selama masa kaderisasi. Misalnya, meminta mereka bernyanyi sebelum perkenalan atau meminta mereka menguncir dua rambut mereka saat hari evaluasi.
Akupun tak luput dari rencana mengetes mental Raina saat sesi tanya jawab dalam ruangan dengan divisiku. Sebisa mungkin aku mempush Raina untuk berani mengeluarkan argumennya. Ternyata "Lumayan juga nih isi omongannya" batinku.
Aku pernah berpapasan dengannya didepan laboratorium, dia ternyata ceroboh dan polos. Kebanyakan teman-temanku dikelas, mengidolakan Hanifa yang memang paling cantik diantara ketiganya. Semua teman-temanku seketika menciut saat tahu Hanifa sudah punya pacar hahaha. Aku bukan tipikal yang tertarik pada perempuan dalam sekali lihat.
Pertemuan mata kami yang pertama di kampus entah kenapa menjadi sesuatu yang cukup berkesan buatku. Melihat wajahnya yang lesuh dan tangannya yang gemetar.
"Maaf kak boleh kenalan?" katanya saat berusaha meminta biodataku.
"Kenalan buat apa?" tanyaku berniat menjahilinya.
"Buat isi form perkenalan di buku kaderisasi" jawabnya polos.
Kebanyakan teman-temannya meminta perkenalan dengan tujuan supaya tahu kakak-kakak tingkatnya, tapi Raina dengan dingin menjawab "untuk isi form di buku" yang membuat teman-temanku yang mendengar jawabannya menahan tawa mereka.
Banyak dari teman-teman di kelasku yang menanyakan nomor Raina dengan alasan kenalan "doang". Tapi, posisiku sebagai Ketua Komdis cukup menguntungkan kali ini, karena aku bisa meminta teman-temanku di organisasi untuk merahasiakan biodata ketiga anak itu. (Hanifa, Arika dan Raina)
Kelompok Raina dibimbing oleh dua bingkel yang juga ada dibawah divisiku. Sesekali aku meminta info tentang Raina dari mereka. Sebenarnya aku sama sekali tidak yakin dengan perasaanku pada Raina, tapi wajah anak ini seolah selalu mengganggu.
Aku merasa bersalah saat divisiku memberikan kotak makan yang salah kepada Raina, saat itu Raina pingsan tepat dihadapanku. Bahkan aku melihat saat bola matanya memutar seolah kehilangan kendali. Entah ada rasa khawatir yang menusukku dari arah mana, tubuhku didorong begitu saja dengan sukarela berlari menggapainya. Tanganku menahan tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.
Amarahku bahkan tak terbendung saat mengetahui duduk permasalahan yang menjadi penyebab dropnya Raina saat itu. Adik-adik tingkatku juga berani berargumen bahwa akulah yang harus disalahkan pertama kali apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Raina.
Berkali-kali aku mengintip keadaannya dari jendela Aula. Aku juga memerintahkan bingkelnya untuk terus berada disamping Raina. Setelah aku baca form data dirinya, Raina ternyata memiliki masalah dengan lambung dan setahuku orang dengan gangguan lambung menghindari makan pisang pada waktu-waktu tertentu.
Aku tidak bisa menyalahkan divisiku secara frontal, karena Raina juga bersalah dengan tidak menulis secara rinci makanan apa saja yang tidak boleh dia konsumsi. Saat itu aku hanya berharap Raina akan baik-baik saja.
Beberapa menit berlalu...
Kudengar Raina sudah sadar, akhirnya aku memutuskan untuk rapat terbatas dan briefing sebelum acara di Aula tempat Raina istirahat. Maksudku bukan untuk mengganggu Raina, hanya saja aku ingin mempunyai alasan untuk bisa berbicara dengan Raina secara langsung.
Doni, Dhika dan Lingga memahami perasaanku saat itu. Mereka meninggalkan kami berdua di Aula, dan memanggil bingkel Raina untuk briefing diluar. Saat itu mata Raina masih belum terlihat segar. Kulit wajahnya juga terlihat pucat pasi, sepertinya Raina masih harus istirahat.
"De kamu udah enakan?" tanyaku.
"Iya ka udah lumayan" jawabnya.
Diapun menguatkan dirinya dengan mengatakan bahwa biasanya reaksi tubuhnya tidak sampai begini bahkan ketika dia memakan pisang sampai habis.
Akupun bergegas keluar setelah kurasa dia tidak nyaman saat harus kuajak bicara langsung. Mata Raina selalu melihat kebawah, seolah takut berhadapan denganku.
__ADS_1
"De, apa dimata kamu aku ini orang jahat?" tanyaku dalam hati.
Saat itu kusuruh dia minta jemput orang tuanya, sekaligus aku ingin menunjukan rasa tanggung jawabku kepada Ayah dan Ibunya dengan meminta maaf atas keteledoran anak buah divisiku. Lalu diapun meminta Ayahnya untuk menjemputnya sepulang acara studi keagamaan ini.
Pada saat sesi Awarding...
Sketsa Raina dinobatkan sebagai sketsa lingkungan terbaik. Saat itu kuminta divisi lomba, memberikan sketsanya untukku dengan dalih ingin memfotonya sebagai bukti di laporan pertanggung jawaban acara. Tapi sepertinya Lingga dan Dhika menyadari keanehanku.
"Alah yas yas palingan tu sketsa mau lu pajang di kosan lu kan?" ledek Lingga.
"Hooh! Gila ya seorang Andreas luluh sama anak bau kencur hahaha!" tambah Dhika.
"Gue gak tertarik sama anaknya gue sih suka sketsanya!" kataku mengelak.
Padahal saat itu aku benar-benar menyukai sketsa alam yang dibuat Raina. Hasilnya terlihat asal tapi enak dilihat.. Arsiran pensilnya pun natural dan pas.
"De, kamu emang punya bakat!" batinku.
Mahasiswa angkatan Raina banyak yang memiliki kecakapan saat berdiskusi dengan kami, bahkan lebih vocal dibanding Raina cs. Tapi, aku tidak menyangka bahwa adik tingkatku juga banyak yang berani menyapaku duluan di sosmed. Mereka menambahkan akunku sebagai teman mereka terlebih dahulu, mengirimkanku direct message dan lain-lain. Bahkan tak jarang aku menerima kotak makan siang, coklat atau barang-barang cheesy lainnya.
Hingga waktu pulang telah tiba ....
Raina masih belum saja dijemput. Lingga mendengar percakapan Raina dan Ayahnya di telepon katanya "Ayah Raina tidak bisa jemput karena terjebak macet" akhirnya aku buru-buru menghampiri Raina.
Raina meminta tolong padaku untuk membujuk Lingga agar mengantarkannya pulang dengan alasan rumah mereka searah. Entah kenapa aku mati-matian membujuk Lingga untuk menukar posisi karena saat itu aku sudah janji akan pulang bersama Praya.
Praya adalah mantan pacarku. Dia satu tahun lebih muda dariku. Aku angkatan 2009 sementara Praya 2010. Saat itu kuakui Praya adalah maru yang biasa saja, tapi Praya berani mendekatiku dan berbaik hati membawakanku bekal hampir setiap hari. Singkat kata kami pacaran hampir selama 3 bulan sebelum akhirnya aku sadar bahwa perasaanku pada Praya hanya sekedar sebagai ungkapan rasa terimakasihku yang selama ini selalu dia perhatikan.
"Ling, lu tolak ajakan Raina deh lu pulang sama Praya aja gimana? Gue deh yang nganterin Raina... Gue males sama Praya.. Lu tau sendirilah alasannya!" bujukku pada Lingga.
"Ah elu.. Yaudah switch oke (tukeran)" jawab Lingga.
Akupun menghampiri Raina yang masih terlihat gelisah. Sesekali aku mengajaknya bercanda, tapi Raina masih terlalu kaku denganku.
Hujanpun turun dalam perjalanan pulang kami.
Raina asyik menggosok-gosokan tangannya yang kaku karena kedinginan. Sementara aku diam-diam memperhatikan gerak-geriknya. Saat Raina menyadari bahwa aku sedang meliriknya, seketika ku buang pandanganku ke langit-langit pos ronda tempat kami berteduh.
Akupun menyadari bahwa tepat diatas kepala Raina ada cicak yang nyaris jatuh, akhirnya kugeser posisi dudukku hingga merapat ke Raina. Bukan dengan maksud kurang sopan, dipikiranku saat itu mungkin Raina jijik dan akan berteriak ketakutan seperti kebanyakan perempuan.
Andaikan seorang lelaki lain ada di posisiku, mungkin juga mereka melakukan hal yang sama. Tapi.... perkiraanku salah, Raina dengan wajah dinginnya seperti tak punya rasa takut pada cicak itu. Ketika cicak itu jatuh tepat didepan kami, dia hanya berekspresi datar.
Malam itu berlalu sangat panjang...
Banyak hal yang aku pelajari tentang Raina. Kepolosannya, wajah datarnya dan disisi lain juga senyum hangatnya yang membuat nyaman siapa saja yang melihatnya.
"Bagaimana mungkin perempuan seperti ini yang dikatakan Rani sebagai cewek centil dan caper? Dia bahkan sama sekali tidak pernah menatap mataku lebih dari tiga detik" batinku.
Malam itu juga aku pertama kalinya berbicara dengan Ayah dari seorang anak perempuan yang bahkan baru kukenal beberapa minggu.
Ayah Raina ....
__ADS_1
Suaranya sangat bersahabat namun tegas. Ayah yang sangat mengkhawatirkan anak perempuannya, namun juga berpikiran logis. Ayah yang modern, yang bahkan tidak melarang anaknya diantar oleh kakak tingkat laki-laki yang baru dia kenal. Seketika wajah almarhum Ayah tersirat di pikiranku saat kudengar suara lembut nan tegas dari Ayah Raina.
Aku ingin menelpon Ibuku saat itu, menceritakan bahwa malam itu akhirnya aku bisa menyebut seseorang lagi dengan panggilan "Ayah" meski dia bukan Ayahku tapi rasanya begitu memiliki "makna".... Sejak 3 tahun lalu, setelah Ayah meninggal.. Aku "asing" dengan sebutan Ayah.
Aku mengirimkan pesan singkat kepada Ibu yang tinggal seorang diri di Palembang.
"Bu, reas tadi manggil "Ayah" sama orang rasanya hati reas nyaman sekali bu"
Aku bukannya mau membuat Ibu sedih dengan ceritaku, hanya saja aku ingin membagikan keresahanku tentang kesendirianku di tanah rantau. Sudah 2 tahun aku menjadikan kota ini rumah keduaku, sejak aku melangkahkan kakiku di kampus megah ini. Tujuanku hanya satu, yaitu menjadi sarjana dan memiliki pekerjaan untuk merawat dan membahagiakan Ibu. Ibu satu-satunya yang kumiliki setelah Ayah dipanggil sang Ilahi setahun sebelum kelulusan SMAku.
Kembali dengan Raina ...
Sejenak, wajah Raina penasaran kenapa ekspresiku begitu dalam saat harus berbicara dengan Ayahnya di telepon. Aku malah mengucapkan "terimakasih" pada Raina, disaat seharusnya Raina yang berkata demikian.
Entah makna apa yang muncul dibalik lipatan perasaan yang aku coba tolak saat itu, aku hanya nyaman saat Raina membiarkanku menjadi orang pertama yang bisa dia andalkan.
Selebihnya... Aku masih tidak tahu...
Hari demi hari berlalu dengan perasaan baru. Aku merasa memiliki adik yang harus kulindungi di kampus. Aku merasa memiliki tanggung jawab yang harus kujaga, terutama setelah Ayah Raina bilang bahwa anaknya introvert dan cenderung jaga jarak dari laki-laki.
"Titip Raina ya!"
Mungkin pola pikirku berbeda dengan adik-adik tingkatku. Aku yang merasa memiliki adik baru, malah dianggap menyimpan rasa suka terhadap Raina. Padahal rasa apa yang kurasakan sekarang, aku saja belum berani menyimpulkan. Tapi, mereka sudah terlanjur berasumsi. Kudengar Raina jadi bahan gosip akhir-akhir ini. Aku sebenarnya sudah tahu tanpa harus diceritakan Dhika dan lainnya. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjaga jarakku dengan Raina. Tapi, bukan sahabatku namanya jika tidak "jahil"...
Lingga, Dhika, dan Doni sering meminjam hapeku untuk sekedar mengirimkan pesan kepada Raina. Aku akan mengetahui kejahilan mereka setelah berjam-jam kemudian.
"De kamu ada tugas peta DAS ya? kalau ada yang susah bilang aku ya"
Ulah mereka bertiga di pesan singkat yang mereka kirim pada Raina benar-benar menjengkelkan. Satu sisi aku senang mereka mewakili pesanku pada Raina. Tapi, aku takut Raina akan memikirkan hal-hal lain dan merasa terganggu.
Jawaban Raina selalu sama, dia selalu menjawab bahwa dia sama sekali tidak kesusahan. Padahal, menurut gosip yang disebarkan Praya "Raina cs suka caper dan memanfaatkan orang untuk kepentingan mereka". Setahuku saat itu Hanifa membawa mobil ke kampus, tapi Hanifa memarkirkan mobilnya jauh dari fakultas kami. Sesekali aku juga melihat Arika membawa macbook keluaran terbaru, tapi merknya ia cabut dan disamarkan, sementara Raina bukan tipikal yang tukang pamer juga padahal dia punya banyak sekali bakat, satu lagi Nunu yang sangat jujur dan menarik.
Aku mengenal karakter mereka hanya dari beberapa kali melihatnya, tapi kenapa orang-orang bisa berspekulasi buruk tentang mereka?
Semua sahabatku menyarankan aku untuk mulai membuka perasaanku pada Raina.
"Jangan dipendem lah, masa seumur gini lo cuma pacaran sekali doang itupun karna alasan kasian lagi sama Praya haha kalo denger dari cerita lu kayanya Raina beda dari yang lain" kata Lingga menasehatiku.
"Iya yas, mau sampe kapan lu ketinggalan jauh dari kita? Kita aja dengan muka standart dan prestasi seadanya gini bisa macarin adek tingkat berapa kali nah lu yang diidolakan malah dingin begitu" tambah Doni.
"Yas sekiranya hati lu bilang iya jangan lu enggak-enggak'in lah! Cepat atau lambat hati lu juga bisa cari tuan rumahnya sendiri" sahut Dhika.
Mereka bertiga selalu memberikanku saran tentang perempuan, padahal sudah jelas topik itu adalah yang paling tidak menarik buatku. Ibu sudah susah payah kerja untuk mengkuliahkanku, apa jadinya kalau aku disini malah sibuk mengurus masalah perasaan.
Pernah di beberapa kesempatan Ibu juga menanyakan "Abang udah punya cewek belum disana?" dan aku selalu menjawab "Gak lah bu, aku gak punya waktu" padahal saat itu aku berpacaran dengan Praya.
Satu-satunya keuntungan yang kudapatkan saat berpacaran dengan Praya hanyalah aku yang menjadi lebih dikenal oleh anak di fakultas lain. Secara Praya cukup terkenal di banyak fakultas, selebihnya tidak ada. Malah aku merasa seperti memiliki beban setiap harinya.
Aku menjadi takut membuka diri semenjak itu.
Mengenai perasaanku pada Raina, aku juga belum berani menyimpulkan. Lagi-lagi karena aku takut ini cuma perasaan sesaat saja.
__ADS_1