
Seluruh panitia diberi waktu selama 1 jam untuk bersiap-siap menjelang awarding dan upacara penutupan....
Aku pergi mandi bersama Nunu sementara Hanifa dan Arika sudah beres dari tadi.
"Rain, tau gak? Semalem ya pas aku ilang sebentar si Gian nembak aku" kata Nunu.
"Waaah finally, gimana kamu terima kan?" tanyaku.
"Terima, terus dia bilang katanya minggu depan pas libur dia mau ngajakin aku ke rumahnya sekalian dia pulang" kata Nunu.
"Baguslah, selamat ya nu pokoknya nanti kamu harus cerita detailnya ke kita bertiga" kataku.
............
...................
...........................
Setelah selesai mandi dan merapikan diri.
"Rain, udah dong jangan cantik-cantik dandannya nanti kita telat lagi" ledek Roby
"Apasih, udah ko. Yu ke lapangan" ajakku.
Sesampainya dilapangan, kulihat semua panitia sudah berkumpul dan ada briefing dadakan dari Nirwan.
Intinya, Nirwan meminta ketua DPM untuk membacakan dan memberikan rewarding pada maru dan panitia. Lalu, setelah upacara selesai para panitia selain bingkel harus tetap berada di lokasi untuk bersih-bersih.
.....
..........
Awardingpun dimulai...
Andreas benar saja membacakannya, dia maju ditemani Nirwan.
"Rain, pacar siapa tuh yang didepan" ledek Iria.
"Kusut ya dia mukanya?" tanyaku.
"Kusut juga tetep ganteng Rain" sahut Hasan.
"Iya coba kalau yang kusut kita ya san, udah kali kita gak dilirik" jawab Roby.
......
......
Untuk penghargaan pertama, kategori kelompok favorit jatuh kepada kelompok 3.....
Kelompok terbaik jatuh kepada kelompok 1....
Kelompok terdisiplin jatuh kepada kelompok 1...
Yel-yel terbaik jatuh kepada kelompok 4...
Sketsa terbaik jatuh kepada kelompok 8...
Untuk penghargaan kedua, kategori individu...
Peserta terdisiplin jatuh kepada Mella...
Peserta terbaik jatuh kepada Erik....
Peta terbaik jatuh kepada Nanda....
Untuk penghargaan ketiga, kategori panitia....
Panitia tercantik jatuh kepada Hanifa....
Panitia terganteng jatuh kepada Agung....
Panitia terjudes jatuh kepada Gian dan Nunu.....
Panitia tersadis jatuh kepada Nirwan....
Panitia terbaik jatuh kepada ....Raina......
...........
...........
Saat mendengar namaku disebut sebagai panitia terbaik, seluruh anggota timku berdiri dan memberikan sorak sorai mereka.
"Yeeyyy!!! Selamat ya rain!!!" teriak mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah rewarding selesai dan maru sudah pada pulang....
"Weey tercantik nih yee" ledek Nunu sambil menyenggol bahu Hanifa.
"Hahaha elu parah tuh sama Gian terjudes hahaha, tiati lu banyak yang dendam entar" balas Hanifa meledek mereka.
"Rain, ciyeee panitia terbaik" kata Nirwan sambil memegang kepalaku.
"Masih sakit gak?" tanyanya.
"Sakit, tapi udah gak terlalu pusing kaya tadi" jawabku.
Sambil memegang kepalaku, Nirwan membisikkan sesuatu.
"Pulangnya tolong dong bantuin aku biar bisa bareng sama Arika, aku ada urusan sama dia" katanya.
"Sip" jawabku.
"Eh btw itu awarding panitia yang disurvei siapa?" tanyaku.
"Ya maru sama anggota DPM" jawab Nirwan.
"Kamu menang voting telak loh, hampir 70% jawab kamu sebagai panitia terbaik" jelas Agung.
"Hahaha, iya lah terbaik orang kepala udah diperban aja dia masih bisa jalanin acara" ledek Hanifa.
Saat sedang bersih-bersih, Andreas datang dan membantuku memasukkan sampah ke trashbag.
"Pulangnya pake mobil aku aja ya?" ajaknya.
"Iya, tapi aku mau diem di kosan kakak dulu ya?" pintaku.
"Kenapa? Bukannya lebih enak langsung pulang biar bisa langsung tidur" katanya.
"Ibu sama Ayah dan adik-adik aku kan lagi di Lembang mungkin pulangnya malem banget, aku takut dirumah sendirian takut Fasya dateng" kataku.
Sebenarnya, Ibu dan Ayah ada dirumah hanya saja aku berbohong karena ingin memperbaiki suasana hati Andreas yang sepertinya masih tidak enak itu.
__ADS_1
"Yaudah, tapi aku harus belanja dulu ke supermarket soalnya kulkas kosong" katanya.
"Iya, sekalian aku mau beli banyak ya?" pintaku.
"Iya ambil aja apa yang kamu mau" jawabnya.
Setelah semua tempat bersih dari sampah, kami pun diizinkan pulang secara terpisah.
"Fa, kamu jangan mau ditebengin Arika ya soalnya tadi si Nirwan minta ....
"Iya udah tau, aku mau bilang sama Arika kalau aku ada urusan dulu jadi gak langsung pulang" jawab Hanifa.
Akupun melirik Nunu yang sedang mengobrol dengan Gian.
"Eh fa, udah tau belum mereka jadian?" tanyaku.
"Belum, kapan? Emang udah? Semalem ya?" tanya Hanifa.
"Iya semalem" jawabku.
Setelah semua rencana berhasil, Arika akhirnya pulang bersama Nirwan. Sementara Hanifa dengan berbaik hatinya menawarkan tumpangan pada Kayi, Hasan dan Roby untuk kemudian dia drop di kosannya masing-masing. Nunu sih tidak perlu ditanya, dia sudah pasti pulang dengan Gian.
Aku sudah masuk ke mobil Andreas, sesekali kulihat teman-temanku sudah pulang lebih dulu.
"Dah rain, istirahat ya?" teriak Nunu sambil melambaikan tangan.
.......
.......
Andreas sudah masuk ke mobil setelah pergi entah darimana hampir sepuluh menit lamanya....
"Kamu tidur gih! Nanti aku bangunin pas nyampe Supermarket" katanya.
"Kakak darimana?" tanyaku.
"Habis pamit dari kak Jeje sambil bilang kalau aku udah kerja di Bandung soalnya istrinya bentar lagi lahiran, aku minta dikabarin" jelasnya.
"Istrinya dulu anak geo juga?" tanyaku.
"Iya, angkatan 2007" jawabnya.
"Oya siapa? Ko aku gak tau" tanyaku.
"Kak Dian ada lah dia dulu suka ikut acara kaya gini juga sebelum hamil besar, masa gak tau sih? Orang mereka selalu pake kaos couple ko dari dulu" jelasnya.
"Aaaah iya pantesan hahaha aku baru inget nih baru ngeuh" jawabku.
Diapun menjalankan mobilnya dan sambil memegang tanganku.
"Ini aku cuma nanya ya sama kamu, bukan nyuruh atau merintah" katanya.
"Hmmm, bilang aja" jawabku.
"Kamu mau ke rumah sakit gak? Periksain luka di kepala kamu?" tanyanya.
"Gak mau, aku maunya ke supermarket belanja terus nonton terus makan yang banyak terus ke salon terus .....
"Oke, satu-satu ya" katanya dengan wajah pasrah.
Aku memperhatikan wajahnya yang mulai melentur dan tidak setegang tadi pagi, saat dia mendengar perselisihanku dengan Rani dan Praya.
Setidaknya, dia sudah tersenyum dan memperlakukanku dengan normal.
"Punya tali sepatu gak?" tanyanya.
"Punya, tapi kan dipake" jawabku.
"Ada tapi dipake juga nih" kataku.
Dia melepaskan ikatan di rambutku sambil menghentikan sejenak mobilnya.
Mata kami saling bertemu dalam beberapa detik dan aku lihat ada rasa khawatir yang masih bersembunyi dibalik tatapannya.
"Kakak kenapa sih?" tanyaku.
"Iket tangan kita berdua ya sekarang?" katanya.
"Buat apa sih kak?" tanyaku.
"Biar aku bisa mastiin kamu gak akan celaka lagi" jawabnya.
Aku memeluknya dan dia terlihat tidak nyaman.
"Gak enak ya pelukan di mobil?" ledekku.
"Kenapa sih kamu masih bisa ketawa, kamu masih bisa baik sama orang yang jahatin kamu, kamu bisa maafin mereka dengan gampang. Hati kamu tuh terbuat dari apa sih Rain?" tanyanya.
"Kakak kenapa nanya kaya gitu?" kataku.
"Kamu gak pernah mau bales perbuatan mereka?" tanyanya lagi.
"Gak... buat apa? Bukannya itu malah memperpanjang masalah ya? Untuk aku, buktiin mereka yang salah didepan orang aja udah cukup, aku gak perlu balas dendam" jawabku.
"Kamu bisa minta sama aku untuk bales Praya, Rani dan Fasya. Tapi kamu gak pernah minta, bahkan kamu gak pernah nanya apa yang aku lakuin ke mereka setelah mereka lakuin banyak hal jahat ke kamu. Sedikit aja rain, aku mau kamu jadi jahat sedikit aja" katanya.
"Aku punya pacar baik banget, terbaik di dunia hahaha. Jadi kenapa aku harus jadi jahat?" tanyaku sambil tertawa.
Dia kehabisan akal untuk memancing 1111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111
"Duh kalau gini terus, aku jadi gak jamin bisa nahan diri aku" katanya sambil tersenyum.
"Apa sih? Gajelas!!!" ledekku sambil memukul bahunya.
...........
...........
Aku tahu, ada banyak alasan buatku membalas kejahatan seseorang....
Dengan cara biasa, sedang dan jahat sekalipun...
Tapi aku tidak diciptakan sebagai senjata manusia, yang merusak dan membabi buta.
Aku diciptakan untuk menjadi anak Ayah dan Ibu...
Aku diciptakan untuk memberi kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarku...
Bukan untuk sebaliknya....
Apalagi setelah aku mendapatkan kamu...
Rasanya tidak ada alasan sedikitpun untuk berlaku jahat...
Meski pada mereka yang membenciku sekalipun...
Karena setelah kamu hadir, aku merasa dunia dalam genggamanku.
Kamu lah dunianya...
__ADS_1
Kamu bahagiaku, sedihku, sesalku bahkan khawatirku....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bangun yu, udah di supermarket nih" bisiknya.
"Asyik, bawa troli gede ya?" kataku.
"Iya boleh" jawabnya.
Akupun masuk sambil menggenggam tangannya..
Sementara, satu tangannya lagi mendorong troli dengan lucunya.
Kami membeli banyak sekali stok makanan. Ada buah, sayur, mie instan, biskuit, coklat, snack dan permen. Semuanya untuk mengisi kulkas di kosan baru Andreas.
"Itu sebenernya stok makanan aku? Atau persediaan makanan buat kamu kalau kamu ke kosan aku sih? Banyak banget" gerutunya.
"Yaudah kalau gak boleh, balikin lagi aja" jawabku.
"Gak, siapa yang bilang gak boleh? Boleh ko ambil lagi aja yang kamu mau" katanya.
..................
...................
Setelah selesai belanja dan memasukan semuanya kedalam bagasi....
"Dek, kamu gak penasaran soal Praya yang aku bilangin tadi?" tanyanya.
"Yang mana? Yang kakak bilang kakak bakal bongkar sosok asli dia?" tanyaku.
"Iya, masa kamu gak nanya sih ke aku soal itu. Emangnya kamu gak mau tau ya?" tanyanya.
"Bukan urusan aku, itu kan kakak yang tahu. Kakak gak boleh cerita ke banyak orang tentang keburukan orang lain. Mending kakak simpen sendiri aja, kalau kakak mau cerita ke aku ya silahkan. Cuma aku gak akan minta kakak cerita" jelasku.
"Soal Fasya juga, kenapa kamu gak penasaran soal dia. Gimana dia aku peringatin, gimana akhirnya aku bongkar kejelekan dia di sosmed. Emangnya kamu gak penasaran?" tanyanya lagi.
"Enggak, itu juga urusan kakak sama dia kan? Aku gak ada hak untuk tau, kecuali kalau kakak yang ngasih tau aku. Aku juga gak mau nambah pikiran kaka dengan minta kakak balesin orang yang jahat sama aku" kataku.
Dia menghela nafasnya dan kembali mengambil posisi menyetir yang siap.
"Ternyata aku emang gak salah pilih" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dikosan Andreas, aku langsung merapikan belanjaan kami kedalam kulkas.
"Minumannya aku itung loh, jangan sering-sering ya minum yang bersoda. Kali-kali aja baru boleh" kataku.
Dia hanya tersenyum sambil merapikan kasurnya.
"Udah? Tiduran gih disana! Biar aku yang buatin kamu makan" katanya.
"Emang bisa?" ledekku.
"Bisa spagetti doang mah" jawabnya
Selama dia memasak, aku menceritakan rencana yang kubuat dengan Hanuka untuk menjebak Rani dan Praya tadi pagi.
Aku bilang kalau Hanifa dan Nunu memancing Rani agar mengamuk pada Kayi yang sudah bilang pada kami bahwa dia yang menyembunyikan toa milik Rani supaya dia kena marah, padahal sebenarnya Kayi tidak menyembunyikan toa itu. Kayi sudah kami briefing untuk mengikuti saja alur yang dibuat oleh Hanifa.
Peran Kayi sangat penting karena dialah yang bertugas langsung membuat Rani jujur atas apa yang dia lakukan kepadaku semalam.
Sementara Nunu dan Hanifa, mereka mengirimkan pesan dari hapeku ke Andreas untuk memanggilnya ke tenda medis karena Raina sakit. Praya? Itu ulah Nunu, dia mengirimkan pesan pada Praya.
"Hey jelek, jangan sok cantik lu! Cantikkan juga gue (kalau berani sama gue dateng lu ke belakang tenda medis sekarang)"- Nunu.
Semalaman, saat tidak bisa tidur aku dan Hanifa membicarakan rencana ini di chatroom. Arika yang bertugas seperti biasa, dia akan terlihat normal untuk menutupi rencana kami bertiga. Karena kalau semuanya tidak ikut ke lapangan, Rani pasti akan tahu bahwa kami sedang merencanakan sesuatu.
Untunglah Kayi bersedia saat kumintai pertolongan.
"Hmm rencana nya mateng juga ya?" kata Andreas sambil bertepuk tangan.
"Iya, hahaha tapi aku hampir aja gagal soalnya aku tuh gak bisa ngomong blak-blakan untuk menyudutkan posisi orang lain" jelasku.
"Iya aku ngerti, kamu tuh perasa banget makanya apa-apa mikir dan takut" jawabnya.
"Kakak sendiri kenapa malah jadi pendiem setelah aku bongkar semuanya depan kakak?" tanyaku.
"Aku takut kamu ninggalin aku" katanya pelan.
"Hah? aku ninggalin kakak? karena apa?" tanyaku keheranan.
"Bisa aja kan kamu muak karena dijahatin terus sama cewek-cewek yang ngeceng aku dan kamu minta kita udahan. Rasional kan?" tanyanya.
"Iyasih, tapi aku gak akan mundur walaupun jalan didepan menuntut aku untuk sepuluh langkah maju pasti aku ambil... karena aku gak pernah mau mundur" jawabku.
Dua jam kemudian...
Aku tertidur dan terbangun saat Andreas sedang membersihkan piring bekas makan kami tadi.
"Kak, aku bantuin ya?" teriakku.
"Gak usah, tidur aja" sahutnya.
Saat sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba saja ponsel Andreas berbunyi.
"Kak, ada telepon!" teriakku.
"Siapa?" tanyanya.
"Om Fuad" jawabku.
"Tolong bawa kesini dong hapenya" sahutnya.
Akupun mendekatkan ponselnya ke telinga sambil mendengarkan pembicaraan Andreas dengan Om Fuad.
"Iya om, tolong bawa ke rumah sakit aja dulu nanti kabarin Iyas lagi ya? semoga sih Ibu gak apa-apa" katanya.
Setelah teleponnya ditutup, aku melihat ekspresinya berubah dan menjadi sedih.
"Ibu sakit ya?" tanyaku.
"Iya katanya udah dua hari demam dan pusing terus" jawabnya.
"Emang waktu terakhir kakak kesana Ibu engga sakit?" tanyaku.
"Kalau pusing sih biasa, Ibu kan punya darah rendah soalnya. Makanya aku selalu khawatir kalau kamu darah rendah, karena aku sering liat Ibu pingsan dan kesiksa sama rasa pusingnya" jelas Andreas.
"Yaudah, kakak kalau libur mending nyempetin nengok Ibu kesana. Siapa tau setelah ditengok sama kakak Ibu cepet sembuh" kataku.
"Iya awal bulan depan kayanya aku bisa deh" katanya.
Aku mencoba menghiburnya dengan menyipratkan air ke wajahnya.
__ADS_1
"Eh basah dong aduh gimana sih" teriaknya.
"Hahaha tapi seger kan?" ledekku.